Kenangan Di Jenjang Seribu

cerita cinta romantis kenangan

Kenangan di Jenjang Seribu adalah cerita cinta romantis seorang cewek mahasiswi pacaran dengan cowok sopir angkot. Udah ditinggal berkali-kali tapi masih cinta akhirnya bersatu kembali. Bagaimana kisah lengkapnya ? simak cerpen berikut :

Cerita Cinta Romantis – Kenangan Di Jenjang Seribu

Suasana sore adalah suasana begitu spesial, dimana sore hari adalah waktu yang cocok untuk bersantai. Terlihat  seorang gadis bernama Rhia duduk-duduk di depan teras kos nya sambil baca novel, dia sangat hobi baca novel bahkan sejak masih SMP. Hampir semua novel dengan penulis berbeda-beda dimilikinya. Mulai dari Maria Cecilia, Della Amanda, dan masih banyak lagi lainnya. Ya, mungkin saja cita-cita nya ingin menjadi seorang penulis.

Ketika asyik baca novel ponselnya di atas meja berdering. Rhia mengangkat ponsel itu. Ternyata panggilan dari kampung. Rhia baru ingat dua hari lalu dirinya pernah menelpon mama minta untuk dikirimkan beras, karena persediaan beras di kosnya sudah hampir habis. Mamanya mengabarkan kalau beras sudah dikirim dari kampung tadi pagi.

Rhia sempat kesal, kenapa baru dikasih tahu sekarang ? Padahal ini kan udah sore, waktu untuk nyantai bagi Rhia, semua jadi terganggu karena Rhia harus menjemput kiriman berasnya. Rhia kembali masuk ke kamar, seperti biasa kalau ingin pergi Rhia selalu dandan, nggak lengkap rasanya kalau nggak dandan bagi gadis itu.  Selesai berdandan Rhia berlalu menunggu angkutan umum di depan kosnya.

Saat naik angkot untuk ambil beras kenangan lama tersingkap

Ketika berada dalam angkot Rhia teringat kembali kenangan 10 bulan lalu, saat bertemu dengan seorang cowok bernama Rhauf yang akhirnya jadi kekasih Rhia. Tapi hubungan mereka tidak berjalan lama. Entah apa sebabnya Rhauf tiba-tiba pergi menghilang meninggalkan Rhia. Rhia ingin sekali bertanya pada teman-teman Rhauf, tapi rasanya malu takut nanti dibilang terlalu mengharapkan cintanya Rauf. Terpaksa kerinduan pada kekasih dipendamnya sendiri.

Nggak lama kemudian angkot tiba di tempat KUD (koperasi unit desa). Karena hari sudah sore, Rhia secepatnya menemui ibu-ibu penjual disana, karena biasanya barang kiriman dari kampung selalu dititipkan pada ibu tersebut. Tapi kemana dia ? Rhia tak melihatnya sama sekali. Disana hanya ada seorang bapak-bapak. “Apa mungkin yang berjualan disini bukan ibu itu lagi tapi digantikan dengan bapak ini”, ujar Rhia dalam hati. Akhirnya bertanya pada bapak itu tentang kiriman berasnya, Bapak itu tidak tahu apa-apa. Rhia kemudian melihat di sudut meja warung kecil, sudah pasti beras itu kiriman dari kampung. Rhia mengambil beras itu serta memasukkan beras itu ke dalam tas yang di sandangnya.

Pulang ambil beras bertemu kembali pujaan hati

Rhia kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut lalu menunggu angkot untuk pulang ke rumah. Tiba-tiba… Hei !!! Angkot siapa yang dinaiki Rhia ?  Astaga !! Angkot bermerek The King Ladies tersebut ternyata angkotnya Rauf. Tiada disangka sore itu Rhia bertemu kembali dengan Rhauf setelah 10 bulan lamanya berpisah. Tapi apakah Rhauf masih ingat padanya ? Ya, Rhauf memang masih mengingat Rhia, selama ini, Rhauf, sang sopir angkot, selalu berharap bisa bertemu Rhia kembali.

Sore itu Rhauf kembali dipertemukan dengan sang pujaan hatinya 10 bulan lalu. Tidak tahu apakah sekarang Rhia masih bisa menerimanya kembali, Rhauf meminta kembali nomor ponsel Rhia. Rasa bahagia kembali menyentuh kalbu Rhia ketika bertemu kembali dengan Rhauf, tapi Rhia masih bertanya-tanya ? Kemana Rhauf selama ini, Rhia ingin sekali bertanya ? Tapi tidak enak juga dengan penumpang lain. 10 menit kemudian Rhia pun tiba di depan kosnya, Rhauf menolak uang pembayaran Rhia. Malu rasanya menerima uang dari seseorang sampai sekarang masih disayangi oleh Rhauf.

Begitu tiba dikos Rhia langsung membaringkan tubuhnya ditempat tidurnya sambil memeluk bantal guling kesayangannya, Rhia terlihat bahagia sekali  ketika bertemu dengan Rhauf. Pertemuannya dengan Rhauf kembali mewarnai hidupnya yang seperti dalam sebuah kegelapan.

Cerita malam mingguan di Jam Gadang, BukitTinggi

Selesai Shalat Maghrib Rhauf mengajak Rhia untuk ketemuan. Saat itu Rhauf sudah ada di depan kosnya Rhia, 10 menit kemudian Rhia keluar menemui Rhauf. Karena tidak enak dilihat orang sekitarnya Rhauf mengajak Rhia jalan-jalan ke taman “JAM GADANG”.  Selain sebagai pusat kota BukitTinggi, Jam Gadang juga telah dijadikan sebagai objek wisata bagi masyarakat baik itu warga BukitTinggi  maupun pendatang.

Kebetulan malam itu  malam minggu, Jam Gadang terlihat ramai oleh anak-anak muda tengah berpacaran. Sebagian dari mereka ada berjalan sambil bergandengan, ada juga lagi asyikan nyantai duduk-duduk di bawah pohon bambu, bahkan ada juga sedang menikmati makan malam bersama pasangan mereka.  Ingin rasanya Rhia seperti mereka tapi Rhia sadar dirinya bukan pacarnya Rhauf.

Seperti biasa Rhauf selalu memesan teh manis di tempat langganannya setiap kali berkunjung ke Jam Gadang. Selesai memesan teh Rhauf mengajak Rhia untuk duduk di Tugu depan Taman Bung Hatta lokasinya masih sekitaran Jam Gadang. Sebenarnya Rhia tak suka duduk di Tugu itu karena banyak burung berterbangan disana. Takutnya nanti terkena kotoran burung. Tapi mau gimana lagi ? Itu keinginannya Rhauf nggak mungkin Rhia menolak.

Alasan kenapa menghilang

Rhia benar-benar mendambakan kembali kehadiran Rhauf dalam hidupnya, betapa Rhia sangat merindukan Rhauf setelah 10 bulan berpisah. Sulit bagi untuk mengungkapkan kata-kata itu. sekarang Rhauf sudah ada di depan matanya tapi apa yang harus dilakukan Rhia ? Menyatakan cinta  ? Ah,  nggak mungkin ! Ntar dibilang apa kalau cewek duluan ngungkapin perasaan. Perlahan Rhia mulai membuka mulutnya untuk bicara.

“Kakak kemana aja selama ini ? Kenapa kakak pergi ninggalin tanpa sebab, apa aku ada salah sama kakak ?”  Tanya Rhia dengan wajah polos.

“Aku sama sekali nggak ada maksud buat ninggalin kamu Rhi, ponselku hilang jadi nggak bisa lagi menghubungi kamu dan lagi waktu itu ada masalah, sampai sekarang pun masalahnya masih belum selesai”  jawab Rhauf menjelaskan alasan sambil meminum teh dalam pegangannya.

“Masalah apa kak ? begitu beratkah masalah nya sampai-sampai harus pergi ninggalin aku” Rhia kembali bertanya. “Kamu tau ? angkot yang ku bawa sekarang, itu punya mamaku ! Mamaku minjam uang ke bank, tapi mama udah nggak sanggup bayar hutang lagi. Akhirnya kuputuskan untuk pergi ke Medan, disana bekerja di toko mas milik om ku”.

Ternyata perasaan mereka sama

Rhia begitu terharu mendengar cerita Rhauf, sekarang dirinya mengerti kenapa Rhauf pergi meninggalkannya. Tapi kenapa Rhauf tak berusaha mencarinya setelah kembali dari Medan ? Mungkin Rhia tidak tau bagaimana selama ini Rhauf berusaha untuk mencarinya. Setiap pagi Rhauf selalu berhenti di bengkel dekat kampus lama Rhia.  Rhauf selalu memperhatikan setiap anak kampus keluar, siapa tau salah satu dari mereka adalah Rhia. Hal itu karena Rhauf mengira Rhia masih kuliah disana.

Sekarang Rhauf tidak akan menyia-nyiakan pertemuannya dengan Rhia. Rhauf tidak ingin kehilangan Rhia untuk kedua kalinya, rasa sayangnya terhadap Rhia masih sama seperti dulu. Rhia sendiri tidak menyangka ternyata Rhauf juga memiliki perasaan sama dengannya.

Lambat laun Rhia dan Rhauf kembali menjalin cinta mereka seperti dulu, tapi Rhauf yang sekarang berbeda dengan yang dulu. Sekarang Rhauf lebih memperlihatkan rasa sayangnya pada Rhia. Rhauf tidak segan-segan lagi memperkenalkan Rhia pada teman-temannya. Entah apa menyebabkan Rhauf demikian. Apa mungkin gadis manjanya dulu sekarang sudah tumbuh menjadi seseorang lebih dewasa ? Ya, mungkin saja begitu !.

Seribu Kenangan Di Obyek Wisata Jenjang Seribu

Pertemuan dengan Rhia kali ini membuahkan banyak kenangan pada salah satu objek wisata di kota BukitTinggi yaitu di Jenjang Seribu. Berharap Jenjang Seribu menjadi satu kenangan takkan terlupakan jika suatu saat Tuhan berkata lain dengan hubungan mereka. Meskipun saling mencinta tapi jika tuhan berkata tidak, kita harus bagaimana ? Tapi Rhia berharap Rhauf memang jodoh yang ditakdirkan Tuhan untuknya.

Jenjang Seribu ! Tempat wisata tersebut sudah tak asing lagi bagi warga kota BukitTinggi. Bahkan penduduk luar BukitTinggi pun juga sering berkunjung kesana. Seperti halnya saat Rhauf dan Rhia juga tengah mengunjungi Jenjang Seribu untuk kesekian kalinya. Belum setengah perjalanan Rhia sudah merasa capek ! Ya, itulah cewek, belum apa-apa sudah lelah. Melihat kekasihnya kelelahan Rhauf tidak tega lalu menyuruh Rhia naik ke punggungnya. Rhauf menggendong Rhia sambil berlari hingga membuat Rhia ketakutan. Lima belas menit kemudian Rhauf juga merasa lelah. Akhirnya sepasang kekasih itu beristirahat di sebuah bangku yang memang dipersiapkan untuk pengunjung Jenjang Seribu.

“Pinjam paha buk, mau tiduran” ucap Rhauf sambil meletakkan kepalanya di paha Rhia. buk !! Itu adalah panggilan khusus Rhauf buat Rhia, nggak tau kenapa Rhauf sangat menyukai panggilan itu.

“Udah berapa kali sich ku bilang. Aku nggak suka dipanggil ibuk, aku kan belum ibuk-ibuk”. Rhia menjawab dengan wajah cemberut tapi Rhauf hanya tersenyum sambil mencubit pipi Rhia.

“Trus maunya dipanggil apa ?” Tanya Rhauf sambil membersihkan wajah Rhia yang sedikit kotor kena debu.

“Hmmmmm… gimana kalau kita panggilannya Ayah Bunda aja, biar lebih romantis gitu” jawab Rhia sambil tersenyum.

“Ayah Bunda ? Lucu juga” jawab Rhauf sambil tertawa kecil.

“Iiikh… siapa nyuruh ketawa ? Mau nggak ?” Rhia kembali cemberut karena merasa diejek Rhauf.

“Ya, terserah deh buk”.

“Jangan panggil ibuk” jawab Rhia sedikit kesal.

“Iya-iya, bunda”.

“Nah, gitu donk” baru deh Rhia tersenyum ketika dipanggil bunda.

Akhirnya tiba di tempat wisata Ngarai Sianok

Setengah jam kemudian mereka kembali melanjutkan perjalanan. Menjelang tiba di bawah terlihat begitu banyak kera melompat kesana kemari dan burung terdengar sedang berkicau sambil berterbangan. Sampai akhirnya di bawah, wooow… betapa indahnya pemandangan alam Jenjang Seribu berupa Ngarai Sianok.

Siapapun pasti akan dimanjakan oleh keindahan panorama alam ini. Ngarai Sianok adalah tempat terindah di Sumatra Barat. Apalagi saat matahari terbit maupun matahari terbenam. Rhauf menulis nama mereka di ujung jenjang dengan batu kapur, agar selalu terlihat kapan mereka berkunjung ke Jenjang Seribu.

Tiba-tiba Rhauf pergi lagi meninggalkan Rhia

Satu bulan berlalu, Rhauf mulai menunjukkan sikap aneh pada Rhia. Dia mulai cuek dan jarang mengajak Rhia bertemu, alasannya selalu saja capek. Jarang bertemu mungkin Rhia bisa mengerti dari segi pekerjaan Rhauf. Tapi pertanyaannya kenapa Rhauf mulai cuek padanya ? Rhauf juga sering memarahinya tanpa sebab jelas. Karena rasa sayang, Rhia mencoba untuk bersabar. Tiga hari kemudian mereka pun bertemu, Rhauf mengajak Rhia untuk menemaninya bawa angkot, tapi kenapa Rhia tak dibolehkan duduk di depan ? Dan setiap bertemu teman Rhauf, Rhia selalu disuruh duduk paling belakang. Seakan-akan Rhia berfikir Rhauf malu punya pacar seperti dirinya.

Suatu hari Rhauf meminta izin Rhia untuk pulang kampung karena disuruh mamanya, Rhia ingin sekali ikut untuk bertemu orang tua Rhauf, tapi Rhauf belum membolehkan. Nggak tahu alasannya apa ?. Sejak Rhauf pulang ke kampung hidup Rhia terasa sepi, apalagi setelah nomor ponsel Rhauf jarang aktif. Seminggu setelahnya, ponsel Rhauf benar-benar tidak aktif lagi. Rhia kembali larut dalam kesedihan. Tiada disangka Rhauf akan meninggalkannya lagi. Apa secepat itu Rhauf melupakan kenangan bersama Rhia ?.

Setelah setahun menghilang

Tak terasa satu tahun sudah Rhia hidup tanpa Rhauf. Hampir setiap hari Rhia berkunjung ke Jenjang Seribu, mengenang kembali masa-masa indahnya bersama Rhauf disana. Dia berharap bisa bertemu dengan Rhauf, tapi kekasihnya tidak juga kunjung datang. Suatu hari saat duduk-duduk di tempat dulu pernah beristirahat dengan kekasihnya sambil mengenang masa-masa indahnya bersamanya. Air mata menetes ketika mengingat semuanya.

“Sebenarnya kamu kemana kak ? Apa salahku sama kakak, sehingga kakak tinggalin aku lagi” ucap Rhia sambil terisak-isak menangis. “Aku ingin sekali bertemu sama kakak.

“Ayah disini bunda” tiba-tiba saja Rhauf sudah berdiri di belakang Rhia, Rhia segera menoleh ke belakang.

“Ayah, benar ini ayah ?” Rhia mengucap kaget seakan tak percaya. Namun sedetik kemudian, dengan isakan tangis, tidak peduli sekitarnya, Rhia langsung memeluk Rhauf.

“Kenapa ayah tinggalin bunda lagi yah ? Ayah kemana ?”.

Mereka melepaskan pelukannya. Dengan berat hati Rhauf menceritakan tentang dirinya. Ternyata Rhauf sudah menikah karena dijodohkan oleh orang tuanya.

“Ayah udah nikah ?” Rhia kecewa mendengarnya. “Waktu itu mama sakit keras, dia ingin sekali ayah menikah dengan gadis pilihannya. Tapi bunda tahu ? Ayah sudah ceraikan dia”. “Kenapa diceraikan ayah ?”. “Laki-laki mana pun pasti tak akan betah kalau istrinya nggak bisa ngapa-ngapain. Apa-apa semuanya pembantu dan ayah nggak suka dia mata duitan”.

“Ayah benar-benar jahat ! Tega ayah ninggalin bunda, ayah nggak tahu gimana perasaan bunda selama ini. Bunda selalu menunggu ayah disini” tangisan Rhia makin menjadi membuat Rhauf tak tega. Dihapusnya air mata wanita sangat dicintainya lalu dipeluknya penuh kasih sayang.

“Bunda jangan sedih lagi, mama sudah bisa ngertiin ayah ! Dia nggak akan ikut campur lagi soal ayah. Ayah kesini cuma mau jemput bunda,  setelah itu kita menikah” ucap Rhauf penuh ketenangan.

Kali ini dia datang untuk menikahi kekasihnya

“Ayah serius mau menikahi bunda ?”. “Ya”. “Tapi ayah udah duda, barangkali udah punya anak”. “Apaan sih bun, ayah belum punya anak, ayah masih duren bun”. “Apa tu duren yah ?”. “Duda keren”. “Ah, ayah ada-ada aja” Rhia kembali tertawa setelah sekian lama larut dalam kesedihan.

Sekarang Rhauf kembali datang untuk menikahinya, tidak peduli bagaimana pun status Rhauf. Bagi Rhia yang penting tetap sayang dan cinta. Jodoh memang nggak kemana. Seperti kisah cinta dua remaja tadi. Berulang kali terpisah tapi Tuhan kembali menyatukan cinta mereka. = Selesai =


Terima kasih telah membaca cerita cinta romantis kenangan. Semoga cerpen diatas dapat menghibur dan memberi manfaat bagi sobat pecinta laman Bisfren sekalian. Salam sukses selalu.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait