Kupu Kupu Bersayap Awan

cerita sedih kehidupan pelacur

Kupu kupu bersayap awan adalah cerita sedih kehidupan pelacur yang menjual kehormatan demi membiayai perawatan ibunya di rumah sakit. Bagaimana kisah realita kehidupan pendek ini ? simak pada cerpen berikut.

Cerita Sedih Kehidupan – Kupu Kupu Bersayap Awan

Malam pun menjelang, sama seperti malam – malam yang ia lalui. Sebentar lagi waktu menunjukkan pukul 19.00. Diandra menatap jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya dengan gelisah.Seharusnya ia sudah menjemput sesuai janji yag telah disepakati….Tiba – tiba terdengar suara lembut dari telepon genggamnya, menunjukkan tanda sebuah pesan pendek masuk, tertera : Aku telah menunggu di depan. Bergegas dirinya keluar pagar dari mal tempat mereka berjanji bertemu, di luar pagar telah menunggu sebuah sedan berwarna hitam sekelam malam. Dibukanya pintu mobil, tak lama kemudian sedan itu menderum menelusuri jalan raya yang basah karena hujan seharian dan baru saja berhenti.

Mulutnya hanya terdiam dalam sedan tersebut sampai sang pengemudi yang membuka percakapan, “ Apa kabar, Sayang ? Kau cantik malam ini. “ Sang pengemudi meraih tangan kanannya lalu menciumnya perlahan. “ Aku baik – baik saja, Mas, “ sahutnya pendek. “ Kau sudah makan malam ? Kalau belum, kita makan dulu ya, “ kata rekan prianya sambil terus berkonsentrasi mengemudi seraya menatap jalan raya. Sejenak lampu lalu lintas di depan mata menunjukkan warna kuning kemudian warna merah menyala, tanda semua kendaraan harus berhenti. “ Aku belum makan, terserah Mas mau makan di mana, “ kata Diandra, memandang ke arah sisi kiri keluar jendela. “ Ok, aku tahu di dekat sini ada sebuah restoran sea food enak, murah pula, mau ? “ tanya sang pengemudi.

Lampu hijau pun menyala mempersilahkan semua kendaraan melanjutkan perjalanan kembali, termasuk sedan mereka tumpangi berdua. Setelah melewati beberapa gedung pencakar langit dan sekian kali tikungan, sampailah mereka ke restoran yang dimaksud rekannya.

Restoran tampak sudah ramai pengunjung, terbukti dari hampir penuhnya ruang parkir sebenarnya cukup luas, serta riuhnya suara pengunjung saling bercakap – cakap dari dalam restoran. Sedan mereka memasuki area parkir, sempat harus dua kali mengelilingi area parkir untuk mencari tempat kosong sampai akhirnya mendapatkan tempat parkir nyaman. Diandra beserta Gerald, demikian nama rekannya, memasuki ruang restoran. Gerald bersiul pelan seraya menggelengkan kepalanya karena hampir penuh sesak restoran mengkhususkan diri menghidangkan masakan dengan bahan dasar ikan laut itu. Namun mereka bernafas lega karena seorang pramusaji menunjukkan sebuah meja masih kosong, dekat kasir lalu merekapun segera duduk disana.

Setelah memilih menu, Gerald berbisik di telinganya, “ Makannya jangan lama – lama ya, Sayang….” Diandra hanya menganggukkan kepala, sangat faham akan maksud kalimat itu. Mereka makan tanpa banyak bicara. Acara makan bahkan hanya membutuhkan waktu tak sampai setengah jam, karena Gerald terkesan terburu – buru, bahkan tak dihabiskannya jus leci kesukaannnya.

Sedan kembali membelah malam, ke suatu tempat lain, di mana ada suatu hasrat tak tertahan mendesak untuk segera dituntaskan. Begitu memasuki sebuah gedung, Gerald mengemudikan mobilnya menuju area parkir basement gedung, memarkir mobilnya kemudian mereka berdua naik lift menuju lantai tertentu. Pintu lift pun terbuka, terpampanglah sebuah ruang lobby. Gerald memberi isyarat agar duduk disana sejenak, Gerald sendiri menuju tempat resepsionis sementara petugas menyuruh seorang room boy agar mengantarkan mereka berdua menuju ruangan telah dipesan Gerald sebelumnya.

Malam terasa tak pernah berakhir walapun sekian jam telah berlalu. Diandra menjalankan kesepakatan telah disetujui sebelumnya melalui sebuah transaksi online, tanpa protes. Sama seperti transaksi lainnya. Dan dirinya melakukan dengan menafikan perasaan, ataukah abstrak bernama perasaan itu memang telah lama mati, seiring dengan suatu peristiwa yang telah merenggut miliknya paling berharga. Semua berujung pada muara sama, kehampaan. Maka ia menuntaskan kesepakatan dengan akhir memuaskan, seperti biasanya.

Dipandanginya Gerald kini telah lelap di sampingnya, kemudian telepon genggamnya. Tak lama kemudian telepon genggam itu kembali berbunyi, sebuah pesan singkat dari layanan mobile banking 24 jam, dari bank tempat Diandra menabung di sana, memberitahukan adanya transaksi masuk sehingga saldo tabungannya bertambah sekian digit. Diandra kemudian berkemas keluar ruangan.

Dingin semakin menggigit tak semata karena hembusan AC taksi mengantarkannya pergi ke tempat lain. Begitu taksi sampai ke tempat tujuan, segera dibukanya dompet tanpa melihat angka tertera pada argo, lalu menjejalkan beberapa lembar kertas ke tangan sang pengemudi. Diandra tak mempedulikan seruan sang pengemudi memberitahukan uang kembalian, karena Diandra terlalu banyak memberikan uang. Setengah berlari, Diandra menyeret kedua kakinya, ia merasa kesulitan karena mengenakan sandal berhak tinggi,tak sabar maka dicopotnya kedua sandal tersebut lalu berlari kembali memasuki gedung.

Saat hendak memasuki pintu masuk terlihat sebuah mesin Anjungan Tunai Mandiri, ia masuk ke sana untuk mengambil sejumlah uang, hasil transaksinya dengan Gerald tadi. Uang kertas tersebut hanya dijejalkan begitu saja ke dalam tas sekenanya, lalu dirinya semakin masuk ke dalam gedung, melewati pos penjaga keamanan, tersenyum kepada para petugas yang membalasnya dengan anggukan sopan. Mereka tidak bertanya apapun karena Diandra sudah lama berada di tempat ini, untuk menjaga seseorang di sana.

Beberapa anak panah menunjukkan beberapa arah, : Ruang Radiologi, Ruang Rawat Inap, Ruang Poliklinik, dan sebagainya. Dirinya menuju lift, memencet sekian nomor dan lift itu membawanya pada suatu ruangan. Dengan tergesa ia melompat keluar, dan menghampiri ruang jaga sekaligus ruang administrasi pada lantai tersebut. “ Selamat malam Sus, maaf apakah tadi Dokter Yoel mengunjungi Ibu saya ? “ tanya Diandra cemas. Suster Lidya yang berjaga saat itu tersenyum menenangkan, “ Iya, Mbak Diandra, Dokter Yoel tadi mengunjungi beliau, sekarang beliau telah tertidur. Saya salut dengan Ibu anda, karena beliau tabah sekali menjalani setiap sesi kemoterapi. “ Ah, terima kasih, Sus, oya saya mau titip uang deposit, “ kata Diandra seraya membuka tasnya. “ Silakan dengan Suster Debby saja. “ kata Suster Lidya, ia memberi tanda kepada Suster Debby yang sedang duduk seraya menekuri beberapa buku berikut sebuah kalkulator di sampingnya. Suster Debby bergegas bangkit dengan membawa sebuah kuitansi sementara, menerima uang darinya.

Pelan – pelan dibukanya pintu ruangan rawat inap dihuni ibunya selama sekian bulan itu. Entah sudah berapa banyak dikorbankan demi kesembuhan sang Ibu. Dirinya seperti disambar petir ketika di awal pemeriksaaan dulu didiagnosa dokter bahwa ibunya terkena carcinoma mammae, jenis kanker payudara stadium tiga. Karena itu, dirinya harus berpikir keras bagaimana ia mencari uang, ia terpaksa mengorbankan kuliahnya, karena Bapak sendiri hanya berprofesi sebagai tukang servis alat elektronik rumah tangga, juga sebagai anak sulung dirinya juga harus memikirkan kedua adiknya yang masih bersekolah. Akhirnya dia mencari pekerjaan, namun bukan pekerjaan diinginkan, sebagaimana pekerjaan lainnya. Pekerjaan ini tak butuh keahlian demikian rupa, melainkan hanya harus siap 24 jam kapanpun induk semangnya membutuhkan jasanya.

Ditatapnya sedih ibunya yang tergeletak lemah di tempat tidur, sebuah tabung infus tergantung di samping dengan jarum menancap pada pergelangan lengan kiri beliau. Didekatinya sang Ibu lalu dengan hati – hati diciumnya dahi beliau lembut, takut beliau terbangun.Tapi beliau justru terbangun, dengan perlahan membuka kedua matanya, tersenyum melihat Diandra. “ Ah, kau baru pulang kerja, Diandra ? Sampai selarut ini, “ desahnya. “ Ini kan akhir bulan, Bu, saya dan teman – teman harus membuat laporan akhir bulan yang memakan waktu lebih lama, “ kata Diandra, kebohongan untuk kesekian kalinya.” Maafkan Ibu, Nak, membuatmu berkorban banyak, “ kata Ibu dengan suara bergetar. “ Ibu, jangan bilang begitu, saya ikhlas, senang melakukannya, “ kata Diandra, memalingkan mukanya karena merasa cairan bening telah memenuhi kedua kelopak matanya. “ Kau anak baik, Diandra, Ibu juga Bapak sangat bangga padamu, juga kedua adikmu, “ kata Ibu seraya tersenyum. Tiba – tiba telepon genggam Diandra berbunyi, Diandra memandangnya sekilas. “ Ibu, maaf, saya harus pulang, besok malam saya berjaga di sini, “ kata Diandra. “ Hati – hati, Nak, kata Ibu. Diandra kembali mencium dahi dan tangan kanan ibunya, membuka pintu keluar.

Suara telepon genggam tak henti – hentinya berbunyi, dan Diandra segera menerimanya setelah ia menemukan tempat aman untuk menerima panggilan tersebut, “ Halo Sayang ? Kapan kita bisa bertemu lagi, kangen…” terdengar suara pria genit merayunya di ujung sana. “ Hai, Pierre. “ sapa Diandra lemah.

Angin malam berhembus begitu dingin, sedingin hampa hatinya. Entah sampai kapan ia menjalani profesi remang – remang yang bagi semua orang adalah nista. Sampai sang Ibu sembuh….hanya waktu yang mampu menjawab tanya itu.(MS)


Terima kasih telah membaca cerita sedih kehidupan seorang pelacur. Semoga cerpen diatas dapat menghibur dan memberi inspirasi serta motivasi bagi sobat Bisfren sekalian. Salam sukses selalu.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait

1 Comment