Kenek Metro Mini Cintaku

cerpen romantis cinta lokasi

Kenek metro mini cintaku adalah cerpen romantis cinta lokasi tentang kekaguman seorang gadis pada kenek metro mini sementara dirinya sudah memiliki calon pendamping. Kerinduan mendalam pada sang kenek jelang pernikahannya dengan sang kekasih calon suami membawa langkahnya menuju kediaman sang kenek. Namun sesuatu tak pernah diduganya terjadi disana. Bagaimana kisah mereka ? simak pada cerpen cinta lokasi berikut.

Cerpen Romantis Cinta Lokasi – Kenek Metro Mini Cintaku

Belum pernah aku memperhatikan seseorang sedalam seperti saat memperhatikan kenek metro mini nomor 52 jurusan Cakung – Kampung Melayu ini. Entah apa sebabnya, tapi pastinya profil dirinya begitu menghantui hari-hari sibukku. Sehari saja tidak melihatnya, seolah ada sesuatu yang hilang. Aneh.

Jujur, sekalipun tidak pernah terpikirkan suatu hari nanti aku akan menaruh perhatian khusus pada kenek ini. Diriku mengenalnya secara tak sengaja ketika Armand – ketika itu masih berstatus calon kekasih – meminta bantuannya untuk memberikan bunga mawar kepadaku yang sedang duduk sendirian di bangku depan. Kuterima bunga pemberiannya dengan raut wajah kebingungan lalu tiba-tiba saja Armand sudah duduk disampingku kemudian menyatakan cintanya. Momen tersebut takkan pernah terlupakan, karena selain menerima cinta Armand yang notebene adalah manager di kantorku, tapi juga telah sukses membetot ruang pikiranku atas sosok si kenek.

Semakin kupaksa diriku untuk mendefiniskan apa hal menarik tentang pemuda tersebut semakin membuatku terjebak dalam kebingungan pikiranku sendiri. Menilik dari wajahnya, jelas terlihat dirinya berasal dari salah satu suku di Sumatera. Wajahnya persegi empat dengan rahang keras serta dialek suaranya begitu khas saat menagih bayaran pada setiap penumpang. Dipunggung tangan kanannya ada sebuah tato bergambar sulur daun yang tak kumengerti maknanya. Sekilas melihatnya, bisa dikatakan ia sosok lumayan rupawan meski diriku secara spesifik menjauhi pikiran tersebut dari benakku.

Oh, ya salah satu hal paling ku suka darinya adalah ketepatan waktunya. Metro mini yang dikenekinya selalu datang tepat pada pukul enam pagi –jarang sekali lewat dari jam segitu. Malah sering kali datang lebih pagi. Karenanya, tak boleh terlambat kalau tak ingin tertinggal.

Satu hal lagi, metro mini yang datang bersamanya tidak pernah berubah karena aku hapal sekali semua penanda pada badan bus itu. Tulisan “Time is Money” di kaca depan serta gambar pegunungan lengkap dengan sawahnya menghiasi kaca belakang. Dalam metro mini, para penumpang akan disambut tirai kumal berwarna hijau lumut serta boneka-boneka hewan berukuran kecil menggantung menghiasi setiap kaca jendela. Seingatku, tidak ada metro mini lain bernomor sama senorak itu hiasannya.

Karena waktu berangkatku bisa dikatakan relatif pagi maka metro mini itu pun belum begitu ramai hingga membuatku bebas memilih tempat duduk. Tempat favoritku selalu di  pojok paling belakang. Kenapa ? Tentu saja agar lebih memudahkan aktivitasku memantau pergerakan si kenek.

Semangatnya bekerja membuatku kagum

Sungguh, setiap kali melihat semangatnya dalam bekerja, seluruh tubuhku seolah ikut terstimulasi untuk merasakan hal sama. Bibirku ikut tersenyum sendiri saat ia bercanda bersama sang sopir – meski tidak mengerti mereka bicara apa dalam bahasa daerah itu.  Kadang hatiku ikut pula menjadi kesal manakala ada penumpang membayar kurang dari tarif seharusnya namun dirinya lebih memilih diam daripada berteriak beradu mulut. Ada kesenangan tersendiri melihat tangan terampilnya merapikan lembaran demi lembaran uang yang diberikan penumpang atau ketika demikian cepatnya ia memberikan uang kembalian bak seorang kasir profesional.

Kakinya pun begitu lincah naik turun, berpindah dari pintu depan ke belakang. Matanya sungguh awas ‘menangkap’ penumpang yang terkadang tidak ku sadari lokasinya ada dimana. Suaranya melengking pada keheningan pagi –meneriakkan rute perjalanan- sementara jemarinya teratur mengetuk-ngetuk uang koin pada kaca metro mini setiap kali ada penumpang naik maupun turun.

Rambutnya sedikit gondrong dengan poni selalu menutupi dahi serta matanya tampak liar dipermainkan semilir angin. Tubuhnya sering diayunkan pada pinggir pintu, membuatnya terlihat seolah-olah ingin bercinta bersama angin.

Ini mungkin terdengar hiperbola, tapi di mataku dirinya adalah salah satu ciptaan Tuhan terindah. Dia seolah gambaran hidup figur ketampanan dewa-dewa Yunani. Jujur, seharusnya dirinya bisa menjadi seorang model bermodal kulit gelap kecoklatan serta tubuh tinggi atletis. Menikmati semua gerakannya dalam ‘balutan’ musik instrumental Silhouetee milik Kenny G yang terdengar selalu di iPod-ku, menjadikan keindahan dirinya begitu absolut.

Tapi aku tak pernah berani untuk mencoba beradu pandang dengannya apalagi mencoba mengajaknya bicara. Hatiku sudah cukup puas dengan mengamatinya diam-diam seperti kulakukan selama ini.

Tiga hari tak melihatnya bikin gak konsen

Kacau !

Sudah tiga hari mataku tak melihatnya.

Kemana dia ? Apa dirinya sakit ? Atau jangan-jangan berubah profesi ? Ah, rasanya tidak mungkin.

Lantas, kalau sakit, parahkah sakitnya ? Adakah orang merawatnya ?.

Atau kalau memang berganti profesi pekerjaan, apa kerjanya ? Tapi kenapa dia harus pindah ? Bosankah dengan hari-harinya sebagai kenek ?.

Tapi apakah dirinya tidak tahu kalau ini berdampak buruk padaku ? Aku menjadi sulit berkonsentrasi pada pekerjaanku sebagai customer service sebuah TV kabel. Banyak telepon pelanggan tak dapat ku layani dengan maksimal hingga membuahkan komplain semakin menjadi-jadi. Tapi aku tak ambil pusing. Si kenek lebih menjadi pusat perhatianku saat ini.

Ini tak bisa dibiarkan.

Kalau sampai besok, dirinya tak muncul juga, aku harus melakukan sesuatu. Akan ku tanyakan langsung pada sopir yang biasa menjadi partner kerjanya.

************

Jam dipergelangan tanganku menunjukkan pukul enam lewat sepuluh menit. Ini berarti metro mini sudah terlambat sepuluh menit. Perasaanku semakin tak enak. Apakah dirinya akan absen lagi hari ini ? pikiranku begitu penuh dengan pertanyaan serta rasa cemas.

Namun akhirnya dari kejauhan ku lihat bus yang kutunggu bergerak mendekat. Kecemasanku semakin menjadi-jadi. Tapi sungguh aneh. Tak ada kenek yang seharusnya berdiri dipinggir pintu bus. Ah, dirinya tak ada lagi, pikirku sedih.

Kenek cintaku datang lagi

Tunggu dulu !.

Aku berusaha meyakinkan pandanganku bahwa laki-laki yang muncul tiba-tiba dari dalam badan metro mini itu memang benar dia ! Si kenek favoritku. Oh, Tuhan, hatiku bersyukur bisa melihatnya lagi. Penuh semangat, kakiku meloncat masuk ke dalam metro mini lalu mengambil duduk di tempat biasa.

Dugaanku bahwa dirinya sedang sakit sepertinya memang tak salah. Tidak biasanya ia mengenakan sweater seperti hari ini. Bahkan setelah mengambil ongkos dariku, ia sempat terbatuk-batuk cukup lama. Duh, apakah dirinya sudah berobat? Dia harus berobat kalau tidak ingin sampai sakit lagi. Dan kalau sampai sakit lagi itu berarti diriku tidak bisa melihatnya. Tidak melihatnya berarti berimbas buruk pada keseharianku dikantor. Semua akan memberi berefek domino nantinya.

Tapi seperti biasa, aku hanya seperti orang gila berdialog dengan diriku sendiri. Meluapkan kekesalanku dalam hati namun menampakkan ketenangan di luar. Mataku tiada berhenti memerhatikannya. Jelas terlihat ia kurang begitu bersemangat seperti hari-hari sebelumnya. Hatiku merasa iba.

Syukurlah, keadaannya semakin membaik hari demi hari. Ku tahu dirinya pasti akan segera sembuh. Tubunya masih muda dan kuat.

Sebagai ‘objek’ semangat, sudah seharusnya ku perlakukan dia dengan lebih baik lagi. Kalau memang ingin terus menerus melihatnya dalam keadaan sehat, itu berarti diriku harus ikut campur ‘mengurus’nya – secara tidak langsung tentu saja. Jadilah setiap kali ada kesempatan, sengaja ku selipkan minuman penambah energi ataupun buah-buahan segar dibawah kolong tempat dudukku, berharap dia menemukannya, lalu demi alasan ‘sayang dibuang’ maka akan dimakannya semua pemberianku itu.

Kenyataannya, berbulan-bulan setelahnya mataku tak pernah melihatnya absen lagi. Kepuasan dalam menjaga kesehatannya seperti sebuah ekstasi baru bagiku. Aku pun harus berusaha menjaga kondisi diri sebaik-baiknya agar tidak sampai jatuh sakit sehingga tak bisa bertemu dengannya.

Kesenanganku ternyata meningkat. Kini diriku tak lagi puas hanya dengan menikmatinya dari kejauhan. Harus sedikit lebih berani menyelami kehidupannya sesungguhnya. Ada rasa ingin tahu dimana dia tinggal. Tidak hanya ingin tapi juga harus, karena sewaktu-waktu dia tak muncul lagi, setidaknya diriku sudah tahu dimana keberadaannya. Hal paling penting, sebenarnya diriku juga mesti mengetahui status dirinya. Apakah sudah menikah serta punya anak. Kalau belum, adakah wanita kekasihnya saat ini ?.

Kuikuti dia sampai ke rumahnya

Akhir pekan biasanya kulewatkan dengan Armand, namun kali ini jelas diluar agenda. Sudah ku putuskan untuk mengikutinya seharian. Yah, seharian akan ku habiskan dengan menumpang metro mini dikenekinya.

Seperti biasa pukul enam pagi, diriku sudah berdiri menanti. Bisa saja ku buntuti dirinya tak sepagi ini, tapi diriku tak ingin mengambil resiko. Udara bertiup dingin – sisa hujan semalam, tapi tak membiaskan semangatku untuk tetap bertemu dengannya. Seperti biasa juga metro mini itu muncul dengan dirinya melambai-lambaikan tangan, memanggil para penumpang. Bagiku, lambaian tersebut seperti khusus ditujukan padaku. Lambaian penuh kerinduan.

Akhirnya kesempatan itu datang juga, aku berhasil mengikutinya pulang. Agar tidak menimbulkan kecurigaan, ku pilih untuk tak ikut keseluruhan rit perjalanan dalam sehari itu dengan menunggu sejenak di terminal Kampung Melayu. Kira-kira pukul sembilan malam –dengan asumsi ini adalah rit terakhir- baru ku putuskan untuk menumpang metro mininya lagi. Berlagak bak seorang detektif pengintai seperti sekarang, baru pertama kali ku lakoni, rasanya sungguh luar biasa mendebarkan sekaligus excited.

Aku sudah siap dengan bayangan lingkungan rumah kumuh berdempetan serta penuh dengan preman-preman yang mungkin akan membuat nyaliku ciut. Tapi sangkaanku ternyata tak sepenuhnya benar.

Hatiku sempat terperangah mendapati tempat tinggalnya bisa dikatakan sangat layak untuk kategori seorang kenek. Rumah mungil tersebut tampaknya ditempati seorang diri karena sampai akhirnya sosoknya masuk ke dalam sementara diriku menguping di pintu, tidak terdengar ada suara percakapan dirinya dengan orang lain.

Kenapa orang sepertinya bisa tinggal di tempat seperti ini ? Lantas, kalau memang ‘semampu’ ini, kenapa harus bekerja sebagai kenek ?.

Setelah cukup lama mengawasi, akhirnya ku tinggalkan tempat tersebut dengan segumul pertanyaan hanya mengambang di kepala.

************

Armand melamarku.

Sudah sewajarnya hatiku bahagia. Kenapa tidak ? Armand sudah menjadi kekasih sempurna selama setahun ini. Orangtuaku sudah sangat mengenalnya dengan baik, posisinya dikantor  jelas tidak diragukan lagi, selain itu sifat kami tidak terlalu bertentangan. Belum lagi menyebut tampilan fisiknya – menurut sebagian orang- mengingatkan dengan aktor tampan  masa kini, Christian Sugiono.

Jadi diriku akan menjadi wanita amat bodoh apabila sampai menolak lamarannya. Apalagi lamaran terkesan terburu-buru ini ternyata berkaitan dengan rencananya untuk melanjutkan gelar S2 nya di Jerman. (Oh,ya, semasa kuliah dulu ia memang pernah mengikuti program pertukaran pelajar ke negara yang sama, makanya dia tak ragu untuk sekali lagi mengecap pendidikan disana).

“Ayolah, kau harus ikut denganku. Biar tahu enaknya sosis brustwurst, semaraknya Oktoberfest atau cantiknya English Garden. Aku tidak mau meninggalkanmu dalam kurun waktu begitu lama, Salla…” ucapnya memberi alasan mengapa pernikahan kami harus secepatnya dilaksanakan.

Sekali lagi, akan sangat bodoh seandainya ku katakan ‘tidak’ pada lamarannya. Dan memang akhirnya ku terima lamarannya.

Armand memutuskan, sebulan dari sekarang adalah tanggal pernikahan kami.

Waktu berlari begitu cepat hingga tak terasa besok akan tiba hari sangat bersejarah itu. Tapi oh Tuhan, hanya Dia yang tahu sosok siapa ada dalam kepalaku hampir setiap harinya pada detik-detik menjelang hari H-ku.

Siapa lagi kalau bukan si kenek metro mini itu.

Menyadari bahwa waktuku semakin merapat untuk meninggalkannya, membuat sel-sel syaraf otakku seolah membeku. Sering ku tergerus lamunanku sendiri sehingga membuatku tampak tak seantusias calon pengantin pada umumnya. Untunglah Armand tak terlalu menyadari perubahan sikap ini. Belakangan, kuperhatikan ia juga semakin tampak lebih banyak menarik diri dariku dengan alasan kesibukan kantor harus diselesaikan sebelum keberangkatannya ke Jerman. Mungkin kami memang sedang mengidap sindrom calon pengantin, yang kata orang sering membuat setiap pasangan uring-uringan sendiri. Entahlah kalau memang ada jenis sindrom seperti itu .

Tapi kadang aku berpikir, seandainya saja bisa memilih keduanya… kenek itu juga Armand.

Sungguh gila! Selain serakah, apa tak sadar betapa kontradiktifnya kedua orang pria sama-sama kusukai namun memiliki ‘rasa’ berbeda itu?

Tapi aku tahu, akan sangat menyesal apabila diriku menikah dengan Armand lalu kami pergi ke Jerman -tinggal disana untuk waktu lama- tanpa pernah mengenalnya lebih dulu atau setidaknya sekedar menyapanya. Ya, ku yakini harus melakukannya. Tidak ada salahnya bukan ?.

Aku sadar kalau mungkin diriku memang sudah ‘gila’ sekarang.

Disaat semua orang rumah menganggap sang calon pengantin wanita (yaitu aku) sudah terlelap tidur demi menanti hari bahagianya esok, kenyataannya saat ini diriku malah sedang mengendap-endap di lingkungan rumah si kenek itu.

Tujuanku hanya satu; berkenalan dengannya kemudian mengucapkan terima kasih atas ‘kesediaannya’ menjadi seseorang spesial sekaligus memberi warna pelangi dalam hidupku selama beberapa bulan terakhir.

Kakiku sudah melangkah masuk ke teras rumahnya. Tapi ternyata kurang beruntung. Dirinya sedang kedatangan tamu, entah siapa. Karena daun pintu rumahnya tidak sepenuhnya terbuka. Bimbang merasukiku. Haruskah tetap memaksa datang bertamu atau sebaiknya pergi saja lalu melupakan semua ide awalku?

Dengan sedih, kuputuskan untuk berbalik pergi, sebelum sebuah suara amat familiar terdengar dan seketika menghentikan langkahku.

“Maaf, Viktor… Tapi aku sudah lelah dengan semua ini. Aku ingin hidup normal, seperti laki-laki lainnya.”

Terdengar suara dengusan kasar seseorang.

“Tapi kenapa baru sekarang, Armand ? Apa yang salah ? Kita sudah menjalaninya selama berbulan-bulan bahkan semuanya baik-baik saja kan ?”

“Ini jelas salah. Hubungan kita menyalahi aturan norma sosial masyarakat. Kau tahu siapa aku, apa jabatanku bahkan lebih penting lagi, diriku sudah memiliki kekasih bahkan besok kami akan menikah!”

Lutut kakiku tiba-tiba saja terasa sangat lemas sehingga membuat tubuhku hampir hilang keseimbangan. Namun tanganku berusaha bertumpu pada pilar rumah. Kupaksakan diriku untuk tetap ‘sadar’ demi mendengar semua percakapan selanjutnya.

“Kalau memang ku tahu akan berakhir seperti ini, seharusnya pertemuan pertama kita di bus saat kau meminta bantuanku mengutarakan cinta padanya, adalah pertama sekaligus terakhir. Tapi kau memulainya bukan ? Kau memberikanku cinta serta kasih sayang.  Kau juga lengkapi semua kebutuhan hidupku, menjadikanku sangat ketergantungan padamu. Namun sekarang…dengan mudahnya kau campakkan diriku ? Dimana perasaanmu ?!” suara pemuda yang sama familiarnya ditelingaku itu bagaikan hantaman berjuta-juta ton batu ditimpakan tepat di atas kepala. Dadaku seperti kehabisan tenaga untuk menghirup oksigen, sesak sekali.

“Maafkan aku, Viktor. Maafkan aku…”

Lalu terdengar isakan tangis salah satu diantara mereka, tak lain adalah isak tangis si kenek.

“Jangan menangis, Sayang…” suara Armand terdengar menenangkan.

Dan tepat dari balik celah pintu terkuak, kulihat mereka saling berpelukan erat bak sepasang kekasih penuh cinta.

Percayakah kau, kedua pria sama-sama kusukai dengan rasa berbeda ini…

Kedua pria sama-sama ingin kumiliki ini…

Ternyata adalah…

Tangisku meledak tanpa tertahankan sehingga membuat kedua pria itu seketika menoleh ke arahku dengan raut wajah terkejut. Namun diriku tak peduli. Aku jatuh bersimpuh dan terus menangis, jauh lebih keras.

PS : Untuk kenek metro mini yang kukagumi dari kejauhan. Terima kasih.

-SELESAI-


Terima kasih telah mengunjungi situs kami dan membaca cerpen romantis cinta lokasi. Semoga cerpen diatas dapat menghibur dan memberi manfaat bagi sobat Bisfren sekalian. Salam sukses selalu.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait

1 Comment