Kenapa Harus Aku

cerita pendek sedih

Kenapa harus aku adalah cerita pendek sedih tentang seorang mahasiswi tidak mampu yang kuliah sambil bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Dia menghindari cinta tapi pertolongan teman membuatnya cinta namun ternyata itu adalah rasa yang salah. Simak selengkapnya cerpen sedih berikut :

Cerita Pendek Sedih – Kenapa Harus Aku

Seperti biasa, tiap sore aku harus bekerja sebagai pelayan di sebuah rumah makan cepat saji di salah satu Mall di kota tempat aku kuliah. Hal ini aku lakukan untuk menambah uang saku aku juga untuk tambah bayar biaya kos.

Maklum aku anak perantauan, aku datang ke kota ini untuk melanjutkan kuliah karena mendapatkan beasiswa. Walaupun sekolahnya tidak bayar, tapi aku tidak punya cukup uang untuk bayar kos juga uang saku. Karena di desa Ayah hanya seorang petani biasa dengan ladang yang tidak cukup luas.

Hasil dari ladang hanya cukup untuk makan, bahkan kadang kala tidak cukup. Ibu bersama adik-adik juga harus rela bekerja sebagai buruh di sebuah industri makanan rumahan di desaku.

Tapi hal itu tidak membuat patah semangat untuk melanjutkan kuliah. Beruntung, aku diterima bekerja sebagai pelayan di salah satu rumah makan cepat saji. Dari hasil bekerja, aku bisa membayar uang kos juga tambahan uang saku.
Hingga suatu hari, ada sebuah insiden kecil, tanpa sengaja aku menumpahkan minuman yang aku bawa sehingga membuat salah satu pengunjung terpeleset karena lantai menjadi licin. Akibat insiden itu, aku dimarahi habis-habisan oleh manajerku, karena ternyata yang jatuh adalah anak pemilik rumah makan tempat aku bekerja. Seketika itu juga aku langsung dipecat.

Hal ini tentu saja membuat aku sedih, bagaimana tidak, karena sekarang aku kehilngan mata pencaharian, mungkin aku ga bisa lagi bayar kos dan juga untuk kebutuhan sehari-hari. Ku melampiaskan kesedihanku di taman kota. Aku harus bagaimana, nggak tahu harus ngapain lagi.

Di saat sedang duduk menangis, tiba-tiba ada yang mengagetkanku. “Hai…!” tiba-tiba Ryan sudah ada di depanku. Aku terkejut lalu buru-buru menghapus airmataku. Ryan adalah teman kuliahku, satu kelas malahan.

Tapi aku bener-bener nggak nyangka sekarang dia ada di hadapanku, menyapaku. Karena sebelumnya, tidak pernah mengenalnya dekat, aku cukup tahu diri, karena dia anak orang kaya, jadi nggak mungkin bergaul dengannya.

“Kok kamu nangis Ra?” Tanya Ryan padaku. Aku kembali menghapus airmataku yang masih saja keluar. “Nggak papa kok.” Kataku pelan.

“Wajah kamu sedih Ra, kamu baru diputusin pacar kamu?” Tanya dia. Aku menggeleng. “Aku nggak punya pacar. Maaf aku mau pulang saja. ” Kataku sambil beranjak dari tempat duduk.

“Aku antar ya.” Kata Ryan. Tentu saja aku terkejut dengan tawarannya. Aku buru-buru menolaknya. “Nggak usah, aku bisa sendiri.” Kataku.

Tapi entah kenapa, mungkin karena kondisiku yang lemah, tiba –tiba aku berjalan sempoyongan dan akhirnya jatuh pingsan. Selanjutnya aku tak tahu apa yang terjadi denganku.

Rupanya Ryan menolongku, dia membawaku pulang ke sebuah klinik. Dan tahu-tahu saat aku bangun, sudah berada di ruang perawatan. “Syukurlah kamu sudah sadar.” Kata Ryan sambil tersenyum padaku.

“Aku kenapa ?” tanyaku pelan. “Kamu tuh pingsan di taman, tadi kamu tuh nangis-nangis”.

Aku jadi malu mendengar penjelasan Ryan. “Kamu belum makan ya?”. Loh kok Ryan tahu sih kalo aku dari pagi belum makan. “Kamu tuh pingsan karena belum makan.” Ya ampun, aku semakin malu.

“Maafkan udah ngerepotin kamu.” Kataku sambil tertunduk malu, aku nggak sangka ternyata Ryan begitu baik padaku. “Aku mau pulang.” Kataku sambil bangkit dari tempat tidur klinik itu. “Eeiittss..emang kamu udah bayar?” Deg, ya ampun aku nggak punya uang sepeser pun, bagaimana harus bayar.

Aku terdiam cukup lama, nggak tahu harus berkata apa, aku bingung. “Udah kamu nggak usah mikir, udah aku bayar kok. Ya udah ayo pulang, ku anterin ya. Jangan nolak, aku nggak mau kamu nanti pingsan lagi”. Ya Allah Ryan begitu baik padaku.

“Rumah kamu di mana?” Tanya Ryan. “Aku kos.” “Oohh..dimana?” Tanya dia lagi. “Aku nanti turun di jalan saja.” Kataku. “Kenapa?” “Karena mobil kamu nggak cukup untuk masuk gang tempat aku kos.” Kataku.

“Ya udah nanti mobilku ditinggal di jalan, dan ku antar kamu jalan kaki.” Kata Ryan. “Tapi kamu nanti bisa pingsan.” Kataku spontan. “Kenapa?” “Karena tempat kos ku lingkungannya jorok.”

Ryan mengernyitkan dahinya. “Nggak papa, aku pengin mampir” katanya. Aku jadi nggak enak. Sebelum sampai rumah, Ryan menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah makan. Aku sangat terkejut, karena ini rumah makan tempat ku bekerja dan baru tadi dipecat.

“Tolong jangan di sini.” Pintaku. “Kenapa?” Tanya Ryan heran. “Karena baru tadi aku dipecat dari rumah makan ini.” Kataku. “Oh jadi kamu menangis karena tadi habis dipecat?” Aku mengangguk.

“Kamu kerja disini?” “Iya.” Ryan menatapku. Lalu melanjutkan menjalankan mobilnya lalu kembali menghentikkan mobilnya di sebuah rumah makan tidak begitu jauh dari yang tadi. “Ayo makan dulu, nanti kamu pingsan lagi.” Kata Ryan mengajakku.

“Ryan, makasih ya, tapi…” Aku jadi ragu untuk melangkah masuk. “Kenapa lagi?” “Kalau makan di sini nggak punya uang, aku makannya di rumah saja.” Kataku.

“Ya ampun Rara, kalau nunggu sampai rumah, nanti kamu keburu pingsan lagi. Udah kamu makan aja, aku yang bayarin.” Sebenernya aku nggak enak menerima kebaikan Ryan, tapi aku juga nggak mau Ryan kecewa.

“Sekali lagi makasih Ryan.” Kataku. “Santai aja lagi, kita kan teman sekelas. Udah kamu nggak usah sedih lagi.” Kata Ryan sambil tersenyum padaku.

Setelah makan Ryan mengantarku pulang, seperti janjinya dia mengantarku sampai depan tempat kosku. Ryan tampak terkejut saat melihat tempat kos yang sempit dan gelap. Karena tidak ada cahaya yang masuk.

“Rara, besok kamu pindah dari sini ya.” Aku terkejut dengan ucapan Ryan. “Disini tuh nggak sehat buat kamu.” “Tapi…..” “Aku yang bayarin, kalau kamu nggak mau anggap saja ini hutang.” Aku kembali ragu.

“Tapi aku belum dapat kerjaan lagi.” Kataku. “Sudah deh, besok kamu bisa bantu-bantu di distro kakakku.” Ya ampun baik banget Ryan, aku nggak nyangka dia yang kaya mau menolongku,

Mataku berkaca-kaca aku terharu. “Sudah, nggak usah cengeng, kamu mau kan?” Aku tersenyum. “Makasih ya.” Ucapku.

Seperti janji Ryan dia bener-bener mencarikan tempat kos aku yang baru, yang dekat dengan distro juga kampus. Aku bersyukur sekali, Alhamdulillah.

Tiap hari Ryan juga selalu mengingatkan aku untuk makan. Lama-lama aku jadi terbiasa dengan perhatian Ryan. Tiap hari dia juga selalu mengantar jemput saat kuliah. Sebenarnya aku nggak mau, karena aku cukup tahu diri, aku beda jauh dengan Ryan.

Aku nggak mau jadi bahan omongan teman-teman kampus. Walaupun tahu setiap kali aku jalan sama Ryan, teman-teman selalu kasak kusuk.

“Ryan, aku jalan sendiri saja.” Kataku. “Kenapa?” “Aku nggak mau jadi bahan pembicaraan teman-teman.” Kataku. “Udah deh nggak papa, nggak usah dengerin kata orang.” Kata Ryan santai.

“Aku nggak enak saja Ryan, karena aku nggak selevel dengan kamu. Aku bisa sendiri kok.” Kataku lalu melangkah meninggalkan Ryan. Dia mengejarku. “Rara, kamu kenapa sih? Kamu tuh baik, aku suka itu.” Aku menghentikan langkahku.

Apa? Ryan suka padaku? Ooohh…nggak mungkin. Aku tidak boleh begini, aku harus tahu diri, aku bukan siapa-siapa. Aku nggak punya kelebihan apa-apa. Aku tidak cantik, juga tidak pintar. Bisa kuliah di sini karena memang aku dapat beasiswa anak miskin, bukan karena kepintaranku.

Rupanya Ryan masih bersikeras untuk selalu antar jemput aku. Setiap kali menolak, dia selalu memarahiku. Lama-lama aku nggak bisa menolak permintaan Ryan.

Tapi lama-lama aku juga merasa ada sesuatu yang lain. Mungkinkah aku sudah jatuh cinta pada Ryan. Nggak mungkin, aku harus sadar, harus tahu diri, nggak mungkin jatuh cinta padanya.

Hingga akhirnya sudah seminggu ini Ryan menghilang, dia menjemputku lagi saat kuliah. Di kampus pun dia juga tidak kelihatan. Kemana dia, hatiku bertanya-tanya. Tapi untuk tanya keberadaannya aku tidak berani. Siapalah aku ini, aku bukan siapa-siapa baginya.

“Rara…!” sepertinya ada yang memanggilku, aku menoleh. Betapa senangnya aku, saat tahu yang memanggilku ternyata  Ryan. Aku tersenyum padanya. Tapi aku juga terkejut karena dia datang bersama seorang wanita cantik bahkan sangat cantik.

“Rara, kenalkan ini Dita pacar aku, dia baru saja datang dari Australia. Dita ini Rara, teman aku yang sudah aku tolong.” Mak deg, seketika betapa hancurnya hatiku. Mataku berkaca-kaca, entah kenapa hatiku sangat sakit.

Aku menyalaminya, pacar Ryan menyalamiku dan tersenyum padaku. “Jadi kamu yang sudah ditolong Ryan. Kamu jadi pelayan kan?” “Iya.” Aku menjawab pelan, betapa sakitnya aku. Ryan memandangku

Lalu aku pamit untuk pergi dari situ. Ya Allah kenapa harus aku. Ini yang sangat aku takutkan, akhirnya terjadi juga. Aku menangis, menangisi kebodohanku yang telah jatuh cinta pada Ryan.

Rasa cinta yang ku tahan-tahan, akhirnya jatuh juga, hatiku sakit, sedih, kecewa. Ku hapus air mataku. Bagaimanapun aku harus sadar bahwa memang diriku tak pantas untuknya. Aku tuh cuma gadis miskin yang harus bekerja keras untuk membiayai hidup.

Ryan hanya kasihan padaku, tidak lebih. Ryan, seandainya kamu tidak baik padaku, membawaku ke alam mimpi, pasti aku tidak sesakit ini. Walaupun ini semua salahku sendiri. Yang aku sesalkan, kenapa harus aku yang kamu beri mimpi.


Terima kasih telah membaca cerita pendek sedih kenapa harus aku. Semoga cerpen sedih diatas dapat menghibur dan bermanfaat bagi sobat mudah Bisfren sekalian. Tetaplah semangat dan optimis. Jadikan semua masalah yang terjadi sebagai sumber inspirasi dan motivasi untuk mencapai sukses dan meraih cita-cita.

Dibagikan

Anik Fityastutik

Penulis :

Artikel terkait