Ketika Cinta Telah Ternoda

cerita pendek konflik cinta segitiga

Cerita pendek tentang konflik cinta segitiga cewek disukai dua cowok kakak beradik. Dia lebih suka pada si adik padahal itu adalah pacar dari sahabatnya. Cinta memang tak bisa dipaksakan, namun jodoh juga demikian. Meskipun dia sudah menyerahkan keperawanannya sampai hamil, namun tidak bisa menikah dengan lelaki yang dicintainya. Simak cerpen konflik cinta segitiga berikut.

Cerita pendek konflik cinta segitiga Ketika Cinta Telah Ternoda

Pagi terlihat sangat cerah,  langit tampak biru dan sinar matahari sudah menyinari bumi semesta beserta isinya seharusnya di hari yang cerah itu tentunya akan menimbulkan hati yang cerah juga bagi setiap insan,  namun bukan itu yang di rasakan oleh seorang gadis bernama Alya. Hati nya terus terbalut oleh kesedihan jika teringat kisah masa lalunya  satu tahun yang silam, dimana ketika pertama kalinya Alya jatuh cinta dan pada akhirnya cintanya ternoda. Alya kembali mengenang masa lalunya setahun yang silam.

Dulunya, ketika masih SMA Alya tinggal di panti asuhan imam bonjol,  kecerdasan yang dimiliki Alya membuat teman-teman satu tempat tinggal pada iri,  sehingga Alya merasa tersisih.  Hal itu membuat Alya lebih memilih bergaul dengan teman luar dibandingkan yang masih satu tempat tinggal dengannya dengannya. Kebetulan yang menjadi teman Alya adalah Ratna yang tinggalnya tepat di depan panti asuhan ia tinggal.  Meskipun beda sekolah tapi Ratna adalah teman yang bisa mengerti Alya.  Mereka juga sering berbagi ilmu karena Ratna juga nggak kalah pintarnya dengan Alya.

Suatu hari ketika akhir pekan Ratna mengajak Alya untuk ikut dengannya liburan ke pantai,  Ratna juga mengajak teman-temannya yang lain.  Mereka adalah Desi, Rafi, Idran, dan yang paling spesial bagi Ratna adalah Gema, cowok hitam manis yang selama ini ditaksir oleh Ratna, dimana Gema sendiri adalah saudara kandungnya Idran
Sejak berkenalan dengan teman-temannya Ratna, mulailah Alya merasakan dunia ABG yang selama ini belum pernah ia rasakan.

Ketika liburan ke pantai hari itu terlihat sebuah keceriaan di wajah Alya.  Ketika itu Alya sedang menikmati es kelapa muda bersama Desi, sementara teman-teman yang lain sedang asyik bermain di pinggir pantai.

“Gema sama Ratna emang pasangan yang cocok ya” ungkap Desi sambil memerhatikan mereka.

“Emang mereka udah jadian ? ” tanya Alya sedikit menggerutkan keningnya.

“Sebenarnya sich belum, cuman Ratna naksir banget sama Gema, bahkan sejak SMP lho”.

“Oh ya ?  Tapi bagaimana dengan kak Gema ?” tanya Alya kembali.

“Kak Gema ?  Panggil nama nya aja kali,  nggak usah panggil kakak” ungkap Desi sedikit tertawa.

“Bukannya dia lebih tua dari kita. ?”.

“Iya sich. . Tapi ya udah lah terserah kamu aja” jawab Desi.

Lima belas menit kemudian Ratna, Rafi, Idran dan juga Gema menghampiri Desi yang tengah ngobrol dengan Alya. Sebuah senyuman kecil di lontarkan oleh Gema pada Alya, Alya juga membalas senyuman Gema.

Selesai bermain di pantai tiba-tiba timbul di pikiran Ratna untuk jalan-jalan ke mall.  Yang lain pun hanya mengikut.  Setiba di mall Ratna meminta untuk berpencar dimana ia sendiri jalan dengan Gema, Desi dengan Rafi. Dan mau nggak mau Alya harus terima untuk jalan dengan Idran.

Itu adalah pertama kalinya Alya jalan berdua dengan cowok, Alya sedikit merasa grogi.  Namun Alya berusaha untuk tidak memperlihatkannya di dekat Idran. Idran sendiri juga seperti nya merasa senang jalan bersama Alya karena diam-diam Idran mulai menyukai gadis itu.

“Kita makan siang dulu yuk” ungkap Idran memecah kebisuan antara mereka.

“Nggak usah dech kak” jawab Alya.

“Loh,,  emang kamu nggak lapar ?”.

“Iya sich,  tapi teman-teman lain gimana ?”.

“Mereka kan udah gede,  lagian kan udah ada pasangan masing-masing kan ?” ungkap Idran.

“Ya udah dech,  aku ngikut kakak aja”.

“Gitu donk, yuk kita kesana!  Disana makanan restorannya enak loh”.

Idran membawa Alya ke tempat yang di tunjuknya tadi,  Idran tak hentinya menatap wajah ayu yang dimiliki oleh Alya sepertinya Idran memang sudah terpikat oleh Alya.

“Kakak ko mandangin aku segitu nya sich ?  Aku kan jadi malu” ungkap Alya saat di pandangi terus oleh Idran.

“Owhh, maaf!  Habisnya kamu cantik banget sich” jawab Idran sedikit merayu “oh ya,  mau pesan apa ?”.

“Hmm,, apa aja dech kak.  Aku ngikut kakak aja” jawab Alya.

Idran segera memberi tahu pelayan makanan yang akan mereka pesan, sebelum makanan datang Alya tiba-tiba mengeluh ingin ke toilet.

“Aku ke toilet bentar ya kak”.

“Jangan lama-lama ya ?”.

“Nggak kok”.

Tiba-tiba saja Alya dipertemukan dengan Gema ketika sudah keluar dari toilet. Keduanya sama-sama saling menatap satu sama lain, tatapan mata mereka seakan-akan menandakan. ada sebuah rasa yang tersembunyi di balik hati mereka masing-masing.

Semakin hari rasa itu semakin timbul hingga membuat perasaan Gema makin nggak karuan. Rasa penasarannya terhadap Alya membuat ia tak pernah berhenti memikirkan gadis itu, tapi bagaimana caranya ia menghubungi gadis itu ?  Rasanya tidak mungkin bagi Gema untuk minta bantuan Ratna, karena Gema tahu bahwa Ratna sudah lama naksir dirinya.  Jika Ratna tahu tentunya akan terjadi konflik antara mereka, tiba-tiba muncul sebuah ide! Gema ingat ketika di mall Alya jalan bersama Idran mungkin saja Idran sempat minta nomor ponsel Alya.  Dengan segera Gema menemui Idran yang tengah nonton TV.
“Id,  aku pinjam handpone bentar ya ?  Aku mau telpon Ratna, aku belum sempat isi pulsa” ungkap Gema.

“Ambil aja di kamar,  tapi jangan lama-lama” jawab Idran.

Ratna adalah alasan bagi Gema agar Idran mau meminjamkan ponselnya.  Karena hubungan Gema dan Ratna sudah dianggap seperti pacaran meskipun Gema tidak pernah menyatakan cinta sedikit pun pada Ratna.  Tujuan Gema untuk mencari nomor ponsel Alya akhirnya pun dapat.

Inilah awal kisah cinta Gema dan Alya. Dimana Gema sering mengajak Alya ketemu secara diam-diam meskipun sebenarnya Alya enggan namun perasaan tak bisa di bohongi bahwa Alya juga sangat menginginkan pertemuannya dengan Gema. Seperti hari itu Gema membawa Alya menikmati keindahan taman sari, bagi Alya dekat dengan Gema adalah sebuah kenyamanan,  tapi bagaimana jika nantinya Ratna tahu bahwa ia sering jalan dengan Gema sementara Alya sendiri tahu bahwa Ratna sudah lama menyukai Gema.

Hari demi hari hubungan Gema dan Alya semakin dekat, Gema sudah tidak bisa lagi membendung rasa yang ia miliki sehingga pada pertemuannya di kafe dengan Alya siang itu membuat ia memberanikan diri untuk mengungkapkan cintanya terhadap Alya.

Feelingnya sih dapat, cuma kan dia pacarnya Ratna. Kalau ketahuan gimana ?

Alya bingung harus jawab apa ? Meskipun sebenarnya ia juga memiliki rasa yang sama namun Alya takut Ratna akan mengetahui hal ini.

“Aku nggak mau berbohong,  kalau aku juga merasakan hal yang sama tapi aku tidak ingin menyakiti Ratna, aku tahu Ratna sangat mencintai kakak” ungkap Alya.

“Kamu benar Alya,  Ratna emang sangat mencintaiku.  Tapi aku sama sekali nggak pernah mencintai Ratna, apa salah jika memilih kamu ? ” jawab Gema sambil menatap mata Alya.

Sejenak Alya terdiam,  lalu kemudian muncul sebuah ide di pikiran Alya.

“Apa sebaiknya hubungan ini kita jalanin dengan backstreet.. ? “.

“Sebenarnya hatiku keberatan,  tapi jika itu yang kamu mau apa boleh buat, yang penting kita bisa saling bersama” ungkap Gema sambil menggenggam erat tangan Alya (baca dulu kalau pacar mengajakmu menjalani cinta rahasia).

Sejak saat itu hubungan cinta Alya dan Gema berjalan secara backstreet meskipun begitu Alya tetap merasakan cemburu jika Gema jalan dengan Ratna

Disisi lain Ratna mencoba untuk comblangin Alya dengan Idran,  hal itu di omonginnya ketika Ratna tengah jalan-jalan di mall bersama Gema

“Menurut aku Alya dan Idran itu pasangan yang cocok, gimana menurut kamu” ungkap Ratna sambil terus berjalan di mall tersebut.

Mata Gema membelalak lebar ketika mendengar hal itu, tentu saja Gema tidak menyetujui hal itu karena Alya adalah kekasihnya.

“Kamu kayaknya salah deh Rat,  Alya tu bukan tipe nya Idran” ungkap Gema.

Meski sebenarnya Gema tahu jika saudaranya itu sangat menyukai Alya karena secara tidak sengaja Gema pernah dengat ketika Idran sering telponan dengan Alya.

Waktu terus berjalan dan tak terasa sudah tiba saat bagi siswa sekolah menengah untuk menghadapi ujian nasional meski beda sekolah Alya, Ratna dan Desi pun sering belajar kelompok dan terkadang malah Gema dan Idran ikut menemani mereka,  padahal selain belajar ada makna tersirat di hati mereka masing-masing. Seperti saat itu Ratna sengaja belajar dengan berdekatan dengan Gema, pandangan Alya seketika berubah terhadap Gema,  Gema pun juga bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Alya seketika itu.

“Kamu kenapa Alya ?  Wajah kamu pucat” tanya Idran

“Nggak pa-pa kok kak!  Ratna, aku duluan pulang ya ? Udah malam” ungkap Alya tiba-tiba ingin pulang

“Buru-buru banget sich Alya, Idran masih kangen sama kamu tu” jawab Ratna sedikit merayu.

Alya hanya tersenyum, padahal Alya ingin pulang karena tidak ingin melihat kedekatan Ratna dan Gema.  Gema tidak ingin Alya salah dengan kejadian semalam dirumah Ratna,  maka keesokan harinya dengan mobil mewah yang ia miliki ia sengaja menunggu Alya di depan sekolah. Tiba-tiba ketika Alya sudah keluar dari gerbang  Ratna mengaget kan Gema, Gema heran kenapa Ratna bisa ada disekolahnya Alya ?.

“Kebetulan banget kamu disini, tadi aku mau ngajak Alya ke mall” ungkap Ratna tanpa menaruh rasa kecurigaan sedikitpun.

Rencana Gema yang ingin membawa kekasih jalan pun akhirnya gagal karena kedatangan Ratna.  Gema akhirnya menuruti keinginan Ratna untuk mengantarkannya bersama Alya ke mall.

Lagi-lagi Alya harus menahan rasa cemburu ketika melihat Ratna yang sengaja memeluk Gema di depan,  sementara ia bagaikan seperti penonton yang duduk menyendiri di belakang.

“Apaan sich Rat,  malu donk di lihat Alya” ungkap Gema sambil melepaskan tangan Ratna dari bahunya.

“Ngapain harus malu,  Alya kan sahabat aku” jelas Ratna.

“Tapi itu nggak sopan,  masa’ kamu peluk-peluk aku di depan Alya” jelas kembali Gema.

“Alya pasti maklum kok, kita kan pacaran!  Iya kan Alya”.

Alya hanya tersenyum kecut, namun hatinya tak bisa bohong bahwa cemburu sangat menggebu di dirinya menyaksikan hal itu meski Alya tahu Gema nggak pernah mengungkapkan cinta pada Ratna, hanya saja Ratna yang terlalu berharap dan menganggap hubungannya dengan Gema sudah seperti pacaran.

Alya merasa dirinya bagaikan obat nyamuk yang selalu menemani Ratna dan Gema, bahkan ketika sudah di mall Alya malah ingin pulang.

“Kamu tu selalu pengen buru-buru ya ?  Apa salahnya sich kamu temanin aku dulu” ungkap Ratna sedikit kesal pada Alya.

Apa yang harus di perbuat Alya ?  Gema pun bisa mengerti kenapa Alya tiba-tiba ingin pulang, rasa cemburu Alya tak bisa dibendung nya lagi ketika terus menyaksikan Ratna yang tengah menggandeng Gema,,  dengan segera Alya mencari alasan untuk tetap pulang lebih dulu.

“Astaga !  Aku hampir lupa hari ini aku ada janji mau ketemu sama kak Idran” ungkap Alya tiba-tiba

“Kok baru bilang sekarang,  ya udah,  kamu boleh pulang duluan deh!  Aku biar sama Gema” jawab Ratna.

Gema bisa merasakan bahwa Alya telah berbohong, ia ingin sekali mengejar Alya namun genggaman tangan Ratna semakin kuat memegangnya.

Ketika tiba di tempat ia tinggal Alya langsung masuk kamar di kuncinya pintu kamar rapat-rapat lalu ia membanting tubuhnya diatas ranjang, banyak pertanyaan yang menghantuinya ketika itu apa iya Gema tulus mencintainya ?  Kenapa ia harus mencintai Gema ?  Sementara mereka sangat jauh berbeda, lalu sampai kapankah hubungan backstreet mereka berakhir ? Akan kah selamanya hubungan yang mereka bina berjalan dengan backstreet ? Pertanyaan itu hanya mampu terjawab oleh air mata Alya.  Malam harinya Alya terus termenung memikirkan Gema hingga sebuab pesan masuk ke ponselnya,  pesan itu dari Gema dimana dalam pesannya Alya disuruh menemuinya di depan panti asuhan tempat ia tinggal.

Pertemuannya dengan Gema di malam itu membuat Alya tidak banyak bicara karena ia masih kepikiran tentang kedekatan Gema dengan Ratna.  Malam itu Gema membawa kekasihnya ke sebuab villa milik Pak Hermawan papanya Gema, Alya masih membisu tak berkata apa-apa !!.

“Kenapa kamu diam saja dari tadi ? Aku tahu kamu cemburu, tapi kamu jangan bersikap seperti ini” ungkap Gema sambil menatap mata Alya.

“Aku tidak mengerti dengan rasa ini kak,  kenapa aku harus mencintai kakak ? Sementara setiap hari harus menahan sakit” jawab Alya sambil menangis di pelukan kekasihnya.

“Percayalah Alya,  aku sayang kamu ?  Nggak ada selain kamu wanita yang aku cintai, hanya kamu Alya” jawab Gema seraya membelai rambut gadis yang ia cintai itu.

Malam itu dia menyerahkan segalanya

Malam itu Jakarta diguyur oleh hujan yang sangat lebat,  malam juga sudah larut.  Tidak mungkin rasanya Alya untuk pulang. Berawal dari secangkir teh yang mereka minum sepasang sejoli itu akhirnya memadu kasih tanpa memperdulikan apapun. Karena cintanya ke Gema Alya akhirnya memberikan mahkota yang paling berharga nya pada Gema tanpa memikirkan akankah Gema yang jadi suaminya kelak ? Cinta membuat mereka lupa diri.

Ketika pagi datang Gema melihat Alya tengah duduk di ruang tengah, pandangannya terlihat kosong seakan-akan Gema mengerti kejadian tadi malam membuat Alya menyesal.

“Sayang,  apa yang kamu fikirkan ? ” tanya Gema.

Alya menangis dan memeluk Gema,  ia tidak mampu berkata apa-apa. Cintanya dengan Gema telah ternoda.  Perasaan takut mulai menghantuinya jika ternyata Gema tidak akan menikahinya.  Akan tetapi Gema tetap meyakinkan Alya bahwa mereka akan menikah.

Setibanya dirumah Gema di kagetkan oleh kehadiran Herlina sang mama yang baru datang dari luar negri, tapi kenapa Ratna juga ada disana ? Ternyata Ratna lah yang menjemput mamanya Gema ketika tiba dibandara tadi pagi

“Kamu kemana aja ?  Dari tadi mama telpon nggak di angkat-angkat, kata Idran semalam kamu juga nggak pulang,  kamu kemana sich ? ” tanya Herlina penuh perhatian

“Nggak kemana-mana, aku nginap di rumah teman ! Mama kok nggak kasih kabar dulu pulang ke Indonesia”.

“Mama sengaja ingin kasih kejutan, kebetulan mama juga ingin lihat kondisi perusahaan yang kalian jalanin disini”.

“Semua nya lancar kok ma,  ya udah !  Aku mau ke kamar dulu”.

Gema langsung meninggalkan mamanya dan juga Ratna tanpa memperdulikan perasaannya Ratna.

“Bagaimana hubungan kamu dengan Gema, kalian nggak lagi berantem kan ? ” tanya mama Gema ketika dilihatnya sikap anaknya yang acuh pada Ratna.

“Baik kok tante,  mungkin aja Gema capek!  Jadi dia pengen istirahat”.

Hubungan Ratna dan Gema memang sudah dianggap pacaran oleh kedua orang tua mereka masing-masing bahkan mereka berniat untuk menikahkan mereka karena orang tua Gema dan Ratna adalah sahabat ketika di bangku kuliah dulu.

Namun Gema sudah menolak keinginan orang tuanya, sehingga sampai sekarang pun ia tak pernah menyatakan cinta pada Ratna.  Hanya saja Ratna yang terlalu berlebihan menilai hubungan mereka.

Ujian Nasional yang dinanti akhirnya pun tiba,  namun dihari itu Alya sama sekali tidak konsentrasi dalam mengerjakan soal-soal ujian terlihat ketika mengerjakan soal waktu itu wajahnya memucat dan seakan-akan rasa nya ia ingin mual hingga membuat pengawas bertanya tentang keadaannya.

“Alya… ! Kamu kenapa ?  Sakit ?”.

“Iya bu, tapi saya masih kuat ikut ujian kok bu”.

Seminggu setelah ujian selesai Alya pun jatuh sakit hal itu lebih dulu diketahui oleh Idran,  sementara Gema sendiri tidak mengetahui hal itu.

Alya sakit ?, kenapa ia tidak memberi tahu Gema ?  Memang selama seminggu mereka jarang bertemu karena Gema mengerti Alya harus konsen dengan ujiannya sementara Gema sendiri harus fokus dengan pekerjaannya

Ketika Idran datang ke tempat Alya tinggal, Idran tak bertemu dengannya.  Menurut teman satu tempat tinggal dengannya Alya baru saja pergi ke rumah sakit.

Sore itu Jakarta kembali di guyur oleh hujan yang sangat lebat, terlihat Alya tengah melangkahkan kakinya entah hendak kemana ?  Keputusan dokter yang menyatakan bahwa ia hamil membuatnya tak mampu membendung air matanya.  Akankah Gema mau menikahinya ?  Akankah keluarga Gema bisa menerimanya ? Sementara Alya sendiri adalah gadis yang dibesarkan di panti asuhan sejak ia masih bayi hingga sampai sekarang Alya sendiri tidak mengetahui siapa orang tuanya.

Alya melamun di tengah-tengah jalan, sehingga sebuah mobil hampir saja menabraknya,  ternyata yang bawa mobil adalah Herlina mamanya Gema yang kebetulan waktu itu bersama Gema.

“Mama nyetir nggak hati-hati sich” ungkap Gema.

“Bukan salah mama,  dia tu yang salah ! Jalan sembarangan” jawab mamanya.

Ketika dilihat gadis yang hampir ditabrak itu adalah Alya Gema segera turun.

“Alya ?  Kamu ngapain ? Kamu nggak pa-pa kan, aku dengar kamu sakit kenapa nggak kasih tau aku ?

“Aku baik-baik aja kak, kakak nggak usah pedulikan aku” Alya berusaha menahan air matanya.

“Apa maksud kamu ngomong seperti itu ? Apa kamu sudah tidak sayang aku ? ”

“Kakak harus tau, aku tadi baru dari rumah sakit dan dokter bilang… ? ” Alya menghentikan kata-katanya.
“Apa ?  Dokter bilang apa ?” Sebelum Alya menjawab mama Gema segera turun.

“Gema !  Ayo ! ” panggil mamanya.

“Aku antar kamu pulang ya ?”

Alya hanya mengangguk, mereka berlalu masuk mobil. Kehadiran Alya membuat Herlina heran,  siapa gadis itu dan apa hubungannya dengan Gema. Namun ketika ditanya Gema tidak berani mengatakan Alya adalah kekasihnya melainkan temannya Ratna.  Hati Alya bertambah perih, kenapa Gema tidak berani mengatakan terus terang ?.

Setelah di antar pulang,  Alya tidak berani melangkahkan kaki masuk ke asramanya,  ia malah mendatangi rumah sahabatnya Ratna.  Dan malam itu Alya menginap di rumah Ratna. Betapa kagetnya Alya ketika masuk ke kamar Ratna, begitu banyak pajangan foto-foto Ratna bersama Gema, foto-fotonya terlihat begitu mesra yang menambah sakit hati Alya.

Keesokan harinya Alya bertemu dengan Gema di taman tempat biasa,  wajah Alya yang sayu membuat Gema prihatin akan kondisi kekasihnya itu.

“Kamu kenapa sayang ?  Ada apa sebebarnya ?”.

“Kak.  . . Aku hamil”.

Kata-kata Alya membuat Gema terkejut, apa yang harus di perbuat Gema ?  Menikahinya.. ?  Tapi bagaimana jika mama nya tidak setuju ?  Sementara Gema sendiri sangat mencintai Alya,  tidak mungkin rasanya Gema meninggalkan Alya.

“Kakak harus nikahin aku ?  nggak mungkin menanggung aib ini sendiri kak” isak Alya di pelukan Gema.

“Kamu tenang ya ?  Aku akan bicarakan masalah ini dengan mama”

Sepulang dari taman Gema langsung membicarakan masalahnya pada sang mama,  keinginan Gema untuk menikah membuat mamanya senang karena mengira anaknya pasti menikah dengan Ratna namun mata Herlina mendadak membelalak ketika Gema memutuskan tidak menikah dengan Ratna,  melainkan dengan Alya

“Tidak !!  Mama tidak restu kamu menikah dengan Alya,  siapa dia,  bagaimana keluarga dia ?  Mama tidak tau,  asal usul nya nggak jelas Gema” tegas mama Gema.

“Tapi ma, masalahnya udah lain !  Alya…  Alya hamil ma, Alya hamil anakku !”.

“Jadi selama ini kamu ? Apapun alasannya mama tetap tidak merestui, terima nggak terima kamu harus menikah dengan Ratna,  secepatnya ! Mama akan beri tahu keluarga Ratna”.

Saat itu Gema benar-benar dalam dilema besar keinginannya untuk menikah dengan Alya di tolak mentah-mentah oleh mamanya,  bagaimana ia bertanggung jawab atas perbuatannya. Sore itu sebuah telpon masuk dari Alya,  sayangnya telpon itu di angkat oleh mamanya

“Kamu jangan hubungi Gema lagi,  sampai kapan pun saya tidak akan sudi kamu jadi menantu saya” sebelum Alya menjawab ponsel itu langsung dibanting ke lantai.

“Mama keterlaluan !” Gema berlalu masuk ke kamarnya,  dibantingnya pintu kamar sekuatnya lalu ia membaringkan tubuhnya di ranjangnya.  Ingatannya melayang ke Alya, sesekali di liriknya foto Alya yang selalu tersimpan dalam dompet,  untuk pertama kalinya Gema meneteskan air mata karena Alya.

Sejak mendengar perkataan mama Gema, Alya pergi dari rumah Ratna. Ia tinggal di rumah teman sekelasnya Shinta untuk sementara waktu. Hampir seminggu Alya tidak mendapat kabar apapun dari Gema hingga kemudian Alya memberani diri untuk datang ke rumah Gema.

Namun apa yang terjadi ? Kehadiran Alya dirumah Gema membuat air matanya tak berhenti menetes, bagaimana tidak ?  Ia menyaksikan sendiri pernikahan Gema dengan Ratna.  Hati Alya hancur, ketika ijab kabul selesai Gema baru menyadari bahwa dari tadi Alya menyaksikan pernikahannya dengan Ratna.

Impian Alya untuk hidup bersama Gema pun hancur,  cinta yang mereka bina selama ini tiada berarti ketika Gema sudah bersanding dengan sahabat Alya sendiri.  Ingin rasanya Alya pergi dari tempat itu lalu tiba-tiba Idran menghampirinya.

“Alya,  aku senang kamu datang di pernikahannya Gema, Tapi.  . . Kamu kenapa ?  Apa yang terjadi ?” ketika dilihatnya air mata Alya menetes tiada henti. Alya tidak mampu menjawab,  ia berlari meninggalkan pesta itu Gema yang melihat Alya pergi sengaja keluar melalui pintu samping Alya masih berat hati untuk meninggalkan rumah Gema.  Gema bertemu dengan Alya di depan gerbang dan menjelaskan semuanya pada Alya. Mungkin saja Alya bisa terima jika cinta mereka tidak di restui tapi bagaimana dengan Alya yang menanggung beban berat benihnya Gema ?.

“Maafin aku Alya,  aku tidak tahu harus berbuat apa ? Aku sama sekali tidak ada maksud menyakiti kamu” ungkap Gema sambil menghapus air mata Alya.

“Aku bisa saja menerima kenyataan, tapi bagaimana dengan anak kita ?  Dia butuh sosok seorang ayah” jawab Alya dalam isak tangisnya.

“Gampang saja !” mama Gema tiba-tiba muncul sambil menyogohkan uang pada Alya “gugurkan kandungan kamu dan setelah itu kamu pergi jauh-jauh dari hidup anak saya”

Alya tidak menerima uang itu,  ia malah langsung pergi meninggalkan gerbang halaman rumah Gema. Setelah kejadian itu Alya frustasi, kemana harus di langkahkan nya kaki ?  Ia tak punya siapa-siapa ?  Kemana ia harus mengadu ? Alya bermaksud ingin bunuh diri namun Idran yang kebetulan melihat menghalanginya.

“Kamu sudah gila ?  Semua masalah itu ada jalan keluarnya,  kamu cerita ke aku apa yang sebenarnya terjadi ? ”

Alya tidak berani berkata apa-apa, apa yang harus di jelaskannya pada Idran ? Wajah Alya yang memucat itu akhirnya pinksan,  Idran segera melarikan Alya ke rumah sakit.

Idran mengetahui tentang kehamilan Alya ketika sesudah di rumah sakit. Alya hamil ?  Siapa yang melakukannya ?  Selama ini setahu Idran Alya belum punya pacar, Idran benar-benar kaget ketika mengetahui hal itu.  Namun ketika ditanya Alya tak mau menjawab apa-apa.  Sampai akhirnya Idran pun berniat menikahi Alya. Sebenarnya Alya ingin, tapi tentu saja orang tua Idran tidak merestui.

Hingga akhirnya Alya berfikir untuk meninggalkan Jakarta dan pergi ke Bandung. Sejak saat itu lah Alya hidup sendiri di kota Bandung,  hingga sampai buah hatinya lahir kedunia.

Kini Alya merenungi segala yang telah terjadi di hidupnya, air matanya menetes tiada henti dilihatnya putranya yang sedang tertidur di atas ranjang , seorang putra yang diberinya nama Setyo Pahlevi yang mengingatkan nya pada wajah Gema,  masihkah Alya mengharapkan Gema yang sudah jadi milik sahabatnya sendiri ?

Pertemuan secara tidak sengaja dengan Idran

Ketika itu Idran mengunjungi sahabat lama nya seorang  guru Sekolah Dasar di kota Bandung.

“Udah lama ya kita nggak ketemu,  tumben-tumbenan kamu datang kesini ? ” ungkap sahabat Idran.

“Hati ku lagi galau van, aku kehilangan orang yang aku cintai dan sampai sekarang aku nggak tau dimana dia ? Aku sangat kwatir dengannya” ungkap Idran.

Tiba-tiba pandangan Idran beralih keluar, dilihatnya seorang perempuan tengah membersihkan jendela yang sepertinya ia mengenal perempuan itu

“Alya ?” ungkap Idran penasaran,  benarkah yang dilihatnya itu Alya ?

“Dia tukang bersih-bersih di sekolah ini, sejak dia hamil dia sudah bekerja disini.  Kasihan sekali !  Siapa sich yang tega nyakitin hati dia, tapi.. Tunggu !  Tadi kamu bilang Alya ?  Kamu kenal dia ? ”

“Iya, dia yang selama ini ku cari” tanpa banyak berkata Idran segera menghampiri Alya.

“Alya,  akhirnya bisa bertemu kamu. Gimana keadaan kamu Alya ? “.

“Buat apa kakak mencari aku ? kalian masih belum puas buat hidupku menderita? kalian semua berbahagia diatas  penderitaanku” ungkap Alya sambil menahan air matanya.

“Apa maksud kamu ngomong seperti itu ?  Kamu tau ! Aku sudah berniat menikahi kamu waktu itu,  aku rela menanggung aib yang bukan beban ku ! Itu karena tulus menyayangi kamu,  tapi apa ? Kamu malah menghilang”.

“Aku pergi karena tahu orang tua kakak nggak akan pernah merestuinya, sekarang ku mohon jangan kakak ganggu hidup aku lagi !  Aku nggak mau berurusan dengan orang-orang kaya”.

Alya langsung pergi meninggalkan Idran,  Idran tidak menyia-nyia kan pertemuannya hari itu dengan Alya.  Berkat bantuan sahabatnya ia pun menemui rumah Alya. Sebuah rumah kontrakan berukuran sedang dimana lokasi sekitar nya terlihat sangat rapi dan bersih serta dekat ke jalan raya,  disanalah Alya dan buah hatinya tinggal.

Idran terlihat ragu-ragu untuk mengetuk pintu rumah Alya, namun rasa rindunya terhadap Alya membuat ia berani mengetuk pintu.  Alya keluar sambil menggendong buah hatinya.  Awalnya Alya menolak kedatangan Idran, namun Idran berusaha meyakinkan Alya bahwa ia berniat baik.  Alya akhirnya mempersilahkan Idran untuk masuk

“Aku senang bisa bertemu kamu lagi Alya, meskipun sekarang semuanya sudah berbeda, kamu sudah jadi ibu!  Tapi kamu tahu Alya, sampai sekarang aku masih sangat mengharapkan kamu, aku masih ingin jadi suami kamu”.

“Sudahlah kak,  aku nggak mau dengar apa-apa lagi meskipun mau tetap aja orang tua kakak tidak kan merestui,  apa lagi mama kakak !  Dia sangat membenciku”.

Alya kembali meneteskan air matanya,  Idran tak tega melihat Alya menangis.  Dihapusnya air mata Alya dengan penuh kasih sayang.  Tak mampu membendung air matanya Alya segera masuk kamar sambil meletakkan Setyo, anaknya, diranjang yang sudah tertidur dari tadi, tiba-tiba Idran sudah berada di belakangnya.

“Alya,  aku ingin kamu jujur ! Aku ingin tahu siapa yang membuat kamu jadi seperti ini ?”.

Alya masih tidak mau menjawab, ia malah mencari alasan untuk keluar kamar.  Sebelum menyusul Alya keluar,  Idran sempat menatap wajah buah hatinya Alya dielusnya wajah itu dengan lembut lalu tiba-tiba ia melihat sebuah album foto disamping Setyo.

Astaga !!  Idran seakan-akan tidak mempercayai dengan apa yang dilihatnya, album itu berisikan semua foto-foto Alya dan Gema.  Idran segera keluar menemui Alya,  Alya sendiri terlihat kaget ketika dilihat ya album foto itu di tangan Idran.

“Sekarang kamu nggak bisa bohong Alya, kamu jawab apa Gema yang menghamili kamu ?”

Alya hanya diam,  ia tak berani berkata apa-apa !  Semuanya sudah terbongkar, Idran sudah mengetahui tentang hubungannya dengan Gema.

“Keterlaluan !  Kenapa kamu nggak pernah bilang kalau adik aku sendiri yang melakukannya,  sekarang aku mengerti !  Kenapa kamu menangis saat pesta pernikahan Gema”

“Kak,  aku mohon kakak jangan cari pertengkaran sama kak Gema!  Aku sudah mengiklaskan segalanya, nggak mau rumah tangga kak Gema dan Ratna hancur karena aku”.

“Tidak Alya !  Ini masalah serius, kamu tenang !  Biar ini jadi urusan aku dengan Gema ! Kamu nggak usah kwatir,  aku akan kembali kesini”

Mengetahui semua itu, Idran sudah tak sabar ingin menghajar Gema habis-habisan,  setibanya dirumah Idran dengan keras memanggil Gema berkali-kali hingga kemudian Gema muncul di ruang tamu.

“Ada apa sich ?  Baru pulang teriak-teriak gitu” ungkap Gema saat muncul di ruang tamu.

“Kamu penyebab segalanya ?” sambil menonjok wajah Gema “kamu yang menyebabkan penderitaan Alya” sambil terus menonjok Gema.

“Apa maksud kamu ngomong seperti itu ? ” sambil menahan tangan Idran yang ingin menonjoknya. Idran lalu memberikan album foto itu pada Gema

“Ini !!  Semuanya sudah jelas bahwa kamu punya hubungan dengan Alya,  kamu yang menghamilinya seenaknya kamu mencampakkan Alya,  dimana tanggung jawab kamu Gema ?  Kamu benar-benar keterlaluan”

Gema membalik album foto itu dan di tatap nya foto Alya dengan serius.

“Ddimana kamu bertemu Alya ?  Gimana keadaannya sekarang ? ” tanya Gema.

“Kamu nggak perlu tahu dimana dia ? ”

Herlina dan Ratna kemudian muncul di ruang tamu

“Kalian kenapa sich ribut-ribut ?  Nggak biasanya kalian seperti ini” ungkap Herlina pada kedua anaknya.

“Ini semua karena Gema ma, dia yang buat aib di keluarga ini” jawab Idran dengan suara sedikit keras

“Mama tidak mengerti dengan apa yang kamu bicarakan Idran” jawab mamanya sambil mengerutkan kening.

“Gema sudah menghamili Alya ma” perkataan itu membuat Ratna kaget

“Jadi perempuan itu yang kalian ributkan ? Mama lebih dulu mengetahui hal itu, tapi mama tidak restu Gema menikahi Alya”.

“Jadi mama tahu tentang kehamilan Alya ?  Mama benar-benar keterlaluan !! Mama tega melihat Alya menderita”.

Kejadian itu membuat air mata Ratna tak hentinya mengalir,  ia seakan tak percaya dengan apa yang di dengarnya.

“Gema, apa yang di bilang Idran itu benar ?  Kamu yang menghamili Alya ?  Jawab Gema, kenapa kamu tega melakukan itu sama Alya,  dia sahabatku” ungkap Ratna menahan tangisnya.

“Ratna,  maafkan aku ! Itu terjadi sama sekali tidak ada keterpaksaan, kami saling mencintai! Tapi Alya takut kamu mengetahuinya, Alya sangat mengerti akan perasaan kamu terhadap aku”.

“Jadi kamu tidak pernah mencintaiku ?”.

Gema tidak menjawab ia takut akan  menyakiti perasaan Ratna. Perdebatan antara Gema dan Idran masih belum selesai, hampir setiap hari Idran terus membahas masalah Alya dengan Gema.  Seperti saat itu Idran terlihat sedang berkemas untuk berangkat ke bandung lalu Gema menghampiri.

“Kamu mau kemana ?” tanya Gema ketika dilihatnya Idran memasukkan baju ke dalam koper.

“Bukan urusan kamu” jawab Idran cuek.

“Kamu masih marah sama aku ? “.

“Kamu pikir ini masalah sepele, hidup Alya menderita gara-gara kamu ! Dan sekarang Alya harus bekerja setiap hari demi membesarkan anak kamu, seharusnya itu tanggung jawab kamu Gema”.

“Anakku ?  Idran,  kamu harus antarkan aku ke tempat Alya,  aku ingin bertemu dengannya”.

“Sudah terlambat ! Kamu terlalu menuruti kehendaknya mama sehingga kamu menelantarkan Alya” Idran menutup kopernya dan berlalu pergi.

Sampai di rumah Alya ternyata ada papanya

Idran kembali ke Bandung untuk menemui Alya, kedatangan Idran kali ini di kagetkan oleh kehadiran papanya dirumah Alya.

“Papa kok bisa disini ? ” tanya Idran.

“papa ?  Jadi om papanya kak Idran” Alya penasaran.

“Papa nggak nyangka,  ternyata kamu juga mengenal Alya.  Kamu tahu ?  Alya lah yang menolong papa saat papa di rampok”.

Awalnya memang pak Hermawan itu ingin langsung pulang ke Jakarta namun karena sedikit urusan ia harus ke Bandung terlebih dahulu, sayangnya ia di rampok semua bawaannya dirampas. Untung saja ada Alya yang menolongnya,  tidak hanya itu kehadiran putranya Alya juga membuat Hermawan senang,  ia teringat akan anaknya Gema yang pernikahannya hari itu tidak sempat ia hadiri. Hingga sampai sekarang ia belum mendengar kabar tentang kehadiran cucunya.

Secercah kebahagiaan terlihat dari wajah Alya ia seakan memiliki keluarga yang sangat sayang padanya. Kehadiran Setyo adalah hal terindah dalam hidup Alya,  bahkan Idran juga sangat menyayangi meski sebenarnya Idran masih dendam dengan apa yang dilakukan adiknya terhadap Alya.

“Idran,  kamu kapan menikah ? Usia kamu sudah tidak muda lagi,  udah seharusnya kamu menikah” tanya Hermawan sambil menggendong Setyo

Idran sedikit tersenyum “Sebenarnya sudah ingin menikah pa,  tapi… takut pernikahan ku tidak di restui” ungkap Idran sambil memandangi Alya yang duduk disamping papanya.

“Kenapa kamu ngomong seperti itu ? Papa sama sekali tidak pandang bulu, siapa pun pilihan kamu papa pasti merestui”

“Termasuk itu Alya ? ”

Hermawan pun heran ketika ternyata putra sulungnya itu menginginkan Alya,  namun Hermawan belum sempat menjawab apa yang dikatakan Idran.

“Om,  biar saya bawa Setyo ke kamar ya ! ”

Alya sengaja mencari alasan,  ia tak ingin jika nanti jawaban Hermawan menyakiti perasaannya.  Dengan segera ia pun membawa putranya ke kamar

“Kenapa papa diam ? Apa papa juga menganggap Alya gadis hina ?  Sama seperti apa dibilang orang-orang ? ”

“Bukan begitu,  cuman papa heran kenapa kamu memilih Alya ? ”

“Aku sudah lama mengenal Alya,  bahkan sejak Alya SMA, Alya sahabatnya Ratna pa istrinya Gema. Dulunya aku sudah ingin menikahi Alya, tapi Alya tiba-tiba menghilang. Aku tidak ingin kehilangan kesempatan kedua ini pa ! Ku harap papa mengerti”.

Lumayan lama Hermawan berfikir hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk ke Jakarta dengan membawa Alya.  Hal itu membuat Idran senang karena sudah pasti papanya merestui ia menikah dengan Alya.  Namun ketika hal itu di bicarakannya dengan Alya,  Alya malah menolak. Alya bukan bermaksud menolak Idran namun ia tak ingin kehadirannya nanti membuat rumah tangga Gema dan Ratna hancur.

“Buat apa mikirin mereka,  sementara mereka nggak pernah mikirin kamu. Aku serius ingin menikahi kamu Alya, aku akan terima Setyo jadi anakku, percayalah Alya !!  Ini serius, aku ingin menebus semua penderitaan kamu yang dilakukan oleh Gema”

“Tapi kak.  . . ? Aku… ” Alya seakan tak tahu harus jawab apa.

“Apa kamu masih mencintai Gema ?”.

Alya makin tak tahu harus berkata apa,  karena ia sendiri juga tidak mengerti degan apa yang ia rasakan.

“Kenapa Alya ?  Kenapa kamu begitu mencintai Gema ?  Dia yang membuat hidupmu seperti ini”.

“Aku tidak mengerti dengan rasa ini kak, tapi diriku tidak mengharapkan cinta kak Gema lagi.  Sekarang hanyalah kebahagiaanku dan Setyo”.

“Ikutlah dengan ku Alya, aku berjanji akan buat hidup kamu dan Setyo bahagia”.

Akhirnya Alya pun menurut, keesokan harinya mereka pun tiba di Jakarta. Kehadiran mereka membuat kaget semua orang yang ada di rumah.

“Loh, kok semuanya pada kaget papa pulang ?” ungkap Hermawan.

“Nggak kok pa,  mama heran aja papa pulangnya nggak ngasih kabar dulu,  udah gitu….. ?” Herlina tak melanjutkan kata-katanya namun matanya melirik ke Alya.

“Kamu ngapain kesini ?” tanya Herlina pada Alya.

“Papa senang mama sudah kenal Alya, dia calon istri nya Idran”.

“Apa ?  Tidak pa,  mama tidak setuju,  apa tidak ada perempuan lain selain dia, apa papa tahu bagaimana dia dan keluarganya ?  Asal usulnya nggak jelas pa, dia nggak lebih dari seorang anak yang dibesarkan di panti asuhan” ungkap Herlina.

“Ma.. Apa yang mama bicarakan ?” jawab Hermawan pada istrinya.

“Apa yang dibilang tante memang benar om,  saya emang dibesarkan dipanti asuhan” jawab Alya menahan tangisnya.

“Tapi apa salah Idran memilih kamu ? Om juga senang kamu jadi istri Idran”

“Tapi pa…. ?” ungkap kembali Herlina

“Ini keputusan papa,  Idran tetap akan menikah dengan Alya”

Raut wajah Gema nampak kecewa mendengar hal itu, gadis yang ia cintai itu akan menikah dengan saudara kandungnya sendiri.  Menjelang pernikahannya dengan Idran, Alya pun tinggal untuk sementara waktu dirumah itu.

Suatu ketika, saat menidurkan Setyo tiba-tiba Gema masuk ke kamarnya,  ia menatap serius wajah Setyo yang masih berumur 5 bulan itu.

“Kamu beri nama dia siapa Alya ? ” Tanya Gema sambil berlalu duduk di samping Alya.

“Setyo,  Setyo Pahlevi” jawab Alya singkat.

Gema bisa mengerti kenapa Alya bicara begitu. “Inilah akhir kisah cinta kita Alya ? ” ungkap Gema sambil terbayang ke masa lalu.

“Kisah cinta ? ” tiba-tiba Hermawan berada di depan pintu kamar “apa maksud kamu ngomong seperti itu ?  Jelaskan sama papa Gema,  ada hubungan apa kamu sama Alya ?” Hermawan mendesak Gema untuk menjawab. Gema tak tahu apa yang harus di katakannya begitu juga dengan Alya.

“Papa tidak ingin ada kebohongan,  tolong kalian jujur” Hermawan semakin mendekat. Gema akhirnya memberanikan diri untuk mengatakan yang sebenarnya.

“Setyo…  Sebenarnya Setyo anak aku pa, buah cinta kami”.

“Ya tuhan,  apakah ini benar ? Kenapa kamu tidak bertanggung jawab Gema ?”.

“Maafin aku pa, aku tidak bermaksud meninggalkan Alya,  tapi mama tidak merestuiku menikah dengan Alya.  Aku terpaksa harus menurut kemauan mama untuk menikah dengan Ratna”.

“Itu berarti Setyo cucu kandung papa ?”.

Gema hanya menggangguk “Alya harusnya menikah dengan ku pa, bukan dengan Idran”.

Hermawan tidak menjawab ia langsung keluar menemui Idran.

“Jadi papa sudah tahu semuanya ?” Idran Kaget ketika papanya mengetahui hubungan Alya dengan Gema.

“Pa,  bagaimana pun pernikahan ku dengan Alya nggak akan dibatalkan!  Alya sudah bersedia menikah dengan ku pa,  tolong jangan alihkan pikirannya”.

“Papa tidak bermaksud begitu,  tapi… Setyo anak nya Gema”

“Aku akan anggap Setyo seperti anak ku sendiri pa, pokoknya aku tetap akan menikah dengan Alya ! “.

Herlina tiba-tiba muncul

“Kenapa sich harus perempuan itu yang diributkan. ? Mama pusing tau nggak !!  Lebih baik Alya disuruh pergi dari sini. Supaya kalian nggak ribut-ribut terus”.

“Ini semua karena kamu ma, kalau dulu mama mengizinkan Gema menikahi Alya ini semua nggak akan terjadi”.

Hampir setiap hari pertengkaran terus terjadi dirumah itu,  Alya merasa dialah penyebab segalanya, terlebih ketika Ratna sama sekalu tidak pernah menyapanya selama di rumah itu,  ketika di hampiri oleh Alya, Ratna malah terlihat cuek.

“Kamu ngapain ?  Aku tidak butuh lagi teman seperti kamu ?  Kamu pengkhianat ! Harusnya aku tidak pernah berteman sama kamu” kemarahan Ratna membuat Alya tak berani mengutip apa-apa.

Tak lama kemudian terdengar dering telpon,  melihat  Ratna yang masih asyik nonton TV Alya kemudian mengangkat telpon itu. Gema kecelakaan ?  Itulah yang disampaikan pihak rumah sakit pada Alya,  hal itu juga membuat semua orang dirumah itu kaget.

Satu jam kemudian semuanya tiba di rumah sakit, menurut dokter kondisi Gema sangat tidak meyakinkan untuk dia bertahan hidup,  Alya orang pertama yang meneteskan air mata mendengarkan hal itu.
“Kamu puas Alya,  ini semua karena kamu ?  Kamu buat suamiku seperti ini” ungkap Ratna memarahi Alya.

“Ratna, kamu jangan menyalahkan Alya,  kecelakaan Gema sama sekali nggak hubungannya dengan Alya” bantah Hermawan.

“Papa selalu membela dia ?  Kalau dia tidak ada belum tentu Gema seperti ini” lanjut Herlina.

Herliha dan Ratna menyalahkan Alya lah penyebab semua itu, Idran berusaha untuk menenangkan Alya.

“Kamu jangan ambil hati omongan mama dan Ratna ya ?” ungkap ungkap Idran pada Alya.

Setelah 15 menit mereka sudah di perbolehkan melihat Gema,  Gema sudah mulai sadar meskipun masih terlihat lemah. Alya adalah orang pertama dopanggilnya,  sambil menggendong Setyo Alya mendekat ke samping Gema.

“Maafin aku Alya,  aku belum sempat memberikan kebahagiaan untuk kamu dan juga Setyo” ungkap Gema dengan kondisi lemah.

“Kakak jangan ngomong seperti itu?  yang terpenting sekarang adalah kesembuhan kakak” Alya tak mampu menahan tangisnya.

“Tidak Alya,  aku sudah tidak kuat!”

“Kamu harus bertahan Gema,  aku yakin kamu pasti kuat” ungkap Idran yang berdiri disamping kanannya

“Idran, aku mohon tolong bahagiakan Alya dan juga anakku, jaga mereka untuk aku” jawab Gema

“Kak Gema, kakak harus kuat ! Demi aku dan anak kita, kakak harus bertahan !!”air mata Alya tak berhenti menetes.

Namun apa harus dikata takdir berkata lain, Gema menghembuskan nafas terakhirnya saat menggenggam erat tangan Alya.

Alya tak mampu membendung air matanya,  ayah dari anaknya itu harus pergi untuk selamanya, ternyata tuhan memang tidak menyatukan cinta mereka. Sebulan setelah itu, Alya hidup bahagia dengan Idran, terlebih saat pernikahannya mendapat restu dari sang mama.

= TAMAT =

Dibagikan

Penulis :

You may also like