Lelakon Malam Jum’at Kliwon

kisah misteri lelakon malam jum'at kliwon

Kisah misteri malam Jum’at Kliwon pada tradisi sebagian masyarakat terutama Jawa. Sangat banyak cerita-cerita seram, hantu, dan segala yang berbau mistis tentang malam Jum’at Kliwon. Meski ini bukan tradisi atau budaya Islam, kisah lelakon misteri malam Jum’at kliwon mungkin bisa menambah wawasan akan tradisi adat jaman dahulu.

Kisah misteri Lelakon Malam Jum’at Kliwon

Siang berderang, mentari membakar dedaunan dan ranting-ranting telah meranggas kering. Rupanya tidak pada daun dan ranting saja, sang mentari menyinari seluruh bumi tampak menampar keras pundak dan jiwaku yang hampir saja lemah melepuh rapuh. Aku rebahkan pelan tubuh ini di atas dipan samping rumah. Sambil memandangi mata air dan menikmati semilir angin mempermainkan daun-daun kirai rindang, lama kelamaan aku tak sadarkan diri dan tidur lelap sampai menjelang petang (baca kisah misteri nyata santet lada hitam).

Terbangun oleh suara pukulan golok dihentakkan pada sebilah bambu oleh kakek, akupun terbangun dan terkesiap. Tampak ibu sedang merapikan batu tungku lalu menyimpan rapi kayu-kayu bakar. Di atas sana, langit mengubah warna menjadi jingga kemerah-merahan. Berbondong-bondong pasukan kelelawar pun terbang di udara.

Garis-garis tipis merah jingga di atas horizon membentang mamanjang lurus. Sesaat lagi langit akan menebarkan pesona keremangan kepada semesta yang menghitam. Aromatik sunyi mulai menyusup ke setiap rongga jiwa yang semakin jemu. Ya, rupanya malam nanti adalah malam Jum’at Kliwon. Di luar sana, kakek bersikeras merapihkan potongan-potongan bambunya. Setelah itu, ia menyibukkan dirinya dengan menyajikan tampah terbuat dari anyaman bambu berbalut daun pisang. Isinya banyak dan bermacam-macam, dari mulai tumpeng, daging dendeng, beberapa mata uang, padi, kendi berisi air kembang, kelapa, gula merah, kemenyan, sampai dedaunan seperti daun sirih, kelewuh, dan dadap serep pun siap saji di dalam tampah itu. Orang-orang menyebutnya dengan sesajen. Ketika menjelang malam jumat kliwon, sesajen tersebut selalu disajikan bersama-sama dan disimpan di kaki gunung tengah hutan (baca juga kisah misteri dalam cerpen Susuk Kelabang Merah).

Cerita misteri malam Jum’at kliwon, semua pintu dan jendela ditutup rapat

“Sudah hampir gelap, ayo lekas ke dalam. Tutup semua pintu, jendela, dan semua lampu-lampu harus menyala!” Kata Kakek.

Ku patuhi perintah kakek, dan aku suruh kedua adikku yang masih tengah bermain puas untuk lekas masuk rumah. Pintu dan jendela aku tutup rapat, sedang lampu-lampu lentera dinyalakan. Aku kadang selalu bertanya-tanya dan masih penasaran dengan apa yang dilakukan oleh ibu dan kakek ketika menjelang malam Jumat Kliwon begitu juga dengan warga sekampung. Mereka selalu menyajikan sesajen yang katanya hal itu memiliki nilai sakral dan merupakan suatu kebudayaan yang ditinggalkan oleh para leluhur sebagai persembahan bagi makhluk agung yang telah menjaga keselamatan warga dan kampung. Namun, yang semakin menambah naik darah keanehanku yaitu pada tindakan kakek dan ibu yang selalu menegurku dan juga adik-adikku untuk tidak berada di luar rumah pada waktu menjelang tenggelamnya matahari di Jumat Kliwon. Jendela dan pintu harus tertutup rapat, apalagi lampu harus tetap menyala.

Tidak bisa tidur karena penasaran pada cerita misteri malam Jum’at kliwon

Akhir-akhir malam ini, aku tidak dapat memejamkan mata, pikiranku masih terfokus pada hal-hal yang selalu dilakukan para warga kampung termasuk kakek dan ibu ketika menjelang malam Jumat Kliwon. Sebagian orang ada yang mengatakan, malam Jumat Kliwon adalah malam dimana para leluhur datang menjenguk kita, ada lagi yang berpendapat, malam Jumat Kliwon itu malam yang menyeramkan, semua arwah berdatangan. Ah, entahlah, namun setahuku nama Kliwon dalam pasaran kalender Jawa adalah hari yang ke lima. Tapi, kepanikan kakek dan ibu menjelang malam Jumat Kliwon membuatku semakin bertanya-tanya.

Masih di tengah malam sepi, aku tetap tidak bisa merapatkan kedua bola mata, pikiran diliputi dengan sejumlah bayangan kepanikan kakek dan ibu tadi petang. Malam itu, rasa cemas dan penasaranku semakin memuncak. Tanpa sepengetahuan kakek, ibu, dan kedua adikku, aku coba mematikan lampu luar. Kuintip rembulan dan bintang yang sedang saling bercumbu lewat celah dinding bilik rumah agak longgar. Kutengok kanan kiri sekitar rumah. Tampak di luar sana gelap. Lengang, tak ada satu orang pun yang berlalu lalang, sepi seperti kampung yang telah mati.

Ada seberkas cahaya terang menerangi pohon Kirai, lalu kulihat ada seekor kelinci putih misteri bermata emas

cerita misteri hantu pohon Kirai
Cerpen Misteri Hantu Kelinci Di Pohon Kiari

Malam itu, bersama awan gemawan, lama kelamaan bintang gemintang dan sang putri malam meredupkan cahayanya. Tak ada suara dari bisikan daun kirai saling mengusik. Mata air mengalir tenang diufuk malam yang kelam. Luar rumah tampak sunyi sekali. Angin malam menembus ke dalam dinding bilik. Kubuka pelan-pelan jendela, rasanya berat, tubuh gemetar, dan hati mulai berdebar kencang. Sedang, kain penutup jendela melayang-layang diterbangkan angin malam. Lalu mataku membelalak, kuintip kanan-kiri, rupanya ada kerlap kerlip kunang-kunang beterbangan di sekitar pohon kirai, namun anehnya lama kelamaan mataku mulai menemukan kilauan cahaya lebih terang, menerangi pohon kirai rindang dan besar.

Aneh ku rasa, seperti dalam mimpi, sinar cahaya itu menyilaukan mata sehingga mataku tak dapat melihat dengan jelas. Namun, dengan rasa penasaran yang kuat, aku terpaksa langkahkan kedua kakiku ke luar, dari dekat jelas terlihat. Cahaya-cahaya itu rupanya berasal dari kedua mata seekor kelinci putih bermata emas. Malam itu, aku kaget bukan main, seekor kelinci mungil itu tiba-tiba ada dihadapanku (simak juga kisah misteri pada cerpen mistis Kamar kosong).

Aku mulai merasa pusing dan lemas, keringat dingin mengalir, jatuh membasuh tubuh. Bibirku kaku tak dapat mengucapkan kata-kata, sedang mata air yang mengalir di sekitar pohon kirai membuat tubuhku menjadi beku kaku. Walau malam itu terasa menyiksa diri, aku tetap mencoba menangkap kelinci itu, namun sayang, tak jelas keberadaannya. Sinar cahaya terpancar dari kedua bola matanya tampak silau berkilau, mengaburkan pikiran dan penglihatanku, angin bergegas menyelimuti alam, dingin menyatu di seluruh tubuh.

Hingga pagi hari, baru sadarkan diri

“Sudah kakek bilang, kamu jangan keluar tengah malam di Jumat Kliwon, Wan !” Suara kakek terdengar jelas ditelinga. Tangannya mengelus-elus keningku. Rupanya, hari sudah menjelang pagi, tubuhku lemas dan sedikit ngilu, dengan wajah pucat penuh lebam tubuhku terbaring lemah di ranjang, sedang di sekelilingku tampak orang-orang berkerumun sambil memanjatkan ayat-ayat doa.

Aku dengar suara tangisan ibu. Masih tidak mengerti. “Ada apa ini ? Lalu apa yang terjadi tadi malam?” Hatiku mulai bertanya-tanya. Menjelang beberapa menit kemudian, ingatanku mulai sadar, pada saat kejadian tadi malam aku menemukan sosok seekor kelinci putih bermata emas memancarkan cahaya. Konon, kata kakek kelinci itu selalu muncul di setiap rumah-rumah para warga kampung ketika menjelang malam Jumat Kliwon. Menjaga malam senyap. Kelinci bermata emas itu sebenarnya tinggal di kaki gunung tengah hutan. Ada raja kelinci di sana. Kata kakek dan orang-orang lainnya, raja kelinci itu sangat besar dan kuat, warnanya putih dan  kedua bola matanya berwarna emas,  Katanya, setiap orang yang melihatnya selalu dibutakan oleh cahaya-cahaya terpancar dari kedua mata emasnya itu. Orang tersebut pada akhirnya mengalami kebutaan total luar biasa. Aneh luar biasa, namun menurut kepercayaan masyarakat umum, kelinci itu membawa berkah bagi kesuburan tanah dan kemakmuran kampung. Hingga kini, tak ada satupun warga berani memburu kelinci itu, dan tak ada satu pun orang berani ke luar rumah untuk melihatnya.

Mataku buta korban misteri lelakon di malam Jum’at kliwon, tapi semua bersyukur nyawaku selamat

Menjelang siang, dengan mata yang remang. Seluruh tubuhku lemas, penglihatanku kabur, bukan gelap yang dapat ku lihat, tapi masih kilau-kemilau cahaya terang. Walau begitu, aku masih beruntung dapat melihat sedikit bayang-bayang tubuh ibu, kakek, adik-adikku, dan orang-orang yang ada disekelilingku. Aku pegang dan kepang jari jemari tangan ibu kuat, ia menangis tersedu-sedu.

Lalu ia berucap pelan sambil memelukku hangat, “Anakku selamat, anakku telah selamat, dan anakku adalah lelakon, ya lelakon di malam Jumat Kliwon !!” Begitu juga dengan kakek, adikku, dan orang-orang lainnya pun berkata demikian.

Siang mengusang, di atas hamparan kanvas langit, bersama gumpalan awan gemawan kulukiskan secercah kerinduan dan kenangan.

= Tamat =

Terima kasih telah membaca kisah misteri lelakon malam jumat kliwon. Semoga menghibur dan menambah pengetahuan.

Dibagikan

Aisanti

Penulis :

Artikel terkait