Keputusanku

cerpen kesetiaan cinta keputusanku

Keputusanku adalah cerpen kesetiaan cinta seorang wanita yang menjalani cinta jarak jauh dengan lelaki cacat kaki akibat kecelakaan. Selama tiga tahun dia terpisah menahan godaan lelaki lain, mampukah dia bertahan ? silahkan simak pada cerita pendek berikut.

Cerpen Kesetiaan Cinta – Keputusanku

“Kamu menyukai seseorang Vi ?” pertanyaan tersebut sedikit mengagetkanku. Kutatap layar komputer didepanku. Ada wajah Alex disitu menatapku lekat.

Aku terbahak, “pertanyaan apaan itu ?”.

“Sudah 3 tahun kita tidak bertemu ?”.

“Lalu kenapa ? kita sering video call seperti inikan ? Kenapa bertanya hal tidak masuk akal ?”, ucapku menatap Alex lekat. Laki-laki beralis tebal itu tertawa kecil dia menatapku lagi.

“Naviaku cantik dan pinter, hatiku takut seseorang akan merebutnya dariku.”

Kali ini diriku tertawa lalu meneguk kopiku, ada pedih menyelubungi hatiku. “sudah ku bilang kita akan terus begini sampai kamu bosan”.

“Bosan kemudian akhirnya membiarkan kamu pergi…”

Mataku melotot, “kalau terus bicara begini akan ku tutup pembicaraan ini,” ancamku. Alexander ! seperti biasa dia tertawa lagi. Tangannya mengusap layar komputer didepannya. Kurasakan tangannya seperti menyentuh wajahku. Kupejamkan mataku mencoba meresapi sentuhannya pada wajahku. Khayalku seperti hidup, kurasakan sentuhan lembut dipipiku.

“Aku mencintaimu Vi, hatiku merindukanmu, tapi ini sudah  3 tahun, tak bisa ku biarkanmu terus hidup begini. Diriku harus merelakanmu”.

“Jangan bicara omong kosong aku tidak suka,” Selaku cepat.

“Dengarkan dulu, diriku tak ingin menjadi beban dalam hati juga hidupmu Via, plis dengarkan jika ada laki-laki baik sempurna juga tidak cacat sepertiku menyukaimu dengan tulus. Terimalah lalu hiduplah dengan bahagia aku”.

“Dengar Xander kamu tidak cacat, kamu itu tidak cacat, masih banyak kesempatan. Dunia kedokteran semakin maju, kamu pasti akan bisa berjalan lagi. Jangan membuat ku putus asa, yang ku butuhkan saat ini adalah Xander yang selalu bijak serta mencintaiku. Hentikan pembicaraan konyol ini.”

“Via, aku tidak bisa egois”.

“Cukup, diriku harus ke kantor. Kalau kau masih membicarakan hal sama, diirku tak akan bicara denganmu lagi,” ancamku lalu beranjak meninggalkan laptop masih menyala. Tapi diriku tidak segera kekantor, pindah keruang makan tersudut dalam rasa bersalahku. Kudekap wajah letihku lalu mencoba untuk tidak menangis. Diriku tak tahu apa ada dalam hatiku, di depan Alexander selalu ku coba untuk tegar. Tak ingin menunjukkan betapa bersalahnya diriku meninggalkannya saat dirinya masih sangat membutuhkan kehadiranku. Tapi ku harus kembali ke Indonesia, permintaan Mama untuk menemaninya mengelola restorant seafood milik keluarga membuatku tak punya pilihan. Lagipula diriku harus memenuhi janjiku pada penerbit untuk kembali menulis. Aku tidak diberi pilihan, apalagi Mama mendengar berita kecelakaan menimpa Alexander, Mamapun memberi ultimatum cukup sulit untukku.

“Mama menyukai Xander Via, tapi keadaannya sekarang tidak bisa kau andalkan. Apa kau ingin hidupmu sulit bersama laki-laki cacat seumur hidupmu. Tidak Via, Mama tak rela putri Mama satu-satunya menjalani hidup begitu. Cinta tidak selalu harus bersama, jika mencintaimu dengan tulus dirinya pasti mengerti apa yang Mama rasakan”.

Kata-kata Mama sangat menyakitkan disatu sisi hatiku juga sangat menyayangi beliau, mama adalah pengganti Papa untukku. Satu-satunya harapan untuk ada disisiku saat pernikahan nanti. Ridhonya bagiku adalah ridho Allah, hatiku sangat menghormati juga menyayanginya. Dia selalu menghormati keputusanku dalam menjalani hidup bahkan saat ku memilih untuk tinggal di Italia menyelesaikan program S2 ku. Mama juga tahu ku pilih Italia karena ada Alexander disana.

Alexander juga sedang menyelesaikan beberapa lukisannya, Italia memang surganya para pelukis dan Alexander memiliki masa depan gemilang disana, apalagi dirinya disponsori oleh sebuah galery besar cukup terkenal disana. Dirinya bahkan menikmati fasilitas tempat tinggal cukup bagus dari pihak sponsor. Mama sangat menyetujui hubungan kami bahkan selalu bertanya kapan akan menikah. Tapi sejak kecelakaan tersebut Mama berubah.

Diriku selalu mencoba untuk melihat situasi juga keadaan dari sisi pemikiran Mama, dan diriku pun mengerti. Tidak ada orang tua ingin melihat anaknya menderita. Begitu juga Mama, ultimatum diberikan padaku lebih kepada rasa sayangnya pada anaknya. Itulah kenapa akhirnya ku pilih pulang meninggalkan Alexander dengan beberapa kata sepakat. Diriku memang kembali pulang, tapi tidak meninggalkan Alexander, kami terpisah karena jarak, hatiku mencintainya dan rasa bersalah ini tak akan mudah untuk bisa dilepaskan.

Disaat dirinya masih berjalan dengan kedua kakinya, diriku selalu ada disampingnya,  namun apakah mungkin meninggalkannya disaat dirinya hanya bisa menggunakan kursi rodanya. Cinta tidak terbatas dalam hal fisik saja, hatiku sudah memilihnya apapun keadaannya, hatiku sudah memutuskan untuk bersamanya. Alexander sedang berjuang sendirian disana tanpa diriku, bagaimana bisa hatiku tega menyakitinya. Bunyi klakson mobil terdengar keras mengagetkanku. Kulangkahkan kaki menuju balkon melihat siapa datang. Dibawah kulihat Gading melambaikan tangannya.

“Gimana dah siap belum ?”.

“Sudah dari tadi, sebentar ya,” teriakku. Gading menganguk tersenyum lalu kembali masuk kedalam mobil. Kuraih tas serta mantelku lalu bergegas turun.

“Kenapa murung ?”, pertanyaan Gading membuatku melihat wajahku pada spion mobil saat mobil sedang melaju dijalanan.

“Enggak.”

“Alexander lagi ?”.

“Hmmm… “.

“Bagaimana keadaannya Vi ?”.

“Cukup baik, tapi mulai aneh.”

“Aneh kenapa ?”.

“Dia selalu membahas berpisah. Dan diriku tak suka itu.”

“Itu karena dia mencintaimu Vi, percayalah laki-laki seperti itu.”

“Tapi kenapa kau tidak ?”.

“Kok pertanyaannya jadi berubah ke aku sih ?” protes Gading tertawa.

“Kenapa kamu menceraikan Lisa.”

“Masalahnya begitu kompleks, susah untuk mencari titik temu diantara cinta mulai pudar. Pikiranku realistis Vi,  sudah lelah memohon bahkan seperti pengemis di depannya. Lagipula kau tahu perasaanku ke Lisa. Jangan pura-pura tidak tahu Vi.”

“Kita bicara pekerjaan saja,” selaku cepat.

“Kau yang memulainya Vi, diriku hanya menanggapinya”.

“Gak usah membicarakan masalah perasaanmu padaku.”

“Tapi kau tahu jelas perasaanku Vi, berhentilah berpura-pura. Bahkan Xanderpun tahu betapa hatiku sangat mencintaimu, dasar manusia tak punya rasa, dirinya tahu dari dulu tapi masih merebutmu dariku”.

“Hentikan Gading”.

Criiiiitttt…. mobil berhenti mendadak. “berhentilah bersikap tegar Vi, hatiku paham perasaanmu juga tak memaksa hatimu berubah pada Xander. Kamu bebas memilih sementara diriku akan menunggu. Jikapun pada akhirnya pilihanmu tetap Xander. Akan tetap ku hormati, tapi plis jangan larang perasaanku padamu Vi. Karena saat ini diriku benar-benar tak bisa dilarang”.

Pffff…. Kuhembuskan nafasku kuat-kuat. Benakku penuh bayangan Alexander tapi tiba-tiba bayangannya sirna kala ku lihat Gading. Sepasang matanya menatapku tajam mencoba mencari tahu apa ada dalam benakku. Ahhh kenapa pula harus menggantikan pak Jay sebagai kepala penerbit… lihat sekarang, diriku bahkan harus terus berhubungan dengannya.

Gading ! seperti apa perasaannya tak ingin ku jelaskan, siapapun juga tahu kalau cinta pertama seorang pria tak kan pernah bisa dilupakannya. Sayang sekali diriku bahkan tak tahu kalau hatinya jatuh cinta padaku, karena itulah tanpa rasa berdosa tetap bersikap manis padanya. Apalagi Lisa sahabatku terang-terangan mengatakan kalau dirinya sudah menyukai Gading sejak masa SMA dulu, lantas bagaimana tega hatiku menyakiti Lisa atas perasaannya pada Gading.

Hatiku lebih memilih Alexander sosok disamping Gading yang terang-terangan menunjukkan rasa sukanya padaku. Masa-masa KKN tak terlupakan kisah awal perjalanan cintaku dengan Alexander. Terlalu banyak kenangan, bahkan ingatan tentang kenangan tersebut selalu ada dalam setiap sudut kota. Kami adalah penjelajah, langkah-langkah kami memenuhi setiap sudut kota seolah kami ingin menunjukkan pada dunia kalau ada bayangan kami pada sudut-sudut itu. Jejak kenangan tersebut tak akan mudah hilang. Walaupun sempat terpisah karena Alexander harus melanjutkan program S2 nya di Prancis, hubungan kami tetap tak menemui hambatan apalagi keluarga juga sudah menyetujui hubungan kami. Toh kami akhirnya tetap bertemu di Itali lalu kami menghabiskan banyak waktu untuk menjelajah negeri impian.

Sama seperti sebelumnya meninggalkan banyak cerita pada setiap sudut kota dengan keindahan selalu menghipnotisku. Disana Alexander menemukan jati dirinya lewat setiap lukisan, talenta serta hasrat dirinya membuat setiap lukisan tertuang diatas kanvas memiliki makna mendalam. Dengan begitu mudah tangannya membuat siapapun melihat lukisannya jatuh cinta.  Dirinya bahkan tk perlu repot-repot atau bersusah payah mencari sponsor untuk pameran tunggalnya. Sejauh ini dia sudah mengadakan beberapa pameran di kota-kota besar Eropa, – Paris, Amsterdam, Denmark, Luxemburg -, bahkan karyanya mulai dikenal di Asia. Terbukti dengan diundang oleh salah satu galeri terkenal di Seoul. Dirinya adalah lelaki dalam hatiku, pemuja setiaku, diantara kekaguman serta simpati akan setiap lukisannya, hatinya tetap memilihku dan menetap dihatiku.

“Maafkan aku Via,” suara Gading menghentakku. Mobil memasuki area parkiran kantor penerbit. Kakiku bergegas melangkah keluar, rasa peduliku mungkin sudah mati tapi langkah Gading seolah membuntutiku. Diriku sadar lelaki tersebut tak akan mudah menyerah, diam-diam ku cemaskan diriku sendiri. Sanggupkah hatiku bertahan ? godaan begitu nyata dari Gading hadir dengan pesona hampir tidak mampu kutolak. Dirinya memiliki segalanya yang bisa membuat wanita jatuh begitu saja kedalam pelukannya. Tapi mengapa memilihku ? apakah mendendam padaku ? ah peduli setan kenapa harus kupikirkan hal konyol demikian.

“Lihat dia indahkan ?”, Alexander menaruh sebuah pot kecil dengan kaktus lucu didalamnya. Aku tertawa,” sejak kapan kau suka bunga seperti itu.”

“Ini bukan bunga, tapi tanaman hias Vi…”

Diriku tertawa lagi, “iya iya ralat, lucu…”

“Dia seperti kamu terlihat tegar tapi rapuh.”

“Kata siapa ? diriku cukup kuat koq. Dan ingat, walaupun kau menyuruhku untuk menyerah  tidak akan semudah itu menyerah. Kaku harus membunuhku kalau ingin membuatku menyerah”.

“Ow…. jiwa penulisnya keluar nih”, Alexander terbahak, mataku melotot. Seperti biasa bisa ku lihat tawanya pada layar laptopku.

“Navia !”.

“Hmmm…”

“Besok diriku akan ke New York, kau tahu Jules kan ? dia menemukan seorang dokter hebat disana, dia sudah membuat janji dengan dokter tersebut untuk memeriksaku. Aku ingin menemuimu Vi, berdiri tegap didepan Mamamu. Hatiku bahkan ingin berteriak di depan Mamamu kalau diriku tak akan menyusahkanmu.”

Kugigit bibirku, mengusap layar laptopku seolah ingin menyentuh wajah Alexander. Mataku terasa hangat “Kamu tahu Xander, apapun keadaanmu tak akan ku tinggalkan dirimu”.

“Buang rasa bersalahmu, ku tahu kau terjebak didalamnya. Hatiku ingin kau mencintaiku tanpa menunjukkan rasa kasihanmu padaku Vi, diriku merasa menjadi laki-laki malang karena tatapanmu. Karena itulah ku ingin kamu bahagia dengan laki-laki lain. ”

“Jangan mulai lagi Xander, New York itu adalah harapan, pergilah. Jikapun kau masih harus berada pada kursi roda sampai selamanya. Diriku akan pergi menemuimu. Tapi beri waktu agar tulisanku akan segera selesai. Ku mohon jangan bicara tentang laki-laki lain lagi”, pintaku. Alexander memajukan wajahnya kedepan layar. Ku lihat jelas tatapan matanya penuh kerinduan.

“Aku tidak akan menyerah sayang, hatiku mencintaimu doakan ya”.

Ku lihat Alexander menjauh dengan kursi rodanya, kupejamkan mataku membiarkan bening yang lama kutahan luruh membasahi pipiku. Sebentar lagi Alexander, tulisanku akan segera rampung, diriku bahkan mati-matian menyelesaikan dua bukuku agar punya waktu setahun untuk menemanimu disana. Ku tahu posisiku mungkin akan sulit, juga akan berhadapan dengan Mama. Tapi diriku harus berada disana, harus melakukannya, semoga Tuhan mendukungku.

Kututup telpon Jules, dia merangkap sebagai asisten Alexander dalam menyelesaikan beberapa urusan mengenai lukisan atau lain sebagainya. Diriku mengenal Jules dengan baik, dia seperti pengganti kakak bagi Alexander. Semua urusan Alexander selalu diselesaikannya dengan baik juga sangat professional. Pengalamannya dalam bidang seni lukis juga jangan dipertanyakan. Dia sangat menguasai bidang satu ini. Jules mengabarkan tentang operasi Alexander. Dokter tersebut berani mengambil resiko untuk mengoperasi Alexander, jadwal operasinya minggu depan. Tiba-tiba hatiku ingin berada disana ?  Kurasakan dirinya pasti akan sangat membutuhkanku.

“Bukuku sudah hampir selesai. ”

“Baguslah Mama senang mendengarnya. Berarti kamu bisa bersantai kita bisa jalan-jalan…”

“Mah…”

Panggilanku membuat Mama menghentikan kegiatan menghitung dikalkulatornyanya. Akupun tidak bisa menentang tatapannya, sebisa mungkin aku menunduk.

“Ada yang ingin kau katakana Vi ? ”

“Ini tentang Xander Mah”.

Wanita didepanku terlihat menarik nafas panjang. “Kamu masih berharap hidup bersamanya Vi ?”.

“Mama tahu seperti apa perasaankukan, tidak ingin ku bohongi Mama. Diriku hanya ingin saat ini Mama mendukung keputusanku. Aku harus ada disana Mah. Xander akan dioperasi. Dia sendirian Mah dia membutuhkanku.”

“Bukannya kau yang butuh dia Vi ? ”

“Hatiku mencintainya Mah, Mama tahu betul itukan. Aku tidak ingin mengecewakan Mama. Tapi perasaanku tidak bisa berbohong”.

“Dia lumpuh Vi sadar gak sih kamu ?”.

“Oleh sebab itulah diriku harus ada disampingnya. Mama banyak mengajarkan hal tentang arti  mencintai. Tidak bisakah yang satu ini kuputuskan sendiri ? Masih ada harapan Mah dan hatiku sangat optimis.”

“Bagaimana jika operasinya gagal atau…”

“Kita hanya manusia Mah bukan kita penentu nasib seseorang. Tapi hati anak Mama ini ada padanya”.

Lagi-lagi Mama menarik nafas panjang, raut bijaknya membuatku kagum dirinya bahkan tak marah.

“Mama mencintai Ayahmu seperti itu, tapi akhirnya menyerah karena penyakitnya. Mama bahkan tidak bisa protes saat dirinya menyuruhku untuk menyerah. Mama tahu sekali bagaimana usahanya untuk menenangkan hati mama. Dan mama terpuruk cukup lama saat kehilangannya karena begitu mudah menyerah. Jika kamu sudah bertekad, Mama harap itu keputusan terbaik dalam hidupmu. Lagipula tidak bisa memaksamu untuk melupakan Alexander. Ah.. Navia Mama sangat berharap kamu bisa bahagia dengan Alexander. Aku menyukai keteguhan hatinya seharusnya kuberikan dia kesempatan”. Mama menganguk-nganguk pelan seolah menyadari suatu hal.

“Tapi aku juga suka kepala penerbitmu itu. Oh yah siapa namanya ?”.

“Gading Mah.”

“Oh iya Gading dia terlihat sangat menyukaimu, seharusnya kau bisa bahagia dengan laki-laki seperti itu,” Mama mendesah.

“Ah… Mama Barusan Mama mengatakan menyukai Xanderkan kenapa sekarang berubah ! ah Mama tidak konsisten.” Selaku merajuk. Mama tertawa kecil dia melanjutkan menghitung dengan kalkulator.

“Tetap saja laki-laki cacat tak bisa melindungimu.”

“Mah !” Protesku.

“Kamu sudah membuat keputusankan ? Follow your heart… sudah 3 tahun kau terjebak denganku disini. Hatiku sudah puas menghukummu dengan kebodohanmu. Pergilah jika ingin pergi. ”

Ucapan wanita bijak didepanku membuat mataku sedikit berkaca aku mendekatinya dan memeluknya dengan erat.

“Anakmu sudah 35 tahun Mah, sudah terlalu tua untuk bermain-main. Tak akan mengecewakanmu dengan pilihanku. Aku berjanji akan kembali dengan membawa cucu untukmu.”

“Ngomongmu ngawur jangan pernah menganut paham orang barat. Kau harus pulang kalau mau menikah. Kau harus mengenakan kebaya pada hari pernikahanmu, Xander juga katakan padanya. ”

Dan akupun hanya bisa tertawa lepas, seolah ketakutanku sirna. Ah Mama kamu benar-benar pahlawanku.

“Kamu benar-benar keras kepala Vi.” Ucap Gading saat mengantarku ke bandara. Mulutku hanya bisa tertawa.

“Maaf mengecewakanmu lagi.”

“Sudah terlalu biasa dikecewakan olehmu”, ucapnya.

“Pastikan bukuku best seller.”

“Keinginanmu itu pasti akan terwujud. Aaahhh… hatiku selalu berharap tak akan berakhir seperti ini. Ini drama terburuk dalam hidupku. Mengantar seorang wanita yang kucintai untuk menemui kekasihnya. Ahhh benar-benar….”, Gading menggeleng-gelengkan kepalanya. Mulutku tertawa lagi melihat wajah Gading menatapku sedih.

“Sampai disini saja yah, diriku tk ingin mengantarmu sampai kau berangkat. Sisi maskulinku protes karena ini adalah drama perpisahan terburuk pertama untukku dibandingkan saat berpisah dengan Lisa.”

Gading berdiri didepanku dengan senyumnya, dia memang tersenyum tapi matanya menyorot sedih mungkin jika kuberikan haknya mencintaiku dia sudah menahan tanganku untuk tidak pergi. Tapi sekali lagi cinta tidak egois. Jika Gading berdiri didepanku dengan senyum tegarnya ku tahu cinta telah membuat hatinya menangis. Tapi dia adalah seorang laki-laki dengan seribu ketegaran sehingga membuatnya masih bisa tersenyum. Mungkin akan ku berikan kesempatan padanya untuk mencintaiku pada kehidupan lain. Untuk saat ini aku hanya bisa mengatakan, “Terima kasih”.

“Jangan jadi melankolis, itu bukan gayamu,” protes Gading menatapku sendu. Tubuhku bergerak memeluknya, mengecup pipinya lembut.

“Sedihmu akan terbalaskan bulan depan jika bukuku bisa best seller, kamu tahukan diriku tidak pernah salah dalam hal ini.”

“Ah diriku pasti akan sangat merindukan celotehanmu. Sampaikan salamku pada Xander, jika kakinya pulih akan ku ajak bermain futsal. Dan ingatkan kalau diriku bisa merebutmu kapan saja kalau mau”.

Ku lanjutkan langkahku memasuki ruang bandara, kulambaikan tanganku tinggi-tinggi kearah Gading yang masih berdiri menatapku. Itulah kenapa ku memutuskan untuk akhirnya berada di samping Alexander. Karena jika setahun lagi berada disini hatiku pasti tak akan sanggup menolakmu Gading.

********

“Aku akan menemanimu.”

“Menemani operasiku. Oh Via seharusnya tidak kau lakukan itu.” Wajah Alexander memberengut saat kulihat dia di sesi video call ruang tunggu bandara.

“Tidak bukan karena itu juga. ”

“Terus untuk apa ? bagaimana dengan bukumu ? apa tidak apa-apa launching buku tanpa dirimu ?” Tanya Alexander lagi. Aku menggeleng mengulum senyumku.

“Hmm… wajahmu itu mimiknya mencurigakan,” Alexander memicingkan matanya.

“Akan kutemani dirimu selamanya.”

“Apa maksudmu Via ?”.

“Sudah kuputuskan untuk hidup bersamamu.”

“Kamu yakin ? bagaimana jika operasiku gagal”.

“Asalkan dirimu masih hidup tidak masalah.”

“Bagaimana jika dalam operasi otakku ada hal salah lalu jadi idiot.”

Aku tertawa, kutatap layar ponselku “pacarku ganteng kalo pake baju rumah sakit seperti itu.”

“Kalau yang satu ini aku percaya diri, akukan laki-laki paling tampan dalam hidupmu.”

“Iya iya, kau paling tampan, setelah Papaku tentunya.”

“Ohhh, aku harus mengalah beliau memang tampan,” Alexander menarik nafas panjang dan tersenyum.

“Pastikan ku genggam tanganmu sebelum masuk ruang operasi Vi. Kamulah kekuatanku.”

“Aku pastikan itu…”

***********
3 tahun yang lalu

“Navia Awasssss….. !!!!”

Bunyi rem diinjak mendadak terdengar keras, tubuhku jatuh pada pinggiran aspal. Saat tersadar tubuhku bangkit dengan limbung, ku lihat tubuh Alexander tergeletak ditengah jalan. Mulutku memekik histeris. Hari itu dia menyelamatkan hidupku, hari dimana kuputuskan untuk menerimanya sepenuhnya dalam hidupku. Pengorbanan terbesar dalam hidup adalah menyerahkan hidup kita pada orang kita cintai. Dan alexander melakukannya tanpa alasan, satu-satunya yang dia tahu adalah mencintaiku.

Benturan keras pada kepalanya membuatnya lumpuh. Ku tahu walau tidak pernah mengeluh dengan kelumpuhannya tapi penderitaan di matanya tak bisa disembunyikan.  Aku tahu dia sering menangis dalam kesendiriannya, itulah kenapa akhirnya dia memberiku kesempatan untuk kembali ke Indonesia.

Aku juga perlu waktu untuk diriku, memutuskan sesuatu akan kujalani sepanjang hidup tidaklah mudah. Rasa bersalah menghantui pikiranku tentang kecelakaan tersebut membuatku semakin terjerumus dalam rasa iba mendalam. Cinta bukanlah rasa iba, tapi cinta Alexander padaku telah membuktikan satu hal tentang arti sebuah pengorbanan. Dan aku sudah memilih untuk tetap menetap dalam hatinya dengan atau tanpa kursi roda.

*************

Ponsel kututup, perjalanan akan terasa panjang, 26 Jam bukanlah waktu pendek. Aku harus transit di bandara Hongkong untuk ganti pesawat. Tapi semua terasa tak akan berarti dibandingkan pertemuan ini. Aku pasti akan berada disana tepat waktu Xander karena aku sangat merindukanmu. (PW)


Terima kasih telah membaca cerpen kesetiaan cinta wanita kepada kekasihnya. Semoga cerita pendek diatas dapat menghibur dan bermanfaat bagi sobat pemirsa sekalian. Salam motivasi sukses !.

Dibagikan

Putri Wahyuningsih

Penulis :

Artikel terkait

1 Comment

  1. Kalau mau jujur, tulisan-tulisan mbak Putri yang dulu seperti Pelindung Hatiku, Kisahku, Penantian Unni jauh lebih baik dari yang terakhir-terakhir. Maaf ya, kalau boleh saran jangan ambil setting serta tokoh-tokoh luar negeri, cerpen-cerpen picisan kalau settingnya luar negeri gak bisa masuk di otak kebanyakan orang Indonesia terlepas siapapun penulisnya.