Lagu Ini Ku Akhiri

cerita sedih pendek

Cerita sedih pendek tentang gadis SMA dianiaya keluarga pacarnya lalu memutuskan untuk melupakan kekasihnya dan konsentrasi pada sekolah. Ditulis oleh Desti Anastsya sebagai hadiah ulang tahun kepada admin komunitas cerita pendek Bisfren. Simak pada cerpen sedih berikut.

Cerita Sedih Pendek – Lagu Ini Ku Akhiri

Seperti biasa, sebelum berangkat sekolah aku memanggil adik sepupuku, Lisa, yang tinggal di rumah sebelah. Dia anak pamanku, adik dari ayahku. Rumah kami memang bersebelahan karena menurut ayah, rumah kami adalah warisan dari kakek yang diwariskan kepada anak-anaknya. Aku serta Lisa bersekolah di sekolah yang sama tapi berbeda tingkat. Diriku kelas 3 SMA sementara Lisa kelas 2. “Lisa… lis…!!!” teriakku memanggil. Tapi yang dipanggil belum juga keluar. Akupun bergegas masuk ke rumahnya untuk menjemput karena tak ingin terlambat ke sekolah karena menunggu. Tapi ternyata rumah itu kosong, segera saja diriku keluar karena berfikir mungkin Lisa sudah berangkat lebih dulu. Tetapi tiba di depan pintu tiba-tiba orang kucari sudah ada disana dengan menggenggam karangan bunga mawar indah. “Selamat ulang tahun kak Hensi” katanya sambil menyerahkan karangan bunga itu kepadaku. Aku terkejut juga begitu terharu karena sesuatu tiada terduga itu. Ternyata adik sepupuku ingat akan hari ulang tahunku. “Makasih Lisa” kataku sambil mengambil bunga itu lalu memeluknya. “Ayo kita berangkat, nanti terlambat” bisikku.

“Sebentar, ku taro bunganya dulu di rumah” saat dia sudah siap untuk berangkat. Tapi dia mencegahnya. “Jangan kak. Bunga itu sengaja sudah kututup plastik supaya kakak bisa masukan tas terus bawa ke sekolah”.

“Buat apa ?”

“Buat orang spesial dong, hari ini kan akan ada banyak teman ngucapin selamat ulang tahun. Kakak kasi bunga ini untuk orang paling spesial buat kakak”

Hmmm… anak ini romantis juga. Seandainya dia masih milikku tentu akan kuberikan bunga mawar indah ini kepadanya. Tapi semua sudah berakhir. Berakhir dengan meninggalkan luka yang hingga kini perihnya masih kurasakan. Arie, ya nama serta wajah itu tiba-tiba saja menguak bersama karangan bunga ini. Nama serta wajahnya sempat mengisi hari-hariku, memberi kebahagian pada diriku serta memenuhi semua lembar buku harianku. Namanya selalu kusebut dalam setiap tidur malamku bahkan kuharap datang dalam setiap mimpi malamku. Namanya ku kenal saat acara pertandingan basket antar sekolah dimana dia adalah salah satu panitianya. Tapi kemudian menjadi nama yang begitu ingin kuhapus dari ingatan ketika kami memastikan tak mungkin untuk bersama sehingga diriku harus meninggalkannya karena status kami terlalu jauh berbeda. Dirinya berasal dari keluarga pejabat yang bisa memiliki segalanya, sementara diriku hanyalah anak seorang pedagang kecil dipasar yang harus bekerja keras kalau mau makan esok hari. Bahkan kalau tak ada rumah warisan ini, mungkin diriku akan tinggal dirumah kontrakan seperti teman-teman ayah.

Hari ini hampir genap satu tahun ku coba menghapus semuanya. Ya, diriku ingat, hari itu adalah seminggu setelah ulang tahunku. Ulang tahun ke 17 yang seharusnya menjadi ‘momen’ paling indah bagi gadis seusiaku, justru menjadi saat paling menyedihkan juga menyakitkan sepanjang hidupku. Betapa tidak, masih jelas sekali terbayang saat seseorang yang tak ku kenal, didampingi beberapa orang, tiba-tiba mendatangiku lalu mencaci makiku di depan teman-teman. Dengan kasar dia mengatakan diriku sebagai perempuan murahan tak tahu diri karena berani merayu kekasihku Arie, yang dikatakan sebagai tunangannya. Bahkan dirinya menuding-nudingku dihadapan semua temanku sementara diriku tiada berani bersuara sama sekali karena terkejut serta takut. Semua ketakutanku semakin membuatnya kian berani. Tangisku saat itu justru memancingnya untuk mencoba menarik rambutku. Jika bukan karena pengawalnya yang melerai lalu membawanya pergi, mungkin diriku sudah menjadi bulan-bulanan sementara satupun temanku tidak berani berbuat apa-apa. Lalu aku hanya bisa duduk bersimpuh diatas rumput itu. Ya, di atas rumput ku menangis. Lemas. Entah mimpi apa semalam sehingga mendapat perlakuan demikian. Entah dosa apa sudah kulakukan sehingga menerima penghinaan. Hingga semua temanku menghampiri serta menghiburku. Memapahku yang lemas nyaris pingsan karena malu sekaligus takut.

Sejak itulah, diriku menghindari Arie. Sejak saat itu diriku tidak mau lagi berjumpa dengannya. Aku juga mengganti nomor HP ku agar dirinya tidak bisa menelpon atau mengirim pesan serta membakar semua buku harianku. Diriku tidak khawatir dia akan ke rumah, karena yakin dia tidak akan pernah ke rumahku bahkan belum tahu dimana rumahku karena kami selalu bertemu usai pelajaran sekolah. Ya, dia selalu datang ke sekolah kalau ingin bertemu denganku. Untungnya semua teman-temanku sepertinya kompak untuk mengatakan tidak mengetahui keberadaanku jika ada orang tidak dikenal mencariku disekolah. Meskipun aku orang biasa-biasa, disekolah ini diriku termasuk siswi berprestasi, jadi teman-teman suka kepadaku.

Dua bulan setelah peristiwa tersebut, teman-teman mengatakan Arie tidak pernah lagi kelihatan mencariku juga tidak ada lagi orang mencariku. Diriku tidak peduli. Meski sedih serta merasa kasihan karena mungkin dia tidak mengetahui tentang peristiwa telah terjadi. Tapi aku tidak ingin peristiwa itu terulang lagi atau bahkan menjadi lebih berbahaya lagi buatku.

Aku hanya berfikir masih banyak lelaki lain kelak bisa menjadi kekasihku. Lelaki dengan status seimbang atau dengan keluarga yang bisa mengerti serta menerima keadaanku. Lagipula kalau Tuhan mentakdirkanku sukses, diriku bisa memberi kebahagiaan buat orang tuaku. Itu lebih penting dibanding memikirkan cinta yang menyakitkan sekaligus menghinakanku.

“Ya sudah, kita bawa saja” kataku sambil memasukan bunga itu ke dalam tas meskipun belum tahu akan diberikan kepada siapa. “Ayo berangkat, nanti kita terlambat”

**********

Jam tujuh kurang satu menit kami tiba sekolah. Untung saja tidak terlambat. Maklum sekolah kami termasuk ketat dalam hal disiplin. Siswa jika terlambat 5 menit saja harus membuat pernyataan ditandangani oleh orang tua, kalau terlambat 10 menit ditambah hukuman tidak boleh mengikuti 1 pelajaran, kalau sampai terlambat 15 menit lebih baik pulang atau meminta surat sakit dari dokter daripada harus menerima hukuman.

“Sssttt… kak… itu teman-teman kakak di depan kelas sepertinya nungguin kakak. Eh kak, yang di pinggir itu, siapa namanya ? Andi… ya .. Andi… ganteng tuh kak, kaya lagi. Kasi dia saja bunganya” kata Lisa dengan gaya genitnya sambil berjalan memasuki halaman sekolah.

“Kamu suka ? kamu saja kasi gih” kataku sambil membuka tas seakan-akan ingin mengembalikan bunganya.

“Iiiih kakak..” katanya manja.

“Ya kan kamu yang naksir, masa aku musti ngasih ?. Atau mau aku kasiin ke dia bilang dari kamu ?” tawarku menggoda.

“Ha … ha … jangan kak.”

“Yasud, sejak kapan kelas kamu ke arah sini ? bukannya kelas kamu disana ?” kataku sambil menunjuk arah kelasnya. Lisa tersadar, kalau dia mengikutiku ke arah kelasku bukan kelasnya.

“he … he … he … iya kak, lupa” katanya sambil bergegas.

Dan benar saja, sampai di kelas belum ada guru. Diriku disambut oleh teman-temanku. Semua mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku. Sungguh hatiku merasa terharu. Betapa mereka, teman-teman sekolah kita adalah teman-teman tulus. Mereka tidak akan pernah mempermasalahkan status sosial jika kita bisa membawa diri dengan baik, tidak rendah diri serta tidak baper alias sensitif. Teman-teman seperti ini adalah sangat berharga bagiku.

Tiba-tiba Hendi, ketua kelas membuka sesuatu yang tertutup di meja siswa paling depan. Diriku tercengang. Sebuah kue ulang tahun begitu cantik lengkap dengan lilin terpampang disana. Hatiku semakin larut dalam rasa haru. Mengapa mereka begitu baik kepadaku ? Ya Tuhan, segala puji syukur kuucapkan atas anugerah terindah berupa persahabatan. Kini diriku tidak dapat lagi menahan air mata berlinang. “Terima kasih .. teman-teman… terima kasih. Kalian begitu baik kepadaku”

Lalu lilin-lilin itupun dinyalakan. Semua teman bertepuk tangan menyanyikan lagu selamat ulang tahun untukku. Beberapa siswa dari kelas sebelah pun ikut masuk kedalam kelasku. Sebagian berdiri didepan jendela kelas seakan ingin melihat serta merasakan kegembiraan juga haruku. Ya, hatiku sungguh terharu. Diirku bahkan hampir tidak sanggup meniup lilin berjumlah delapan belas sampai habis. Sebuah kue ulang tahun indah bertuliskan nama serta berhias lilin-lilin cantik yang tidak pernah mampu kumiliki walau dalam mimpi.

Saat ini tidak ada kata mampu kuucapkan selain terima kasih, terima kasih, dan terima kasih. Hatiku sangat bahagia merayakan hari ulang tahun bersama teman serta Ibu guru, wali kelas, yang tiba-tiba sudah berada di sampingku. Aku memeluknya dan menangis. Perlahan ku keluarkan bunga mawar dari dalam tas pemberian Lisa tadi pagi. Hatiku sudah mantap untuk memberikannya pada seseorang saat ini.

“Ibu, terima kasih telah mendidik kami. Telah menjadikan kami sebagai satu keluarga dengan ikatan batin kuat kepada kami. Tanpa rasa kekeluargaan ditanamkan oleh ibu serta guru-guru disini, tidak mungkin kami bisa melakukan ini” kataku terisak sambil menyerahkan bunga mawar indah tersebut kepada Ibu guruku yang baik. Lalu beliau memelukku hangat layaknya anak kandung sendiri.

*******

Meski pelajaran telah usai, kami masih disekolah. Setelah perayaan kecil ulang tahun tadi pagi, Hendi mengatakan bahwa semua teman-teman hari ini akan mengadakan acara makan-makan dikantin. Ternyata beberapa teman yang mampu telah mengumpulkan uang untuk acara ini. Lagi-lagi diriku terbawa suasana dan tidak bisa menahan haru. Ternyata begitu banyak teman menyayangiku, begitu banyak orang, tidak pernah kita sangka, mereka peduli kepada kita, peduli pada keadaan kita dan selalu ingin membuat kita bahagia. Mungkin itu sebabnya kita tidak boleh memilih-milih dalam berteman, menilai teman hanya dari kekayaan, kepribadian atau sikapnya. Sejelek apapun sikap mereka, serendah apapun derajatnya, kalau kita bisa memberikan perhatian serta kasih kepadanya, maka mereka juga akan berlaku kasih sayang kepada kita. Tapi sekaya apapun mereka, sebaik apapun sikapnya, mereka hanya akan menghinakan atau mengabaikan kita jika kita hanya berpura-pura serta tidak menunjukan kasih juga persahabatan tulus kepada mereka.

Dan hari ini, kantin sekolah menyediakan makanan spesial, bukan hidangan biasa tapi makanan katering yang sudah dipesan terlebih dahulu. Beberapa siswa kelas lain, pengurus OSIS, juga beberapa guru serta petugas sekolah ikut makan bersama kami. Namun ditengah kegembiraan, tiba-tiba datang beberapa orang serta satu orang sangat ku kenal. Ya, aku tidak akan pernah bisa melupakannya. Dia sudah menghinakanku tahun lalu. Mencaci maki serta menarik rambutku. Diriku kaget serta merasa takut. Tapi disini ada banyak teman, guru juga petugas sekolah, jadi diriku tidak perlu khawatir. Mau apa lagi dia kesini ? kataku dalam hati. Beberapa teman yang dulu menyaksikan peristiwa diantara kami merasa kaget, mereka menarikku ke belakangnya agar tidak terlihat. Tapi percuma, karena wanita tersebut sudah melihatku. Dan wanita tua itu ? siapa wanita tua itu ? bisikku dalam hati.

“Selamat sore” wanita tua itu bicara. “Mohon maaf mengganggu kalian serta bapak ibu guru sekalian. Kedatangan kami kesini adalah untuk berbicara dengan siswi disini yang bernama Hensi. Apakah dia ada disini ?”. Seorang teman ingin maju, sepertinya dia ingin mengatakan diriku tidak ada, tapi aku segera mendahuluinya.

“Ya, saya Hensi tante” kataku perlahan berusaha tenang meski ada rasa takut yang sangat sehingga mengucapkannya dengan menunduk tidak berani bertatap mata dengannya.

Wanita tua itu memandangiku seksama dari ujung rambut hingga ujung kaki. Lalu dia mendekatiku dan berkata. “Saya mamanya Arie. Kamu kenal ?” Aku mengangguk. “Anak saya sudah hampir setahun ini sakit. Tidak mau berbicara dan sejak enam bulan lalu dirinya menjadi lumpuh”. Dia menghela nafas beberapa saat seakan berat untuk bercerita. “Dalam tidur anak saya selalu mengatakan “maaf” kepada kamu. Itu kemudian membuat kami mencari tahu tentang kamu dan akhirnya kami mengetahui peristiwa setahun lalu”.

Lagi-lagi dia terdiam, kali ini lama sekali. Hatiku yakin dirinya ingin berkata maaf tapi mungkin dia tidak terbiasa mengucapkan kata itu.

“Aku sudah melupakannya tante. Tidak ada lagi masalah dan dendam dihatiku. Diriku sudah memaafkan siapapun orangnya. Terus terang kedatangan tante justru menguak kembali cerita itu” kataku memberanikan diri karena wanita itu belum juga meneruskan kata-katanya.

Wanita tersebut tiba-tiba memelukku. “Maukah kamu membesuk anak tante ?”. Yup, sama sekali tidak terucap kata maaf dimulutnya. Tapi diriku memaklumi juga sangat memaklumi. Mengucapkan kata maaf bagi orang yang tidak terbiasa jauh lebih berat dari memikul beban ratusan kilo. Mulutku tidak segera menjawabnya. Ingin ku katakan “Itu urusan tante !!”, tapi diriku dilahirkan bukan sebagai orang seperti itu. Ketika keberanian itu muncul dalam diriku. Perlahan ku angkat wajahku, bukan menatap mata wanita tua mamanya Arie tapi memalingkan wajahku memandang ke arah wanita yang dulu menganiayaku. Dia menunduk. Kini ku tatap wanita tua itu.

“Aku akan mencoba datang tante. Tapi maafkan diriku. Sekali lagi maafkan. Aku tidak akan datang sekarang ataupun besok. Hatiku belum siap serta belum tahu apa akan kukatakan kepada anak tante kalau kami bertemu, karena aku sudah menutup semua cerita tentang anak tante.” aku diam sejenak. “Jawaban apa akan ku katakan kepada anak tante kalau dia bertanya mengapa aku menghilang ? mengatakan sebuah kejujuran yang menyakitkan atau menutupi kebohongan yang akan lebih menyakitkan ?”. Aku memegang kedua tangan wanita tua itu lalu menciumnya. Biar bagaimanapun dia adalah orang tua yang harus ku hormati “Maafkan aku tante”.

Wanita tua itu melepaskan pegangan tanganku lalu mengelus rambutku. “Baiklah, datanglah kapan saja kamu mau datang. Ini alamat rumah tante” katanya sambil menyerahkan secarik kertas kartu nama berisi alamat sudah ku kenal. Aku mengangguk.

Tanpa berlama-lama mereka pun berlalu pergi. Diriku diam hingga mereka menghilang dari pandangan. Perlahan ku robek kertas itu dan membiarkannya tertiup angin. “Setelah jauh berjalan, tidaklah layak aku memulai lagi lagu yang sudah ku akhiri” kataku dalam hati. Aku berbalik kearah teman-temanku dengan wajah riang seakan kejadian barusan tidak pernah ada sehingga kami semua segera bisa melupakannya. (ea)


Terima kasih telah membaca cerita sedih pendek lagu ini ku akhiri. Semoga cerpen sedih diatas dapat menghibur dan menjadi motivasi untuk terus berkarya.

Dibagikan

Desty

Penulis :

Artikel terkait