Kulepas Dendam Ke Dasar Sungai @ Cerita Sedih Tragis Kisah Nyata

cerita pendek kisah nyata

Cerita pendek kisah nyata tentang gadis diperkosa oleh mantan pacar menjelang pernikahan sehingga membuatnya sedih dendam lalu membunuh pemerkosanya. Cerpen kisah nyata ini dikirim oleh pemirsa untuk dimuat dalam laman Bisfren tanpa menyebutkan identitasnya.

Cerita Tragis Kisah Nyata Kulepas Dendam Ke Dasar Sungai

Pernikahanku dengan Mas Pram, calon suamiku, tinggal menghitung hari, segala keperluan sudah disiapkan jauh-jauh hari, undanganpun sudah disebar. Ada rasa tak sabar namun berdebar menanti hari paling sakral sepanjang hidupku. Rencananya pernikahan kami memang tidak dilaksanakan di gedung megah, selain biayanya lebih mahal, tamu dari keluarga, teman dan tetangga juga sangat banyak sehingga kami lebih mengutamakan untuk menyajikan jamuan dibanding kemegahan sebuah pesta. Acara akan dilaksanakan di rumah keluarga besarku yang letaknya juga tidak terlalu jauh dari rumah calon suamiku.

Bertemu mantan pacar di jalan

Sore itu setelah pulang dari kantor, aku sengaja turun dari angkot agak jauh dari rumah. Maksudku ingin berjalan kaki menuju rumah sambil menikmati suasana senja di kota kami yang sejuk. Kulangkahkan kaki perlahan menyusuri tepi jalan ditumbuhi pohon-pohon rindang sambil sesekali menyapu pandang ke arah pegunungan jauh di hadapan. Saat tengah berjalan itulah sebuah mobil menepi, lalu jendelanya terbuka. Seorang pria kukenal menyapaku, dia adalah Ardi, mantan pacarku dulu. Kami pernah berhubungan cukup lama hingga  akhirnya dirinya memilih untuk melanjutkan kuliah di kota besar. Lama kami menjalani hubungan cinta jarak jauh hingga akhirnya kuketahui ternyata dia memiliki pacar disana bahkan tinggal serumah. Itulah penyebab kami akhirnya berpisah dengan meninggalkan rasa sakit dalam hatiku. Untunglah kemudian bertemu dengan Mas Pram sehingga lebih mudah bagiku untuk melupakan mantan pacar.

“Nia !, mau kemana ?” tanyanya.

Aku yang sempat sedikit terperanjat spontan menjawab “Pulang !” sambil meneruskan langkah tidak mau menatap wajahnya lebih lama lagi. Mau ngapain dia kesini ? bukannya sudah tidak tinggal dikota. Tapi Ardi terus saja mengikuti dengan mobilnya berjalan perlahan.

“Bisa kita bicara sebentar ?” katanya.

“Gak ada lagi yang perlu dibahas Ar” jawabku datar tanpa menoleh.

“Kudengar bulan depan kamu akan menikah, apa tidak bisa kita bicara ? apa kamu tidak mau mengundangku ?” katanya lagi. Hatiku kaget, bagaimana dirinya bisa tahu. Aku menghentikan langkah lalu cepat diriku berimprovisasi “Iya, datang saja” jawabku masih datar.

“Bagaimana kalau kita ngobrol sebentar, anggap saja sebagai kata perpisahan” katanya dengan nada berharap. Hatiku bimbang, mungkin ada baiknya kuterima tawarannya. Lagipula diriku sudah sepenuhnya move on, dirinya tidak lagi menjadi kesedihan bagiku. “Mau kemana ?” tanyaku. Dia menyebutkan sebuah rumah makan di pinggir kota tempat kami dulu sering kesana. Akupun setuju, selain tempatnya nyaman, makanan disana lumayan enak. Jadilah akhirnya diriku masuk ke mobilnya, langsung berbalik arah bukan lagi menuju rumahku.

Dalam perjalanan kami tidak banyak bicara, Ardi menyodorkan minuman ringan dingin dalam kemasan kotak, karena haus segera saja ku habiskan. Musik lembut dari audio mobilnya tiba-tiba saja terdengar begitu romantis membuaiku. Mataku pun seketika menjadi berat serasa ingin tidur. Hanya dalam hitungan menit aku sudah tidak sadarkan diri.

Diperkosa mantan pacar

cerpen wanita diperkosa mantan pacar
Diperkosa mantan pacar (@ pinterest)

Aku terbangun dalam keadaan tanpa busana, disampingku tergolek tubuh Ardi dengan kondisi sama. Ternyata aku telah diperkosa dalam keadaan tidak sadar. Jam dinding dalam kamar tersebut menunjukan pukul 7 malam, berarti hampir 3 jam aku dalam kondisi tidak sadarkan diri. Hatiku sedemikian kaget, dan menangis. Ya Tuhan… apa telah kulakukan ? bagaimana dengan pernikahanku dengan Mas Pram setelah kejadian ini ?

Hatiku sangat marah pada Ardy, kutampar wajahnya dan kupukul dadanya berkali-kali. Namun dia memelukku sambil berusaha menenangkanku dan mengatakan akan bertanggung jawab. Tapi hatiku tidak bisa menerima. Kalau terjadi dulu mungkin tidak sedemikian berat bebannya, akan tetapi aku akan menikah sebentar lagi. Aku tidak berhenti menangis, tapi aku harus pulang tidak mungkin untuk terus menangis disana karena keluarga pasti akan mencari-cari. Malam itu juga kuminta dia mengantarkan ke depan. Dia ingin mengantarkan pulang tapi aku tidak mau, hari belum terlalu malam. Masih ada angkutan dijalan. Ardy dengan wajah memelas menyerahkan secarik  kertas berisi nomor HP nya seraya mengatakan akan bertanggung jawab atas perbuatannya. Tapi hatiku sudah terlanjur membencinya.

Hatiku bingung dan takut sehingga lebih banyak murung

Kemarahan serta kesedihan membuatku bingung dan takut. Diriku lebih banyak diam serta menyendiri. Ada kebingungan antara menceritakan sejujurnya apa telah terjadi dengan tetap menyimpannya dalam hati. Kegalauan disebabkan mantan pacar seakan tiada hendak berhenti. Dulu galau karena ditinggalkan, kini galau karena dihinakan.

Perubahan sikapku rupanya disadari oleh teman, keluarga bahkan oleh calon suamiku. Akan tetapi kepada mereka kukatakan bahwa aku hanya sedang dalam kondisi bahagia  akan melepas masa lajang sekaligus masih belum percaya antara mimpi dengan kenyataan. Tidak lebih tidak kurang. Merekapun bisa memahami. Tapi hatiku tidak memahami, berhari-hari kuyakini bahwa aku harus melepas marah dan dendam kalau tidak ingin menjadi gila.

Satu hari menjelang pernikahan

Aku berjalan menuju konter HP di pasar untuk mengisi pulsa. Dari sana kusempatkan mampir ke sebuah toko penjual alat-alat rumah tangga. Usai berbelanja, hari sudah senja, akupun menuju sebuah kebun yang letaknya dekat dengan sungai.  Kutelpon Ardy memintanya untuk datang karena aku ingin bicara. Diapun menyanggupi. 20 menit kemudian kulihat dari kejauhan dia melangkah menuju tempat yang kusebutkan. Tak lama kemudian matanya tampak mencari-cari diriku. Kuhampiri dia perlahan untuk memberi sedikit kejutan.

Tak lama kemudian hujan turun dengan deras, aku berlari meninggalkan tempat tersebut tanpa diikuti Ardy. Kupilih tempat agak jauh dari sana untuk naik angkot menuju rumah sepupuku. Jam 8 malam, aku pulang diantar oleh sepupuku.

Hari pernikahan meriah, hujan malam pengantin tidaklah menambah khidmat

Perhelatan berjalan lancar, tamu-tamu sudah beranjak pulang. Malam pengantin pun kulalui dengan dada berdebar. Kulalui malam pertama dengan rasa bersalah. Tetapi hatiku mengatakan harus diam, asalkan Mas Pram tidak mempermasalahkan aku akan sembunyikan semuanya. Tetapi jika dia menanyakan, akan ku katakan kejujuran dihadapannya. Terserah dia mau menerima atau tidak yang penting keluargaku dan keluarganya sudah terbebas dari beban resepsi pernikahan.

Syukurlah ternyata Mas Pram sama sekali tidak mempermasalahkan, bahkan hingga keesokan harinya tiada tanda-tanda dirinya keberatan padaku. Kami sarapan pagi bersama, ngobrol dengan orang tua dan bercanda seperti biasa. Rencananya siang ini kami akan berangkat berbulan madu. Saat mengepak segala kebutuhan, tanpa sengaja terbaca judul koran daerah, “DITEMUKAN MAYAT LAKI-LAKI KORBAN PEMBUNUHAN TERSANGKUT DISUNGAI”. Aku menarik nafas, tak ingin mempedulikannya.

Semua kejadian tersebut kini sudah lama berlalu, kami sudah dikaruniai dua orang anak lucu. Petugas tidak menemukan pelaku mungkin karena nomor HP terakhir yang menghubungi korban adalah nomor baru pertama kali digunakan. Bahkan tidak ada satupun sidik jari tertinggal pada pisau serta tali pengikat. Dan hujan deras seakan menjadi pelengkap penghapus segala jejak di tepian sungai.

= Tamat =

Terim akasih telah membaca cerita cinta tragis kisah nyata melepas dendam ke dasar sungai. Semoga bisa diambil pelajaran dan menghibur.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait

3 Comments

  1. Bagus… kalimatnya sedehana kisah nyata ataupun bukan hanya penulislah yg tahu..