Aku Bisa Apa

cerita sedih suami selingkuh minta kawin lagi

Aku bisa apa adalah cerita sedih suami selingkuh minta kawin lagi. Meski kejadian seperti sudah bukan hal luar biasa pada zaman sekarang, akan tetapi tetap saja menarik untuk dibaca sebagai bahan pelajaran dari kisah hidup orang lain. Bagaimana ceritanya ? simak pada cerpen perselingkuhan berikut.

Cerita Sedih Suami Selingkuh Minta Kawin Lagi – Aku Bisa Apa

Seperti biasa kujalani aktifitasku sehari-hari sebagai Ibu rumah tangga sekaligus wanita karier. Setiap pagi selalu kusiapkan keperluan sekolah anak juga memasak untuk sarapan, dibantu oleh Bi Minah.

Pagi-pagi diriku selalu disibukkan dengan urusan sulitnya membangunkan anak, menyuruh mereka mandi, menyiapkan seragam sekolah, juga baju kantor suamiku. Beruntung diriku memiliki suami pengertian. Kadang Mas Anton juga sering membantuku menyiapkan apa saja.

Setelah semua beres, kemudian kami sarapan bersama-sama. Kehidupan seperti ini sangat membahagiakanku. Di posisi ini diriku merasa beruntung, karena sebagai wanita ku telah mendapatkan segalannya. Suami setia, baik hati, anak-anak sehat lagi lucu, juga karier pekerjaan yang bagus.

Setelah sarapan biasanya anak kami, Rio serta Rara, akan berangkat sekolah bareng Papanya, sementara aku berangkat sendiri belakangan. Karena memang sekolah Rio serta Rara kebetulan searah kantor Papanya.

Seiring berjalannya waktu, tiba-tiba Mas Anton ditugaskan oleh kantornya untuk memegang proyek di daerah Kalimantan. Sebenarnya kami berat menerima keputusan tersebut, tapi mau bagaimana lagi. Toh Rio dan Rara sekarang sudah besar. Rio, si sulung sudah kelas satu SMA, sementara adiknya Rara kelas satu SMP.

Akhirnya kami memutuskan, mulai sekarang Rio bersama Rara berangkat ke sekolah berdua, mengendarai sepeda motor berboncengan. Rio juga Rara setuju. Hal ini sungguh terasa berat kurasakan, karena sekarang kami harus hidup terpisah. Semua harus kulakukan sendiri.

Jarak lumayan jauh antara Jakarta dengan Kalimantan tentu menyebabkan tidak dapat sering bertemu. Dari kantor, Mas Anton hanya mendapat libur setiap tiga bulan sekali selama dua minggu.

Kusandarkan kepalaku di bahu Mas Anton, rasanya tak ingin berpisah dari suamiku. Mas Anton menggenggam erat tanganku.  “Mama yang sabar ya, mudah-mudahan kita kuat. Toh proyeknya juga tidak lama, cuma dua tahun.” Mas Anton mencoba menghiburku.

Esok paginya Mas Anton berangkat ke Bandara dengan diantar diriku bersama anak kami. Kami melepasnya dengan berat hati. “Hati-hati ya Pa.” ucapku. “Mama juga ya, jaga anak kita.” Katanya sambil mencium keningku. Lalu memeluk Rio serta Rara.

Sekarang diriku harus melakukan semuanya sendiri. Saat pertama sarapan tanpa suami, Rara juga Rio terlihat tak bersemangat, tapi beruntung sebentar kemudian papa mereka telepon, sehingga kami kembali bersemangat. Walaupun menjalani hubungan cinta jarak jauh, tapi hatiku merasa suamiku masih dekat, karena dirinya selalu menelepon kami. Hal ini lama-lama membuat terbiasa hidup tanpa kehadirannya.

Waktu berlalu, 3 bulan kemudian suamiku mendapat jatah libur. Selama dua minggu di rumah, kami manfaatkan sebaik-baiknya. Bersamaan itu aku juga mengambil cuti dari kantor. Sehingga kami bisa menghabiskan waktu bersama-sama.

Setelah dua minggu di rumah, dia kembali ke Kalimantan.  Kamipun melalui hari-hari seperti biasa. Tapi beberapa bulan setelah itu suamiku mulai jarang telepon, alasannya sibuk atau capek. Diriku maklum, mungkin memang dia sibuk, pekerjaannya sedang banyak. Diriku juga memberi pengertian kepada Rara juga Rio untuk tidak menelepon Papanya kalau tidak Papanya duluan menelepon.

Liburan berikutnya suamiku mengabari kalau tak bisa pulang, karena beban pekerjaanya sedang banyak. Walaupun kecewa tapi kami mencoba mengerti. Hingga akhirnya suatu malam Mas Anton meneleponku. Hatiku sangat gembira, tapi sebentar saja berubah menjadi sangat sedih. Air mataku tumpah ruah saat Mas Anton mengatakan dirinya meminta ijin untuk menikah lagi. Diceritakannya bahwa disana hatinya jatuh cinta pada seorang perempuan, Sarah namanya.

Suamiku memuji perempuan itu, tanpa memahami perasaan hatiku. Katanya Sarah gadis anggun, juga hatinya baik. “Maafkan Papa, Ma. Di sini Papa merasa nyaman dengan Sarah, Papa mencintainya Ma.” Ya Allah, cobaan apa ini, begitu teganya suamiku melakukan semuanya. Mulutku tak bisa berkata-kata lagi, hatiku begitu hancur. Sementara di seberang sana, suamiku masih saja merengek padaku agar memberikan ijin dirinya menikah lagi.  Dia tak ingin berbuat zina, namun juga ingin membahagiakan Sarah.

Diriku tak berani menutup telepon, karena sebenarnya hatiku sangat rindu pada suamiku. Yang kulakukan hanya menangis. “Ma, Mama menangis ya. Maafkan Papa ya Ma, bukan maksud Papa menyakiti hati Mama. Perasaan ini datang begitu saja, papa tidak bisa mencegahnya. Papa mencintainya Ma, Sarah gadis baik, Papa tak akan salah pilih. Disini pasti Papa akan dilayaninya dengan baik.” Ya Allah, diriku harus bagaimana ?.

Lalu bagaimana dengan Rara juga Rio nanti, pasti hal ini akan menyakitkan bagi mereka. Aku hanya bisa menangis, aliran darahku serasa berhenti mengalir, otakku juga sudah buntu, hatiku hancur.

Semalam diriku tidak bisa tidur, kuhabiskan waktu untuk sholat tahajud, berdoa serta berzikir. Memohon ketenangan juga jalan keluar. Kulihat mataku membengkak besar serta merah.  Kucoba membasuh wajah, tapi masih tetap saja bengkak, diriku tak ingin mereka mengetahui kesedihanku.

Sebentar kemudian, pintu kamarku diketuk. Bi Minah memanggilku. “Bu, Rara dan Rio sudah siap di meja makan.” “Iya Bi, jawabku.” Lalu kuambil kacamata coklat, agar bisa beralasan kepada mereka kalau mataku sedang sakit.

“Lho Ma, mata Mama kenapa ?” tanya Rara padaku. “Nggak tahu, tadi waktu bangun tidur tiba-tiba mata Mama perih dan bengkak. Coba nanti Mama periksa ke dokter.” Jawabku bohong.

Untungnya kami sudah mulai terbiasa sarapan tanpa ditelepon Mas Anton. Rara juga Rio kulihat juga sudah terbiasa, mereka tampak ceria. Sementara aku tak mungkin menghancurkan kebahagiaan mereka dengan menceritakan perihal papanya kepada mereka.

Aku mencoba bersikap seperti biasa pada mereka. Mereka tidak boleh tahu kesedihanku. Setelah selesai sarapan mereka berpamitan berangkat ke sekolah. Kutatap mereka, tak terasa sekarang telah tumbuh menjadi remaja. Hatiku bahagia karena mereka tumbuh sehat, pintar serta tidak nakal.

Aku kambali masuk ke kamar, hari ini rasanya sangat malas untuk berangkat ke kantor. Kubaring kembali tubuhku diatas tempat tidur sambil memandangi foto keluarga. Keluarga kami yang sangat bahagia, namun tiba-tiba saja cobaan datang tersebut datang, suamiku ingin menikah lagi.

Saat kulihat foto Sarah,  gadis yang akan dinikahi suamiku, dikirimkan melalui HP, hatiku terasa sakit. Karena gadis tersebut memang sangat cantik, matanya bening. Suami beralasan karena sudah jatuh hati serta tak ingin berzina. Ya Allah, harus bagaimanakah hambaMu. Haruskah kuijinkan suamiku menikah lagi ? Lalu bagaimana dengan Rara serta Rio, akankah mereka bisa menerimanya ?. Rasanya sangat tidak tega mengatakan semua kepada mereka. Hatiku tidak ingin menyakiti hati mereka yang sedang bahagia menikmati masa remajanya.

Sebentar kemudian HP ku berbunyi, ternyata BBM dari suamiku. “Bagaimana Ma, Mama setuju kan ?”. Ya Allah, kenapa suamiku begitu terburu-buru ?. Apakah dirinya tidak berfikir betapa sakitnya hatiku ?. Walaupun mungkin surga bagiku, tapi sungguh terasa berat kurasakan. Tiada kujawab BBM dari suamiku, juga telepon darinya. Hatiku masih sangat sakit, perlu kekuatan untuk menghadapi semua ini.

Saat kami makan malam, tiba-tiba pintu diketuk. Sangat tiada kusangka, ternyata Mas Anton datang bersama calon istrinya Sarah. Mas Anton mengenalkanku pada Sarah. Gadis itu cantik sekali. Memakai gaun warna putih tulang sangat cocok dengan kulit putihnya bersama. Sangat jauh dibanding diriku. Mungkin dulu diriku cantik tapi tak secantik Sarah. Dia bagai bidadari, tapi apakah hatinya juga seperti bidadari ?. Kenapa dia begitu tega menyakiti kami.

“Rio dan Rara mana Mah ?”. Mas Anton masuk sambil menggandeng Sarah. Dia tak peduli padaku, tidak lagi mengecup keningku seperti dulu. Ingin rasanya ku menangis, tapi aku bisa apa ?.

Anak-anak terlihat sangat gembira melihat Papa mereka. Mereka langsung memeluk Mas Anton, terlihat betapa rindunya mereka pada Papanya. Melihat pemandangan ini, hatiku semakin sakit. Tapi diriku tak boleh menangis didepan anak-anak, diriku tak ingin melihat mereka bersedih.

“Anak-anak. Ini temen Papa, Tante Sarah.” Kataku lalu menyuruh Bi Minah untuk mengantar Sarah ke kamar tamu. Anak-anak sedikit terkejut dengan kedatangan Sarah, tapi kemudian mereka terlarut dengan kegembiraan karena bertemu Papa mereka.

Aku langsung masuk ke kamar, kubiarkan anak-anak melepas rindunya pada Papanya di depan ruang televisi. “Mah… sini dong Mah.” Rio memanggilku. Sebenarnya diriku enggan, tapi perasaanku tak ingin mengecewakan anak-anak.

Akhirnya diriku bergabung bersama mereka, tapi Mas Anton tak sedikitpun menyentuhku. Hatiku sangat tersiksa, mungkinkah hatinya sudah tidak menginginkanku. Saat mataku meliriknya, tak sedikitpun dia membalasnya. Mungkin memang diriku sudah tak ada sama sekali di hatinya. Tanpa terasa, air mataku menetes, hatiku tak tahan lagi.

“Ma, kenapa Mama menangis ?” tanya Rara melihat air mataku. Buru-buru kuusap air mataku, lalu pamit masuk kamar.

Di kamar, kulampiaskan air mataku, diriku menangis. Tak berapa lama kudengar keributan di ruang tengah. Rio berteriak-teriak pada Papanya. Mungkin Mas Anton telah menceritakan maksudnya untuk menikah lagi pada anak-anak. Sementara kudengar Rara berteriak menangis. Hatiku semakin hancur.

Segera aku keluar kamar. Ku peluk Rara yang histeris, sementara Rio tampak sangat emosi. Kucoba juga meredakan emosi Rio. “Sudah Nak…” kurangkul mereka Rio serta Rara. Sementara suamiku, berdiri terdiam. Kubawa anak-anak ke kamar, sambil kupandangi suamiku. Diriku sangat tak mengerti kenapa dirinya begitu tega menghancurkan kebahagiaan keluarganya.

Kupeluk anakku, mereka menangis. Pasti hatinya sangat sakit, pasti sangat kecewa pada Papanya.  Kuhibur sambil memberikan pengertian kepada mereka. “Kalian harus sabar, karena semua adalah takdir, kita harus menjalaninya dengan sabar dan ikhlas apapun itu.”  Namun tetap saja menangis.

Pagi hari, setelah selesai sarapan, kuajak Mas Anton ke kamar mengajaknya bicara.  “Mas, silahkan kalau mau menikah lagi, tapi tolong jangan ceraikan aku, karena sekarang sedang mengandung anak Mas.” Mas Anton sangat terkejut mengetahui hal tersebut. Kulihat air mata menetes dari sudut matanya, namun tetap saja pada keinginannya.

“Tapi Mas Anton juga jangan jadi laki-laki pengecut, karena mengingkari janji pada seorang gadis. Nikahilah dia.” Ucapku tegar. Kini tangis Mas Anton semakin menjadi. “Dan jangan kau sakiti lagi hati anak-anak, mereka sedang bahagia.” Kini airmataku tumpah saat teringat kejadian semalam. Pasti kejadian semalam meninggalkan luka sangat dalam di hati Rara serta Rio.

Mas Anton mencium keningku, hal yang sudah lama kurindukan. Dia mencium perutku lalu mengelusnya. “Maafkan Nita…” katanya lirih sambil menangis.

Ya akhirnya kuputuskan untuk merelakan suamiku menikah lagi. Karena aku bisa apa ?. Aku harus menerima suamiku jatuh cinta dengan perempuan lain, tak ada yang bisa kulakukan selain merelakannya. Dan ku yakin ini memang takdir harus kujalani.


Terima kasih telah membaca cerita sedih suami selingkuh minta kawin lagi. Semoga cerpen selingkuh diatas dapat menjadi motivasi untuk terus menjaga hubungan serta menjadi inspirasi bagi sobat penulis Bisfren untuk menghasilkan karya terbaik. Salam sukses selalu.

Dibagikan

Anik Fityastutik

Penulis :

Artikel terkait