Ketika Setia Menjadi Pelita

cerita inspiratif mengharukan pendek

Ketika setia menjadi pelita adalah cerita inspiratif mengharukan pendek tentang kesetiaan istri menemani lelaki cacat kaki pencari daun cengkeh sambil menanti anak yang meninggalkan mereka. Bagaimana kisahnya ? simak pada cerpen berikut.

Cerita Inspiratif Mengharukan Pendek – Ketika Setia Menjadi Pelita

Disaat suara adzan menggema, tiba-tiba mataku berkaca-kaca lalu terdiam sejenak melihat pemandangan jarang terjadi di Zamrud Khatulistiwa ini. Kenapa tidak ? Sesosok wanita paruh baya memanggul seorang laki-laki tua, usianya lebih muda lima tahun dibandingkan usianya, menghampiri sebuah surau tempatku menghilangkan penat setelah melakukan perjalanan cukup jauh. Walaupun hatiku heran, namun kekagumanku tertuju pada sosok wanita paruh baya masih memiliki tenaga kuat, ibarat memanggul barang-barang berat tiada tandingan.

Di balik wajah keriput juga rambut kian memutih, tidak menjadikannya bermanja-manja atau bermimpi diatas dipan bambu yang bertahun-tahun telah dianggapnya sebagai kasur empuk dilapisi serat-serat kapas putih.

Benakku kembali tertegun melihat laki-laki dipanggulnya tanpa daya menghadapi hidup akibat kedua kaki tidak dimilikinya. Namun, laki-laki tua tersebut selalu menghargai apapun diberikan Tuhan. Dimanapun serta kapanpun selalu meluangkan waktu untuk memohon ampun kepada Tuhan serta bersyukur atas kehadiran sosok wanita paruh baya tanpa putus asa selalu menemaninya. Dalam khusyunya shalat, laki-laki tersebut meminta kepada Tuhan agar diberikan iman lebih kuat dari sebelumnya, setelah belasan tahun lalu terperangkap dari kegilaan memilih jalan salah.

Lidahku terasa keluh, jiwaku berteriak seakan-akan disayat benda teramat tajam, membayangkan bagaimana sulitnya mereka berkutat dengan hidup tanpa berhenti berjuang dari pagi ke malam dari malam ke pagi lagi begitu seterusnya. Ku coba memberanikan diri untuk menyapa, ”Aki, Nini kelihatannya lelah sekali memangnya habis dari mana ?”. Mereka pun tersenyum ke arahku sambil menyeka air wudhu dari wajah hingga mengering.

“Kami habis mencari daun-daun cengkeh, biasanya musim semi begini banyak daun berjatuhan. Semakin banyak kami mengumpulkan daun-daun tersebut, tentu semakin banyak pula minyak akan didapat, hasilnya bisa dipakai untuk makan sehari. Bukan untuk beberapa hari, melainkan untuk sehari saja. Sedangkan untuk makan hari selanjutnya tergantung apa bisa ditemukan serta diolah. Kalau sudah begitu, kami kembalikan lagi kepada Tuhan, mau memberikan rejeki berbentuk apa, semua kami terima dengan ikhlas tanpa ada keluhan sedikitpun”.

Kata-katanya sama persis seperti diucapkan nenek kepadaku semasa hidupnya. Dan kata-kata itupun masih kuingat dalam otak pikiranku sampai detik ini. Kubuka tas bersandar manis pada bahuku lalu kusodorkan beberapa lembaran uang kepada mereka, tapi mereka menolak halus bukan karena mereka punya banyak uang melainkan tidak mau membiasakan tangan terbuka tanpa kerja keras terlebih dahulu.

Kuhela nafas lalu mendesah, ”Ya Tuhan, walaupun keadaan hidup mereka sangat sulit tapi mereka masih memiliki prinsip hidup sangat teguh tidak tergoyahkan. Aku sebagai kawula muda penerus bangsa patut mencontoh sekaligus mengacungkan jempol atas jiwa besar mereka dalam menikmati hidup. Apalah artinya diriku, tidak ada apa-apanya dibandingkan pengalaman mereka yang sudah banyak makan asam garam dalam kehidupan”.

Berkelana ke berbagai daerah membuatku tambah mengerti arti hidup sesungguhnya. Walaupun perjalanan kulakukan sangat jauh juga melelahkan, namun masing-masing pengalaman mempunyai keistimewaan tersendiri. Kuambil lembaran kertas telah usang kemudian kutorehkan pengalaman berharga ku dapat agar bisa kusajikan kepada orang-orang yang punya pemikiran jauh ke depan.

Entahlah, kakiku tak mau berpindah ke tempat lain. Mungkin tanpa sadar, sosok wanita paruh baya bersama lelaki tua tanpa kedua kaki bikin hatiku iba, sehingga enggan untuk kutinggalkan. Setelah mendapat ijin dari Ketua Kampung setempat, ku coba mengikuti perjalanan hidup mereka sambil tak lupa kuabadikan dalam sebuah album foto hitam putih.

Suatu hari hatiku terkaget-kaget melihat laki-laki tua tanpa kaki tersebut melompat dari dipan bambu tempat peristirahatannya. “Ajaib,” pikirku lagi. Ketika sang wanita paruh baya terserang rematik atau asam urat hingga kakinya sukar digerakkan, tiba-tiba laki-laki tua tanpa kaki tersebut berhasil melakukan suatu pekerjaan tak pernah ku duga sebelumnya.

Dengan lincahnya laki-laki tua melompat, ibarat kelinci putih sedang asyik melompat … satu … dua … tiga … dirinya berhasil menemukan tanaman obat-obatan untuk diramu untuk mengobati wanita paruh baya selalu menemaninya. Lagi-lagi hatiku pun berbisik, ”Tuhan, tanpa kedua kaki lelaki tua tersebut bisa melakukan sesuatu untuk wanita dicintainya. Tuhan, jika seandainya itu diriku, apakah diriku mampu melakukan semua demi orang ku cintai ? Apakah bisa setegar mereka ?”. Pertanyaan tersebut terngiang-ngiang ditelingaku, namun semua hanya diriku bisa menjawabnya sendiri, tentunya dengan segala keberanian serta kemampuan yang ku punya.

Malam pun kian beranjak pekat, suara angin berdesir kencang, suara burung hantu berseru ikut menyemarakkan malam semakin sepi. Namun, terdengar suara lantunan Ayat-Ayat Al-Quran menggoyahkan tidurku. Dalam benakku, ”Siapakah gerangan melantunkan semerdu itu ?”. Ku longok ke arah sinar lampu tempel menyala pada dinding bambu, sambil mengusap-ngusap mataku yang masih mengantuk. Ternyata adalah suara laki-laki tua. Dari keterbatasannya tanpa memiliki kedua kaki, namun memiliki keistimewaan sangat luar biasa. Suara merdunya membaca ayat-ayat Al-Quran mampu menggetarkan lerung kalbu paling dalam. Tanpa sadar airmataku menetes tanpa ku minta.

Akhirnya, lelaki tua tersebut menoleh kearahku sambil tersenyum. Tapi kali ini senyumannya agak dipaksakan. Ku rasakan ada sesuatu hal mengganjal batinnya. Lelaki tua itu menyuruhku duduk, lalu bercerita tentang lika-liku kisah hidupnya hingga menemukan wanita dicintainya sampai sekarang. Airmatanya berderai dari kelopak matanya kian keriput dimakan usia saat bercerita tentang sang buah hati pergi meninggalkannya tanpa ada kabar. Ketika tubuh bernyawa membutuhkan topangan, namun sang buah hati tak ada disampingnya. Sang anak malu memiliki ayah tanpa kaki karena masalah sepele diejek teman sepermainannya.

Hatiku pun terenyuh ikut merasakan apa dirasakannya. Bibirku mendesah, ”Anak tak tahu diuntung juga tak tahu terima kasih, setelah dilahirkan, dibesarkan dengan pengorbanan nyawa kenapa harus meninggalkan orangtua terkasih. Sedangkan diriku sejak lahir tak pernah melihat wajah kedua orangtuaku, hatiku sangat mengharapkan kehadiran mereka apapun keadaannya”. Andai bisa bertemu dengan anaknya, kan kuberikan dia pelajaran pahit berharga agar hatinya terbuka lebar juga berjiwa besar dalam menerima sesuatu, seburuk apapun itu.

Ku usap airmata kian berderai lalu kupeluk lelaki tua itu. Tanpa syarat kuajukan tubuhku sebagai pengganti sang buah hati yang meninggalkannya. Dibalik tua rentanya, laki-laki tua itu tetap berharap,  setia menunggu sang buah hati pulang kepangkuannya, meskipun kelak sang anak tetap memperlakukannya sebagai lelaki tua tak berguna.

Rasa iba kian kuat menghantui perasaanku, adakah di luar sana selain diriku, orang-orang mempunyai pondok hati lebih lapang, ikhlas,  juga tanpa pamrih ?. Kutemukan kesejukan serta kedamaian tak pernah ku dapatkan, diantara uang bertumpuk-tumpuk dan kebahagiaan semu. Dalam pandangan semakin kosong, kulihat satu kesetiaan terangkai indah menjadi pelita dan penerang jiwa. Laki-laki tua tanpa kedua kaki kian mencintai sang wanita istrinya karena kesetiaannya. Dan karena kesetiaan pula lelaki tua tetap menanti sang buah hati namun tak jua kembali.

Akankah ku lihat secara nyata kesetiaan di tempat lain, seperti kesetiaan ku dapatkan dalam sebuah keluarga tertatih namun penuh kesabaran, kehangatan juga keikhlasan. “Ah … tak mungkin ada,” kata hatiku lagi.

Kejujuran dan ketulusan ku peroleh hanya di tempat ini, setelah sekian lama berkelana mencari arti hidup. Disinilah diriku berpijak pasti tanpa ada keraguan. Kembali ku kisahkan ceritaku dalam guratan kertas agar kisah dalam bukuku semakin mempunyai arti hidup sesungguhnya tanpa ada basa basi maupun ketidakjujuran. Foto hitam putih pun sebagai saksi bisu lalu kuabadikan dalam relung hati paling dalam. Tak lupa kulukiskan sebuah rangkaian puisi cinta mempunyai makna kesetiaan. Ini bunyinya :

Cinta tak mengenal kata lelah,
Cinta tak mengenal kata menyerah,
Cinta adalah kesetiaan tanpa kata
yang berikrarkan ketulusan dan keikhlasan.
Andai cinta bisa jadi pelita selamanya
Dia akan selalu menerangi jiwa-jiwa yang sepi
Dan airmata tidak akan berjatuhan lagi
Kini, nanti dan selamanya.

Dalam hati, kuucapkan doa tulus untuk wanita paruh baya serta lelaki tua tanpa kedua kaki agar kelak mereka mendapatkan impiannya, meskipun kedengarannya mustahil. Budi baik dan kesetiaan mereka akan terus terpatri dalam ingatanku. Sekalipun mungkin suatu hari nanti diriku terkena amnesia, aku ingin tetap mengingat wajah-wajah mereka yang mengisi kehidupanku.

Namun sayang, mereka tidak pernah tahu keadaan sebenarnya, bahwa aku sama seperti dirinya, kedua tanganku sebenarnya tidak pernah ada. Kedua tanganku hanyalah tangan buatan, bukan tangan sesungguhnya. Tidak berani kuungkapkan kebenaran karena takut menyinggung perasaannya yang sudah banyak terluka, juga aku tak mau menjadi beban.

Kini, pengalaman hidup berharga kian menambah rasa syukurku kepada Tuhan dan aku tidak akan pernah berhenti menulis, meskipun kedua tanganku hanyalah tangan buatan, namun hatiku tak akan pernah tergoyahkan. Kenyataannya, aku bisa setegar mereka juga mampu menjawab pertanyaan yang dulu tidak mampu ku lakukan. Benar adanya bahwa kesetiaan adalah pelita serta penerang jiwa dan hatiku merasakannya sampai saat ini.(dea)


Terima kasih telah membaca cerpen inspiratif mengharukan pendek tentang kesetiaan cinta. Semoga cerpen inspiratif diatas bermanfaat dan menghibur sobat Bisfren sekalian. Tetaplah optimis dan semangat dalam mencapai cita-cita dan cinta. Ingatlah, bahwa semua peristiwa dalam hidup dapat dijadikan inspirasi dan motivasi guna meraih kesuksesan.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait

1 Comment