Kisi Hati Dini

cerpen cinta segitiga

Ketika dua gadis bersahabat tertarik pada satu lelaki rasanya tidak akan terjadi cerpen cinta segitiga karena salah satu pasti mengalah memendam rasa. Tapi pernahkah terfikirkan bahwa seringkali justru sang lelaki justru lebih menyukai wanita yang memilih mundur dan mengalah. Simak cerita pendek berikut ini :

Cerpen Cinta Segitiga – Kisi Hati Dini

Pada suatu hari, pagi yang sangat cerah. Dini berjalan pelan – pelan menyusuri koridor sekolah menuju ke kelasku, pada ujung lorong. Sekolahnya terletak pada pusat kota Manado, berdekatan dengan objek wisata Taman Budaya, merupakan laboratorium terbesar Indonesia merangkap sebagai bengkel seni budaya daerah Sulawesi Utara serta daerah – daerah lainnya di Indonesia. Disini adalah tempat dipertunjukkan pagelaran, pameran, serta pelatihan seni budaya Nusantara maupun mancanegara. Kegiatan wisata dipertontonkan bersifat umum juga disukai oleh turis mancanegara bila melancong kesini guna melihat, mengenal, lalu belajar menikmati seni budaya daerah Sulawesi Utara. Sekolahku berlokasi pada Kelurahan Wanea. Bisa kami tempuh sekitar 30 menit dari pusat Kota Manado mengendarai transportasi umum atau bersepeda.

“Selamat pagi !” seuntai senyum manis mengembang dibibir Dini Ajeng saat ia sudah berada dalam kelas dan melihat sahabat sebangkunya,  Desi  Alishba  telah duluan tiba dalam kelas meraka. “Kamu tampak cantik hari ini, Desi, pita rambutmu baru ya ?”. Desi menanggapi basa – basinya dengan sikap agak cuek, hanya menganggukkan kepala kemudian tenggelam dalam buku bacaan komik Doraemon seri terbaru, kesukaannya. Dini mengambil buku diary dari dalam tas ransel, lalu mulai menuliskan sesuatu ingin diceritakannya dalam buku diary itu. Membayangkan akan sosok dicintai sebagai cinta pada pandangan pertama, mulailah jemari tangan mungilnya menari – nari diatas selembar kertas putih.

Hatiku bahagia bersamanya andai Engkau memberi kesempatan untuk benar – benar bisa merasakan sejak pertama kali berjumpa. Bahagiakanlah dia s’lalu karena diriku mulai bisa mencintainya. Bibirnya tersenyum penuh arti seorang diri sambil menutup buku diarynya kemudian bersiap – siap untuk mengikuti pelajaran pertama hari ini.

Pulang Sekolah, ah seandainya punya pacar

Dua jam berlalu, lonceng berdering nyaring, tanda pelajaran pertama telah usai. Dini menggeliatkan badan penuh rasa malas juga bosan, membayangkan betapa hidup lebih bahagia seandainya punya pacar … tetapi, sayang sekali dirinya belum memiliki sejak duduk pada bangku kelas 11, meskipun tahu sesungguhnya sangat indah rasanya dunia jika dilewati bersama seseorang yang sempurna dalam hati. Ada orang akan s’lalu memperhatikannya setiap hari dan bertanya : apa kabar Dini ? Atau saat pagi hari, dia dengan sabar menyapa : udah bangun belum ? Dini lagi sibuk apa sekarang ? Udah makan ? Udah bobo atau belum, say ? Ketika malam menjelang dan udara luar rumah begitu dingin. Ooh … senangnya hati ini. Yah, itu hanyalah angan – angan saja lagipula diriku tidak berpikir terlalu serius tentang hal itu. Tiba – tiba sebuah bunyi SMS membuyarkan lamunan panjangnya.

“Kamu lagi ngapain, Dini, ke kantin yuk, kebetulan tadi pagi perutku belum kena sarapan, apalagi sedang hujan, perutku sangat keroncongan ?”Adalah Farhan Arkha, seorang teman dari kelas A menghubungi handphoneku, tentu saja aku merasa tersanjung dan sumringah karena pada sekolah ini Arkha adalah cowok terganteng paling dekat denganku. Segera aku menuju ke pintu depan kelas,”Kak Farhan, ada apa ? Kok hujan – hujan gini keluyuran ?” Dini segera berjalan menuju ke tempat dimana Arkha sedang berdiri sambil melambaikan tangan kanannya untuk memanggil Dini bersama – sama menuju ke kantin sekolah terletak membelakangi kelas Arkha. Mungkin segelas teh hangat tepat diminum saat cuaca sedang dingin seperti saat ini.

“Kamu ngapain setelah pulang sekolah, bolehkah aku bermain ke rumah, gak ada temen ngobrol. Tau sendiri kan, orangtuaku lagi keluar pulau. Bagaimana kabar ibumu, apakah beliau sudah sehat ?” Arkha mengulurkan tangan meraih gelas.

Ditemani semangkok bakso Solo pedas dan gurih, perbincangan kami pun menjadi semakin hangat tatkala beberapa teman lainnya turut bercengkerama bersama kami dalam kantin sekolah asri lagi nyaman ini.

Dini Dan Arkha

Keakraban Dini dan Arkha berawal ketika Ayah Arkha yang bekerja dan berprofesi sebagai Kepala Sekolah pada sebuah SMA negeri di Jakarta memutuskan untuk pindah rumah karena beliau dipindah tugaskan ke sekolah ini dimana Dini bersekolah. Kini Dini bersama Arkha sama – sama sekolah pada satu tempat, bahkan rumah mereka pun saling berdekatan.

Persahabatan mereka semakin seru bersama dua teman baru lainnya yaitu Desi serta seorang pemuda Jepang bernama Rio Dai. Hari – hari mereka lalui selalu ceria bahkan setiap kesempatan dimanfaatkan untuk saling berbagi.

“Ra, boleh gak aku main ke rumahmu hari ini ? Boleh yah … yah … yah !? “pinta Desi, teman sebangkuku dalam kelas dengan penuh harap usai kami makan bakso dikantin.”Tetapi tumben, biasanya kan kamu suka dirumah saja, gak doyan keluyuran kemana – mana, apa ada sesuatu bisa aku bantu ?” Dini menjawab sambil menggoda sahabatnya itu.

“Ya, aku sedang malas membuat PR matematika sendirian di rumah, dengan kamu pasti lebih lancar, tapi sebenarnya sekali aku emang lagi membutuhkan bantuan kamu, gimana ya caranya biar deket ‘ma Kak Arkha si ganteng itu ? Kamu kan sering ditraktir makan dikantin, hiihihihihi”.

“Farhan maksud loe ?!” Dini mengernyutkan dahi setelah mendengar Desi menyebut nama Arkha dari mulutnya yang mungil.”Iyah, Kak Arkha. Farhan Arkha Wijaya, teman kelas kita di sebelah.” jelas Desi.

“Oh, jadi itu membuat kamu mau main ke rumahku. Bukannya mau belajar bersama – sama tapi maksudnya PDKT ke dia, ya !?”

“Hehe …” Desi menggangguk lucu sambil tertawa kecil sambil memegang kedua pipi tembemnya. Dini mengiyakan, lalu mereka janjian untuk bertemu pada hari Minggu besok untuk latihan main gitar di rumah Dini.

Berjalan santai di taman dekat rumah merupakan aktifitas pulang sekolah

Sepanjang perjalanan pulang dari sekolah, Dini tak lekas menuju ke rumah. Ia berencana jalan – jalan santai dulu menuju ke taman di dekat rumahnya. Dini memilih duduk di atas rerumputan hijau di bawah sebatang pohon perdu, dimana diketahui bahwa saat ini perkembangan arsitektur pertamanan kota mengalami kemajuan cukup pesat, mereka menerapkan tema taman kota minimalis dengan menonjolkan tanaman hias rindang serta berbatang besar serta sangat tinggi tanpa bunga dengan rerumputan diatas petak – petak tanah, pada sisi taman berdekatan dengan jalan raya, ditanam serumpun bunga krisan dalam warna – warna cantik, ada kuning, oranye, ungu, biru, merah serta putih, menambah keasrian taman bunga ini ketika senja sebentar lagi akan tiba. Dini mengeluarkan lagi sebuah buku kecil bersampul merah hati dari dalam tasnya. Itulah diary kesayangan yang dengan setia menemani waktu luang Dini setiap pulang dari sekolah.

11 Juni 2014

Aku tak tahu, mengapa hari ini ada sedikit kecemasan di dalam hatiku. Pastilah ada sesuatu penyebab perasaan ini menjadi tersumbat. Wahai awan biru dan kerap mengitari kepalaku ketika aku tertidur pulas pada malam hari, janganlah mendung menghampiri engkau, karena aku masih ingin menikmati cantik serta hangatnya terik matahari dibawah rimbunya pohon hias taman ini.

Lagi enak nulis tiba-tiba ada suara Farhan memanggil

“Dini … ?” suaranya sangat lembut terdengar sayup – sayup dari kejauhan memanggil namaku.

“Hai, Farhan ?” secepat kilat Dini menutup bukunya, kemudian memasukkan kembali ke dalam tasnya dengan hati – hati.

“Kok sendirian disini ? Aku tadi melihat kamu lagi asyik nulis sesuatu pada buku kecil itu, kamu masih suka menulis cerpen ? Coba aku liat !” Arkha berusaha meraih tas Dini namun tak sampai menyentuhnya karena Dini mendekap erat – erat tas tersebut.

“Oh, bukan, aku tidak sedang membuat cerpen, bukan apa – apa kok. Hm … lagi pingin menyendiri saja disini.” Dini merentangkan kedua tangannya sambil wajah menatap tajam ke atas dimana langit sangat cerah hari ini. Sementara Arkha merebahkan dirinya diatas hamparan rumput hijau, tidak jauh dari Dini yang sedang duduk dengan pose yoga. Arkha menyapu alam di sekitarnya, berusaha melukis seuntai puisi cinta untuk seorang gadis terlarang saat ini entah berada dimana ? Tolong sampaikan kepada awan begitu senja, ketika sebuah kehangatan menjalar lalu seperti menyelimuti seluruh tubuh ini, tepat menuju ke jantung hatiku, adalah saat terindah ketika kau mampu mengatakan … apabila bersamamu pada akhirnya akan jauh lebih penting daripada reputasi. Amin, tiba – tiba mulut Arkha mengucapkan sepatah kata itu namun tak kunjung usai bergaung dalam ruang bathinku.

Dini menatap lembut pucuk – pucuk pohon cemara, dimana angin sore hari berhembus semakin nakal di sekitarnya, dia mengikuti Arkha rebahan badan di samping kanan tubuh laki – laki itu yang mengeluarkan aroma wangi parfum merk Davidoff Coolwater”. Dulu, sebelum papaku tiada, kami sering jalan – jalan ke pantai hanya untuk melihat sekelompok burung camar beterbangan menikmati keindahan laut yang selalu ramai dikunjungi oleh ribuan ikan kecil – kecil.

Asyiknya cerita – cerita berdua

Kata papa, lihatlah mereka maka kamu bisa bandingkan dengan bintang – bintang dilangit sana, mereka akan selalu bersinar setiap pagi hari lalu akan kembali ke sarangnya ketika malam tiba, meskipun bintang tak selalu tampak benderang … tapi bintang – bintang itu akan selalu ada diatas langit seperti kasih papa dan mama kepada kita, anak – anaknya.””Yah ….. kamu benar, Farhan, bintang memang tak akan selalu tampil sempurna tapi sesungguhnya ia akan mampu mengisi kekosongan hati seperti orangtua kita memberi limpahan kasih dengan kebesaran dan kesabaran hati, ayahmu, meskipun beliau tak bisa lagi kau ajak bersama – sama untuk menikmati keindahan laut sekali lagi, tapi beliau  akan selalu berada dalam hatimu, selamanya”.

Mereka asyik berbagi cerita tentang hobi serta kegiatan santai pada waktu luang, atau bercerita tentang rencana liburan semester keluar negeri. Bertukar pengalaman – pengalaman menarik sebelum akhirnya mereka menyadari telah dipertemukan dalam sebuah ikatan unik. Dini merasa semakin dekat saja dengan Arkha meskipun ia tau bahwa teman sebangkunya, Desi, terlebih dahulu merasa suka dan sepertinya jatuh cinta dengan Arkha, apalagi pergaulan disekolah menyebabkan tiga sahabat ini : Arkha, Dini dan Desi menjadi akrab satu dengan lainnya seperti menciptakan sebuah kondisi cinta segi tiga.

“Oya, Kak Farhan, aku harus segera pulang, entar lagi malam tiba, akau khawatir bunda akan cemas menungguku di rumah.””Ya ! Kita pulang bareng yuk.” ajak Arkha sambil menarik dengan lembut salah satu tangan Dini. Mereka berboncengan dengan naik sepeda motor milik Arkha hingga tiba di depan rumah  Dini  tetapi  ia  tak lekas – lekas masuk ke  dalam,   malah mengajak Arkha untuk   mampir  sebentar  buat ikut  makan  malam  bersama  keluarganya.

Bunda selalu menyambut gembira

“Bunda, Dini sudah pulang bersama Kak Farhan, kami berencana akan makan malam bersama, hari ini bunda masak apakah ?” sambil membuka sepatunya lalu menyelinap masuk ke kamar tamu dan duduk pada salah satu kursi diikuti oleh Arkha,”Dini, kok baru pulang, sayang ? Dari tadi temanmu, Desi nungguin kamu, ….. tuh dia lagi bantu – bantuin bunda masak menu makan malam hari ini di dapur”.

Dengan gembira, Ibu Santika membelai rambut putri semata wayangnya itu.”Maaf bunda, tadi Dini main sebentar ditaman depan sana bersama dengan Kak Farhan.” Dini memberikan sebuah ciuman lembut pada tangan sang bunda tercinta.”Tante, apa kabar ?” sapa Arkha sedikit mengejutkan Ibu Santika yang sejak tadi tak menyadari kehadiran teman laki – laki Dini tersebut.”Loh, ada nak Farhan juga. Kebetulan hari ini tante lagi masak besar, kita makan malam bareng – bareng yah ?””Hai Dini ! Kemana saja kamu ? Tega banget, dari tadi ku nungguin kamu dalam kamar.”Tiba – tiba Desi muncul dari pintu dapur rumah Dini yang besar dan asri.”Eh, ada kak Arkha juga … apa kabar ?” Desi tersipu – sipu malu memandang kepada kedua mata Arkha ketika ia menoleh ke arahnya.

Sejak saat itu, Desi menjadi sering datang ke rumah Dini, bahkan di sekolah, ketika jam istirahat tiba, Desi menjadi suka jalan bareng dengan Arkha ke kantin sekolah. Hal inilah pembuat Dini mulai menjaga jarak terhadap Arkha.

Kesunyian Milik Seorang Penyair

Sepertinya,
Ini adalah sebuah mimpi yang telah lama kusimpan disini
Dalam benak yang s’lalu bertanya – tanya
Tentang siapakah diriku sebagai ilalang ?
Yang bergoyang tertiup angin semilir
Atau suka tertidur sambil memeluk bumi tercinta
Saat diketahui bahwa angin prahara sebentar lagi akan tiba
Adakah diri ini adalah sebagai angin ?
Yang akan bergerak ke segala arah
Lalu menghamburkan cerita cinta yang lara pada penghuni bumi dan cakrawala
Dengan berjuta kerlip bintang dan serpihan tanya keraguan yang kuhamburkan ke sekumpulan awan yang berarak menuju ke arah timur
Tuk diharapkan mampu jatuh ke bumi dan akhirny berserakan penuh dengan tangis, tawa, atau justru cinta dan kemarahan ?

Syukurlah ada anak pindahan mampu mengisi kekosongan hati

Hari – hari Dini selanjutnya lebih banyak dilewatkan untuk mengikuti les pelajaran tambahan diluar kelas karena sebentar lagi ujian semester akhir akan dimulai. Dini khawatir jika tidak belajar lebih keras sejak sekarang maka akan berpengaruh buruk terhadap nilai ujian nanti. Dengan cara ini dia bisa melupakan Arkha yang lebih banyak menghabiskan waktu istirahatnya bersama dengan teman laki – lakinya, dan kadang – kadang dia berada di perpustakaan sekolah bersama – sama Desi.

Hal tersebut diatas tidak berlangsung lama, karena keberadaan sahabat lama yaitu seorang anak baru pindahan dari Jepang bernama Rio Dai telah mampu mengisi kekosongan hari – hari Dini menjadi lebih hangat dan penuh semangat, Rio dan Dini menjadi akrab meskipun Arkha masih sering berkunjung ke rumah Dini ( bersama Desi, tentunya ) untuk belajar bersama atau mengerjakan PR – PR sulit lalu pada akhir cerita, mereka bermain gitar pada taman belakang rumah Dini. Kondisi ini terjadi berulang – ulang kali hingga ujian terakhir tiba lalu mereka lulus dengan nilai memuaskan untuk kedua orangtua masing – masing di rumah. Bahkan ketika hari terakhir kebersamaan mereka di sekolah dimana kelulusan semua siswa dan siswi disyukuri dengan mengadakan sebuah pesta disalah satu hotel berbintang lima di kota Manado, Arkha memilih untuk berpasangan bersama Desi saja dengan kepribadian lebih terbuka dibandingkan teman dekatnya dulu yaitu Dini.

Malam kelulusan yang menyedihkan

Malam itu Desi tampil sempurna : fashionable dengan perhiasan kalung model choker ala 90 versi modern menghiasi leher jenjangnya dan berkulit kuning langsat, model kebaya paduan rok modifikasi, perpaduan antara atasan berbentuk kebaya berwarna merah – oranye dengan rok pendek lebar seperti payung dari kain songket Bali gemerlap berwarna senada dengan atasannya, rambutnya hitam dan panjang dibuat sanggul kepang ekor ikan atau fish tail yang saat ini banyak menginspirasi para remaja putri agar tampak tampil modis, keren dan stylist. Dandanan make up wajah menor dengan sepasang sepatu heels pesta saint laurent berwarna hitam mengkilat bersisik seperti kulit naga, serasi bersama Arkha dengan pakaian santai tetapi maskulin sehingga membuat laki – laki muda itu menjadi semakin tampan sekaligus mampu memikat hati seorang gadis.

“Hai Dini ? Kok sendirian saja ? Ada yang lagi  ditungguin ? Bolehkah saya menemani ?” Rio  tiba – tiba muncul di belakang Dini sambil menepuk salah satu bahunya.”Oh, Kak Rio. Ga ada apa – apa kok.” Dini berusaha menyembunyikan kekecewaan hatinya meskipun tanpa ia menyadari bahwa sedari tadi Rio memperhatikannya dari pojok ruang dansa. Dengan  perasaan sedih ia pamitan kepada Rio, memilih untuk pulang lebih awal dari semua teman – teman pada pesta perpisahan sekolah pada malam itu. “Kak Farhan, hatiku pasti akan merindukanmu.” bisik hati Dini kepada dirinya sendiri.

Dini bersedia diantar oleh Rio ke rumahnya, begitu tiba didepan halaman rumah Dini yang sangat luas, ia berterima kasih tetapi buru – buru masuk rumah karena tak mampu menahan kesedihan lalu ia pun menangis, menyeka berulang kali air mata berlinang membasahi kedua matanya serta berusaha memastikan bahwa dirinya baik – baik saja. Tak boleh terlihat bekas airmata pada kedua pipinya atau mata merah sehabis menangis. Ia tak ingin kondisi buruk pada ruang dansa dalam pesta tadi diketahui oleh siapapun juga tak mau membuat bunda tercinta merasa khawatir.

Bunda kaget Dini sudah pulang

“Bunda, Dini sudah pulang.”

“Loh, ini kan baru jam setengah sembilan malam, kamu kok sudah pulang ? Katanya pesta berlangsung sampai jam dua belas malam.”

“Iya bu, Dini agak gak enak badan, jadi pulang duluan dari teman – teman lainnya.”

“Pulang sama siapa ? Nak Arkha ?”

“Sendirian. Maaf bu, Dini ngantuk sekali, harus langsung masuk kamar saja. Mau tidur !”.

“Ya sudah, istirahat, nak. Mungkin kamu kelelahan. Jangan lupa minum susu. Baru saja bunda buat buat kamu dalam kamar, ya ?” Ibu Santika bukannya tidak menyadari tentang kondisi yang sedang dialami oleh putrinya tersebut serta tak ingin banyak tanya saat ini tentang bagaimana dia serta teman – temannya dipesta karena justru akan membuat semakin sedih. Beliau mengenal baik kepribadian Dini yang lebih suka menyimpan pergaulannya di luar rumah sendiri, meskipun Ibu Santika kadang – kadang bermaksud membantunya untuk bisa terbuka dengannya atau pada Ayahnya yang saat ini masih bertugas keluar negeri. Watak Dini sama persis seperti ayahnya, tetapi dibalik sikap cueknya tersebut, dirinya selalu ingin membuat orang lain bahagia.

Selamat tidur anakku

“Sayang ? Apakah kamu sudah tidur ?” bunda tercinta menghampiri Dini yang sedang berbaring tertelungkup di atas kasur, membelakangi ibunya. Ia menyembunyikan tangisnya agar tak ada orang kecewa juga khawatir melihat kondisi buruk hubungan antara dirinya dengan dua sahabat lamanya yaitu Desi serta Arkha, “Sayang, sabar ya nak ? Dalam hidup ini memang selalu ada susah, senang juga kadang – kadang kesedihan pernah saja kamu alami, ada cinta juga ada kecewa, seperti ada hidup serta mati. Semua memang menjadi garis takdir Tuhan untuk tetap kita jalani dengan ketulusan hati serta penuh rasa syukur apapun yang sudah kita alami. Ibu akan selalu menyertaimu dengan berdo’a semoga kau mampu menghadapi dengan kuat. Ayo diminum susunya, lalu istirahat ya ?” sambil membelai rambut panjang milik putri kesayangannya, Ibu Santika mencoba menghibur sekaligus menenangkan hati Dini. Beliau mengecup kening Dini sebelum meninggalkan kamarnya sambil tak lupa menutup pintu kamar tidurnya.

Tiba – tiba Dini bangkit lalu berteriak keras,”Aku menyayangimu, bu !”

“Ya ………. Ibu juga menyayangimu nak, tidurlah. Sudah malam, ini bunda juga mau istirahat, sampai bertemu besok.”

Menyelam di keheningan malam. Setelah mengunci pintu kamar tidurnya, Dini langsung menuju ke meja belajar untuk menuliskan sesuatu dalam buku diarynya.

21 Juli  2014

Andai saja aku tak berandai – andai. Seandainya akulah gadis itu, yang penuh keberuntungan berada di sampingnya. Bisa bergandengan tangan dalam pesta dansa malam tadi, Tuhan, apapun yang terjadi selanjutnya ….. aku tetap mencintainya. Aku akan s’lalu membahagiakannya meskipun di ujung jalan itu bukan aku yang akan menjadi bintang dan sumber kebahagiaannya.

Arkha jadian sama Desi malah cerita ke Dini, gak punya perasaan !

“Kamu tau Dini kemarin malam aku jadian dengan Desi, dan setelah ini kami berdua akan sama – sama kuliah ke Jepang, kebetulan tante Desi bekerja di sana, jadi kami bisa mudah beradaptasi nantinya. Desi duluan berangkat tadi pagi jam sembilan. Aku akan menyusul dua atau tiga bulan ini ? Bagaimana dengan kamu, apakah Rio baik – baik saja ?” Tepat jam makan siang, tiba – tiba telepon di ruang tamu berdering, ternyata Arkha mengawali pembicaraan diantara kami lalu menjadikan hari ini sama seperti kejadian malam kemarin, kaku juga tegang.

“Ke Jepang ? Kenapa harus di sana ? Kenapa kamu tidak memilih untuk kuliah di sini saja, semua universitas di sini tak kalah bagus dengan universitas di luar negeri. Apakah kalian akan berencana menikah di sana ? Atau tunangan ? Selamat ya Kak Farhan !” Dini berusaha tetap tenang menerima telepon darinya. “Mamaku suka padanya dan menginginkannya agar tidak jauh – jauh dariku. Meskipun awalnya dia berencana akan kuliah di kota Malang tetapi kami berubah pikiran dan sama – sama memutuskan untuk kuliah ke Jepang. Menurut kamu gimana Dini, apakah kamu akan kuliah keluar negeri juga ?”.

“Bagus. Ya sudah, kalau kalian merasa cocok satu sama lainnya dan mamamu senang, kamu sebaiknya nurut aja. Setiap orangtua pastilah menginginkan anak – anaknya menjalankan hal terbaik untuk masa depan mereka. Tak terkecuali orangtuamu juga kedua orangtuaku”. Dengan menunduk sedih Dini mencoba untuk tetap bergairah serta tenang melakukan perbincangan serius ini untuk pertama kalinya setelah beberapa bulan terakhir hubungan persahabatan mereka terputus karena pada akhirnya Arkha memilih Desi sebagai pacarnya.

Sebaiknya diakhir saja pembicaraan tak menyenangkan hati

“Mungkin aku juga akan kuliah keluar negeri tetapi belum tau kemana atau mungkin aku istirahat saja setahun untuk ikut kursus ketrampilan di Jakarta bersama salah seorang kakakku yang bekerja di sana.” Kami selanjutnya bercakap – cakap sebentar tentang rencana untuk melanjutkan kuliah keluar negeri, tetapi aku tidak bisa berlama – lama, “Maaf Kak Farhan, aku ke kamar tidur dulu yah, kepalaku agak pusing karena pesta kemarin malam. Nanti kabari aku, jika Kak Farhan sudah berangkat.”

“Oh, ya udah, kamu istirahat dulu. Aku mau menelepon Desi. Kalau sudah pasti kapan berangkat, aku akan meneleponmu.” Setelah itu Dini langsung menuju ke kamar tidur lalu mengunci pintu. Menyembunyikan tangisnya dari orang lain terutama bunda tercinta. Dini terpaksa harus meninggalkan Arkha dan mengatakan kepalanya sakit hanyalah sebuah alasan belaka karena tak sanggup lagi membendung airmata juga kekecewaan.

22 Juli 2014

Tuhan, haruskan kami akhiri secara seperti ini dimana ia yang harus pergi ? Bahkan seorang sahabatpun tak bisa lagi mendampingiku ? Tak kah kau ijinkan aku untuk terus bersamanya hingga takdirMu mempertemukan kami ? Tuhan, aku ingin selalu bisa melayang pada beranda maya penuh kerlip dan sinar meskipun redup sang bintang di langit, lalu mencari kesejukan kata, menerka – nerka keindahan makna apa yang mungkin tergurat, apa terasa oleh hati ini, dengan cadar tertutup oleh kabut tak ingin tersingkap karena perasaan tiba – tiba menyergap, dan segelas madu akhirnya jatuh bercecer di atas lantai kamar tidur ini ? Jiwaku bersandar pada awan yang masih bisa aku pijak, hamparan selimut malam setia menguliti jiwaku namun selalu saja menggoda seakan – akan rasa ini akan terus mengalir seperti embun setia membasahi rumput – rumput hijau di taman sekolah, jiwaku seperti tak bergeming akan malam menetaskan rasa sepi akan rindu harus ku lewati hanya berjalan kaki saja, jiwaku akan selalu mencari jawaban pada keindahan kabut sedang kususuri di sebuah gunung dan pada akhirnya aku akan melihat senyumnya, mendengar suaranya tuk selanjutnya menjaga, wahai Tuhanku.

Biarpun hati sedih tetap harus makan

Dini meninggalkan ruang tamu menuju ke meja makan. Waktunya untuk makan siang. Seperti biasa hanya dilakukan berdua saja dengan bunda tercinta karena ayah Dini masih tugas keluar kota. Hari ini bunda masak istimewa untuk keberhasilanku menyelesaikan sekolah SMA dengan nilai memuaskan juga bunda berharap dirinya bisa mendapat beasiswa keluar negeri, kuliah di sana dengan suasana baru dan akan membuat jiwanya bergairah kembali.

Menu rumahan selalu dirindukan oleh siapa saja yang tak terbiasa makan diluar rumah, apalagi untuk menu makan siang karena pada saat ini adalah waktunya kami makan besar. Meskipun banyak ragam kuliner pilihan yang murah, enak dan bergizi sebagai pilihan di luar rumah, kehangatan masakan rumahan tidak akan pernah mudah untuk ditinggalkan begitu saja meski kita sedang tak berada di rumah, sekalipun. Hari ini bunda masak makanan khas orang Sunda : ada sayuran segar sebagai lalapan ditemani sambal terasi pedas, ikan laut goreng, perkedel kentang, telur mata sapi, tahu bacem, bebek goreng, pecel lele, sayur bumbu kacang dan sambal tomat. Rasanya, hmmmmmmm, ditemani nasi pulen hangat ! Bunda memang ratunya masak beragam Sajian Nusantara. Tak lupa beliau membuat es dawet buah nangka sebagai sajian penutup.

Lagi malas-malasan di kamar ada surat dari Aussie

Hari ini adalah hari Minggu, jam di dinding kamarku menunjukkan pukul sembilan pagi waktu Indonesia bagian barat, namun Dini masih bermalas – malasan di atas tempat tidur, hanya memandang hampa pada sebuah fotonya bersama teman – teman lama di SMA, tampak Arkha dan Desi tersenyum manis kearahnya. Tiba – tiba bunda mengetuk pintu kamar tidur Dini dan mengabarkan ada sepucuk surat buat Dini dari seorang temannya yang beralamat di Australia, bernama Rio Dai.

Untukmu, Dini yang amat kusayangi,

Din, mungkin kamu akan terkejut pada surat yang aku tulis ini. Perlu kamu ketahui bahwa sebenarnya aku telah lama menyukaimu, ketika pada malam pesta perpisahan sekolah kita, kamu datang menggunakan selembar gaun batik berwarna biru langit, aku suka dan menyayangimu, bahkan aku pastikan diri ini teramat mencintaimu jika saja waktu itu kamu mau dansa denganku seperti yang dilakukan oleh teman – teman yang lainnya hingga pesta usai, dini hari ? Sejak aku mengenalmu sebagai teman baruku yang terbaik di kota ini, aku langsung simpati, tetapi maafkan aku yang selama ini hanya mampu dan bisa mencintaimu secara diam – diam saja. Aku takut kau menolakku, lantas pertemanan kita akan menjauhiku. Sebenarnya, kemarin aku berniat akan mengatakan masalah ini secara langsung padamu tapi katamu sedang tak enak badan dan kau meninggalkanku sendiri dalam pesta perpisahan kita untuk yang terakhir kali. Aku harap kau tak lagi marah atau membenci sikap bodohku ini ? Jaga dirimu baik – baik ya ?

Dari Rio yang mencintaimu, Sydney.

Bagi seorang perempuan, mengetahui bahwa seseorang yang dikaguminya ternyata menaruh harapan, adalah sudah lebih dari cukup untuk membuat hatinya bertahan dan mencintai. Itulah yang aku alami hari ini ………. !.

Kami akan memulai waktu untuk bersama – sama melihat keindahan dunia diantara langit dan bumi, bukan dengan sebelah kelopak mataku, tapi yakinkan bahwa aku melihat cintamu mampu tumbuh sejati diantara hati dan doa.

Desember kelabu !

Tak terasa waktu berlalu sangat cepat, sebulan sudah usai pesta perpisahan sekolah SMA kami di kota Manado, meskipun ada seuntai kekecewaan tapi air hangat tetap membasahi pipi ini karena persahabatan mereka tetap berjalan apa adanya.

Telepon di ruang tamu berdering, Dini mengangkatnya pelan – pelan, halo ………. sapanya sopan, tiba – tiba terdengar suara seorang perempuan dengan tangis tak tertahankan lagi, dia adalah Desi, menelpon dari Tokyo. Ia menceritakan semuanya. Tentang kedekatannya dengan Arkha selama ini dikhawatirkan tak seperti diduga. Meskipun sejak awal Desi berterus terang mencintai Arkha, Arkha masih sering bersama – sama dengan Dini, tetapi cerita cinta di SMU mereka mengharuskan berending lain.

Desi menelepon hanya sekedar untuk memberitahu Dini tentang Arkha saat ini. Tadi pagi pesawat yang akan ditumpangi Arkha dari Manado ke kota Tokyo sedianya akan berangkat sekitar 2 jam lagi. “Dini, kamu harus ikut ke bandara ? Tadi pagi Arkha pamitan ke ibu juga bapakku, mereka menitipkan sesuatu untukmu, sebuah bungkusan kado perpisahan dari Arkha. Dia bilang gak harus kasih langsung ke kamu hari ini, khawatir akan menggangu istirahatmu. Dini, kau tau kan sejak dulu aku mencintai Arkha ? Aku harus mengatakan ini kepadamu sebelum semuanya terlambat.” Suara di ujung telepon itu sangat menggugah hatinya untuk dengan segera harus melakukan sesuatu.

Nasib na’as telah menimpa Arkha, pesawatnya tadi pagi tiba – tiba meledak karena bom teroris, beruntung Arkha selamat lalu tim penolong segera membawanya ke rumah sakit terdekat tetapi kondisi tubuh laki – laki muda itu sangat lemah lagi  memprihatinkan, dia mengalami kelumpuhan pada salah satu kakinya serta gegar otak, harus menjalani pengobatan lebih serius ke Jakarta agar kesehatannya dapat pulih kembali seperti sedia kala. Kondisi buruk inilah penyebab Arkha dan Desi harus berpisah untuk jangka waktu cukup lama.

‘”Ya Tuhan … lindungilah Kak Farhan.”


Terima kasih telah membaca cerpen cinta segitiga di laman Bisfren. Semoga cerita pendek diatas dapat menghibur dan memberi inspirasi serta motivasi bagi sobat untuk menghasilkan karya-karya terbaik. Salam sukses.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait