Kisah Cintaku Dengan Penyanyi Dangdut

cerita pendek kisah cinta penyanyi dangdut

Cerita pendek kisah cinta. Malam itu aku sendirian di rumah, suara dari panggung dangdut di ujung kampung, tak membuatku tertarik untuk melihatnya. Dengan segelas kopi, kunikmati suasana malam yang sepi, karena tetanggaku banyak yang melihat panggung dangdut dalam rangka pesta panen.

Cerita Pendek Kisah Cinta Ku Dengan Penyanyi Dangdut

“Pras…ngelamun aja.” Tiba-tiba aku ditepuk dari belakang. Setelah kutoleh, ternyata Jono berdiri di belakangku sambil senyam senyum. ” Woii…kamu Jon. Ngga liat dangdut Jon?” Tanyaku. “Nggak ada teman apalagi pacar.” Jawab Jono sambil nyengir. Iya sih, hanya aku dan Jono, pemuda di kampung ini yang belum punya pacar. Kalau yang lain sih seumuranku sudah pada punya pacar bahkan ada yang sudah nikah dan punya anak.

“Kita liat bentar yuk Pras…” Ajak Jono. Sebenarnya sih aku males, tapi karena liat muka Jono yang melas banget, akhirnya aku mau juga.

Ternyata suasana emang begitu ramai, tua muda, anak kecil semua pada nonton. Banyak pedagang makanan juga mainan. Sementara di panggung, kulihat seorang penyanyi bergoyang melenggak lenggok diiringi para penonton yang ikut berjoget. Tampaknya sih mereka pada mabuk, kulihat tampaknya mereka bukan penduduk kampung ini, karena aku hafal dengan penduduk kampung ini.

Aku dan Jono hanya melihat dari kejauhan. Jono juga nggak hobi joget. Aku berdiri dekat para tetanggaku yang berkumpul tapi yang tua-tua. Kalau yang muda sudah ada di depan.

cerita-pendek-kisah-cinta-penyanyi-dangdut-2
Penyanyi diatas panggung

Tiba-tiba saja soundsystem ngadat, dan penyanyi dangdut berhenti bernyanyi. Tak disangka ternyata penonton yang sudah pada mabuk tak terima, bahkan mereka melempar botol ke panggung. Penyanyi itu mencoba berlari ke luar. Aku segera berlari ke panggung. Kucoba selamatkan penyanyi itu, kulihat kepalanya berdarah. Aku segera menarik dia ke belakang panggung. Sementara pak lurah dan para hansip mencoba menenangkan penonton.

“Gimana Pras?” Tanya Jono padaku. Sementara kulihat wajah penyanyi itu berlumuran darah, darah semakin deras mengalir dari luka di kepalanya. Karena tidak ada tisu, aku usap dengan kaosku. ” Harus dibawa ke puskesmas.”

Akhirnya dengan berboncengan motor, aku bawa penyanyi itu ke puskesmas, bertiga dengan Jono. Karena penyanyi itu tampak lemas sekali.

Sesampai di puskesmas 24 jam, aku bawa ke ruang pemeriksaan. Oleh perawat, aku disuruh menunggu di luar. ” Kasihan ya.” Aku hanya mengangguk. Iya bener aku juga kasihan dengan penyanyi itu.

Sebentar kemudian, perawat itu keluar. ” Maaf Pak, luka mbak nya nggak begitu serius, dan sudah kami obati. Dan sudah bisa dibawa pulang.” ” Terima kasih Mbak.” Ucapku lalu bergegas masuk melihat kondisi penyanyi itu. Dia terlihat sudah duduk dengan kepalanya di perban.

“Gimana Mbak?” Tanya Jono. Penyanyi itu tampak masih kesakitan megangi kepalanya. “Terima kasih ya Mas, sudah menolong saya. ” ” Sama-sama mbak. Oh ya mbak, nanti kita antar pulang saja. Maaf mbak nya rumahnya mana?” Tanya Jono lagi. “Desa Sidodadi Mas.” Jawabnya. Desa Sidodadi jaraknya lumayan jauh dari sini, sekitar 20 km.

“Jauh juga ya Mbak…nanti biar diantar teman saya saja, Pras namanya. Soalnya ini saya masuk shift malam. Jadi sekalian aja saya permisi duluan. Oh ya mbak, namanya siapa?” ” Yuli Mas.” Jawab penyanyi itu sambil senyum ngelihat gaya Jono yang lucu. ” Pras, kamu antar mbak Yuli ini ya. Awas, jangan diapa-apakan!” ” Sudah sana pulang.” Akhirnya Jono pulang duluan.

Kini hanya tinggal aku dan Yuli. “Aku ke depan sebentar ya. ” Akhirnya setelah bayar biaya pengobatan, aku antar Yuli dengan motorku. Kulihat rok dia pendek sekali. “Kamu pake ini.” Kulepas jaketku, dan kusuruh menutup kakinya. Yuli memandangku, lalu memboncengku dan menutupkan jaketku di kakinya.

Kurasakan dia membonceng agak jauh dari aku dan tidak pegangan. Aku hanya diam dan kemudian menstarter motorku. Jalanan menuju kampung Sidodadi emang tidak bagus. Walaupun sudah aspal, tapi banyak yang mengelupas dan banyak lubang. Jadi aku harus hati-hati, sementara suasana jalanan sangat sepi. Tidak ada yang lewat, di kanan kiri hanya persawahan, tidak ada rumah penduduk.

cerpen kisah cintaku dengan penyanyi dangdut
Penyanyi (@ Youtube)

Sepanjang perjalanan Yuli hanya diam. “Sudah lama jadi penyanyi dangdut?” Tanyaku membuka obrolan. “3 tahun Mas.” Jawab Yuli. “Oooo…tadi kamu naik apa?” Tanyaku lagi. “Diantar Bapak, Mas.” Jawabnya polos.

Akhirnya sampai juga di rumahnya. Rumah yang sangat sederhana, hanya berdinding papan dan sangat pendek atapnya. Aku dipersilakan duduk, lalu Yuli masuk ke rumah. Suasana kampung ini sangat sepi, selain sudah larut malam juga rumah penduduk sangat jarang dan berjauhan.

Sebentar kemudian Yuli keluar dengan segelas teh, aku sangat terkejut, karena penampilan Yuli sangat berbeda. Dengan daster tanpa make up dan rambut dikucir, dia tampak cantik sekali. “Mari diminum Mas.” Aku tersadar dari lamunanku. Segera aku minum teh yang disajikan Yuli. Hangatnya teh membuat badanku sedikit segar, setelah tadi menahan dingin karena tidak memakai jaket.

“Oh ya, ini jaketnya mas.” Kata Yuli sambil menyerahkan jaketku. “Sudah ya Yul, aku pulang dulu.” Aku segera berpamitan, apalagi malam sudah semakin larut, kulihat sudah jam 1 malam. ” Makasih ya Mas.” Ucap Yuli sambil memandangku. Kulihat matanya begitu indah, cantik sekali.

Aku segera tersadar dan buru-buru menstarter motorku. Yuli melambaikan tangannya padaku. Entah mengapa sepanjang perjalanan aku masih memikirkan Yuli. Ya Yuli, seorang penyanyi dangdut, dari keluarga sederhana, cantik, dibalik penampilannya yang seksi ternyata dia gadis lugu dan sopan. Ah…tapi dia tetep saja penyanyi dangdut, yang kadang bertingkah tidak sopan saat menyanyi, dan jadi pelecehan banyak orang.

Sampai di rumah, bayang-bayang wajah cantiknya masih saja menggangguku. Kucoba pejamkan mata, karena besok pagi aku harus bekerja. Walaupun agak susah, tapi akhirnya aku bisa tidur juga.

Beruntung, aku bisa bangun pagi dan tidak kesiangan. Setelah siap, aku berangkat bekerja. Sesampai di lampu merah dekat pasar, tiba-tiba mataku tertuju pada sesosok gadis dengan tas besar dia tenteng sedang menunggu angkutan. Aku tak salah lagi, dia Yuli penyanyi dangdut semalam. Karena kepalanya masih diperban, dan aku masih ingat betul dengan wajahnya. “Yuliiii…!” Panggilku setelah motorku dekat.

Dia tampak terkejut sekali melihatku. ” Mas Pras…” Kulihat dia tersenyum padaku, duh dia cantik sekali. ” Mau kemana Yul?” “Habis belanja Mas, buat warungnya Emak.” Jawab Yuli. Setelah ngobrol agak lama, akhirnya Yuli ngasih tahu alamat warung nasi emaknya, yang kebetulan dekat dengan kantorku. Karena kebetulan jalannya satu arah, akhirnya Yuli aku boncengkan.

Entah mengapa, hatiku rasanya senang sekali ketika memboncengkan Yuli. Kulihat dari kaca spion, wajah Yuli yang cantik juga tampak gembira, bahkan sepanjang jalan dia senyam senyum terus. Akhirnya sampai juga di warung emaknya. Dan aku berjanji nanti siang mau makan di warung emaknya.

Akhirnya siang itu aku makan siang di warung emaknya Yuli. Warungnya sederhana tapi begitu ramai. Yuli tampak sibuk membantu melayani pembeli. Sesekali ada pembeli yang menggodanya, aku coba mencuri pandang padanya. Dan aku jadi salah tingkah saat dia balik memandangku.

Aneh aja, baru semalam aku kenal dengannya. Tapi kenapa ya hatiku jadi nyaman ketika melihat dia. Bahkan saat di kantor pun, wajah Yuli selalu terbayang-bayang. Mungkinkah aku jatuh hati padanya. Aku buru-buru menepis rasa itu.

Kubayangkan Yuli dengan pakaian seksinya sedang manggung bergoyang lenggak lenggok. Sebentar kemudian kubayangkan keluargaku yang menjunjung tinggi kehormatan, ayah ibukku seorang haji, bagaimana mungkin aku pacaran dengan seorang penyanyi dangdut.

Sebaiknya aku memang harus melupakan Yuli, nggak mungkin aku berpacaran dengan dia. Aku harus menepis rasa ini. Akhirnya kuputuskan untuk tidak dekat dengannya. Aku nggak ingin bertemu dia lagi, aku memutuskan untuk tidak makan di warung emaknya. Sebelum semuanya terjadi, dan Ibuku akan kecewa.

Waktu berlalu, dan 6 bulan sudah aku tidak bertemu Yuli lagi, aku berhasil melupakan Yuli, hingga aku terbebas dari bayang-bayang dirinya. Walaupun Yuli kadang sms menanyakan kabarku, tapi aku tak mempedulikannya. Dan dia akhirnya juga berhenti menghubungiku setelah terakhir dia sms aku. ” Maafkan Yuli ya Mas, Yuli telah mengganggu Mas Pras. Yuli sadar kok, Yuli bukan siapa-siapa. Yuli hanya mengucapkan terima kasih atas bantuan Mas selama ini. ” Aku hanya bisa menarik nafas panjang, dan lagi-lagi aku tak peduli dengan sms nya, aku tidak membalasnya.

Walaupun sebenarnya hatiku tersiksa dengan sikapku ini. Pasti Yuli sakit hati sekali dengan sikapku. Maafkan aku Yul, karena semua ini kulakukan demi kebaikan kita. Aku nggak ingin ke depan engkau akan sakit hati karena perlakuan keluargaku, dan aku tak inginkan itu.

Pagi itu aku seperti biasanya aku berangkat ke kantor, dan ketika sampai di depan pasar, kulihat banyak orang berkerumun. Rupanya telah terjadi kecelakaan. Aku juga penasaran untuk melihat korban yang dikerumuni banyak orang.

Mak deg hatiku, ketika melihat sosok perempuan yang tergeletak itu. Ya Allah, dia Yuli…segera aku mendekat dan dengan dibantu orang-orang aku angkat tubuh Yuli ke mobil yang sudah dicegat warga. Aku mengikuti dengan motorku ke rumah sakit.

Setelah sampai di rumah sakit, kulihat Yuli tidak sadar, banyak darah berlumuran. Aku merasa kasihan sekali dengannya. Aku menunggu di luar, sementara Yuli di kamar IGD. Aku menunggu dengan cemas, dan berdoa semoga tidak terjadi apa-apa dengan Yuli.

Setelah sekian lama, akhirnya dokter memberitahu kalau Yuli sudah sadar dan bisa ditengok. Aku segera bergegas masuk, Yuli tampak terkejut ketika melihat aku. Dia berusaha memalingkan mukanya, sepertinya dia tidak ingin melihatku. Aku mendekatinya, kulihat dia menangis. Lama juga aku terdiam, sementara Yuli masih saja terisak. Aku juga tidak tahu harus bilang apa.

“Yul, maaf aku ya.” Akhirnya aku bicara juga. Tapi dia masih diam, dia tidak mau melihat wajahku. Mungkin saja dia sakit hati dan kecewa padaku, aku tahu itu. Aku pegang tangannya tapi dia menghindarinya. Aku makhlum, lalu kuambilkan tisu di meja kuberikan padanya. ” Aku tahu kamu sakit hati dan kecewa padaku Yul, sekali lagi maafkan aku.” Lalu Yuli hapus airmatanya, dia menghela nafas lalu menatapku. ” Nggak perlu Mas, aku tahu diri kok.” Ucapnya sambil menangis lagi.

Mataku juga berkaca-kaca, tak tahan aku melihat Yuli begini. Aku merasakan sakit hatinya juga kecewanya. Aku usap airmatanya. Dan aku peluk dia, dia semakin menangis di pelukanku.

“Maafkan aku telah membuatmu kecewa Yul, aku sayang padamu. Aku akan perjuangkan cinta ini Yul. Maukah kau menemaniku?” Bisikku. Yuli semakin erat memelukku. Aku tahu kamu begitu rindu, aku nggak akan menyia-nyiakanmu.

Dan akhirnya aku bawa Yuli di hadapan keluargaku, aku telah siap dengan segala resiko. Bagiku Yuli adalah calon pendampingku, dan aku harus selalu menjaganya. Sudah aku tebak, Ibu tidak setuju dengan pilihanku. Kulihat Yuli hanya tertunduk. Aku genggam erat tangannya. Ibuku melihat kami berdua, lalu mendekati kami. ” Ibu tidak mungkin memisahkan cinta kalian, Ibu merestui.” Tak kusangka Ibu akan berkata seperti itu. ” Terima kasih Ibu…” Ucapku sambil mencium tangan beliau, begitu juga Yuli.

Terima kasih ya Tuhan, telah Kau berikan semua ini padaku. Aku akan jadi suami yang akan selalu menjagamu, Yul. Yuli memandangku lalu memelukku.


Terima kasih telah membaca cerita pendek kisah cinta penyanyi dangdut. Semoga cerpen diatas dapat menhibur dan memberi inspirasi bagi sobat pengunjung untuk berkarya. Salam sukses selalu.

Dibagikan

Anik Fityastutik

Penulis :

Artikel terkait