Ketika Aku Berhijab

cerita inspiratif remaja

Ketika aku berhijab merupakan cerita inspiratif remaja tentang seorang gadis tomboy yang tidak mau berhijab meski dirinya anak seorang ustadz. Suatu ketika dia merasakan kerinduan pada orang tuanya lalu ingin membahagiakannya tapi kenyataan berkata lain. Bagaimana ceritanya ? simak pada cerita pendek berikut.

Cerita Inspiratif Remaja – Ketika Aku Berhijab

Aku gadis tomboy tumbuh di keluarga santri. ayahku seorang pendakwah, sedangkan ibuku guru agama di sekolah swasta. Semua keinginanku pasti bertentangan dengan mereka. Baik dari segi penampilan, sikap, hobi, serta masih banyak hal lainnya. Ayahku meminta supaya berpenampilan muslimah sejati, mengenakan jilbab. Seperti kakaku Aida. Ia dari kecil sudah terbiasa berhijab, karena seusai sekolah dasar kakaku langsung masuk pesantren. Aida cantik, pintar ngaji, sikapnya sopan, lemah lembut, pokoknya perfect. Mungkin cewek seperti kakaku menjadi incaran para lelaki. Bagaimana tidak ? semua ciri-cirinya sudah masuk dalam kategori wanita sholeha. Berbeda denganku, gadis berpenampilan seperti laki-laki, gaya rambut brondol, selalu mengenakan kaos hitam, dan bawahan jeans.

Namaku Airin Izzati.

Sebelum masuk SMA, sempat juga ku masuk ke pesantren, tapi cuma satu bulan. Biasa alasanku sakit, teman-temannya nakal, gak pernah kebagian makan, macam-macamlah. Padahal itu semua trikku agar bisa keluar dari pesantren. Akhirnya ibu termakan drama konyolku. Hatinya tak tega melihatku sakit-sakitan di pesantren. Lalu dipindahkanlah ke sekolah negeri, sebagaiman ku inginkan. Awalnya ayah tak mengizinkan pindah ke sekolah negeri, karena takut nantinya kelakuanku semakin aneh. Tapi melihat kondisiku sakit-sakitan, akhirnya hatinya luluh juga.

Setiap bulan ayah selalu mendapatkan panggilan tausiah ke luar kota. Itu membuat hatiku senang, karena bisa menyempatkan keluar malam bersama teman-teman. Entah itu nongkrong sambil main gitar, makan-makan bareng, yang penting senang sekaligus mengurangi penat suasana rumah karena setiap malam harus mengaji bersamanya. Membosankan. Kalau hanya ada Ibu di rumah, diriku bisa berbohong padanya. Ibu itu tipe gak tegaan kalau melihat orang menangis, nah dari situlah aku bisa berpura-pura menangis. Sedangkan kakaku, sekarang dia jarang pulang ke rumah. Soalnya sedang pelatihan di Rumah Sakit, maklumlah Ia calon dokter jadi kesehariannya tak banyak waktu di rumah.

“Bu, besok ayah ada panggilan tausiah di Sumatra selama lima hari, tolong jagain anak-anak ya, terutama Airin. Saya khawatir dengan kelakuannya semakin aneh” sambil menyeruput secangkir kopi hitam kesukaannya.

“Tenang saja Yah, Ibu pasti jagain anak-anak” jawab ibu menyuguhkan pisang goreng masih mengepul bayangan asapnya.

Tak sengaja kudengar perbincangan mereka. “Yesss !!!” ucapku senang. Seperti memenangkan lomba basket saja, gumamku.

Ayah berangkat ke Sulawesi

Esok harinya sebelum berangkat ke bandara, Ia masih sempat-sempatnya mengantarku ke sekolah. Padahal sudah BBM temanku kalau hari ini diriku bebas darinya, serta menyuruh mereka menjemputku. Namun kenyataan tak sesuai dengan harapan.

“Aaahhh gagal ” batinku.

Kadang kesal kalau berangkat sekolah diantarnya. Pasti teman-teman mengatakan kalau anak papa. Apalagi ia memanggilku dengan panggilan manjaku “Dek “, kedengerannya seperti anak TK.  “Huuuhhh kesel”.

“Dek, belajar rajin ya. Biar dapat prestasi bagus. Nanti pulang dari Sumatera ayah bawain oleh-oleh buat kamu. Ingat jangan nakal ! ” sambil membelai rambut brondolku.

“Ya , Yah ” mencium tangannya dengan ekspresi cemberut

“Assalamu’alaikum”

“Wa alaikum salam” jawabku langsung berbalik badan menuju gerbang sekolah

Di depan Gerbang sekolah siswa-siswi menatapku dengan tanda tanya besar.  Ayah …??? bisiknya. Mereka terpaku melihatku. Yang mereka tahu, diriku adalah gadis tomboy yang kadangkala mbolos di kantin pinggir sawah. Tapi kali ini malah diantar oleh bapak-bapak berpakaian rapi mengenakan peci.

“Apa liat-liat ? ” bentakku.

Ucapanku membuat mereka terbangun dari tatapan tajamnya. Mungkin mereka bingung, orang tuanya ustadz tapi penampilan anaknya tidak terlihat seperti anak ustadz. Biasanya anak ustadz itu berjilbab, tutur katanya sopan, tapi itu tak berpihak padaku. Aku malah berpakaian seperti anak metal. Bahkan ada guru bilang padaku, “Kalau saja kamu bukan anak ustadz Ramzi, mungkin bapak tidak mengizinkan kamu mengikuti pelajaran bapak” tegas pak Agus.

Dia adalah guru guru matematika tak disukai para siswa. Siswa menyukai pak Agus hanya kalau mereka menyukai mata pelajaran matematika saja. Yaaa…bisa dihitunglah, kemungkinan dua atau tiga siswa. Aku juga benci, namun bukan karena mata pelajarannya tapi karena sifat angkuhnya.

Ayah pulang, bawa oleh-oleh apa ya …

Ini hari kelima tausiah di Sumatra. Besok jadwalnya pulang. Sudah tak sabar rasanya menunggu oleh-oleh darinya. Saat itu sebelum berangkat, diriku sempat bercerita tentang keinginanku untuk dibelikan gitar original dari Sumatra.

Seusai sholat Isya kudengar ketukan pintu. Pikiranku langsung tertuju pada sebuah gitar. “Pasti pulang membawa sebuah gitar untukku”ucapku dalam hati

“Assalamu’alaikum”

“Wa’alikumsalam ” sambutku semringah.

Ku lihat barang dalam genggamannya hanya sebuah koper berukuran sedang. Lalu mana gitarnya ? mungkin masih dimobil, gumamku.

“Mana oleh-olehnya Yah ? ”

Dia tersenyum lebar dan memelukku. Bisa dibilang pelukan cukup lama, hampir 30 detik jika ku menghitungnya. Mungkinkah itu pelukan rasa kangennya padaku ? tapi biasanya tak seperti ini.

Lalu didilepaskan pelukannya, kulihat di pipinya ada tetesan air mata. Ia seperti biasa membelai rambutku. Aku cuma diam melihat sikapnya sedikit berbeda. Tak lama kemudian dia menyodorkan kotak merah muda padaku. “Kotak Pink ?” tanyaku dalam hati.

Kenapa oleh-olehnya jilbab ?

“Semoga kamu suka ya ” ujarnya.

Aku mulai membukanya kotaknya dimeja.

“Jilbab ? Gamis ?” kataku lalu diam sejenak diikuti ekspresi tak sedap. Hatiku kecewa.

“Apa-apaan sih Yah ?, kenapa dikasih jilbab sama gamis, kan ayah tau aku gak suka pake pakaian kaya gini” nada tinggi.

“Ayah pengen banget kamu itu pake jilbab Dek”.

“Tapi aku gak suka pake jilbab Yah”. Kataku sambil meletakkan kotak merah muda diatas meja lalu lari masuk kamar. Aku merasa dia tidak adil padaku. Ayah dan Ibu hanya sayang sama kak Aida. Mereka tak mengerti semua keinginanku.

Aku masih murung di kamar. Keadaan kamar yang awalnya tertata rapi, kini berantakan seperti tak ada penghuninya. Bantal entah kemana larinya, buku-buku tercecer dilantai, baju-baju dilemari terkuras kosong oleh amarahku.

“Rin, gak boleh gitu dong sama ayah” suara Aida muncul disudut pintu.

“Biarin !!” cuekku, “ayah kan tau kalo adek gak suka pake jilbab. Lagian kaya zaman Nabi aja sih pake rok-rok panjang segala”.

“Ayah itu sayang sama Airin. Makanya pengen anaknya menutupi aurat ” jelas Aida.

Aku masih mematung dengan wajah cemberut.

“Menutup aurat itu kan hukumnya wajib Dek bagi kaum muslimah. Itu tercantum dalam Al-Qur’an surat An-Nur ayat 31. Bunyinya “Katakanlah (Wahai Nabi Muhammad) kepada wanita-wanita mukminah. Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, juga memelihara kemaluan mereka. Janganlah menampakan hiasan (pakaian, atau bagian tubuh) mereka  kecuali yang tampak darinya. Serta hendaklah mereka menutupkan kerudung mereka kedada mereka,” jelas Aida. Nada suaranya begitu lembut.

“Udah deh kak gak usah ceramah, males dengerinnya. Udah sana keluar ! “usirku.

Sebel banget, tapi ayah tidak marah dia malah berlaku lembut

Setelah kak Aida keluar kudengar ketukan pintu. Hatiku yakin, itu ayah, pastinya akan menegurku. Tapi kali ini aku tidak takut, karena hatiku sangat marah padanya. Bahkan telingaku sudah siap mendengarkan ceramah itu-itu saja berulang kali kudengar ditelingaku.

“Dek ” suaranya muncul di depan pintu kamar.

“Ayah sayang banget sama Airin, makanya ayah minta anak manis ini mengenakan jilbab ” sambil mengelus rambutku.

Aku hanya diam merunduk. Masih menyimpan benci padanya karena sudah memojokanku untuk mengenakan jilbab. Tapi terasa hal berbeda pada sikapnya kali ini. Biasanya Ia menegurku dengan tegas, tapi kali ini malah berkata lembut. Entahlah diriku tak mengerti, intinya masih emosi, masih benci.

Hari-hari berlalu, minggu ini dia dapat panggilan Tausiah ke Makasar. Seperti biasa sebelum berangkat, dia mengantarku ke sekolah. Tiba-tiba di jalan bertatapan anak-anak SD sedang bercanda gurau.

“Dek, coba liat anak-anak kecil itu, mereka masih kecil tapi sudah terbiasa memakai jilbab, seharusnya kamu bisa belajar dari mereka” jelasnya.

“Tapi Yah, Airin gerah kalo pake jilbab, apalagi pake rok panjang, ribet yah ” ujarku menolak.

“Ya sudah, nanti belajar sama kak Aida ”

Setiba di gerbang Sekolah aku tak heran lagi pada pandangan teman-teman. Mereka pasti menatapku tanpa kedip. Aku abaikan saja mereka.

“Dek, belajar dengan rajin ya ! ” tak bosannya ia berulang-ulang menasehatiku.

Kemudian ia memelukku. “Ayah bakalan kangen sama kamu, jangan lupa sholat ya Dek !”.

Ayah melepasan pelukannya. Emosiku tak sesengit dulu, karena terbayar sikapnya yang semakin berbeda.

Beberapa hari ini jadi pendiam, males bikin heboh di sekolah

Di dalam kelas biasanya mulutku suka teriak-teriak, tapi kini malah diam melamun. Semua siswa melihatku aneh, biasanya suaraku merusak telinga mereka. Hari ini mungkin mereka merasa tentram tanpa teriakanku.

“Teng…teng…teng…” bel pulang berbunyi

Siang itu langsung pulang ke rumah, tumben-tumbenan hari ini gak nongkrong bersama teman-teman.

Sesampai di rumah, ku tengok ruang kerjanya. Sepi, batinku. Biasanya kalau pulang sekolah, dirinya ada di ruangan ini. Akhir-akhir ini benakku selalu memikirkannya, padahal biasanya tak peduli dengannya. Tetapi kenapa hatiku tak sebahagia seperti biasanya. Dulu aku merasa senang jika dia tak ada di rumah, bagaikan burung lepas dari sangkarnya. Tapi mengapa sekarang merasa tak ingin jauh darinya. Dan kenapa rasa bersalahku muncul tiba-tiba ? ku ingat kelakuanku sudah banyak mengecewakannya.

Sepertinya kangen sama ayah, aku ingin kasih kejutan

Ku rebahkan tubuhku di ranjang sambil melirik foto dimeja. Kutatap senyumnya difoto. Tak sadar air mataku menetes, mungkin hatiku rindu. Teringat saat ayah memberikanku oleh-oleh dari Sumatera,  kubuka kotak merah muda dalam lemari. Sebuah jilbab serta gamis merah muda. Namun, malah kutolak pemberiannya saat itu. Jika bisa kulihat hatinya waktu itu, mungkin ia menangis. Tapi sayangnya hatiku terkabut oleh sikap egoku. Tak ada rasa hormatku padanya.

Satu minggu telah lewat. Berati satu minggu juga tak ku dengar suara merdunya ketika mengaji. Rasanya lama menunggu kedatangannya pulang dari Sumatera. Aku ingin memberi kejutan padanya. Ku mantapkan hati untuk berhijab. Dia pasti senang melihatku sudah mulai berubah. Dan akan kusambut kepulangannya dengan gamis serta kerudung merah muda pemberiannya.

Tapi sayangnya ada kabar buruk 🙁

Tiba-tiba ku mendengar kabar berita buruk tentangnya. Pesawatnya jatuh ke laut. “Deg” mendengar beritanya jantungku terasa copot. Air mata langsung membasahi kedua pipiku. Sekarang jenazahnya berada di Rumah sakit. Aku, Kak Aida, serta Ibu langsung menuju ke Rumah sakit.

“Ayahhhhh” teriakku.

Ayah sudah pergi sebelum melihatku berhijab

Melihat ayah terbaring tertutup kain berwarna putih, disitulah muncul penyesalanku.  Ayah belum sempat melihat diriku berhijab. Dan tak kusangka pelukannya satu minggu lalu adalah pelukan terakhirku untuk berjumpa dengan ayah.

“Ayah gak boleh pergi, liat Yah Airin sekarang udah pake jilbab, Airin udah berubah Yah”.

“Rin, kita harus ikhlas atas kepergiannya” Ibu juga kak Aida memelukku.

Hujan turun mengiringi kepergian ayah, seolah tau kabar tangis dariku. Ku berjanji akan terus mengenakan jilbab agar menjadi manusia lebih baik lagi sebagaimana pesan ayah :

“Janganlah menunda-nunda berhijab sebelum diri kita dihijabkan oleh kain kafan. Sesungguhnya menutup aurat itu hukumnya wajib bagi kaum muslimah. Bukalah hatimu untuk menjemput hidayah Nya. Sejatinya berhijab itu bisa terhindar dari syahwat. Semoga yang belum mengenakan jilbab, menyegerakan menutup auratnya. Amin.”


Terima kasih telah membaca cerita inspiratif remaja seorang cewek tomboy yang berhijab. Semoga cerpen diatas bermanfaat guna memberi motivasi serta inspirasi bagi sobat Bisfren sekalian. Salam sukses.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait