Kertas Pembungkus Tepung

cerita pendek keluarga harmonis

Kertas Pembungkus Tepung adalah cerita pendek keluarga harmonis dengan dialek khas Medan tentang kejadian saat suami butuh uang istri buat memperbaiki perahu. Simak selengkapnya :

Cerita Pendek Keluarga Harmonis – Kertas Pembungkus Tepung

“Baang…!!! mananya kertas tadi..? kok lama kali…” . Aku terkesiap. Detak jantungku spontanitas berhenti sepersekian detik manakala suara istriku terdengar setengah menjerit menagih karena permintaannya belum juga bisa ku penuhi. Bah, begitu sukarnya apa mencari sebuah kantongan kertas bekas pembungkus tepung terigu di dapur rumah tak sampai 2 meter persegi ini ? Kelewatan betul aku ni, masak sesusah mencari remis (kerang kecil, red) di sungai, yang betul ajalah.

“Baang…!!! mananya..??? tinggal mencari itu aja pun kau nggak bisa..? apa mesti aku turun kedapur..??”. “I..iya sayaang, tenanglah kau ba..!!, ini kan lagi ku cari, cuma belum jumpa aja barangnya…” “Makanya kalo masih punya kuping dipake dulu, kan dah ku bilang, kau cari di kantongan plastik diatas lemari makan, pekak !! “( tuli, bolot .red)

Kurasa, istriku ini memang mau mengerjai rupanya, diriku sudah lintang pukang mencarinya pada setiap kantongan plastik tergantung di dinding dapur, rupanya diatas lemari makan butut pula ditaruhnya.

Mana tanganku dengan postur tubuh pendek ini tak nyampe menggapai atas lemari, sementara bantuan sebuah kursi makan tua tidak cukup banyak membantu, usia kayu sudah reot membuat lubang pantatku harus mengembang kempis entah berapa kali sangking takutnya jatuh, sungguh keterlaluan kali bah penyiksaan ini.

Tanganku meraba raba permukaan atas lemari makan, tapi telapak tanganku belum juga menemukan kertas pembungkus dimaksud. Diriku tak mau menyerah begitu saja sebelum target sasaran kutemukan, daripada mendengarkan suara istriku kayak suara knalpot kereta ninja, baiklah kucoba mengeluarkan jurus terakhirku. Jurus paling sering ku keluarkan disaat saat orang-orang pendek sepertiku sedang terdesak.

Dengan cara menjinjitkan kedua kaki, tanganku meraba raba kesana kemari, dan akhirnya…, tanganku berhasil menemukan sesuatu, tapi apakah ini kertas pembungkus itu ?, apa iya ? insting kemanusiaanku berusaha memecahkan teka teki, sebuah benda kecil, terkesan lembek juga berair…? aku terdiam, berpikir sesaat, sangat dalam, dan akhirnya kebodohanku serta rasa penasaranku mengalahkan instingku. Kutarik tanganku lalu membalikkan telapak tangannku kemudian mengarahkanya dekat-dekat dengan mata, alis mata seketika berkerut tajam, lalu dengan refleks, sensor penciumanku kutingkatkan sensitivitasnya, hingga mengalir ke segenap syaraf otak, dan begitu otakku mengenalinya, hampir saja seluruh rambut menjadi keriting karena kepalaku terasa panas akibat semua tekanan darahku naik keatas kepala, secara otomatis otot-otot mulutku membuka refleks dengan bukaan selebar-lebarnya.

“Buteeeeettttt…!!!!!! “.

Mulutku melenguh kuat dan panjang, mengalahkan tarikan suara gas motor diesel perahuku yang telah rusak, keseimbangan badanku oleng, kurasakan kursi kayu pijakanku juga bergoyang-goyang seperti mencecah permukaan air laut bergelombang besar, menghempaskan kursiku kesana kemari semakin cepat, lalu akhirnya.. “GEDUBRAKKK..”

Aku hendak bangkit dari terjatuhku, tapi pinggangku terasa sakit, terganjal kaki kursi kayu, mulutku meringis kesakitan. Kucoba hendak bangkit lagi, tapi cepat-cepat ku urungkan manakala tiba tiba secara samar – samar sebuah mahluk bertubuh besar telah berada tepat dihadapanku, kulitnya hitam dengan rambut panjang tergerai, ditambah lagi cahaya dapur remang – remang semakin menambah angker suasana. Ku coba memejamkan mataku kuat-kuat mencoba menguatkan otot-otot mataku, kemudian membukanya secara perlahan lahan, dan ketika mata ku sudah terbuka semua, pandangan mataku kembali fokus, bah.. istriku rupanya, kukira hantu.

“..kek mananya kau ni bang.? Disuruh ambek kertas pembungkus, malah pake acara jatuh segala.!.”

Ku sambut uluran tangan istriku, yang menurutku tergolong 2 kali lipat besarnya dari paha kakiku, sambil memegang pinggangku yang sakit ku coba menyetel mulutku sejelek jeleknya seperti mulut bumper penyok bemo tua wak husin.

“Ah kau betul-betul kelewatan butet, masak nyuruh ngambil kertas pembungkus itu diatas lemari makan. Kan tahu, aku ni pendek..?? “

“Abis kesal nengok abang..” kata istriku, sambil tangannya meraih kursi kayu masih tergeletak dilantai dengan satu tangan, ya dengan satu tangan, bahkan kursi itu diangkatnya tinggi-tinggi lalu diacung-acungkannya kearah lemari.

“..syukur aja abang nggak ketimpa sekalian ama lemarinya…”

“..oi mak jang, kau doakan aku cepat mati butet ?, benar benar kejam kali lah kau sama lakik (suami.red) kau ini..!! kau tengok ni, tanganku sampe kepegang taik celurut…!!!”

Berusaha ku sodorkan tanganku yang masih menyimpan sisa-sisa kotoran tikus kecil itu kearah wajah istriku, sangkin geramnya. Tapi tindakan tadi hanyalah mimpi bagiku, sedangkan ujung rambut kepalaku saja baru sebatas lingkar pinggang tubuh raksasanya, konon pula ingin menjejalkan telapak tangan terkena najis itu ke wajahnya, Ditambah lagi ketika kulihat biji mata istriku melotot seakan ingin keluar dari sarangnya, niat tersebut cepat – cepat ku urungkan.

“Sudahlah, nggak usah banyak koyok (basa-basi.red) bang..!!, nah ini kertas bungkusnya, uangnya dah ku kerah (hitung.red) semua, semuanya berjumlah, satu juta seratus lima puluh ribu, tiga ribu lima ratus perak…, aku nggak mau tau…, harus cepat kau ganti itu..!! “istriku memberikan sebuah kerta lusuh berwarna kuning, penuh dengan butiran butiran putih halus kehadapanku.

“.. dapat dimana kertas ni butet ?”

“..Diatas lemari makanlah..!!! ”

“tapi aku sudah…”

“ah, abang aja nyariknya tah kek mana (bagaimana.red), pakek acara jatuh segala segala ..”

“kau pun klewatan, dah tau badanku kate (kerdil.red), pake disuruh pulaak ngambek (ngambil), manalah dapatku..”

“makanya bang, kalo dah tahu kekurangan apa, sadar dirilah, giat awak bekerja…, ini bukannya nyenangkan binik, malah asik ngerogoti uang biniiiik..aja..”

Istriku terlihat mengomel terus sambil meletakkan kursi kayu ke posisinya semula, sepintas bibirku tersenyum, cantik juga istriku kalo sedang marah, kuhampiri dia dengan mulut masih cengar-cengir.

“ya udahlah, jangan merepet aja.., makin jelek kutengok mukamu kalo lagi merepet, ayoklah bantu memasukkan uangnya..”, ujarku membujuk, sambil tanganku berusaha mengusap punggungnya dengan ujung jari-jariku yang telah kupaksakan agar bisa menyentuhnya.

“..Ah malaslah.., aku mo masak!!, abang aja urus itu, bentar lagi si bonar pulang sekolah. Bisa berguling-gulinglah ntu anak nanti di tanah, kalo tahu dirumah mamaknya belum masak, kau taukan kek mana kalo anak manja tuh dah nangis..??”, ujar istriku sambil membuka lemari makan mengeluarkan beberapa sayuran mentah lalu menaruhnya keatas meja.

“Kau tak membuat kue risol apa hari ini… kok kentang dan wortelnya…?” ku tanya istriku, karena melihat ia mengeluarkan beberapa sayuran tak lazim untuk dimasak menjadi lauk.

“…macam mana mau membuat kue bang. Tepungku habis, modalnya mau kau pakek, terus dirumah juga nggak ada apa-apa mau dimasak, ikan kau bawa kemarin itu ajapun sudah habis pagi ini, kalo kentang dan wortel ini tak kuolah, mau makan pakek apa lagi..?, dasar..!! ”

Tak ku jawab lagi, karena diriku tidak mau membuat suasana makin panas, udara diluar saja sudah cukup panas. Ku langkahkan kaki kearah kamarku, mataku menatap nanar kearah lantai kamar, kulihat ada setumpuk uang uang kertas lusuh serta beberapa gundukan uang logam sudah tersusun, bibirku tersenyum, tapi kecut. Tanpa basa basi langsung kumasukkan semua tumpukan uang tersebut kedalam kertas pembungkus tadi,

“Tenanglah butet, kalo sampanku dah bagus, akan banyak ku carikan ikan buat kau, biar uang tabungan ni bisa kutebus…” ujarku berteriak dikamar bermaksud untuk menghibur hati istriku.

“huh, paling paling kau bawa ikan dencis (sarden kecil), ama tamban(sejenis ikan kecil banyak durinya)…” itu ajanya tiap hari kau bawa bang, lain tidak…”

“hohoho..tenang bah, nanti akan ku cari ikan besar-besar khusus buat kau dek, kalo perlu ikan paus lagi ku bawak pulang..”

Ujarku sambil tersenyum simpul setelah melihat jumlah uangnya cocok dengan hitungan istriku, memang hitungan istriku benar benar pas, tidak kurang, tidak lebih..

“Asal jangan terbalik, nanti kau dimakan sama ikan paus tuh bang..”

“hah, dijadikan umpan pun mana mau ikan paus itu makan orang kayak ku ini, selain dagingnya pahit, bikin taik giginya ajalah, hahahaha…”, ujar ku berseloroh sambil melipat kertas pembungkus dengan 3 kali lipatan, lalu memasukkannya diantara selipan ikat pinggang celanaku, kemudian keluar kamar kemudian berjalan kedapur.

“Sudahlah adek kusayang, intan payung permata nilam, pujaan hatiku seorang, jangan bersusah hati, menolong suami tuh pahalanya besar tau, uangnya dah abang masukkan, jadi abang dah bisa pergilah ni “, kataku sambil tersenyum. Kulihat ia sedang duduk bersila dilantai. Merajang sayuran di atas baskom plastik. Sambil mencoba mengambil hati, ku pijat-pijat lembut bahu istriku yang memang terkesan kekar

“..giliran ada maunya aja, manis kalilah mulutmu ni bang..”

“..semuanya kan demi adek butet cinta hatiku ini juga.., dan demi sibuah hati kita. Semata wayang berkulit hitam, Bonar perguson multikatov..”

“heh.. gombal basi..!! dah lah sana, udah mau masak !!, nanti nggak jadi pergi pulak, malah ngajak aneh aneh, dah siang nih bang !. Kalok nggak cepat abang ke kota, macam mana bisa siap motor diesel rusak itu. Bisa nggak ngelaut pula besok. Dah 3 hari bang, dah 3 hari !. Aku mau cepat kau ganti uang tabunganku itu ya, 3 bulan nyelenginnya bang..”

ujar istriku sambil menepis kedua tanganku diatas pundaknya.

“Ya udah kalo begitu, ke kota dulu ya , oh ya.. mau minta dibelikan apa nanti ?”, ujarku berusaha melunak.

“ah udahlah, belikan aja tepung terigu 5 kilo, minyak sama sayur mayurnya biar ku beli disini aja, nanti nggak cukup pulak uangnya..”

“ya…, kau janganlah minta yang mahal-mahal dan aneh-aneh, kalo cuma itu saja biasa, entenglah..” kalo ku belikan bakso kesukaanmu tuh mau nggak..??”

“Nanti duitnya tak cukup..? “.

“hah, kalo tak cukup tinggal ngebon aja ama si Darto tuh, bilang ini pesanan langganan dari Butet Sianipar langganan setianya masak nggak dikasihnya..? bisa gawatlah dia nanti, hehehe” ujarku sambil sedikit mengejek.

“Huh, dasar. yaudah, belikan aja bakso di tempat biasa, tapi kali ini punyaku 2 bungkus dijadikan satu bungkus, cabenya banyak, 4 sendok, saosnya juga, awas kalo lupa !!!”

“..iya, iyah!!, macam mana mulut nggak monyong kayak gitu, makan bakso aja, cabe aja kayak orang ngamuk ”

“..Apaaa …?..!!!” tiba-tiba tiba istriku menolehkan wajahnya kepadaku, bersungut-sungut. Segera ku pasang gigi satu, terus berjalan cepat meninggalkan dapur.

“nggak, nggak…! Ya udahlah pergi dulu ya, assalamu’alaikum..! “, ujarku singkat sambil melangkah cepat bergegas menuju pintu depan rumah, jangan sampai istriku berhasil menerkamku karena telah mengejeknya, sambil jalan kudengar sahutan salamnya, sedikit ketus, sambil terdengar suara berguman tidak jelas, dan memang malas menyimaknya, bagiku adalah bagaimana caranya bisa secepatnya keluar menuju pintu rumah, karena ada temanku si Badrun sedari tadi menungguku di teras rumah.

Dan ternyata firasatku benar, Badrun berdiri diteras rumahku.

Kulit mukanya hitam berminyak terpanggang panasnya terik matahari. Ku lihat wajahnya sudah berpeluh bermandikan keringat. Air mukanya kulihat meringis kepanasan, begitu melihat wajahku berdiri didepan pintu rumah seketika berubah menjadi sangar juga garang.

“Ooi mak jang… din din, kau buat ku berdiri lama menunggu disini sampai mau kering badanku ni, hah…!!!, apa aja kau lakukan di rumah tu sampe lama kali kayak gini…”

“Aah.. kau nya yang salah.. Sudah kusuruh masuk dulu kedalam, biar aku minta uang dulu sama binik, kau tak mau…!!! nah sekarang kau pulak merepet-repet (marah-marah.red) sama aku. Bah…”

“..Oi mak jang…, dari pada duduk didalam, terus diinterogasi ama king kong didalam rumah kau tuh, baguslah aku berdiri disini sampe sore..”

“kingkong- kingkong…, kepala hotak kau jambul…!!! begitu begitu dia toke kau juga, kalo dia tak kasih duit bisa tak melaut kita. Dan kau..!!! bisa-bisa diserampang ama binik karena tak kasih uang belanja…, sudahlah lah mari kita pergi..”

Aku menarik pundak temanku itu, memberikan satu buah topi agar tak kepanasan kepadanya, dan sebatang rokok yang kuambil dari kantong bajuku, berikut mancisnya.

“jadi kekmana nih, jadi berangkat kita ke kota, Din? “Badrun bertanya kepadaku, sambil menyulut sebatang rokok yang kuberikan kepadanya.

“jadilah…, inikan uangnya dah ditanganku..” aku menunjukkan kantongan kertas yang berisi uang kehadapan badrun, sesekali kulirik juga kantongan itu, penuh dengan sisa sisa tepung terigu.

“haah, bisa cair juga nya rupanya..,giliran aku mau pinjam duit kemarin, binik kau bilang nggak ada duit, nggak ada duit. Begitu mesin boat lakiknya rusak keluar juganya uangnya..”

“Badrun, Badrun. Ini bukan uang kami lah, ini uang simpanan pribadi binik aku, dia kasihan juga melihat kita tak bisa melaut karena mesin motor boat kita rusak.., biar kau tau, kalo lah bukan karena alasan ini, kurasa sampe kiamatpun ia tak akan membongkar celengannya..”

“hehehehe… garang garang begitu, binik kau rupanya masih baek juga sama kau ya din..” badrun tertawa lebar kepadaku hingga nampaklah gigi yang kuning sedikit kehitaman itu.

“drun..I, segarang-garangnya binik aku tuh, itu hanya kulit luarnya saja, biar aku dan kau tu rajin kerja. Tapi asal kau tahu, sebenarnya dibalik hatinya itu, dia itu orangnya penyayang suami, tahu…”

“ya..ya.. aku ngerti.., tapi teringatnya Din, ini dah yang keberapa kalinya lah kau berhasil membongkar paksa celengan binik kau tuh gara-gara mesin motor boat kita yang dah tua tu?..”

“ah entahlah…, kurasa sama ini, adalah yang kesepuluh kalinya…” ujarku sedikit kecut, kubuang puntung rokok yang telah abis kuhisap dan mempercepat langkahku, aku tak mahu Badrun kembali melontarkan kata kata sindiran kepadaku terus menerus soal pembongkaran paksaku atas celengan istriku seperti yang dulu- dulu. Yang pasti aku harus segera sampai dikota, membeli beberapa spare part mesin, 2 bungkus bakso pesanan istri.

Dan hal penting lainnya yang tidak boleh sampai aku lupakan adalah 5 kilo tepung terigu dengan dibungkus oleh kertas bekas pembungkus semen, dan itu adalah syarat wajib yang tak boleh terlupakan.

Karena dari tepung terigu 5 kilo inilah istriku bisa menabung sedikit demi sedikit uang sebagai simpanannya, dan kertas pembungkusnya..? ya sebagai tempat penyimpanan uang ku jika hendak berangkat ke kota yang lebih aman dari sebuah dompet kulit, karena lebih besar muatannya untuk menampung tumpukan uang kertas dan pecahan logam dari hasil bongkaran celengan istriku. Dan ironisnya semenjak si Bonar sekolah, sudah sepuluh kali aku membelikan 5 kilo tepung terigu untuk istriku, tapi sepuluh kali juga aku membawa kertas pembungkus tepungnya ke kota komplit dengan uang hasil usaha dari si tepung terigu itu hanya untuk memperbaiki mesin boat perahu sampanku yang sudah tua.


Terima kasih telah membaca cerita pendek keluarga harmonis yang lucu. semoga cerpen diatas dapat bermanfaat dan menghibur kita semua. Salam sukses.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait