Cerpen Layaknya Aku Padamu

cerita romantis remaja layaknya aku padamu

Layaknya aku padamu adalah cerita romantis remaja yang tidak sengaja berjumpa kembali dengan lelaki idaman hati setelah lama berpisah. Bagaimana kisah cerita romantis ini ? simak cerita pendek berikut.

Cerita Romantis Remaja Layaknya Aku Padamu

Panasnya Jakarta luar biasa kalau tengah hari seperti ini. Itu sebabnya aku lebih suka berada di dalam kantor yang sejuk berpendingin udara daripada harus keluar sekalipun hanya untuk makan siang kecuali kalau ada keperluan atau semua teman di ruangan makan siang diluar. Jadi mau gak mau aku ikutan deh sama mereka daripada kesepian.

“Haniiiii…. !!” terdengar teriakan bos dari dalam ruangannya. “Ya bos”. “Tolong antar surat dan paket ini ke Menara Thamrin lantai 26 kantor pengacara Nasution ya. Temui Pak Riza”.

“Siap bos” kataku bergegas masuk ke ruangan bos meski harus menutup kesal dengan senyum datar. Bete sekali rasanya kalau tiba-tiba harus keluar kantor pada jam sibuk seperti ini. Selain panas, sudah kebayang jalan yang macet karena padatnya kendaraan yang lalu lalang dari orang-orang sibuk yang memiliki kepentingan masing-masing bercampur dengan mereka yang menuju tempat makan siang.

Keluar dari ruangan bos aku segala mengambil tas dan dompet yang masih tergeletak diatas meja kerja, bersiap untuk segera berangkat.

Bermacet ria di panasnya Jakarta

cerita pendek layaknya aku padamu Macet
Macet (@ Telegraph)

“Mas… kenapa bukan situ saja sih yang nganter surat buat pak Riza ? kenapa musti gue yang disuruh di bos ?” ocehku saat berpapasan dengan office boy (OB) sebelum pintu keluar. Tapi dia hanya cengar-cengir saja. Gak sopan banget !!!.

“Mbak Hani belum tahu ya ? pak Riza itu ganteng dan masih singel loh …!!” katanya masih dengan senyum menyebalkan sambil memberikan sebungkus makanan yang tadinya akan diletakkan di meja kerjaku.

“Bodo amat…!!” Jawabku sambil meninggalkannya.

Sepanjang perjalanan, pendingin di Taksi berwarna biru bergambar burung ini seperti tidak terasa sama sekali. Kalah dengan panasnya ibu kota yang sejak dipimpin oleh Gubernur peduli banjir malah jadi semakin jarang turun hujan.

Jarak yang lumayan jauh dari kantorku di Kelapa Gading menuju Menara Thamrin memang bikin emosi kian menjadi. Panas, macet ditambah belum sempat makan siang bikin suasana hati jadi makin nggak karuan. Teringat bungkusan dari OB di kantor tadi, ternyata isinya roti dan minuman ringan. Lumayanlah buat ganjal perut yang dari pagi belum terisi. Tapi ternyata bukan hanya itu, ada secarik kertas disana yang bertuliskan “Jangan lupa minta pin BB nya pak Riza ya mbak … he … he … he…”. Waah gak sopan nggak sopan nih OB ngeledek terus.

“Pak..bisa agak dicepetin nggak …? saya harus sampai ditujuan sebelum jam 3 sore” kataku kepada sopir taksi sambil kulirik arloji jadul yang selalu setia menemaniku kemana saja. Arloji ini adalah benda spesial yang selalu mengingatkan aku pada seseorang yang memberikannya. Setiap kali aku melihat benda ini, saat itu pula bayangan wajahnya melintas. “semoga Allah selalu menjagamu dimanapun dirimu berada” doaku dalam hati.

Taksi terus meluncur, kini dengan kecepatan lebih tinggi.

“Mbak kita sudah sampai tujuan” suara pak sopir membuyarkan lamunanku.

“Mau ditunggu atau bagaimana ?” tanya pak supir lagi.

“Ga usah pak..terima kasih ya” aku mengeluarkan uang pembayaran lalu membuka pintu taksi dan turun.

Lobby gedung ini cukup mewah dan banyak eksekutif muda wara-wiri berpakaian rapi menebar semerbak aroma parfum aneka jenis. Setidaknya suasana disini membuat level emosiku menjadi turun 1 tingkat meski masih lemas karena belum ketemu nasi. Maklum perut orang Indonesia, kalau belum makan nasi meskipun sudah makan roti potong tetap saja terasanya belum makan.

Berjalan perlahan sambil berusaha menurunkan emosi sampai ke tingkat nol, aku menuju lift di sayap kanan lobby.

Akhirnya tibalah aku di lantai 26, kantor pengacara Nasution SH. Kantor yang mungil namun tertata apik sehingga memberi kesan bersahabat bagi tamu yang berkunjung.

“Selamat siang mbak, saya Hani dari kantor Insan Mandiri. Apa saya bisa bertemu dengan pak Riza untuk menyerahkan surat dan bingkisan ini ?” ucapku sambil memaksakan senyum pada wanita yang duduk di belakang meja resepsionis. Begitulah, nasib pegawai bawahan seperti aku, meski kesal harus tetap sabar, senyum dan sopan pada siapa saja.

“Ditunggu sebentar ya mbak, pak Riza masih ada tamu” jawab gadis itu sedikit kaku. Maklum kantor hukum, penampilan pegawai disana menurut aku sama dengan kantor sejenis lainnya. Tidak terlalu mengumbar keramahan. Mungkin karena mereka sedikit kaku karena terbiasa dengan pasal-pasal dan aturan.

Aku duduk di ruang tamu, menunggu sambil menatap sekitar dan membaca beberapa pesan yang  masuk ke HP. Tak berselang lama si resepsionis kaku itu berdiri dan menghampiriku.

“Silakan mbak, ditunggu pak Riza di dalam” ujar resepsionis mempersilakan aku mengikutinya menuju pintu dekat mejanya.

“Terima kasih” jawabku.

Pintu diketuk oleh si resepsionis dan terdengar suara dari dalam “Ya masuk”. Suara dari dalam itu terdengar jelas. Aku terkesiap dan seketika jantungku berdegup keras. Aku seperti mengenal sekali suara itu. Suara yang tegas dan berwibawa milik seseorang yang sangat aku kenal. Seketika, mataku tak sadar menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangan.
Pintu dibuka oleh si resepsionis kaku dan mempersilahkan aku masuk. Tapakku serasa limbung tak mampu berdiri apalagi melangkah saat melihat sosok lelaki yang duduk di belakang meja kerja itu. Kucubit pahaku sendiri, aaaaww sakit… aku tidak sedang bermimpi, sosok dihadapanku mirip sekali dengan dia yang selalu kumimpi. Dan lelaki itu pun menatapku seperti tidak percaya.Tatapnya tetap tajam seperti dulu dan selalu membuat aku tidak sanggup untuk membalasnya.

Beberapa saat kami sama terdiam, sementara kakiku tetap tak sanggup melangkah terpaku di dekat pintu, hingga akhirnya terbata dia berucap “Kamukah Hani yang selama ini aku cari ?” Aku seperti tersentak, kakiku kini bisa digerakkan dan pelan melangkah menuju kearahnya. Dengan gemetar aku jabat tangannya. Tapi aku yakin gemetar kali ini bukan karena lapar belum makan siang.

“Abang…..” hanya kata itu yang meluncur dari mulutku dan tanpa sadar mataku basah oleh air mata.

Ku usap lembut arloji kenangan darinya. Melingkar manis di pergelangan tangan kananku, karena aku tetap berharap menemukannya. Aku menanti setiap jarum detik ini bergerak dan aku tak pernah lelah menghitung sudah berapa putaran jarum ini bergerak. Allah menjawab doaku.(LD)


Terima kasih telah membaca cerita romantis remaja layaknya aku padamu. Semoga cerpen diatas bermanfaat dan menghibur sobat sekalian.

Dibagikan

Lydia Dumaiyanti

Penulis :

You may also like