Cerita Pendek: Kupu Kupu Ke Rumahku

cerita pendek

Kupu kupu ke rumahku merupakan cerita pendek tentang kegundahan hati lelaki ditinggal istri tercinta. Dia menanti kabar dari kupu kupu yang datang membawa kabar. Hingga istrinya kembali, namun bagaimana dengan sang kupu-kupu ? butuh sedikit renungan untuk memahami dan menyimpulkan. Silahkan simak cerpen berikut.

Cerita Pendek – Kupu Kupu Ke Rumahku

Seekor kupu-kupu masuk ke rumahku. Aku bertanya tentang maksud kedatangannya. Ia menjawab, bahwa akan ada seorang datang ke rumahku. Ibuku memang pernah bilang, bila ada seekor kupu-kupu masuk ke rumah itu tandanya akan ada tamu mau datang. Lantas aku teringat istriku. Mungkinkah ia yang akan datang ? tanya hatiku.

Rumahku jarang kedatangan tamu. Aku yakin istriku akan menjadi tamu itu. Kusiapkan semua yang ku bisa. Menyapu lantai, menyalakan lampu taman dan memasak makan malam. Hari sudah agak sore, hatiku takut tiba-tiba istriku datang dengan kelaparan.

Setelah mandi, diirku menunggu. Dua jam berlalu dan senja lewat begitu saja tanpa sempat ku nikmati. Suatu waktu istriku pernah bicara tentang senja. Katanya, senja adalah cat lukis Tuhan terjatuh dari tempatnya. Aku tak percaya namun ia tertawa. “Apa yang masing-masing dari kita percayai adalah hal tak bisa diganggu,” katanya. Sambil menaruh gelas anggurnya, ia melanjutkan, “Seperti aku percaya kau mencintaiku, dan itu tidak bisa diganggu oleh apapun,” katanya menyelesaikan. Hatiku senang mendengarnya walau tetap tak percaya bahwa senja adalah cat lukis Tuhan yang terjatuh.

Senja tetaplah senja. Ia selalu datang untuk menyelesaikan hari dan menyelesaikan segala yang belum selesai. Dan pada akhirnya, rasa tidak percaya itu menjadi semakin nyata. Tepat setelah kami berdua berbincang, ia pergi dari restoran. Hari itu umur pernikahan kami baru tiga bulan. Katanya terakhir kali, “Ternyata senja bukan cat lukis Tuhan. Ia baru saja berkata kepadaku bahkan ia berbohong selama ini.” Aku bertanya, “Siapa berbohong ?”

Tapi ia terlanjur pergi. Kakiku bergegas mengejarnya. Entah bagaimana, senja melenyapkannya dengan seketika. Ia hilang cepat sekali persis seperti singkatnya senja. Aku mencarinya ke sudut-sudut kota, ke hotel tempat kami berencana untuk berbulan madu, serta ke bandara. Namun tidak ku temukan sama sekali. Itu sebab mengapa diriku sangat membenci senja. Keindahannya semu selalu berlalu tanpa bersabar lebih dulu. Terlebih lagi, dia telah mengambil istriku.

Sekarang sudah pukul 7 malam dan ia belum juga tiba. Rasanya kupu-kupu tadi berbohong padaku, dan kukira kupu-kupu itu sama saja dengan senja. Cantiknya menipu. Gemulainya mengecoh, dan omongannya menyesatkan. Sesaat sebelum ku lontarkan semua kekesalanku pada kupu-kupu itu, pintu rumahku terketuk. Aku melonjak lalu langsung mencari cermin untuk memastikan bahwa penampilanku sudah layak menerima kedatangannya. Terdengar suara pintu diketuk lagi. Dasar tidak sabaran, ujarku dalam hati. Istriku memang sering begitu. Selalu memperhatikan waktu. Setiap detiknya seakan begitu berarti, itulah sebab kenapa dia benci menunggu. Hatiku juga benci menunggu, tapi tak pernah lebih benci seperti dirinya.

Pintu ku buka, lalu ku lihat wajah kedua orangtuaku. Rasa kecewa muncul pertama kali lalu segera rasa rindu muncul juga. Kami memang cukup lama tidak bertemu mereka. Terakhir kali adalah 3 hari setelah kami menikah lalu kami ijin pergi ke rumah baru. Istriku ingin segera memasuki rumah kami agar jauh dari masing-masing orangtua. Bukan karena dia tak suka, tapi karena ingin belajar membangun rumah tangga seperti ketika masing-masing orangtua kami merasakan sulitnya membangun. Kedatangan orangtuaku ternyata tak disengaja. Mereka mengatakan baru saja selesai cek kesehatan di rumah sakit lalu memutuskan untuk berkunjung sejenak. Walau kedatangan mereka memang tak ku harapkan, tapi mereka tetap orangtuaku lagipula hatiku khawatir dengan maksud mereka mengatakan habis melakukan cek kesehatan. Menangkap rasa khawatir pada wajahku, mereka berdua buru-buru menjelaskan bahwa mereka ke rumah sakit hanya untuk cek rutin, bukan karena alasan kesehatan. Hatiku lega mendengarnya.

Ku persilakan mereka masuk. Untung tadi sudah memasak makan malam sehingga bisa menjamu mereka secara layak. Tentu saja sebenarnya makanan ini untukku bersama istriku. Tapi tak apa, toh orangtuaku sudah rela-rela mengunjungi anaknya meski anaknya jarang menjenguk mereka. “Makanan untuk siapa, nak ?” tanya ibuku disusul tambahan dari ayahku, “Ada orang sedang kau tunggu, nak ?”

Kepalaku menggeleng, “Tidak ada yah, hanya tadi rekan kerja katanya mau mampir, tapi sudah bilang kalau tidak jadi.” Ibuku mengedarkan pandangannya ke seluruh isi ruangan.

“Talitha mana ?” tanyanya.

Nada pertanyaan biasa saja, namun terasa menusuk. Jantungku terkesiap tapi buru-buru kuhapus raut wajah sebelum mereka menangkapnya. Diriku lupa bahwa kepergian istriku belum ku sampaikan pada orangtuaku maupun orangtuanya. Sesungguhnya hatiku memang tak berniat melakukannya. “Tadi katanya ada lembur. Harusnya makan malam sama rekan kerjaku juga hari ini.” Jawabanku disambut dengan O panjang. Kedua orangtuaku tampak sangat sehat. Mereka tak terlihat mengkhawatirkan juga tidak khawatir karena istriku tak di rumah. Hatiku cukup tenang karenanya.

Kami berbincang sambil menyantap makan malam. Keduanya pulang setelah menitipkan salam untuk istriku. Waktu sekitar pukul 9 malam, namun ku tahu kalau istriku tak suka jalan malam-malam. Dari situ ku yakin bahwa tiada lagi orang akan datang. Aku mengunci pintu kemudian memilih tidur seraya berharap bahwa besok kupu-kupu datang lagi ke rumahku.

Esoknya, kupu-kupu tak terlihat. Lusa, lalu besok, kemudian besoknya lagi. Hatiku cukup kecewa. Kali ini benarlah dugaanku bahwa semua keindahan hanyalah semu. Mereka datang dengan membawa berlian dalam bentuk harapan lalu hilang tanpa mengabarkan. Istriku, senja, dan kupu-kupu adalah contoh kualami secara nyata. Satu minggu kemudian, saat sedang berolahraga kecil di lantai atas, ku lihat kupu-kupu datang. Awalnya diriku lupa bahwa sedang menunggu kupu-kupu. Memandangnya sedang hinggap pada salah satu kembang di halaman belakang rumahku, hatiku sedikit merasa kesal. Jangan-jangan kali ini harapanku akan dihancurkan lagi olehnya.

Ia sedang asyik menikmati rasa manis dari nektar saat diriku bertanya, “Apakah hari ini akan ada orang berkunjung ke rumahku ?” Katanya, “Tentu, akan ada seorang pengunjung ke rumahmu hari ini. Bukankah seharusnya kau tahu bahwa kedatanganku adalah untuk itu ?”

Hatiku senang mendengar jawabannya Hari masih pagi, namun masih banyak waktu tersisa untuknya datang kemari. Kami bisa makan siang berdua, pikirku. Atau kalau memang istriku datang agak sore, kami bisa memanaskan makanan kemudian makan malam bersama sambil menyaksikan serial televisi kesukaannya yang telah banyak dia lewatkan. Segera kupesan makanan siap saji karena persediaan bahan masakan di rumahku sudah menipis. Seraya menunggu, diriku langsung ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku dari keringat. Setelah selesai, aku berkaca sebentar untuk merapikan lagi bajuku. Rambut kusisir ke samping lalu ku semprotkan sedikit minyak wangi pada kemejaku. Istriku tak suka minyak wangi dengan harum terlampau tajam. Sekali waktu istriku pernah bersin-bersin seharian ketika kami ingin pergi menonton. Hari ini akan jadi hari adalah hari spesial, tak ingin ku merusaknya hanya karena wangi parfumku.

Mendengar suara pintu diketuk, diriku berlari kecil menuruni tangga mengambil dompet di atas meja. Pintu itu ku buka, ada seorang pengantar makanan tiba di hadapanku. Setelah transaksi selesai, ku letakkan semua makanan ke dalam tempat-tempat makanan.

Diriku menunggu kira-kira hingga jam 1 siang. Perutku mulai keroncongan karena sempat berolahraga tapi belum makan sejak pagi. Ku cari-cari kupu-kupu. Dia masih berada di halaman belakang lalu diriku bertanya lagi “Kapan dia akan berkunjung ke sini ?” Kupu-kupu tiada menjawab malah terbang pergi. Hingga malam tiba, barulah kusadari bahwa tamu yang berkunjung ke rumahku adalah si pengantar makanan tadi.

Sial, gerutuku. Tahu begitu tak akan ku pesan makanan. Kunyalakan mobil kemudian pergi membeli persediaan bahan-bahan ku butuhkan, setidaknya untuk beberapa waktu akan datang. Hanya bumbu nasi goreng serta sejumlah potong ayam yang sekiranya masih dapat ku buat sendiri. Diriku tak ingin kejadian seperti begini terulang kembali. Ketika nanti istriku datang, diriku sudah siap menjamunya. Mungkin selama ini yang datang kepadaku adalah bentuk cobaan untuk menguji kesabaranku. Tapi bukankah cinta memang selalu begitu. Ujian tak pernah bosan-bosan datangnya.

Lusa, kupu-kupu baru tiba lagi. Ia hinggap di kembang sama seperti tempo hari. Baru kuingat bahwa sejak hari pertama kupu-kupu memang selalu hinggap disana hingga diriku menyadari bahwa kembang itu adalah kembang kesukaan istriku juga. Semakin yakinlah hatiku bahwa istirku hari ini akan kembali. “Apakah hari ini ada tamu akan datang?” tanyaku pada kupu-kupu.

Kupu-kupu itu menjawab, “Ya, tentu akan ada orang datang ke rumahmu hari ini. Itulah tujuanku datang ke sini. Untuk memberitahumu.”

“Wah, terima kasih kupu-kupu. Tapi jika boleh bertanya, siapa gerangan akan datang ? Apakah istriku ?”

“Ya, istrimu akan datang ke sini.” Nadanya acuh tak acuh. Tapi hatiku tetap senang mendengarnya.

Betapa hari yang indah di akhir minggu seperti ini. Ketika kebanyakan orang akan menikmati waktu berdua dengan pasangannya, aku juga akan merasakan hal sama seperti mereka. Aku melompat girang dan berlari-lari mengelilingi halaman belakang rumaku.

Hari menjelang sore, dan aku yakin ia akan datang tepat pada saat jam makan malam. Di atas meja sudah aku siapkan lilin dan anggur yang sengaja aku simpan untuk pertemuan-pertemuan seperti ini. Anggur itu adalah anggur yang pernah istriku pilih sendiri.

Semua hal telah siap. Aku menunggu dengan perasaan tidak keruan. Kakiku bergerak-gerak dan tanganku bermain-main sendiri. Jantungku berdegup kencang sekali. Aku yakin, aku yakin, ujarku dalam hati tanpa irama sama sekali. Malam tiba dan istirku masih belum datang. Seraya lelah menunggu, aku melihat kupu-kupu itu masih berada di sana, hinggap di kembang kesukaan istriku. Melihatnya berkepak-kepak pelan dan menikmati indahnya kembang itu, aku merasa sangat marah. Bisa-bisanya ia menikmati kebahagiaan di atas penderitaanku. “Dasar kau kupu-kupu penipu!” Aku melemparinya dengan piring-piring dan beberapa bahan makanan. Ia terbang pergi tanpa ada satu yang mengenainya.

Sudah satu minggu kupu-kupu tidak muncul lagi. Hingga dua minggu terlewati dan diriku merasa menyesal telah marah pada si kupu-kupu. Benakku jadi teringat kembali tentang kembang di halaman belakang rumaku. Mungkin jika ku tanam banyak kembang, kupu-kupu akan datang lagi, pikirku singkat. Lagipula, jika nanti istriku datang, tentu dia akan senang melihat banyaknya kembang kesukaannya disana. Diriku keluar rumah lalu membeli beberapa bibit kembang yang sama. Ku tanam satu per satu sehingga dalam waktu satu bulan seluruh halaman belakang rumahku penuh dengan kembang. Ku harap bahwa kupu-kupu akan datang karena tertarik pada nektar sangat melimpah jumlahnya. Setidaknya, jika bukan kupu-kupu itu yang datang, mungkin ada kupu-kupu lain bisa memberitahuku tentang kedatangan istriku.

Esok paginya, kupu-kupu sudah ada di sana. “Maafkan kekesalanku tempo hari,” sapaku.

“Tidak apa, hari ini akan ada orang berkunjung ke rumahmu lagi.”

“Tapi aku belum sempat membeli bahan masakan, apakah dia adalah istriku, kupu-kupu ?”

Mendengar pertanyaanku kepalanya berpaling dari kembang lalu menatapku dengan sangat serius. “Kau rindu sekali pada istrimu ?”

“Tentu. Hatiku sangat merindukannya. Apakah dia akan datang hari ini, kupu-kupu ?”

“Ya, kali ini dia akan datang. Jangan kau pesan makanan dari luar. Kau buatlah seadanya.”

Lalu benarlah apa yang dikatakan oleh kupu-kupu. Saat jam makan siang, istriku datang. Kami berpelukan dan tangisan mengalir tanpa bisa kami bendung. Rasa ini memang selalu minta untuk terjadi. Di meja makan, ia mengatakan bahwa ia juga sama merindukanku. Ia menjelaskan kenapa ia pergi dan diriku tidak mempermasalahkan itu. Setiap manusia tentu ingin punya waktunya sendiri. Kupahami itu dan menyalahkan diriku yang mungkin selama ini terlalu egois sampai-sampai membuatnya terasa dipenjara. Setelah semua permasalahan selesai dibicarakan, kami memasak telur dadar dan mie instan. Hanya itu tersisa di dapurku. Tapi hasilnya cukup memuaskan dan kami senang memasak bersama. Setelahnya, kami menyaksikan film sambil menikmati jus yang tempo waktu tidak jadi diminum. Tak sengaja, mataku melihat ke halaman belakang dan kupu-kupu itu masih di sana.

“Terima kasih kupu-kupu,” ujarku padanya. “Sekarang kau nikmatilah semua nektar ini. Ini semua ku tanam memang untukmu.” Ia membalas dengan senyuman. Diterangi cahaya bulan, mataku bisa melihat matanya sayu.

“Kupu-kupu, kau kenapa? Apa yang sedang kau pikirkan? Apakah semua nektar ini masih belum cukup untukmu ? Diriku bisa menanam lebih banyak lagi.”

“Tidak perlu,” jawabnya. “Diriku hanya sedang memikirkan kekasihku. Kukira ia akan datang hari ini.”


Terima kasih telah membaca cerita pendek kupu kupu ke rumahku. Semoga cerpen diatas dapat mengibur dan memberi manfaat bagi sobat Bisfren sekalian. Salam sukses selalu.

Dibagikan

Norman Setiawan

Penulis :

Artikel terkait

1 Comment