Luka Batin Menjadi Yang Kedua

cerita curhat sedih jadi selingkuhan

Luka batin menjadi yang kedua adalah cerita curhat sedih jadi selingkuhan sudah sekian lama tapi tidak juga mendapat pengakuan padahal sebagai wanita dia sangat mengharapkan cintanya diakui. Cerpen ini merupakan bagian dari kompetisi jumlah jempol, jadi bantu penulis untuk memperoleh sebanyak-banyak jempol dan komentar. Simak kisah konflik cinta berikut :

Cerita Curhat Sedih Jadi Selingkuhan – Luka Batin Menjadi Yang Kedua

Aku tak mengerti harus memulai cerita ini dari mana. Aku sendiri juga tak begitu paham bagaimana cara memulainya. Ku biarkan semua mengalir begitu saja. Tentang hal ini sudah sering kuceritakan kepada Tuhanku setiap malam menjelang tidurku dan sudah sering pula ku diskusikan dengan diriku sendiri tentang siapa yang harus disalahkan.

Ya, ini tentang cinta segitiga antara aku, kamu dan dia. Ini juga tentang luka batinku menjadi yang kedua. Di sini aku benar-benar bimbang. Dan seringkali nuraniku berdebat dengan logikaku tentang hubungan terlarang yang terjadi di antara aku dan kamu. Entahlah, ini salahku, salahmu, atau salah kita berdua. Namun, sudah jelas ini bukan salah “cinta”.

Cinta itu anugerah dari Sang Maha. Dalam hal ini cinta telah ikut campur dengan hubungan tak kasat mata yang sudah kita jalani selama ini. Andai saja dulu kamu tidak menggodaku, mungkin hal ini tak akan pernah terjadi. Dan andai saja dulu aku tidak tergoda olehmu mungkin semua tak akan terlanjur begini. Ah, rasanya aku ingin sekali terlepas dari jeratanmu dan mengakhiri hubungan ini.

“Kau pikir jadi yang kedua enak!” teriakku saat kita sedang bertengkar sore itu.

Entah apa yang membuat kita menjadi sering bertengkar. Rasanya hampir setiap hari kita pertengkaran itu terjadj. Selalu saja ada masalah-masalah kecil yang membuatku menjadi geram ingin memakimu habis-habisan. Bahkan saat kita sedang bertemu atau lewat SMS, lewat chat dan lebih sering lewat sambungan telepon kita berdebat, beradu argumen tentang siapa yang harus disalahkan dan tentang siapa yang menjadi korban.

“Sudahlah, aku malas bertengkar lagi.” Responmu dengan nada bicara sedikit kesal.

Mungkin kamu sudah sangat bosan dengan celotehanku jika sudah mulai membahas tentang hubungan kita dan membahas perihal kepastian.

“Oh, jadi kamu sudah malas padaku ! Baiklah,” teriakku dengan agak terbata-bata menahan cairan hangat yang sudah bersiap-siap jatuh dari kelopak mataku.

Jika sudah begitu keadaannya kamu hanya diam, seolah tidak peduli dengan perasaanku. Entah bagaimana jalan pikiranmu dan apa maumu sebenarnya. Kamu memang menyebalkan, tapi kamu adalah orang yang telah membuatku jatuh cinta dan rasanya sulit untuk ku lepaskan apapun alasannya.

Pada dasarnya aku memang salah, sudah tahu kamu ada yang punya masih saja mau jadi yang kedua. Aku juga sadar bahwa cinta macam ini tak perlu diteruskan karena hanya akan menyakiti di antara keduanya, tetapi aku sendiri tak sanggup untuk berhenti. Setiap hari kamu memarahiku bahkan terlalu sering kamu cemburu padaku ketika ada laki-laki lain yang mencoba mendekatiku.

Itu adalah hal yang paling membuatku muak. Atas dasar apa kamu cemburu padaku, toh saat kamu sedang bersama kekasihmu, aku tak pernah marah padamu. Aku tak akan menunjukan rasa jengkelku ataupun rasa cemburuku padamu, karena aku menyadari untuk sekedar cemburu saja aku salah. Mana mungkin aku cemburu dengan seseorang yang sedang bersama kekasihnya ? Hei, tapi aku ‘kan juga kekasihmu. Apa kamu lupa. Aku perempuan, dia juga perempuan. Apa kamu tak menyadari akan hal itu.

Setiap malam aku termenung di antara tumpukan-tumpukan resah yang semakin menggunung. Terkadang muncul persepsi-persepsi apa diriku hanya pengisi waktu luangmu saja ? Apa hanya penghibur saat kamu merasa jenuh dengan kekasihmu ? Atau hanya sebatas pelampiasan hasratmu saja ? Entahlah !
“Cinta macam apa ini …,” gumamku dalam hati sambil sesekali memakimu.

Akan tetapi sekalipun aku memakimu dengan garang, kurasa itu hanya makian sesaat saja ketika sedang kesal atas sikapmu itu. Pada kenyataannya setiap kali bertatap muka denganmu, aku selalu terbius dalam pelukanmu yang selalu berhasil menenangkanku. Ku akui pelukanmu adalah tempat ternyaman untuk menumpahkan segala sesak di dada.

Di mataku kamu memang lebih menarik dari laki-laki manapun. Padahal penampilanmu biasa saja dengan kulit hitam manis, rambut agak gondrong dan gayamu juga sangat tidak kekinian, tapi kamu sangat memesona. Terkadang aku seperti merasa dinding-dinding bisu itu seolah sedang menertawai kita, ketika kita sedang memadu cinta dan saling melempar rayu. Lebih sialnya lagi, ketika ku lirik diam-diam mereka seolah mencibir hubungan kita ini.

Setiap malam seperti biasanya, kita chat sampai larut malam bahkan terkadang sampai aku ketiduran. Apa saja kita bahas sekalipun hal-hal yang tidak begitu penting, tapi sangat membahagiakan dan menciptakan simpul-simpul senyum setiap memandangi layar ponsel.

Akan tetapi malam itu ada yang sedikit berbeda. Kita bertengkar lagi, ribut lagi entah karena apa yang jelas ujung-ujungnya aku mulai membahas tentang hubungan kita dan tentang kepastian. Aku sebagai yang kedua juga ingin sekali diakui. Ya, diakui sebagai kekasihmu, meskipun kekasih kedua. Menurutku kejujuran itu lebih baik sekalipun menyakitkan, bukan ?

Tetapi kamu bilang, kalau sejatinya kamu masih belum siap kehilangan dia. Dengan dalih kamu masih menjaga perasaannya dan tidak ingin membuat dia sakit hati. Lalu bagaimana dengan perasaanku. Apa kamu juga tak memikirkan itu. Aku bukan wonder woman, aku ini hanyalah wanita biasa yang mudah rapuh hatinya. Asal kamu tahu, jika sudah begini aku seperti di ambang mati. Aku bahkan gamang dengan keadaan seperti ini. Aku pun mulai terdiam. Aku tidak ingin menambah luka hatiku sendiri setelah mengetahui responmu begitu-begitu saja setiap kali ku minta kepastian. Kamu tidak ingin kehilangan keduanya, lantas apa yang kamu inginkan ? Apa masih kurang jika hanya dengan mencintai dia saja. Apa masih perlu berbagi cinta denganku. Jika aku memang berarti buatmu mengapa kamu tidak melakukan apa-apa.

Kamu dulu sering membuatku berandai-andai dengan janji-janjimu yang katanya, “suatu hari nanti kamu akan mengakui keberadaanku di hatimu kepada kekasihmu itu bahwa selama ini kamu sudah berbagi cinta denganku,” itu kan katamu dulu. Namun, setelah aku luluh dan sembuh dari rasa jengkelku, semua berjalan seperti biasanya. Tak pernah sedikitpun kamu menyinggung tentang salah satu janjimu itu. Di benakku sikapmu ini seperti seorang pecundang.

Malam-malam berikutnya menjelang tidur, aku selalu begini. Entahlah, aku menghujani kelopak mataku sendiri.

“Aku ini menangisi apa ?” kataku lirih sambil menahan perih.

Mungkin kalau bantal ini bisa bicara, ia akan melarangku untuk tidak membuatnya semakin basah lagi dan lagi. Setiap malam hatiku menahan luka yang tak berdarah sendirian. Iya, hanya sendirian. Otakku sibuk memikirkan hal-hal yang membuat hatiku semakin meronta seolah tidak terima. Mataku sepertinya sudah mulai lelah ku hujani dengan air mata. Luka ini tak terlihat, tetapi begitu menyayat.

Sekalipun ketika di depanmu terlihat baik-baik saja padahal tanpa kamu tahu di belakangmu diriku sedang berusaha menimbun luka. Setiap kali hampir tuntas menimbun luka-luka itu, gerimis datang lagi dan menjadikannya hujan lebat, tak kunjung reda. Sehingga membuat timbunan itu semakin menganga.

“Ya Tuhan, sampai kapan aku harus terjebak dengan cinta ini, tolong lepaskan aku dari jeratannya,” pintaku setiap hari.

Aku sudah sering meminta kepada Tuhan untuk menghapuskan cinta yang menurutku semu ini, tetapi Tuhan tak kunjung menghapuskannya. Cinta itu kini justru semakin tumbuh di sini; di dekat katup-katup jantungku.

“Ah, takdir mengapa kau bercanda padaku ? Apa kau tidak salah telah mempertemukan aku dengannya dan akhirnya menjadikan aku yang kedua baginya,” ledekku sambil menertawai diriku sendiri.

Yang dapat kulakukan setiap usai pertengkaran kita adalah memupus batinku sendiri agar tak semakin terluka.

“Ini hanya soal waktu. Iya, andai saja aku yang bertemu dengannya lebih dulu. Bukan kekasihnya itu.” gumamku sambil menyeka bulir-bulir hujan yang berjatuhan dari kelopak mataku.

-Tamat-


Terima kasih telah membaca cerita curhat sedih jadi selingkuhan. Semoga cerpen selingkuh diatas dapat menghibur dan memberi manfaat bagi sobat muda Bisfren sekalian. Tetaplah optimis dan semangat dalam menjalani hidup. Jadikan semua peristiwa sebagai pemicu motivasi dan inspirasi untuk berkarya dan meraih cita-cita. Salam sukses selalu.

Dibagikan

Artikel terkait