Cerita Cinta Segitiga Singkat : Kisahku @ Cerpen – Bisfren.com

Cerita Cinta Segitiga Singkat "Kisahku" Karya Putri Wahyuningsih

Kisahku adalah cerita cinta segitiga tentang seorang pembantu saat dijadikan istri oleh duda adik majikannya namun suaminya masih mencintai mantan istrinya. Silahkan simak pada cerpen cerita pendek berikut.

Cerita Cinta Segitiga Singkat “Kisahku”

Aku hanyalah seorang pembantu rumah tangga pada sebuah keluarga kaya, kebetulan saja masih family jauh sang nyonya. Tapi karena berasal dari desa dan cuma lulusan SMP, kuputuskan untuk tinggal di rumah mereka sambil bantu-bantu kerja dirumah serta restoran seafood milik mereka. Lumayan walaupun cuma digaji kecil tapi cukuplah untuk membantu sekolah adik didesa sekaligus memenuhi keperluan pribadiku.

Sebagai seorang pembantu, diriku tidak pernah berharap muluk-muluk dalam hidupku atau bermimpi suatu saat nanti hidupku akan berubah drastis. Diriku hanya memiliki harapan sederhana yaitu menyekolahkan adikku satu satunya. Adikku tinggal bersama ayah yang sudah kawin lagi sejak Ibuku meninggal karena sakit.

Keluarga Bu Anni sangat baik lagi pengertian. Sepertinya dia mengerti kebutuhanku untuk menyekolahkan adikku hingga sering memberi persenan uang diluar gajiku.

Bu Anni memiliki tiga orang anak, 2 lelaki serta satu perempuan. Suaminya, Pak Kandar, sangat pendiam, tapi memiliki wibawa tak bisa kupungkiri. Kalau beliau bicara, mataku tak bisa menatap wajahnya karena memancarkan aura berkarisma begitu kental hingga siapapun bila berbicara dengannya pasti akan tunduk menghormatinya. Tak heranlah kalau beliau menjadi anggota dewan.

Pak Kandar tujuh bersaudara. Beliau adalah paling sulung. Mereka semua rata-rata lulusan sarjana. Maklumlah ayah Pak Kandar juga Anggota dewan MPR-RI pusat serta termasuk tokoh sangat disegani dikotaku. Jadi tak heranlah kalau anak-anaknya bisa sekolah tinggi. Semuanya sudah sukses, hanya si bungsu Pak Danar belum memiliki rumah sendiri. Beliau masih tinggal dirumah keluarga bersama kakak perempuannya yang sudah 40 tahun belum menikah makanya galak minta ampun.

Mungkin benar kata orang-orang kalau perawan tua bawaannya galak, suka ngomel, juga marah marah gak jelas. Kadang kalau Kak Nunu datang, panggilanku pada adik perempuan Pak Kandar yang belum menikah, hatiku ketakutan. Takut pekerjaanku salah, karena kalau salah sedikit saja pasti akan diomeli habis-habisan.

Diriku senang kalau adik-adik Pak Kandar datang kerumah atau sekedar kumpul-kumpul di restoran seafood milik mereka. Terlihat begitu erat tali persaudaraan diantara mereka. Apalagi kalau ayah mereka datang dari Jakarta, atau adik Pak Kandar di luar kota datang, pasti semua akan berkumpul direstoran milik Pak Kandar.

Diantara adik-adik Pak Kandar diriku paling suka melihat Pak Danar. Mungkin karena Pak Danar sangat tampan, lagi lucu. Kalau bicara pasti akan membuatku tertawa. Kadang Pak Danar juga sering menggodaku dengan menanyakan siapa pacarku atau bertanya padaku apakah mau dijodohkan pada teman-temannya. Mulanya cuma kutanggapi biasa saja, tapi lama kelamaan perasaanku jadi aneh jika melihat Pak Danar bicara atau sekedar menegurku. Kadang jantung berdegub keras saat dirinya menegurnya.

Ya Tuhan, hatiku benar-benar ketakutan pada perasaanku. Jelas-jelas kutahu Pak Danar sudah menikah, istrinya cantik serta memiliki 3 orang anak perempuan cantik. Mereka suami-istri bekerja sebagai pegawai negeri sipil. Perasaanku salah atau situasi yang salah ? Mana mungkin pembantu rumah tangga sepertiku bermimpi sampai begitu ?. Tidak mungkin, apalagi Pak Danar menganggapku tidak lebih dari seorang pembantu meski kebetulan saja sudah akrab pada keluarga besar mereka. Lagipula usiaku masih sangat muda. Umurku masih 18 tahun, sementara Pak Danar sudah 32 Tahun. Umurnya jauh diatas umurku. Bagaimana mungkin menyukai laki laki berumur jauh diatasku bahkan sudah menikah. Walaupun dari cerita keluarga mereka perkawinan Pak Danar tak direstui keluarga, tapi karena Pak Danar sudah punya anak diluar nikah, maka keluarga mereka memutuskan untuk menikahkan Pak Danar dengan istrinya, bu Pipit, untuk menyelamatkan status anak mereka.

Diriku merasa berdosa dengan perasaan ini, apalagi Bu Pipit sangat baik padaku. Dia sangat ramah, orangnya terlihat sabar walaupun agak pendiam. Jika mereka datang ke restoran atau sekedar mampir kerumah bu Anni, terlihat sekali Pak Danar sangat mencintai istrinya. Kadang hatiku sangat iri melihat cinta Pak Danar pada istrinya. Ah seandainya dirinya adalah aku.

Tak berani berharap, hanya bisa melihat serta mengagumi sosoknya dari jauh. Mungkin inilah kata orang kalau perasaan kualami adalah cinta pertama. Ya, selama ini diriku belum pernah menyukai seseorang selain kepada Pak Danar. Bahkan tak bisa kupungkiri kalau semakin hari perasaanku semakin nyata. Ya Tuhan, diriku benar-benar berdosa. Semakin baik Pak Danar padaku semakin tersiksa hatiku pada perasaan tak berbalas ini.

Sekalipun dia begitu perhatian padaku. Tapi perhatiannya hanya sebatas kewajaran sebagaimana kakak pada adiknya. Dirinya bahkan melarangku memanggilnya Pak, tapi mengharuskanku memanggilnya Kak Danar.

Mulanya tak biasa tapi lama kelamaan jadi terbiasa dengan panggilan itu. Sebisa mungkin kututupi perasaan ini. Diriku tak boleh merusak hubungan kekeluargaan dengan cinta tak terbalas. Perlahan- lahan kucoba menerima kenyataan bahwa Pak Danar hanyalah pangeran dalam mimpi malam, serta khayalanku.

Hingga suatu hari, tiba tiba kudengar rumah tangga Pak Danar terguncang kemudian kudengar menggugat cerai istrinya. Entah karena alasan apa. Antara percaya atau tidak percaya, dari cerita-cerita serta selentingan, katanya istri Pak Danar selingkuh.

[Kalau kamu suka cerita cinta segitiga singkat, mungkin kamu suka cerita sedih keluarga singkat Pelindung Hatiku.]

Tidak, tak mungkin. Hatiku sama sekali tak percaya pada cerita tersebut. Bu Pipit seorang wanita berahklak tinggi, dirinya baik, selalu sholat lima waktu padahal seorang mualaf. Dia juga berjilbab, tidak mungkin dirinya selingkuh.

Sehari-hari kutahu selain di kantor Ibu Pipit selalu berada dirumah bersama anak-anaknya, jarang sekali keluar rumah. Dia sangat mencintai suaminya, jadi tak mungkin selingkuh. Malah dari rumor kudengar, sebelum Pak Danar menggugat cerai Ibu Pipit, Pak Danar termasuk bad boy, begitu istilah kerennya.

Diriku tak tahu artinya apa tapi dari penglihatanku Pak Danar orangnya gaul abis. Mungkin karena lama tinggal serta bersekolah di Jakarta. Diriku sama sekali tak mempercayai berita tersebut hingga akhirnya mereka benar-benar bercerai.

Apakah hatiku harus senang ? Di satu sisi hati ini bersorak, namun juga sedih. Kasihan mantan istrinya diusir dari rumah lalu anak-anaknya dirampas darinya. Ya, Bu Pipit kehidupannya memang sepertiku, berasal dari keluarga kelas menengah tak terpandang. Dirinya pasti tak berdaya menghadapi keluarga Pak Danar bersama keluarga besarnya jika menginginkan mereka pisah.

Hatiku tiada mungkin bergembira diatas penderitaan Bu Pipit. Sebagai perempuan diriku bisa memahami perasaan Bu Pipit setelah kehilangan suami juga anak-anaknya. Hatinya pasti sangat menderita. Tapi bagaimana dengan perasaanku ?. Hatiku mencintai Pak Danar.

Salahkah diriku jika perasaan berharap perasaanku terbalas ?. Ah, bagaikan mimpi disiang bolong. Tidak mungkin dirinya menyukaiku. Diriku hanya seorang pembantu juga hanya lulusan SMP.Gadis desa bau kencur tak tahu apa-apa selain rasa cinta baru pertama kurasa.

Bermimpi Pak Danar akan berpaling padaku ?, ha.. ha.. ha .. hatiku hanya bisa tertawa. Tetapi cinta semakin nyata, cinta tersimpan dalam hati. Sebulan sesudah perceraian, Pak Danar mulai sering datang berkunjung. Pada wajahnya kulihat jelas kesedihan. Aku tak tahu cerita dibalik perceraian mereka sesungguhnya. Diriku hanya memiliki perasaan cinta kusimpan disudut hati paling dalam. Kadang-kadang Pak Danar datang membawa anak-anaknya sehingga membuat hatiku tergerak untuk mengurus mereka. Kasihan anak-anaknya. Dengan ketidak-hadiran ibunya mereka terlihat sangat sedih. Apalagi si bungsu baru berusia 2 tahun. Benar-benar masih sangat membutuhkan kasih sayang dari ibunya.

[Kalau kamu suka cerita cinta segitiga singkat, mungkin kamu suka cerita rohani motivasi Islam Namun senyumMu tetap mengikuti.]

Pak Danar tak mengijinkan Bu Pipit mengambil anak-anak mereka atau sekedar melihat mereka. Entah dendam kesumat apa hingga dirinya begitu membenci istrinya. Diriku tak berani bertanya, hanya bisa menunjukkan simpatiku dengan membantunya mengurus anak-anak kalau mereka datang. Jujur sama sekali tak ada maksud apa-apa. Tiada niatku untuk menggantikan posisi mantannya dimata anak-anaknya. Semakin sering dirinya datang, semakin sering berjumpa denganku, semakin sering mengajakku bicara. Semua selalu kujawab dengan polos. Semakin sering membawa anak-anaknya,  semakin dekat mereka denganku. Diriku tidak mau munafik kalau hatiku jadi semakin mencintai Pak Danar.

[Mungkin kamu suka cerita renungan singkat motivasi Ketika setia menjadi pelita.]

Hingga tiga bulan kemudian tiba-tiba saja Pak Danar melamarku. Entah mimpi atau kenyataan, hatiku begitu kaget. Bahkan tak kurasa kakiku berpijak diatas tanah saat dirinya melamarku. Diriku juga tidak tahu apakah Pak Danar mencintaiku, atau hanya membutuhkanku untuk mengurus anak-anaknya sehingga memutuskan melamar.

Semula diriku menolak. Apa akan dikatakan Ibu Pipit kalau sampai tahu ?. Pasti dirinya akan marah. Bagaimana bisa seorang pembantu menikah dengan mantan suaminya, orang kaya seperti Pak Danar. Bagaimana kalau diriku hanya menjadi tempat pelarian dari seorang Pak Danar. Namun ternyata keputusannya melamarku sangat didukung keluarga. Diriku jadi heran, apa kelebihanku hingga keluarga mereka menyetujui keputusannya. Apakah karena diriku masih satu suku serta masih sanak mereka walau sudah jauh ?.

[Kalau kamu suka cerita cinta segitiga singkat, mungkin kamu suka cerita rohani motivasi Islam Namun senyumMu tetap mengikuti.]

Akhirnya diriku menyerah, menyerah pada cinta telah tersimpan sekian lama. Takkan bisa kusembunyikan perasaan lagi. Kuterima lamarannya, lalu sebuah pesta pernikahan digelar sangat meriah. Diriku yang dulu seorang pembantu kini naik status menjadi istri Danar Hadi Wijaya.

Sama sekali tiada bisa kupercayai. Bahkan saat tubuhnya tidur berbaring disampingku, memelukku pada malam pertama, hatiku masih belum percaya. Hatiku begitu mencintainya, bahkan sudah berjanji juga bersumpah dihadapan Tuhan akan selalu mencintai serta mengabdi pada suamiku serta menyayangi anak-anaknya seperti anakku sendiri. Diriku tak peduli kalau Danar mencintaiku atau hanya sekedar membutuhkanku. Satu satunya dalam hati juga pikiranku adalah dapat hidup bersamanya, ada disampingnya, memeluknya erat-erat. Akalku sudah tidak bekerja. Hanya ada perasaan mencintai. Tak peduli dengan apa akan kuhadapi semua didepanku. Tak peduli juga jika cintaku hanya sepihak, tak peduli apapun kata orang.

Awalnya semua berjalan lancar. Sebulan, dua bulan, semua baik-baik saja. Namun tiba-tiba semua hilang bagai tertiup angin. Dirinya tiba-tiba berubah. Tidak lagi seramah dulu, seperhatian dulu,  selembut dulu saat sebelum menikah. Dia sering tidak berada dirumah, kadang pulang dinihari atau keesokan harinya. Jika pulang mulutnya bau alkohol serta tubuhnya beraroma parfum berbeda beda setiap malam.

[Kalau anda suka cerita cinta segitiga singkat, coba baca cerita renungan keluarga singkat Selembar kain dipergantian hari.]

Perubahan tersebut sungguh membuatku terkejut. Entah sadar atau tidak, dalam keadaan mabuk atau setengah mabuk mulutnya selalu menyebut nama Pipit. Kadang tidurnya mengigau, bahkan lebih parah lagi dirinya sering memanggilku dengan sebutan Pipit. Ya Tuhan, diriku begitu polos lagi lugu, menikah hanya bermodalkan cinta lalu tiba-tiba seperti terhempas pada kenyataan bahwa suamiku ternyata masih sangat mencintai mantan istrinya. Hatiku terluka. Diriku lupa kalau dirinya baru bercerai. Lupa bahwa anak-anaknya memiliki wajah Pipit yang selalu mengingatkan Danar pada mantan istrinya.

Hatiku berontak. Kenyataan ini benar-benar membuatku terhempas dalam jurang tak berdasar. Rasa iri, cemburu, marah, sekaligus kesal bercampur jadi satu. Hatiku iri pada Pipit karena telah merampas seluruh cinta Danar hingga tiada tersisa lagi untukku. Cemburu padanya karena telah merampas seluruh perhatian Danar hingga tiada tersisa lagi untukku. Hatiku marah karena melihat Danar sangat tersiksa akibat perasaannya memikirkan Pipit, bahkan seluruh waktunya dipakai hura-hura untuk mencoba menghilangkan perasaannya pada Pipit.

Danar jadi begitu dingin. Kini terlihat jelas bahwa dirinya hanya membutuhkan seorang pembantu pribadi untuk mengurus anak sekaligus menjadi teman tidurnya. Danar sangat jarang menyentuhku. Bahkan saat kucoba memeluknya bersikap mesra, dengan tegas dirinya menolak.

Aku menangis. Hatiku menangis. Kadang diam-diam di sudut kamarku atau dalam keremangan lampu dinding ruang tamu, didapur sepi, diriku menangis. Menangis kenapa terlalu mudah menyerah pada cintaku. Mengapa terlalu bodoh untuk menyadari bahwa diriiku tak lebih dari pelariannya. Mungkin dirinya hanya ingin membuktikan pada Pipit kalau dirinya bisa menikahi wanita muda masih perawan sepertiku.

Apakah salah dengan cinta ini ? ataukah diriku terlalu bodoh menyadari bahwa diriku hanya tempat pelampiasan kemarahan Danar terhadap mantan istrinya. Hati siapa tidak menangis juga hancur pada kenyataan pahit ini. Mencintai seseorang dengan tulus, menyerahkan seluruh hidup sekaligus pengabdian namun tak dianggap.

Walaupun begitu kasih sayangku pada anak-anak tiada hilang. Malah sebaliknya, untuk melampiaskan kegundahan hati, diriku jadi semakin dekat pada anak-anak. Terkadang saat melihat si bungsu lagi lucu-lucunya tertidur, diriku menangis. Ah seandainya ayah mereka mencintaiku.

Dalam penderitaan juga perasaan tersiksa diriku tetap memutuskan untuk menerima kenyataan juga bersabar. Cintaku akan tetap menunggu. Bahkan akan kutantang seberapa lama perlakuannya yang dingin padaku bisa bertahan. Cintaku padanya begitu tulus lagi suci.  Walau harus menunggu seribu tahun, akan tetap kutunggu hingga dirinya menoleh padaku.

Kucoba memahami perasaannya, disatu sisi hatinya masih mencintai mantan istrinya, di sisi lain dia tidak bisa menceraikanku karena kalau menceraikanku namanya akan dihapus dari daftar ahli waris keluarga. Karena keluarganya murka setelah mengetahui kelakuannya senang mabuk serta kerap menemui Pipit.

Meski jelas sikapnya telah menyakitiku, hatiku masih sangat mencintainya. Aku mencoba selalu berpikir positif. Tiada pernah kulupakan tugasku sebagai seorang istri. Melayani dengan sabar juga berbicara lembut. Cintaku masih lebih besar dibanding rasa benciku akibat merasa tertipu. Ya, dalam sakit serta kesedihanku, hatiku masih sangat mencintainya, tak ingin lepas dari dirinya. Jadi kuputuskan untuk mencintainya dengan caraku. Sampai akhirnya kuputuskan untuk membahasnya.

‘’Kak, kalau kakak masih berhubungan dengan Kak Pipit, Nini tidak apa apa jika ditalak. Asalkan kakak bisa rujuk lalu hidup bahagia bersama Kak Pipit. Nini ihklas kak. Tapi Nini mohon jangan siksa Nini dengan keadaan ini. Kak Danar tidak mencintai Nini. Apakah Kak Danar tidak tersiksa dengan keadaan ini ?’’.

“Beri aku waktu Ni….”. Hanya itu jawaban selalu saja kudapat dari bibirnya. Kalau sudah begitu, diriku hanya bisa menggigit bibirku perih sambil menahan sakit dihati. Ya, aku rela diceraikan, aku pasrah, bagaimana bisa kupaksakan kehendakku pada Danar. Bagaimana bisa kupaksakan Danar mencintaiku sedangkan cintanya masih begitu besar pada Pipit.

Saat menatap sosokku di depan cermin, hatiku terkejut sendiri. Inikah wajahku yang berusia 19 tahun ?. Wajahku terlihat kusut, kurus, dan tua. Apakah karena selalu mengorbankan perasaan. Demi Tuhan diriku tak tahu apa apa. Pikiranku masih bingung bagaimana cara menghadapi semua ini. Otak kecilku selalu mencoba untuk mencari jalan dari semua kuhadapi, tapi hanya kebuntuan kudapat.

Dalam keperihan hatiku tiba-tiba kurasakan ada berbeda pada fisikku. Perutku sering mual juga muntah-muntah. Tubuhku pun sedikit mekar. Ternyata saat kuperiksakan pada dokter, diriku sedang hamil 3 bulan. Ya Allah dalam kesedihanku, Kau anugerahkan sesuatu paling berharga dalam hidupku.

Mengetahui diriku hamil, suamiku mulai sedikit memperhatikanku, walau ku tahu itu cuma basa-basi. Memasuki bulan usia kandungan, saat di USG ternyata anakku laki-laki. Mengetahui itu dirinya mulai jarang keluar. Tidak bisa dipungkiri, terlihat jelas dari wajahnya kalau hatinya gembira memiliki anak laki-laki, penerus marganya, kebanggaannya karena baru kali ini mendapat anak laki laki.

Meski hanya basa basi, atau apa namanya, hatiku sangat senang pada perubahannya meski kenyataannya masih berhubungan dengan mantan istrinya. Pernah suatu hari dirinya pulang menggunakan motor ringsek parah. Dikatakannya baru habis kecelakaan, namun ditubuhnya sama sekali tiada goresan luka sedikitpun. Belakangan baru kuketahui motornya dirusak oleh mantan istrinya karena suatu alasan. Namun diirku tak bisa marah karena sadar motor tersebut adalah hasil dari pernikahannya dengan Pipit.

Bagiku sedikit perhatian darinya sudah merupakan motivasi terbesarku melebihi kata motivasi cinta apapun. Kucurahkan terus perhatian juga kasih sayang untuknya juga anak-anak serta bayi dalam kandunganku. Mungkin dengan cinta tampa pamrih diriku akan selalu dilindungi Allah. Hatiku tidak lagi berharap semua kulakukan ini akan dibalas suamiku. Cukuplah diriku saja memberikan terbaik untuknya (baca kata bijak belajar mencintai).

Hampir 6 tahun kucoba bertahan dengan cinta tak terbalas. Kesakitanku, lukaku, perihnya hatiku menahan cemburu, menekan egoku, mengesampingkan semua amarah sekaligus emosiku. Diriku mulai didewasakan oleh masalah.

Pernah beberapa kali kucoba bertemu Pipit untuk menanyakan secara langsung padanya kalau dirinya masih berhubungan dengan suamiku, namun jawaban kudapatpun menggantung. Sepertinya ada sesuatu disembunyikannya dariku. Dan jika diriku bertanya pada suamki, selalu saja disangkalnya walau jelas-jelas diriku tahu bahwa mereka masih berhubungan.

Perlahan namun pasti, tanpa kusadari sikap Danar padaku semakin berbeda sejak memiliki anak laki-laki darinya. Suamiku mulai sering menelpon kalau berada diluar rumah atau kantor. Perubahan tersebut membuat bahagia. Sampai suatu saat kudapat telpon dari Pipit. Dia mengajakku bertemu untuk bicara. Agak berdebar hatiku akan apa akan dibicarakannya nanti. Tapi aku merasa harus menemuinya.

Kutemui dirinya dirumah kost yang kutahu sering dikunjungi suamiku juga anak-anaknya. Saat datang agak kaget juga melihat keadaannya. Tubuhnya dulu berisi kini terlihat sangat kurus, wajahnya pucat, sepertinya sedang menahan sakit.

‘’Duduklah Ni ’’ katanya mempersilahkan.

Aku duduk, segala kemarahan dan kebencian dalam hatiku hilang saat kutatap murung matanya.

“Kak Pipit mau bicara apa”.

“Aku mau minta maaf padamu secara pribadi juga meminta maaf atas sikap serta perilaku Danar selama ini padamu. Diriku bukannya sengaja melakukan semua padamu dan juga tidak menyalahkanmu karena telah hadir dalam hidup kami berdua. Malah selalu kudoakan agar dirimu diberikan kesabaran untuk terus bertahan dalam rumah tanggamu bersamanya. Kamu baik Ni, mengurus anak-anakku dengan baik. Tak pernah mereka mengeluh atau mengadu padaku. Kamu ibu sekaligus istri yang baik, tidak sepertiku …”.

Cerita panjang pun mengalir dari bibirnya. Baru ku tahu alasan penyebab mereka bercerai (baca juga : cara menjelaskan alasan). Ternyata ada hal-hal lebih kompleks sehingga membuat sebuah pernikahan mereka berakhir. Bukan hanya karena selingkuh atau orang ketiga. Tapi ada hal-hal tertentu tak bisa dijelaskan, hanya mereka berdualah yang tahu.

Diriku selama ini merasa menjadi wanita paling menderita karena menikah dengan laki laki tak mencintaiku, namun ternyata masih ada wanita lebih menderita dariku. Pipit memilih meninggalkan suaminya demi cintanya. Dirinya mengorbankan kebahagiaannya demi suami juga anaknya. Dia juga memilihkan wanita untuk dinikahi mantan suaminya, dan wanita itu adalah diriku. Pipit tidak berselingkuh. Dirinya hanya bersandiwara agar Danar menceraikannya. Pipit memilih melakoni drama diciptakan sendiri untuk membuat Danar membencinya.

Katanya kehilangan begitu lebih bermakna daripada kehilangan dipisahkan oleh kematian. Sejak divonis menderita sakit ginjal kronis, dirinya sudah memikirkan semua tindakan akan diambil sekaligus konsekwensinya. Dipilihnya meninggalkan Danar serta keluarganya dengan caranya. Walau kenyataan tetap tidak seperti diduga, walau mantan suaminya tahu Pipit berselingkuh, bahkan sampai sekarang masih belum tahu kalau semua hanya sandiwara, mantan suaminya tetap tak bisa melepaskan Pipit. Mantan suaminya, yaitu suamiku, masih sering mengunjunginya walau terus melampiaskan kemarahannya. Tapi cinta mantan suaminya tidak pernah benar-benar hilang.

“Sejak dirimu mengandung anak laki laki, dia seperti punya harapan baru Ni. Biarlah dirinya tetap beranggapan salah padaku. Kumohon jangan pernah menceritakan hal ini padanya. Jika dia sudah benar-benar mencintaimu itu lebih baik. Diriku berbuat seperti ini untuk membuatnya tulus mencintaimu. Dirimu wanita baik Ni, aku sangat berterimakasih padamu. Jika nanti harus mati, diriku akan tenang karena ada dirimu disamping Danar serta anak-anak. Maafkan jika selama ini telah membuatmu sangat menderita, maafkan aku.”

Suara Pipit bergetar kutahu dibanding sakit serta derita kurasakan, dirinya lebih menderita. Merelakan wanita lain untuk menjadi istri dari suami sangat dicintainya serta menjadi ibu dari anak-anaknya. Ya Tuhan, jika diriku berada diposisinya, tiada sanggup berbuat demikian. Dan jika dari awal kutahu semua hanya sandiwaranya, tidak akan pernah diriku mau menikah dengan suamiku.

Tapi semua sudah terlanjur terjadi. Suamiku dengan segala kesalah-pahamannya pada mantan istrinya serta ketidak tahuannya akan penyakit mantan istrinya. Adakah wanita lain seperti Pipit didunia ini ?. Dirinya menderita sakit lahir juga bathin, tubuhnya, hatinya. Secara logika takkan ada orang tahu apalagi percaya pada semuanya, tapi dirinya sanggup melakukan bahkan merancang rencana dalam sandiwara sedemikian rupa. Dia begitu pandai menyembunyikan penyakit yang mengharuskannya cuci darah seminggu dua kali.

Satu hal terlupakan adalah dirinya bukan Tuhan yang bisa menghapus perasaan cinta juga sayang dari hati seseorang. Tapi dirinya benar, awalnya suaminya akan terluka, harga dirinya tercabik. Dia akan marah bahkan murka, mendendam atau membenci. Itulah proses alami pada orang terluka karena cinta. Tapi mantan suaminya adalah seorang laki laki, lambat laun hatinya akan menerima kenyataan. Satu hal yang akan membuat dia luluh adalah sifat serta sikap wanita pengganti Pipit selalu berlaku sabar dalam menghadapinya. Dengan kesabaran, kelembutan, serta cinta terus menyirami, hati gersang terluka akhirnya akan luluh juga.

Pipit telah mempertimbangkan semua tindakan diambilnya. Aku salut, salut pada pribadinya yang mengorbankan perasaannya demi suami juga anak-anak. Namun yang membuatku kaget adalah saat Pipit mengatakan bahwa dirinya mengetahui bahwa aku mencintai Danar sudah sejak lama.

“Saat kau melihat Danar, aku tahu Ni, kau mencintainya. Dia adalah cinta pertamamu kan ?. Tapi kau bertahan menyimpan perasaanmu. Tahukah Ni, saat melihat matamu hatiku iri padamu. Kamu menyimpan cinta begitu besar padanya sekian lama tanpa berniat untuk mengganggu rumah tanggaku. Sedangkan aku, cintaku tak sebesar itu. Sejak saat itu mataku selalu memperhatikannmu, bahkan sering berbicara tentangmu bersama Danar. Kamu baik, rajin bekerja, penurut. Jika kamu menjadi ibu dari anak-anakku sungguh hatiku tidak akan kawatir”. Pipit menarik nafas panjang sambil tersenyum kecil, terlihat puas sekalih telah berbicara denganku.

“Terimakasih ya Ni, kutitipkan anak-anakku serta Danar. Jaga mereka baik-baik. Berjanjilah padaku untuk tidak menceritakan semua kepada suamimu. Jika ini menjadi bebanmu biarlah nanti akan kuceritakan semua melalui surat setelah aku meninggal”.

“Kak Pipit jangan berkata begitu, kakak harus berjuang untuk hidup. Demi kak Danar, demi anak-anak”

Pipit menggeleng pelan “Aku sudah ihklas sejak lama Ni, memang susah sekali tapi jika kita mau belajar tentang keihklasan, semua hal pernah kita miliki didunia tidak akan ada artinya lagi. Satu satunya yang paling berarti adalah kita menyadari hakekat diri kita sebagai manusia mahluk Allah”.

Tak sanggup kutentang tatapan sendunya. Aku hanya menganguk, hingga akhirnya tidak bisa menahan airmataku. Diriku terisak, Pipit juga. Tangannya memelukku erat. Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkan mereka. Berjanji akan menjaga mereka dengan segenap hati dan jiwa.

Sebulan sesudah pertemuanku dengannya, Pipit menghilang meninggalkanku bersama beban dalam hatiku sendiri. Sementara suamiku kini telah benar-benar berubah. Dirinya lebih banyak menghabiskan waktu dirumah bersamaku juga anak-anak. Tidak ada lagi dering telpon, SMS masuk, atau memergokinya sedang menelpon. Dia tidak tahu bahwa Pipit wanita yang dicinta, ibu dari anak-anaknya, sedang berjuang melawan maut. Walau ku tahu hatinya belum sepenuhnya bisa melupakan mantan istrinya, tapi sudah bisa menerima kenyataan bahwa dia tidak berhak lagi untuk masuk dalam kehidupan mantan istrinya. Tiga bulan sejak menghilang kuterima kabar kalau Pipit sudah meninggal.

Saat ini tak jauh dihadapanku, suamiku tertunduk berlutut pada gundukan tanah masih basah. Dalam genggamannya terdapat secarik surat ditinggalkan Pipit. Dari sini bisa kulihat punggungnya bergetar. Dia sedang menangis. Diriku tak tahu apa isi surat tersebut namun akupun tidak berniat membacanya. Karena hatiku tahu pasti, itulah caraku menghormati cinta mereka. Pipit sudah pergi walau akhirnya mantan suaminya tahu kenyataan sesungguhnya. Hatiku yakin dirinya sudah tenang serta bahagia diatas sana.

Apa dalam hatinya bisa kuduga. Cintanya pada mantan istrinya masih begitu dalam. Jika akhirnya menangis mungkin satu satunya cara untuk melampiaskan semua penyesalan terlambat dirasakan. Aku masih berdiri disini dengan setia. Akan terus kutunggu hingga dia beranjak. Sejam, sehari, seminggu, bahkan sebulan akan terus kakiku berdiri disini karena janjiku pada Pipit dan Tuhan bahwa aku tidak akan pernah meninggalkannya.

Akupun akan menunggu sampai cinta suamiku benar benar menjadi milikku. Kuhapus airmata disudut mataku. Terimakasih Kak Pipit untuk semua hal telah kau lakukan. Terimakasih Tuhan untuk kehidupan yang Kau beri. Aku berjanji akan terus mencintai keluargaku dan memberikan hal terbaik untuk mereka. Dibalik penderitaan yang Kau beri ternyata menyimpan kebahagiaan. Karena semua rencana manusia tidak sebanding dengan rencanamu yang selalu indah pada waktunya.(PW)


Terima kasih telah membaca cerita cinta segitiga singkat “Kisahku”. Jika anda menyukai cerita mistis singkat ini, mohon bantu kami membagikan cerita pendek keluarga ini melalui Facebook, Ttwitter, Google+ dan Pinterest. Jangan lupa kunjungi situs kami untuk membaca cerita misteri pendek lainnya.

Dibagikan

Putri Wahyuningsih

Penulis :

Artikel terkait