Ketika Cinta Harus Memilih

cerpen cinta tak sampai

Ketika cinta harus memilih adalah cerpen cinta tak sampai tentang kegundahan seorang wanita saat dihadapkan pada dua calon suami antara kekasih pilihan hati atau lelaki pilihan ibunya. Siapakah yang akan dipilihnya pada cerpen kasih tak sampai ini ? coba simak kisah berikut.

Cerpen Cinta Tak Sampai – Ketika Cinta Harus Memilih

“Abang tidak usah menemuiku lagi, untuk apa ?” air mata ku tumpah seketika. Aku benar-benar tidak bisa lagi menahan cairan bening itu. Bang Yudi menatapku dalam. Aku memalingkan wajah. Melihat matanya hanya akan menghancurkan perasaanku.

“Din, tolong mengertilah !” ia seperti seorang pecundang yang aku temui. Setelah rasa sakit yang ia tumbuhkan, ia masih bisa memintaku untuk mengerti ?.

“Pergilah, Bang. Aku benar-benar tidak ingin lagi mendengar alasanmu” aku melangkah meninggalkannya tanpa menoleh sedikitpun. Bagiku, jika ia tidak ingin beranjak meninggalkan maka aku yang akan menjauh.

“Abang masih mencintaimu” ucapnya tegas. Langkahku sempat terhenti. Kalimat itu terdengar seperti sebuah pernyataan yang tulus. Cepat-cepatku buang pikiran itu, “Ah, terdengar indah tapi palsu” aku membatin. Jika benar ia tulus mencintaiku, tidak mungkin dengan mudahnya ia mengkhianatiku. Langkahku semakin mantap untuk beranjak meninggalkannya. Seperti sebuah tarikan dahsyat, kini terhenti kembali.

“Andai kamu ada di posisiku saat itu” suaranya bergetar. Aku tidak sanggup meneruskan langkah ini. “Ia ibuku dan kamu, kekasihku. Kalian dua orang wanita yang sangat aku cintai. Tapi ketika aku dihadapkan pada pilihan antara dia atau kamu, aku bimbang” ia terhenti. Aku tertunduk, mungkin salahku. Sejak awal, aku sudah tahu bahwa orang tua bang Yudi telah menjodohkan anaknya itu dengan anak sahabatnya. Jika pada akhirnya ia menentang hubungan kami, itu bukan salahnya. Tapi salahkah jika bang Yudi lebih memilihku ketimbang pilihan ibunya? Salahkah jika aku mencintai anaknya? Salahkah jika kami saling suka?. Aku merasa ini tidak adil hingga bang Yudi pun tidak bisa mempertahankan tekad kami dan memilih mengalah atas pilihan ibunya.

“Semuanya sudah selesai, Bang. Penjelasan dan pembelaanmu tidak akan mengubah keadaan. Kita sudah bukan yang dulu lagi. Kamu sudah ada yang memiliki”. Kali ini dengan beban berat yang terasa menghimpit di hati, aku melangkah meninggalkannya.

“Din” ia memanggilku tapi aku tak lagi ingin melihatnya. Biarlah ia menjadi kisah masa lalu yang harus aku terima kehadirannya.

*********

“Din, kamu sudah pulang nak?” suara ibu terdengar dari balik pintu. Sejak tadi aku memang memilih untuk mengurung diri di kamar. Bekas-bekas luka yang masih tersisa ingin segera ku hapus.

“Iya, Bu”.

“Keluarlah dulu, Din. Ibu ada perlu denganmu” kali ini suaranya agak terdengar berbeda bagiku. Sudah lama aku tidak mendengar intonasi bahagia ini. Terutama sejak acara lamaranku tiba-tiba dibatalkan oleh bang Yudi.

“Kenapa, Bu ?”. Kebahagiaan ibu semakin tampak jelas kulihat. Ia tersenyum menyiratkan kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan. “Kenapa, Bu ?” aku mengulangi kalimat itu, untuk memastikan kalau ibu masih mendengarku.

“Duduklah dulu, Din !” ia menarik tanganku dan kamipun duduk di sofa. Pancaran kemerahan langit sore itu tampak jelas mewarnai pembicaraan diantara kami. Ibu sangat serius menceritakan sesuatu padaku. Ia terlihat sangat bersemangat. Aku hanya tersenyum mendengar setiap fase cerita itu. hingga sampai pada inti yang membuatku terdiam. Ardi, seorang pemuda yang ibu ceritakan dari tadi, ingin mempersuntingku. Ibu tidak memaksa ku untuk menerima lamaran itu. Tapi di satu sisi, aku tahu ibu sangat mengharapkanku menerimanya. Ekspresi ibu menggambarkan itu semua.

“Ibu yakin dengan Ardi ?” aku menatap wajah ibu, berharap ia memberikan penjelasan yang membuatku bisa mengelak. Ibu tersenyum kemudian mengangguk. “Hah” aku menghela napas panjang. Benar dugaanku, ibu sangat menginginkan ku bersama Ardi.

***********

Tidurku tidak nyenyak kali ini. Permintaan ibu sangat berat buatku. Terlebih aku tidak mengenal sosok yang bernama Ardi. Siapa dia ? Benarkah ia pemuda baik yang bertanggungjawab seperti yang ibu ceritakan? Benarkah ia laki-laki yang bisa menjagaku dan menyayangiku?. Kalau seperti itu, aku juga bisa memberikan ibu kriteria yang sama untuk menjadi calon menantu. Aku punya Mas Rian, ia pemuda yang aku kenal setahun lalu saat masih bersama bang Yudi. Masalahku dengan bang Yudi, membuatnya sangat mudah masuk dalam hidupku beberapa bulan terakhir. Ia pribadi yang menyenangkan, membuatku nyaman. Bahkan ia berencana untuk menjejakkan hubungan kami ke tahap yang lebih serius. Dan aku rasa, kriteria yang ia punya, lebih dari yang ibu minta.

Hari itu, ku beranikan diri membawa Mas Rian menemui ibu. Ibu yang hendak ke pasar terlihat kaget dan terhenti di depan pintu rumah kami. Ibu tampak sedikit bingung melihat ke arahku terutama ke arah Mas Rian. Ku maklumi, ini pertama kalinya aku membawa laki-laki ke rumah setelah terakhir kali memperkenalkan bang Yudi. Dan kali ini, laki-laki itu bukan Ardi seperti yang ibu mau. Meski sebelumnya, ibu sudah pernah aku kenalkan dengan Mas Rian saat acara wisudaku.

“Bu” aku menyalaminya, diikuti Mas Rian. Ibu masih dengan ekspresi yang sama. “Ini Mas Rian, Bu. Ibu pasti masih ingat” Mas Rian mencium tangan ibu.

“Iya, ibu masih ingat” ucapnya tersenyum.

“Mas Rian pacar Dinda, Bu” ucapku mantap. Raut wajah ibu seketika berubah. Ibu menatapku dalam, matanya mulai berkaca-kaca. Jantungku berdegup, aku sama sekali tidak bermaksud membuat ibu sedih. Ibu berlalu meninggalkan kami tanpa sepatah katapun. Ku tahan airmata yang hampir meleleh. Aku tidak menyangka akan mendapat perlakuan ini dari ibu.

*********

“Ibu, Dinda dan Mas Rian sudah dekat sejak dua bulan terakhir. Maaf jika Dinda tidak pernah bercerita. Dinda tidak ingin mengecewakan ibu” aku mendatangi ibu di kamarnya. Aku menggenggam tangannya, tapi ibu melepaskannya.

“Bagaimana dengan Ardi ?” suara ibu bergetar. Pandangannya jauh ke depan.

“Bu, Dinda…” kata-kataku terhenti.

“Kamu tidak pernah mendengar kata-kata ibu”.

“Bu, Dinda tidak bermaksud….”.

“Dulu saat kamu bersama Yudi, ibu tidak pernah setuju. Tapi kamu bersikeras ingin bersamanya. Sekarang, apa yang ia lakukan?”, airmatanya tumpah seketika.

“Bu, Dinda…..”

“Ibu ingin kamu bersama pemuda yang baik. Dan Ardi anak yang baik” ibu memandangku dalam.

“Bu, mohon mengerti Dinda. Dinda sangat mengenal Mas Rian, dia pemuda yang baik. Dia pasti bisa menjaga Dinda”. Aku menangis, airmataku tumpah tanpa ampun.

“Sejak bapakmu meninggal, hanya ibu yang mengasuh dan mengurusmu hingga dewasa. Saat kamu harus berumahtangga, ibu ingin kamu dengan pemuda yang bisa menggantikan posisi ibu buatmu” suara ibu semakin bergetar.

“Tapi, Bu….” Aku tersedu.

“Rian mungkin anak yang baik, tapi tidak untuk menjadi suamimu. Keyakinan kita dan dia berbeda. Ingat itu, Din!” ibu menggenggam tanganku.

“Bu, Dinda sayang Mas Rian…Dinda,…” ku rasakan kepalaku semakin berat. Aku sungguh tidak bisa menerima kenyataan, untuk kedua kalinya cintaku harus pupus. Di saat aku benar-benar tulus menyayangi, di saat itu pula aku harus ikhlas melepaskan. Ibu memelukku erat. Tangisku semakin pecah. Aku tahu, ibu pasti ingin yang terbaik untukku. Meski saat ini ku rasakan sakit yang teramat dalam, tapi harus tetap ku terima. Aku harus melepaskan cintaku untuk kedua kalinya. Aku harus melepaskan Mas Rian.


Terima kasih telah membaca cerpen cinta tak sampai “Ketika Cinta Harus Memilih”. Semoga cerita sedih pendek diatas tersebut dapat menghibur dan memberi inspirasi sekaligus motivasi bagi sobat Bisfren untuk terus berkarya. Salam sukses dan jangan lupa baca cerpen cinta lainnya.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait