Ketulusan Cinta

cerpen sedih romantis

Ketulusan cinta adalah cerpen sedih romantis tentang wanita karir yang sibuk sehingga tidak mengetahui suaminya mengidap penyakit kanker otak. Apakah kemudian dia menyadarinya ? simak pada cerita pendek berikut.

Cerpen Sedih Romantis Ketulusan Cinta

“Mas, aku buru-buru nih, tolong ya nanti Aldo kamu mandiin, siapkan sarapan sama anter Aldo ke sekolah.” Tanpa kupedulikan ekspresi Mas Aryo, aku langsung bergegas berangkat ke kantor. Karena hari ini aku memang ada rapat penting di kantor.

Setiap hari memang begitu rutinitas sehari-hari di keluargaku. Mas Aryo yang lebih sering di rumah, sementara aku sibuk di luar sebagai wanita karier. Kebetulan Mas Aryo seorang musisi, jadi pekerjaannya hanya kadangkala saat ada job manggung saja.

Sementara Aldo anak semata wayang kami yang sudah duduk di kelas dua SD, lebih banyak diurus Mas Aryo. Karena kesibukanku yang sering pulang malam, kadang aku tidak sempat bertemu dengan anakku. Saat aku berangkat kadang Aldo belum bangun, dan saat aku sudah pulang Aldo sudah tertidur.

Tapi karena tubuhku sudah lelah, hal itu membuatku tidak terlalu memikirkannya. Sudah terlalu banyak otakku dipenuhi dengan pekerjaan. Jadi tidak ada waktu lagi untuk memikirkan hal-hal seperti itu. Toh, aku melakukan semua ini juga buat keluarga. Kalau hanya mengandalkan penghasilan Mas Aryo pasti tidak akan cukup.

Malam itu seperti biasa, aku pulang sudah malam. Kulihat Mas Aryo sudah menungguku di teras rumah, tak seperti biasanya. “ Mila, aku mau bicara sama kamu.” Kata Mas Aryo. “ Bicara apa Mas? Serius amat.” Kataku sambil berlalu masuk. “Nanti saja ya Mas, aku mandi dulu.”

Setelah aku selesai mandi, Mas Aryo sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, Mas Aryo sudah menyiapkan makan malam buatku. “ Maaf Mas, tadi aku sudah makan.” Kataku. Kulihat Mas Aryo tampak kecewa. “ Oh ya sudah, nanti aku makan sendiri.” Kata Mas Aryo.

Mas Aryo memandangiku, begitu lama. “ Mas, katanya mau ngomong…buruan Mas, aku sudah capek mau istirahat.” Tak sabar aku menanti Mas Aryo untuk bicara. “ Ya sudah, kamu istirahat saja, lain kali saja.” Aduuuh kenapa nggak dari tadi sih, kan aku sudah capek pengin istirahat. Buru-buru aku ke kamar untuk istirahat.

Maafkan aku ya Mas, karena aku memang capek banget, seharian berkutat dengan urusan kantor. Langsung saja aku merebahkan diri di tempat tidur, berharap capekku bisa hilang dan besok segar kembali.

Pagi-pagi seperti biasa, Mas Aryo sudah menyiapkan semuanya. Sepiring nasi goreng lengkap dengan telur dan kerupuk kesukaanku. “ Pagi Mas…” sapaku.

“Mila, ini sarapannya sudah siap, kamu makan saja.” Kata Mas Aryo. “ Makasih ya Mas, tapi aku makannya sedikit aja ya, soalnya lagi diet nih.” Segera aku mencicipi nasi goreng buatan Mas Aryo.

Walaupun Mas Aryo bukan suami yang bisa memberiku banyak materi, tapi dia cukup sabar dan baik padaku. “ Mila, kamu ada waktu sebentar?” Tanya Mas Aryo. “ Aduh Mas, maaf aku buru-buru, maaf ya. Daa Mas…salam buat Aldo ya.” Aku langsung bergegas berangkat ke kantor.

Dikantor sibuk gak kepikir lagi suami mau bicara apa

wanita sibuk bekerja di kantor
wanita karir

Sebenarnya aku merasa kasihan juga dengan Mas Aryo, aku jadi kepikiran sebenarnya Mas Aryo mau bicara apa. Sepertinya ada sesuatu yang sangat penting. Tapi ah sudahlah, pasti Mas Aryo bisa mengatasinya.

Dan sesampainya di kantor, aku sudah sibuk dengan setumpuk pekerjaan. Tak terpikirkan lagi dengan Mas Aryo di otakku. Tapi tiba-tiba HP ku berbunyi, dan anehnya dari Mami, ibunya Mas Aryo. “ Ya hallo Mami…” sapaku. “ Mila, Aryo sekarang ada di rumah sakit, kamu ke sini ya.” “ Apa? Di rumah sakit? Memang Mas Aryo kenapa Mami?” tanyaku terkejut.

“Tadi Aryo datang ke rumah Mami, tak berapa lama jatuh pingsan. Kamu buruan ke sini ya.” Ya Allah, ada apa dengan Mas Aryo. Mungkinkah ini ada hubungannya dengan kejadian tadi pagi? Ya Allah maafkan aku Mas, karena aku tidak peka dan mengabaikanmu. Istri macam apa aku ini.

Suami pingsan tidak sadar di rumah sakit

cerita pendek suami kanker otak
suami dirawat di rumah sakit

Sesampainya di rumah sakit, keluarga Mas Aryo sudah berkumpul, begitu juga dengan anakku Aldo. Betapa malunya aku, karena aku istrinya malah datang belakangan dan tak tahu apa yang terjadi dengan suamiku.

“Bagaimana keadaan Mas Aryo Mi?” tanyaku. “ Dia masih belum sadar.” “ Ya Allah, apa yang terjadi dengan suamiku?” “ Milla, apa kamu selama ini tidak tahu dengan penyakit Aryo?” Tanya Mami padaku. Mukaku memerah, karena aku memang benar-benar tidak tahu dengan kondisi Mas Aryo.

Aku menggeleng pelan, diikuti dengan bulir-bulir airmata yang mulai membasahi pipiku. “Maafkan aku Mami..” kataku pelan. Beruntung Mami begitu baik. “ Aryo selama ini mengidap kanker otak, dan dia rahasiakan penyakitnya ini. Mami juga baru tahu tadi dari dokter.” Ya Allah, maafkan aku Mas, ternyata selama ini kamu menyembunyikan sakitmu, bahkan di hadapanku kamu selalu bersikap manis.

Kamu selalu menyayangiku, kamu selalu menyiapkan sarapan juga makan malam untukku. Kamu selalu setia menungguku pulang, bahkan kamu rela menahan lapar saat aku pulang larut malam. Walaupun setelah pulang, aku bilang sudah makan tapi kamu tidak marah. Bahkan saat aku bilang capek, kamu selalu siap untuk memijit punggungku.

Dan kini tiba-tiba kamu kehilangan kesadaran, tubuhmu digerogoti sel kanker, dan sudah memasuki stadium akhir. Jika saja aku tidak terlambat mengetahui penyakitmu ini Mas, pasti kamu sudah mendapatkan pengobatan terbaik.
Kini, aku hanya bisa menangis di depan tubuh lemahmu. Mas, aku nggak sanggup menghadapi ini. Aku tidak bisa hidup tanpamu, aku tak bisa membayangkan kalau aku harus kehilanganmu. Andai saja ada kesempatan kedua untuk aku bisa merawatmu, melayanimu selayaknya seorang istri pada umumnya.

Sehari dua hari Mas Aryo belum juga sadar. Dan selama itu Aldo bersamaku, aku yang mengurus dia. Kebetulan aku diijinkan cuti oleh kantor.

Betapa terkejutnya aku, karena selama aku mengurusnya Aldo selalu memberontakku. Dia selalu membanding-bandingkan aku dengan ayahnya. “ Aldo, maunya sama Ayah.” Teriak Aldo. Ya Allah, maafkan Bunda Nak, rupanya selama ini Bunda telah melalaikanmu. Iya, Mas Aryo memang ayah yang sempurna buat Aldo. Mas Aryo sangat sabar, sangat menyayangi Aldo.

“Maafkan Bunda ya Nak, kamu harus mengerti ya Nak, sekarang Ayah sedang sakit. Kita doakan Ayah ya Nak.” Ucapku sambil memeluk Aldo. Ya Allah, rasanya begitu lama aku nggak memeluk Aldo. Hatiku terasa teriris saat Aldo memeluk erat diriku. Tak terasa sekarang Aldo sudah besar, sudah duduk di bangku kelas dua SD.
Rasanya baru kemarin aku menggendong dia setelah melahirkan. Aku hanya mengurus Aldo sebentar, sselepas cutiku habis, Aldo diurus sepenuhnya oleh Mas Aryo, bahkan tanpa bantuan pembantu. Dan kembali bulir-bulir airmata membasahi pipiku.

Setelah mengantar Aldo sekolah, aku berangkat ke rumah sakit. Mudah-mudahan ada perkembangan baik dengan kondisi Mas Aryo. Kebetulan semalam Dani, adik Mas Aryo yang menunggunya. “ Bagaimana kondisi Mas Aryo, Dan?” tanyaku.

“Mas Aryo barusan sudah sadar Mbak, baru saja saya mau menghubungi Mbak Mila.” Ya Allah, terima kasih ya Allah, segera aku bergegas masuk ke ruang perawatan Mas Aryo.

“Masss….!” Betapa gembiranya aku saat melihat Mas Aryo sudah sadar. “ Milaaaa…!” Mas Aryo memanggilku pelan. Kupegang erat tangannya. “ Mass…maafkan aku ya…” kataku dengan berderai airmata. “ Jangan menangis ya…” kata Mas Aryo pelan. Segera aku mengusap airmataku, aku tidak ingin Mas Aryo melihatku sedih.

“Mila bahagia Mas, Mas Aryo sudah sadar. Alhamdulillah.” Mas Aryo terenyum tipis. “ Milaa, bagaimana Aldo?” Tanya Mas Aryo pelan. “ Aldo baik Mas…dia kangen sama Ayahnya.” Aku bahagia, karena walaupun dalam kondisi lemah, Mas Aryo tampak bahagia saat aku bersamanya.

Sejak saat itu aku berjanji untuk menjaga dan merawat Mas Aryo. Mungkin melihat sakit yang dia derita, umurnya tidak akan lama lagi. Tapi aku ingin sisa umurnya dia habiskan bersamaku dan juga Aldo. Dan Mas Aryo ingin agar dirawat di rumah saja.

Aku memutuskan untuk resign dari pekerjaan. “ Kamu tidak apa-apa Mila keluar dari pekerjaan?” Tanya Mas Aryo padaku. Aku menggeleng. “ Nggak Mas, bagiku sekarang Mas Aryo dan Aldo adalah yang paling berharga.”
“ Maafkan aku ya Mila.” Tak kuduga Mas Aryo akan berkata begitu. Walaupun untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya pengobatan Mas Aryo sekarang aku hanya mengandalkan tabungan, tapi aku nggak boleh mengeluh. Aku hanya ingin membahagiakan Mas Aryo di sisa umurnya.

Seperti biasa, sekarang aku bangun pagi-pagi untuk menyiapkan segala sesuatunya. Setelah sholat subuh, aku membangunkan Mas Aryo, karena biasanya dia selalu bangun lebih dulu. “ Maasss…!” Mas Aryo belum juga bangun hingga aku mengulanginya berkali-kali. Dan setelah sekian kali, aku baru menyadari kalau tubuh Mas Aryo sudah dingin.

“Selamat jalan Mas…” bisikku pelan. Hari ini aku benar-benar telah kehilanganmu. Selamat jalan suami terbaikku, ayah dari anakku, belahan jiwaku. Semoga kamu tenang di sana.


Terima kasih telah membaca cerpen sedih romantis ketulusan cinta, semoga cerita pendek diatas dapat menghibur dan memberi inspirasi serta motivasi bagi sobat Bisfren sekalian. Salam sukses, bagi kita semua.

Dibagikan

Anik Fityastutik

Penulis :

Artikel terkait