Ku Harus Merelakanmu @ Cerita Cinta Tak Sampai

cerita romantis anak pembantu

Ku harus merelakanmu adalah cerita romantis anak pembantu dengan anak majikan namun terhalang sehingga dia harus merelakan kekasihnya menikahi gadis lain. Bagaimana ceritanya ? siman pada cerpen berikut :

Cerita Romantis Anak Pembantu – Ku Harus Merelakanmu

Seperti biasa, pagi-pagi setelah Subuh aku harus membantu Emak bersih-bersih rumah. Yang aku bersihkan sih bukan rumah aku, tapi rumah majikan kami. Ya, aku disini memang ikut tinggal di rumah majikan Emak.

Beruntung majikan Emak orangnya baik. Setiap hari aku disuruh bantu membersihkan rumah. Dengan bayaran , aku dibiayai sekolah oleh majikan Emak, Bu Soraya. Bu Soraya hidup sendiri, belum punya suami. Bu Soraya orang sukses dan kaya, dia seorang dokter yang cantik. Aku sangat mengaguminya, suatu saat aku bercita-cita ingin seperti Bu Soraya menjadi dokter.

“Kalau kamu ingin seperti Bu Soraya, ya kamu harus belajar yang rajin.”  nasehat Emak kepadaku.  Aku mengangguk, lalu melanjutkan menyapu halaman. Setelah selesai pekerjaanku, aku segera mandi lalu bersiap berangkat ke sekolah.

Ketika hendak berangkat, tiba-tiba Bu Soraya memanggilku. “Mira, nanti akan datang keponakan Ibu, namanya Siska. Dia nanti akan satu sekolah denganmu, nanti dia kamu bantu ya, makhlum dia anak baru. Dia juga akan tinggal di sini. Tuh, dia orangnya. “ Tiba-tiba datang seorang gadis, seumuranku, dia sangat cantik. Wajahnya mirip Bu Soraya, kulitnya putih, badannya tinggi semampai.

“Siska, ini kenalin Mira, dia anak Mak Asih, pembantu disini.” Aku tersenyum dan mencoba menyalaminya, tapi Siska tak membalasnya. Dia cuek menuju meja makan.

Lalu aku meminta ijin Bu Soraya untuk berangkat duluan. “Mir, kamu nggak bareng sekalian? Bareng aja sama Siska, dia kan satu sekolah denganmu, biar nanti diantar Suryono.”

“Nggak usah Bu.” Jawabku, aku merasa nggak enak, apalagi biasanya ke sekolah aku juga naik angkot.

Ketika sampai di sekolah, sebentar kemudian Siska datang. Dia berjalan begitu saja, pura-pura tidak peduli padaku. Aku hanya diam, lalu segera masuk ke kelas. Ternyata Siska satu kelas denganku. Dan tak kusangka, sama Bu Diah guru kelasku, Siska suruh duduk denganku. Dia tampak tidak suka duduk denganku. Aku sadar, mungkin karena aku hanya anak pembantu.

Dan benar dugaanku, di sekolah Siska memperlakukanku seperti pembantu, dia selalu menyuruh-nyuruh aku. Suruh belikan makanan ke kantin, bahkan kadang dia juga menyuruhku mengerjakan ulangan atau PR nya.

Dia selalu memberi pengumuman pada teman-teman, kalau aku adalah pembantu di rumahnya. Bersama teman-temannya sering aku dijadikan bahan ejekan. Banyak teman-temanku yang kasihan melihat perlakuan Siska terhadapku. Salah satunya Rio, dia Ketua Kelas kami.

Rio selalu membela aku, kalau Siska mulai membully ku. Hal ini membuat Siska semakin marah, karena dia rupanya naksir sama Rio. Makhlum Rio, anaknya ganteng, pintar, dia adalah idola di sekolah kami.

“Awas ya kalau kamu mengganggu Mira lagi.” Bentak Rio setelah dia melihat aku terjengkang setelah ditendang  Siska, karena aku menolak mengerjakan tugasnya. Tanpa kami duga, setelah itu Siska pingsan. Mulanya tidak ada yang menolong, mereka mengira Siska hanya pura-pura pingsan.

Tapi aku begitu terkejut, ketika melihat hidung Siska keluar darah. “Tolooong, hidung Siska keluar darah.” Teriakku, lalu teman-teman membantu menolong membawa Siska ke UKS. Karena kondisi Siska lumayan gawat, akhirnya sama sekolah dibawa ke rumah sakit.

Segera aku hubungi Bu Soraya. “Bu, Mbak Siska pingsan di sekolah, sekarang di bawa ke rumah sakit.” Kataku. Bu Soraya segera menyusul ke Rumah Sakit. Aku menunggu di luar ruang IGD, sementara Siska sedang ditangani. Teman-temanku ada yang ikut menunggu, Rio juga ikut menunggu. Tampak dia merasa bersalah.

“Kok jadi begini sih Mir, emang dia sakit apa sebelumnya? Jantung?” tanya Rio padaku. Aku menggeleng, tidak tahu.

Sebentar kemudian Bu Soraya datang. “Bagaimana keadaan Siska, Mir?” “ Masih di dalam Bu.” Jawabku. “ Kok bisa begini sih, emangnya tadi dia kenapa? Dia dibentak?” Aku jadi nggak enak dengan pertanyaan Bu Soraya, apalagi Rio.

“Iya Bu, maaf, tadi saya kesal dengan Siska, karena perlakuan dia terhadap Mira sungguh keterlaluan. Setiap hari dia selalu mengejek Mira, menyuruh-nyuruh, dan yang membuat saya emosi tadi karena dia menendang Mira. Tapi Bu, saya nggak tahu kalau akhirnya jadi begini.” Cerita Rio menyesal.

“Oooo iya, maafkan Siska ya Mir.” Tak kusangka, Bu Soraya malah meminta maaf padaku atas sikap Siska. “ Dia anaknya memang begitu, dia sebenarnya anak saudara saya. Orangtuanya bercerai, dan dia punya sakit lemah jantung dari lahir. Dia tinggal dengan Nenek sejak lahir, tapi  karena nenek sudah meninggal dan tidak ada yang merawatnya. Akhirnya dia saya ajak tinggal di rumah. Tak kusangka, dia jahat padamu, Mir.” Aku begitu terkejut dengan cerita Bu Soraya, ternyata masalah Siska cukup pelik.

Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya Siska sadar juga. Dan seperti biasa, dia tampak tidak suka melihat kedatanganku, apalagi di sampingku ada Rio. Bu Soraya segera mendekati Siska.

“Bagaimana Sis ? Sudah baikan?” tanya Bu Soraya. “Lumayan Tante. Tan, kok pembantu itu ada di sini sih?” protes Siska. “ Dia Mira, dia temen kamu kan.” Siska semakin tidak suka Bu Soraya membelaku.

“Maaf Bu, saya keluar saja.” Kataku meminta ijin. Rio ingin menyusulku lalu keburu di panggil Siska. “ Rioooo…, kamu disini saja.” Siska ingin Rio menemaninya. Rio sebenarnya enggan, dia melihatku, lalu aku mengangguk.

Aku menunggu di luar, sebentar kemudian Bu Soraya keluar. “ Mir, Ibu mau bicara. Ibu minta maaf sebelumnya. Sebenarnya Siska sakit lemah jantung, dan kondisinya saat ini semakin memburuk. Ibu mohon pada kamu untuk kamu bersabar menemaninya. Hidup dia tidak lama lagi. Ibu juga tahu Rio menyukaimu, tapi ternyata Siska juga menyukainya. Kamu mau kan merelakan Rio untuk bersama Siska.” Setelah Bu Soraya selesai bicara, tiba-tiba airmataku mengalir.

Dalam hati, sebenarnya aku memang menyukai Rio, tapi keadaan membuatku untuk mengikhlaskannya untuk Siska. “ Kenapa kamu Mir? Kamu nggak rela ya?” Aku segera menghapus air mataku. “ Nggak Bu, nggak papa.” Kataku. Walaupun sebenarnya berat, tapi mau bagaimana lagi. Toh aku hanya pembantu, apalagi mungkin Siska memang lebih membutuhkan Rio.

Dan sore harinya, Rio menemuiku. “ Mir, aku mau bicara denganmu?” “ Iya?” “ Aku tidak bisa melakukan ini. Aku suka padamu.” Deg, kata-kata Rio mengejutkanku. Seharusnya aku gembira mendengar kata-kata ini. Tapi aku harus menepisnya, bagaimanapun aku sudah berjanji dengan Bu Soraya.

Tak terasa, airmataku menetes di pipiku, buru-buru aku menghapusnya. “ Mir, kamu juga menyukaiku kan?” desak Rio. “Kamu harus menemani Siska, Rio.” Kataku. “ Kenapa sih kamu selalu mengalah dengan Siska, dia itu jahat sama kamu. Kamu nggak adil Mir…”.

Aku tahu Rio sangat kecewa denganku. Sebenarnya ingin juga aku membalas mengucapkan kalau aku juga suka denganmu, Rio. Tapi keadaan yang membuatku harus merelakanmu.

“Rio, kalau kamu sayang padaku, tolong kamu sayangi Siska.” Ucapku pelan sambil kutatap mata Rio. Kali ini dia sungguh tidak mengerti dengan permintaanku.

Dan aku memohon lagi, bagaimanapun aku tidak ingin melihat Bu Soraya kecewa, Siska harus senang, tidak ada yang boleh menyakitinya atau mengecewakannya. Kondisinya tidak boleh drop.

“Kamu ini aneh Mir.” Ucap Rio sambil membuang mukanya. Pasti dia sangat kesal dan kecewa denganku. “ Aku suka kamu Rio.” Rio seketika menoleh padaku. “ Beneran?” Aku mengangguk dengan mata berkaca-kaca.

“Tapi aku harus merelakan kamu untuk Siska.” Rio terkejut mendengar kata-kataku. “ Kenapa harus begitu?” Rio protes. “ Karena hidup Siska tidak lama lagi, jantung dia lemah dan sudah parah. Dia tidak boleh sakit hati atau kecewa. Aku sudah berjanji dengan Bu Soraya, aku harus merelakanmu, kamu mau kan Rio?” pintaku sambil menangis. Rio memelukku, aku merasa nyaman sekali.

“Aku sayang kamu, demi kamu, aku mau melakukannya.” Kata Rio sambil mengusap airmataku. Aku lega, akhirnya Rio mau menjadi pacar Siska. Dan aku sudah cukup senang dengan tetap menjadi pembantu Siska, bagiku senyum Siska dan Bu Soraya telah membuatku bahagia. Maafkan aku Rio.


Terima kasih atas kunjungan anda dan kesediaan membaca cerita romantis anak pembantu yang gagal. Semoga cerpen cinta diatas dapat menjadi motivasi dan inspirasi bagi sobat pemirsa laman Bisfren sekalian untuk terus berkarya.

Dibagikan

Anik Fityastutik

Penulis :

Artikel terkait