Kenapa Sih Ibu Mau Sama Bapak ?

cerita keluarga ibu kenapa mau sama bapak

Cerita keluarga dimana sang bapak seorang suami pemarah dan memiliki prilaku kasar, sering membentak dan memukul sehingga menimbulkan tanda tanya sang anak, kenapa ibunya mau sama bapaknya. Sebuah renungan bagi para orang tua untuk bersikap lembut dihadapan anak-anak dan istrinya.

Kenapa Sih Ibu Mau Sama Bapak ?

Suara motor itu berhenti di depan rumahnya, dua orang remaja usia 17 tahunan memarkirkan kendaraan mereka tepat di pinggir jalan depan rumah. Penampilan mereka terlihat mencolok, berkopiah, bersarung dan memakai gamis. Salah satu remaja tersebut mengetuk pintu.

“Assalamualaikum…”

Terdengar suara langkah kaki dari dalam rumah hendak menuju pintu.

“Waalaikumussalam… Siapa ya?“

“Doni sama Adi Dan…”

Pintu pun terbuka tampak seorang remaja gagah dengan penampilan yang sama persis dengan sang tamu membukakan pintu, tuan rumah mempersilahkan kedua orang tamunya masuk dan memberi isyarat untuk duduk di sofa ruang tamu.

“Duduk dulu ya, sebentar… Tadi ada beberapa barang yang belum aku kemas, saya tinggal dulu ke dalam”.

Lima menit berlalu, Ibu dari tuan rumah muncul dan menyuguhkan teh serta makanan ringan, tak sempat bercakap-cakap sang Ibu tuan rumah segera kembali ke dalam sambil mempersilahkan tamu anaknya untuk menikmati hidangan yang di sajikan.

“Silahkan diminum dek, saya tinggal dulu, Dani sebentar lagi juga keluar”

Sejurus kemudian masuklah Bapaknya Dani, beliau menatap kedua tamu anaknya tanpa senyum dan bermuka masam. Mereka paham dengan sikap bapak Dani yang demikian, sudah menjadi rahasia umum jika bapak Dani tidak mendukung aktivitas anaknya ini. Beliau masuk rumah tanpa tegur sapa sepatah katapun kepada dua orang tamunya.

Dani yang ditunggu akhirnya keluar juga. Dia membawa tas punggung serta dua buah kencer (alat rebana), hari ini dia akan manggung di acara tabligh akbar kampung sebelah. Sesaat kemudian mereka pamit kepada Ibu Dani, dengan menggunakan dua buah motor mereka menuju lokasi tabligh akbar.

Cerita Keluarga : Acara Tabligh Akbar

Tabligh akbar berlangsung dengan sangat meriah, Ulama kondang asal timur tengah dihadirkan, ribuan kaum muslimin berjejal penuh sesak di lapangan, di sela-sela acara tim hadroh Dani tampil menghibur, tetabuhan rebana membuat suasana tabligh akbar berlangsung semarak, syair-syair berbahasa Arab menjadi pengiring tetabuhan. Pukulan tim hadroh pada kulit rebana yang nyaring secara kompak bertalu-talu, mendendangkan alunan musik yang nikmat untuk di dengar. Selama 30 menit tim hadroh Dani manggung menghibur.

Riuhnya suara rebana saat di atas panggung membuat Dani tidak menyadari bahwa ada dua kali panggilan di hapenya, dia baru sadar ketika untuk ketiga kalinya hapenya berbunyi. Adiknya, Izul, menelponnya. Segera dia mengangkat panggilan itu (baca juga cerita keluarga Harapan Yang Tertunda).

“Assalamualaikum, Piye Zul?’

“Waalaikumussalam Mas, Bapak sama Ibu bertengkar lagi di rumah… “

Suara Izul bergetar, dia ketakutan sepertinya.

Mendadak Dani panik

“Ya Allah… Mas segera balik Zul”

Sejurus kemudian setelah berpamitan secara singkat dengan kawan-kawannya, Dani bergegas pulang dengan menggunakan motornya.

Sepanjang perjalanan Dani mengingat memori-memori buruknya tentang hubungan Orang tuanya. Bapak Dani seorang suami pemarah, berperangai kasar, suka membentak-bentak bahkan hanya karena urusan sepele, serta tak jarang suka mendoakan keburukan dikala marah. Dani sebenarnya sangat jengah untuk berlama-lama di rumah, pasti ada saja masalah yang diterima gara-gara Bapaknya. Sebagai anak Dani hanya mengharapkan Bapak yang mampu mengasuhnya dan mendidiknya dengan kata kata bijak serta memberinya keteladanan dalam sikap dan perbuatan. Namun dia tak kunjung mendapatkannya.

Bapak pernah menyeret anak di jalan raya sambil di jewer

Pernah di saat Dani masih duduk di bangku Sekolah Dasar, dia di seret Bapaknya di jalan raya sambil di jewer dan di pukuli gara-gara Dani saat itu merengek minta tidak masuk sekolah. Padahal seumur-umur baru kali itu dia minta untuk tidak berangkat sekolah. Tetapi respon Bapaknya di luar batas,dia diseret dari rumah sampai jalan depan sekolah, puluhan mata melihat adegan memelas itu, seorang anak kecil berpakaian merah putih diperlakukan kasar oleh Bapaknya sendiri di depan umum dengan dalih mendidiknya. Terang saja, peristiwa ini sangat memukul jiwanya saat itu hingga berbekas sampai saat ini.

Dani sesungguhnya anak sholeh, rajin ngaji, rajin sholat dan rajin ikut majelis ilmu. Bukan, bukan dari Bapaknya dia menjadi seperti itu. Tetapi lingkungan dan teman-teman sepermainannya yang menjadikannya demikian. Pada awalnya sih memang Bapaknya menyuruhnya untuk mengikuti aktivitas keagamaan. Hanya saja seiring berjalannya waktu, sang Bapak menjadi semakin antipati terhadap aktivitas Dani. Padahal dari aktivitas yang Dani ikuti, dia bisa mengenal Islam lebih dalam, yang seharusnya itu adalah tugas dari orangtua terutama sang Bapak.

Dani yang menghadapi realita bahwa Bapaknya tidak mendukung aktivitasnya juga menghadapi kenyataan bahwa sang Bapak tak pernah Sholat 5 waktu. Dani sering ditegur oleh saudara-saudaranya lain agar menasehati Bapaknya untuk sholat, tetapi Dani sudah lelah, dia pernah hampir di tampar oleh sang Bapak saat dulu menasehati agar mau sholat, bahkan bentakan kasar juga diterimanya saat mengajak Bapaknya sholat. Pilihan Dani sekarang adalah jika nasehat lisan tak juga mampu ia perbuat, minimal dia memberi keteladanan kepada Bapaknya, makanya dia selalu sholat di masjid, mbaca qur’an di rumah dengan suara keras, berharap Bapaknya tersentuh (baca juga cerita keluarga Pelindung Hatiku).

Sampai di rumah ibu sedang menangis

cerita kekerasan dalam rumah tangga
Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (@ http://www.keywordhut.com)

Setibanya di rumah, di depan teras sudah ada Izul menungguinya, mukanya terlihat kusut, gelisah dan ketakutan. Suara Bapak berteriak membentak-bentak Ibu terdengar sampai luar rumah.

“Zul, Kok bisa bertengkar lagi gimana ceritanya?”

“Ngga tau Mas, pas Izul baru pulang dari rumah Pakde tadi udah kaya gini…”

Dua kakak beradik itu segera masuk ke dalam rumah, mereka berdua melihat Ibunya menangis sambil berdiri, muka Bapak sangat menakutkan, penuh amarah, tiba-tiba saja tubuh Ibu di dorong Bapak sampai jatuh ke lantai.

Buggggg…

“Pak !!!” Teriak mereka histeris.

Keduanya mendekap sang Ibu, membantunya berdiri dan membawanya ke kamar. Saat di kamar, Bapak masih saja mengumpat dengan kasar. Ibu menangis sesenggukan. Mereka berdua mencoba menenangkan sang Ibu.

Dani masih mengingat pertanyaannya kepada Ibu beberapa tahun yang lalu, saat itu Dani habis di bentak-bentak oleh sang Bapak, gara-gara ponakannya yang masih berumur 5 tahun pulang ke rumahnya tanpa pamit, dan Dani nggak menyadarinya.

“Kenapa sih dulu Ibu mau sama Bapak ?”

== TAMAT ==

Terima kasih telah membaca cerita keluarga karya Eko Bambang. Semoga dapat menghibur dan memberi pemikiran akan pentingnya bersikap lembut.

Dibagikan

Eko BambangF

Penulis :

You may also like