Kesalahanku

cerpen istri minta cerai

Kesalahanku adalah cerpen istri minta cerai karena suaminya tidak perhatian, sering pulang malam menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Sang suami menyesali perbuatannya, namun apakah istrinya bisa menerima ? simak pada cerita pendek berikut :

Cerpen Istri Minta Cerai – Kesalahanku

“Aku ingin kita berpisah !” kata-kata Karina mengguncangku. Aku merasa shock dan kaget kutatap dalam-dalam ke bola mata Karina berusaha mencari kepastian dari kata-katanya. Tapi  yang kutemui adalah sebuah kesungguhan yang nyata yang selama ini selalu aku remehkan.

“Apa maksudmu Karina ?” pertanyaanku memperlihatkan kebodohanku

“Aku ingin bercerai.” Tandasnya lagi

Ucapan itu singkat tapi membuatku sungguh terluka, harga diriku … tak kusangka Karina berani mengeluarkan kata-kata yang kuanggap tabu diucapkan pada sebuah rumah tangga tapi…

“Kenapa, apa kamu punya laki-laki lain ?”

“Iya, lalu kenapa ?” tak ku sangka juga Karina menjawabku dengan kata-kata yang seperti menantang dan memancing emosiku.

“Aku tidak ingin membicarakan hal ini dengan emosi.” Aku memilih merendahkan suaraku tanda ingin mengalah.

“Aku tidak sedang dalam keadaan emosi. Emosiku sudah mati sama seperti cintaku padamu. Dan itu bukan karena keinginanku tapi itu keinginanmu. ”

Kalimat yang  lagi terucap dari bibir Karina membuatku  tertunduk, aku malu mengakui Karina memang tidak sedang marah atau emosi dia malahan bicara dengan sangat tenang. Mimik wajahnya terlihat begitu dingin, apa emosi wanita yang selalu meledak-ledak itu sudah mati.

Dia yang paling sering mengomeliku, marah-marah tak jelas, bahkan terkadang bersikap nekat karena kecemburuannya kini terlihat begitu berbeda. Kupikir Karina tak akan berani meminta cerai, aku terlalu yakin dia sangat mencintaiku. Ungkapan kata permintaan cerai kupikir hanya luapan emosinya sesaat tapi kali ini tak ku temui itu diwajahnya.

Aku memang laki-laki brengsek. Aku sudah menghianati cintanya berkali-kali, menyakiti keluargaku, anak-anakku yang tak berdosa. Jika dia akhirnya bersungguh-sungguh dengan ucapannya itu berarti sudah tamat. Disaat hatiku ingin berubah dan kembali menata semuanya dari awal semua sudah terlambat. Akulah yang telah membuat wanita yang mencintaiku menjadi dingin dan keras seperti batu. Aku mencambuknya dengan penghianatan dan kesakitan yang tak terkira, dan saat sampai di titik ini tiba-tiba aku merasa sangat sakit.

“Tidak, aku tidak ingin bercerai. Aku tidak ingin anak-anakku melihat orang tua mereka bercerai.” Sanggahku cepat, tiba-tiba aku merasa konyol dan kekanak-kanakkan dengan mengatas namakan anak-anak diatas penderitaan yang kutaburkan sendiri. Yah aku merasa konyol sehingga pantas kalau Karina akhirnya tertawa keras.

“Ha ha ha ha… sadar Bim, semua yang ingin kamu lakukan demi keluarga ini entah mengaku tobat, menyesal, dan segala tetek bengek alasanmu. Sungguh Bim, aku tidak tertarik. Yang aku inginkan Cuma satu. Cerai… itu saja. Dan jika kamu bicara tentang anak-anak itu omong kosong Bim. Kemana saja kamu selama ini ha.. ? kamu tidak pernah peduli dengan anak-anakmu. Jangan memaksakan sesuatu yang sudah jauh dari jangkauanmu. Sadarlah pernikahan kita sudah berakhir. ”

Kata-kata Karina sungguh menohok sampai ke ulu hati. Aku merasa sangat nyeri dan jantungku seperti tersayat. Penyesalan dan kesadaran yang datang dari relung hati yang paling dalam tak dianggap lagi. Harapanku untuk memperbaiki kesalahanku kini sirna sudah.

Di balik pintu tatapan polos anak-anakku semakin menghempaskanku pada rasa berdosaku. Aku ayah yang jahat, mereka darah daging yang tak pernah ku anggap, tak pernah ada waktu untuk bermain-main dengan mereka atau sekedar bercanda menghabiskan waktu. Kuhabiskan waktuku dengan teman-temanku dan hura-hura dalam kehidupan pergaulan malam yang menyesatkan.

Dan ketika aku sudah bosan aku datang dan meminta mereka untuk memberikan waktu untukku. Ah aku sangat egois menuntut suatu hak yang tak pernah ku berikan pada mereka. Aku terlalu meremehkan sang waktu, terlalu takabur pada cinta istriku yang tak akan berpaling. Aku lupa dia manusia bukan malaikat. Dosa dan nafsu telah menutup mata hatiku hingga tak kusadari kalau diriku telah kehilangan mereka.

“Maafkan aku Karin, maafkan aku. Sungguh aku tidak ingin bercerai, ku mohon. Beri aku kesempatan kita mulai dari awal lagi. ” aku memohon seperti anak kecil. Tapi bahkan air mataku tak membuat Karina bergeming, sedikit rasa iba yang kunanti darinya tak juga datang dia seperti patung beku yang menyerupai dewa kematian yang siap merenggut nyawaku. Tatapannya yang dingin berusaha untuk mengasihaniku tapi ku tahu dia tak bisa. Aku telah menancapkan seribu tombak yang menghancurkan hatinya hingga tak tersisa lagi tempatku disana.

“Aku minta maaf juga untukmu Bim, aku tak bisa memaafkanmu. Rumah tangga kita sudah penuh luka. Hatiku tak bisa lagi sembuh. Aku tak ingin berpura-pura mencintaimu dalam memberi kesempatan padamu.  Itu hanya akan menyiksa kita berdua dan anak-anak. Hargailah keputusan kami. Sama seperti kami dipaksa untuk menghargai keputusanmu melukai kami sekian lama. Kali ini kami sudah merelakanmu Bim. ”

Dan duniaku pun terasa terbalik, aku menangis seperti anak kecil bahkan tidak tahu kenapa menangis, yang kurasakan hanyalah kehampaan dan rasa kesendirian yang menusuk. Aku merasa sangat sakit, bahkan tak bisa bangkit dari dudukku. Inikah perasaan sakit itu ? sakit yang dirasakan Karina dan anak-anakku sekian lama karena ulah dan perbuatanku. Tak kubayangkan mereka merasakan sakitnya berkali-kali, yah Tuhan apa yang sudah kulakukan selama ini ? aku menyakiti dan menghianati keluargaku.

Dan memikirkan  Karina dengan laki-laki lain sungguh sangat melukai hatiku. Aku mencintai istriku tapi menyia-nyiakannya, diriku pantas di hukum. Sungguh tak bisa kulukiskan perasaanku saat ini. Inikah rasanya perasaan tercampakkan ? gelap dan kosong kurasa duniaku.

Karina sudah meninggalkanku kembali ke rumah orang tuanya dengan membawa anak-anak. Kali ini aku tak ingin banyak janji terucap, cukup beri aku kesempatan ya Allah untuk memperbaiki diriku. Jika berhasil memperbaiki diriku dengan merubah sikap kembali ke hakikat manusia yang punya iman, ku yakin Tuhan pasti akan membantuku. Akan kuperbaiki diriku dan hubunganku dengan Tuhan. Karena ku yakin Tuhan aku membantuku memperbaiki hubunganku dengan manusia.

Banyak yang harus kutebus, ku harus berjuang. Jika Karina berjuang selama 10 tahun  pernikahan kami tak mengapa jika diriku harus berjuang 100 tahun untuk memohon maaf dan ampunan dari keluargaku.


Terima kasih telah mengunjungi laman kami dan membaca cerpen istri minta cerai. Semoga cerita pendek diatas dapat menghibur dan bermanfaat bagi sobat muda Bisfren sekalian dalam menjaga hubungan rumah tangga. Tetaplah semangat dan optimis. Jadikan setiap peristiwa dalam hidup untuk memacu kreativitas, menjadi inspirasi dan motivasi dalam mengejar cita-cita dan berkarya. Salam sukses selalu.

Dibagikan

Putri Wahyuningsih

Penulis :

Artikel terkait