Lima Hari Sebelum Ulang Tahunku

cerita pendek imajinasi dan opini

Lima hari sebelum ulang tahunku adalah cerita pendek imajinasi dan opini menarik dari seorang penulis remaja yang ditulisnya tepat 5 hari menjelang ulang tahunnya. Sebuah coretan yang tidak layak dilewatkan begitu saja. Simak pada cerpen remaja berikut :

Cerita Pendek Imajinasi Dan Opini – Lima Hari Sebelum Ulang Tahunku

Aku begitu menyukai hal-hal yang bernilai seni. Hal-hal yang menurutku perlu aku jadikan barang favoritku. Aku menyukai hal-hal yang bernilai. Hal-hal yang kadang tidak dipikirkan oleh orang lain menjadi barang favorit. Aku menyukai mainan. Lebih tepatnya aku menyukai Lego. Sejak kecil aku menyukai mainan itu. Aku menyukai merakitnya perlahan. Memasangkannya satu persatu. Seperti memasangkan kamu dan aku menjadi kita. Kata temanku, di umurku yang sudah mau berkepala dua ini, aku tidak layak lagi memainkannya. Tapi apa daya, kawan, ia tetap menjadi barang favoritku. Aku menyukainya.

Menyukai sesuatu bukan hal yang mudah. Kadang ada banyak perjalanan dan proses yang membuatmu menyukainya. Seperti aku menyukai mainanku. Juga menyukai barang pemberiannya. Aku juga menyukai buku-buku puisi. Aku mempunyai beberapa buku puisi, aku belum mampu membeli banyak. Ya, aku harus banyak menabung. Buku puisi yang aku sukai adalah karya seorang penyair yang menjadi favoritku. Bukunya yang jujur membuatku terpukau dengan tulisannya itu. Kamu pasti tahu siapa dia. Aku sering menyebutnya dalam tulisanku. Namanya M Aan Mansyur, kisahnya yang dia curahkan ke dalam puisi-puisinya yang membuatku mengenali siapa dia. Karena karyanya yang jujur. Jadi aku berusaha sebisa mungin mencurahkan keresahanku sama sepertinya.

Sampai saat ini aku masih kesal, buku novel buatannya yang pertama aku beli aku hilangkan. Judulnya Lelaki Terakhir yang Menangis Di Bumi. Buku, itu menceritakan tentang seorang lelaki yang baru saja menulis novel kemudian memutuskan untuk pulang ke asalnya. Dalam novelnya ia bercerita soal suami ibunya yang meninggalkannya saat kecil. Juga seorang lelaki yang menyukai ibunya yang tak kunjung menikah dengan wanita lain, karena kecintaan lelaki itu pada ibunya.  Mungkin juga itu yang menjadi alasanku tidak mencari yang lain. Selain itu dia juga bercerita soal hubungannya dengan seorang wanita yang tidak direstui orangtuanya. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk pulang. Wanita yang ia cintai menikahi lelaki lain, wanita itu pernah bermimpi mempunyai rumah sederhana di antara rerumputan berwarna hijau. Yang kini wanita itu meliki dengan lelaki yang menjadi suaminya.

Buku itu aku hilangkan di rumah. Aku lupa menaruhnya dimana. Buku itu menjadi motivasiku untuk terus menulis. Juga menjadi alasanku terus mencurahkan keresahanku. Entah ke buku atau ilustrasi yang ada di buku-bukuku. Mungkin sepulangku dari sini aku akan mencarinya.

***

Aku menyukai banyak hal yang menjadi favoritku. Kalau saja benda itu hilang aku akan mencarinya, apa saja akan coba kubongkar. Mencari hal yang hilang bukanlah hal mudah. Tapi kalau sudah suka mau bagaimana?

Seperti saat Seno Gumira mencuri senja untuk pacar Sukab, Alina. Banyak orang yang mengejar Sukab. Bukan soal salah sukab yang ingin memberi sesuatu yang berarti untuk pacarnya, Alina. Tapi soal kenapa orang mengejar dan menuduh Sukab mencuri senja. Biar aku jawab. Orang-orang banyak menyukai senja. Kadang menjadikannya waktu favorit karena keindahannya. Beberapa bahkan pergi ke ujung gunung untuk melihatnya. Beberapa kadang mencurinya dalam bentuk gambar. Kadang juga menyanyikannya dengan lagu-lagu bergenre Folk. Atau mengejarnya sampai ke lautan yang perlahan memakannya. Senja memiliki cerita. Senja memiliki banyak hal yang membuat orang-orang menyukainya.

Aku pernah mencuri beberapa senja dalam potret. Aku juga menyukainya seperti orang-orang menyukainya. Kadang orang-orang meneriakiku dan menunjukku seperti saat Sukab mencuri senja di pesisir pantai itu. Mereka mengatakan hal yang sama.

“Kemana perginya senja?” mereka bertanya dengan wajah kebingungan. Mencari-cari kenapa senja hilang. Mereka tidak mencurigaiku waktu itu. Mungkin karena aku bergegas pergi meninggalkan pesisir pantai. Sesampaiku di rumah. Aku membuka kembali senja yang berhasil kucuri. Di sana masih ada pesisir pantai, lautan, kepak burung, cahaya keemasan, debur ombak, juga matahari yang tertahan di sana.

Di kali kedua aku mencuri senja untukmu. Kali ini mereka mulai mencurigaiku. Mereka memantauku dengan tatapan tajam. Beberapa bersiap mengambil foto diriku. Beberapa berbisik dengan polisi di balik telpon genggamnya.

Lekas saja aku curi senja di saat yang pas. Aku potong menjadi sebuah kertas. Memasukkannya ke dalam amplop dengan cepat. Seseorang berhasil melihatku mencuri senja. Dia mulai mengejar sambil menunjuk dan berteriak kepadaku.

“Cepat, tangkap dia. Dia yang mengambil senja kemarin. Kali ini dia mengambilnya lagi. Aku melihatnya barusan.”

Teriakannya mengatar orang-orang menangkapku. Beberapa bersiap dengan senjatanya. Dengan cepat aku menyembunyikan senja itu di dalam celana pendekku. Kututup dengan rapi, agar cahayanya tidak menyilaukan dan mencurigakan. Sayangnya orang-orang itu berhasil menangkapku. Mereka mendorongku ke pasir pantai yang mulai menghitam karena hari mulai malam. Senja jatuh terlempar dari celanaku. Ia terbang bersama sepoi angin saat itu. Pergi meninggalkan aku dan orang-orang di sana. Kita semua melihatnya dengan wajah tercengang. Beberapa menyalahkan orang mendorongku ke pasir. Aku gagal mencuri senja kali ini.

“Ah, kenapa mesti didorong? Kamu lihat kan senja itu pergi terbawa angin?”

“Iya, saya minta maaf malah membuat senja itu pergi.” kulihat wajahnya lesu. Seperti memikul beban berat karena menghilangkan senja hari itu. Meski aku bahagia karena bukan aku yang disalahkan atas kejadian itu. Aku melihat orang-orang mulai pergi dengan perasaan kecewa. Seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga baginya. Mungkin itu juga menjadi alasanku untuk mencuri senja lagi esok harinya.

Aku ingin bertanya sebelum besok tiba. Apa senja pertama yang aku kirim kepadamu sudah sampai? Aku kemarin melihat seorang tukang pos bermain-main dengan senja dalam surat Sukab di pinggiran bukit kapur. Orang-orang disekitarnya memainkan sepeda milik tukang pos itu. Aku berharap tukang pos yang mengantar surat itu tidak memainkannya sama seperti tukang pos itu bermain dengan senja Sukab untuk Alina.

Setelah sibuk dengan pencurian senja. Aku harus pulang, ada hal yang harus aku lakukan. Pakaianku menumpuk lama. Juga dengan piring-piring kotor yang harus segera aku bersihkan. Aku tidak melakukan apapun setelah kehilanganmu. Aku hanya berpikir cara untuk mengembalikan sesutu yang aku sukai. Seseorang yang menjadi hal favoritku. Sampai akhirnya aku memutuskan mencuri senja mungkin membuatmu kembali. Meski aku tidak pernah tahu.

***

Esoknya aku kembali ke pantai. Menunggu sedari pagi saat matahari mulai dimuntahkan pegunungan.  Kalau aku tidak sabar, mungkin aku akan mencuri pagi saja. Saat orang-orang tidak terlalu menyukainya. Tapi aku tidak ingin mencuri pagi. Tanpa pagi tidak akan aku temukan senja. Makanya aku tetap sabar menunggu saat yang banyak disukai orang-orang.

Ada orang-orang memperhatikanku dengan keheranan. Mungkin dalam benaknya, dia berpikir kenapa aku tidak bermain air seperti anak-anak mereka yang bermain air. Sedari tadi aku hanya diam. Melihat ke arah lautan. Berharap senja telah datang agar aku bisa mencurinya lalu kembali ke rumah dan mengirimkannya untukmu. Seandainya aku bisa mengatakan hal itu kepada orang-orang di pantai ini.

“Sedang apa di sini? Kok Cuma diam saja?” pucuk dicinta ulampun tiba. Orang itu bertanya sesuai harapanku.

“Aku sedang menunggu senja, aku ingin mencurinya, lalu mengirimkannya untuk seseorang.” Sembari menepuk dadaku tanda bangga aku mengatakannya. Orang itu keheranan. Tentu saja, mana ada orang yang dapat mencuri senja. Atau mungkin memang dia bukan orang kota ini, atau tidak membaca koran di kotanya. Padahal sudah jelas kisahku mencuri senja terpampang di koran tadi pagi. Lengkap dengan foto pemandangan setelah senja berhasil aku curi.

“Mana ada, saya cuma tidak pernah mendengar orang yang mencuri senja. Sudahlah, terserah kamu saja, semoga sukses dengan pencurianmu.” Orang itu pergi sembari tertawa. Kemudian bercerita dengan teman-temannya, kadang-kadang menunjukku, lalu kemudian mereka tertawa. Biarlah saja. Nanti kalau senja sudah bisa aku curi lagi. Takkan kusisakan untuk mereka.

Senja mulai tiba, aku bersiap dengan pisau dan pengaris. Aku mulai mengukurnya. Orang-orang tadi melihatku dengan kebingungan. Mereka tercengang dengan kelakuanku. Sampai tiba saat yang pas. Ada debur ombak, kepak burung, sepoi angin, langit keemasan, luas lautan, matahari yang tenggelam. Semua sudah terpajang rapi di sana. Segera saja aku letakan penggaris di atasnya, lalu memotongnya perlahan. Orang-orang melihatku, mereka mulai kesal dengan perlakuanku. Kali ini aku memotong semua senja, tidak hanya sepotong. Biar saja, aku ingin memberinya untukmu. Agar tidak ada orang yang dapat menikmatinya selain kamu.

Tinggal sesisi lagi dan aku dapat mengirimkan senja untukmu. Aku mulai memotongnya lagi. Selesai. Aku memasukkannya kedalam amplop, lalu pergi begitu saja. Orang-orang masih tercengang. Mereka ingin mengejarku. Dan memintaku mengembalikan senja pada tempatnya. Tapi tidak ada yang berani. Ya, sudah biar saja. Mungkin memang mereka mengikhlaskan senja ini untukmu.

Aku bergegas pergi dengan sepeda tua pemberian ayahku. Aku mencari kantor pos terdekat. Senja yang utuh berhasil aku bawa bersamaku. Kutemukan kantor pos di dekat pantai. Hanya berjarak sekitar 1 kilometer dari pantai. Kantor pos kecil. Mungkin karena orang-orang jarang berkirim surat. Sehingga yang tersisa hanya kantor pos kecil ini. aku memasuki kantor pos itu. Mengambil prangko lalu menempelkannya, dan menuliskan alamatmu di sana. Sembari berlari kecil aku menuju loket.

“Malam, pak. Saya mau mengirim surat ini. ini senja untuk pacar saya. Bisa dikirim segera?” tanyaku pada kakek tua penjaga pos itu.

“Saya pernah mengirim senja dari seorang bernama Sukab, apa kamu ingin melakuaknnya sepertinya lagi? Butuh waktu sepuluh tahun untuk itu, apa kamu ingin mengirimnya seperti saya mengirim sepotong senja kepada Alina pacar Sukab?”

Tentu saja aku mengangguk. Aku ingin mengirimkannya, selama apapun itu.

“Baiklah, malam ini saya akan berangkat. Pulanglah ! Mungkin kamu perlu sedikit istirahat.”

Aku mengangguk, bapak tua itu meninggalkan kantor pos. Aku melihatnya mulai menghilang dari ujung jalan ini. Beberapa saat kemudian aku pulang. Lalu menunggu balasan surat itu. Semoga itu menjadi kehilangan terakhir bagiku.


Terima kasih telah membaca cerita pendek imajinasi dan opini remaja. Semoga cerpen diatas bermanfaat dan menghibur. Tetaplah semangat dalam mencapai cita – cita dan optimis dalam menghadapi segala permasalahan. Jadikan semua peristiwa sebagai sumber inspirasi dan motivasi untuk berkarya. Salam sukses selalu.

Dibagikan

Suara Fajar

Penulis :

Artikel terkait