Maaf Aku Sayang Kamu

cerita cinta remaja maaf aku sayang kamu

Maaf aku sayang kamu adalah cerita cinta remaja tentang seorang wanita yang mencintai lelaki yang sudah terikat oleh wanita lain. Bagaimana akhir cerita cinta remaja ini ? silahkan simak pada cerpen berikut.

Cerita Cinta Remaja – Maaf Aku Sayang Kamu

Seraut senyum itu masih saja mengusik hari-hariku. Masih menggodaku dengan kenangan-kenangan indah yang memang masih sulit untuk kulupakan. Kenangan itu sudah terlalu dalam terendap di dasar hatiku. Berharap masih bisa bersamanya adalah hal yang mustahil bagiku. Mungkin untuk sekedar menanyakan kabarnya pun tak mungkin bisa kulakukan. Satu yang selalu menjadi harapanku, semoga dia tidak menyimpan sebuah kebencian padaku.

” Ada yang lagi galau sepertinya? ” Godaan Adel membuatku tersadar dari lamunanku. Adel salah satu karyawan kepercayaanku, juga sahabat terbaikku, satu-satunya sahabat tempatku berbagi saat aku butuh sebuah sandaran. Aku hanya memalingkan wajahku ke arahnya dengan sedikit senyum. Lalu kembali asyik menatap ke arah luar cafe, berharap ada seseorang yang datang.

” Maaf mb Nuna hapenya bunyi itu. ” Senggolan Erni salah satu karyawanku di cafe ini lagi-lagi membuatku terbangun dari lamunanku.

” Makanya jangan ngelamun aja Na, gengsinya dibuang ke laut dulu. Ambil hapenya lalu telfon bilang kalau kamu sayang sama dia.” Lagi-lagi Adel menggodaku dan kali ini berhasil membuatku malu karena ditertawakan semua karyawan-karywanku dan penggunjung cafe yang kebetulan duduk dekat denganku.

” Ih kamu ya Del, tolong gantiin dulu nih. Aku mau terima telfon sebentar. ” Aku keluar dari belakang meja kasir lalu pergi ke luar cafe. Ku lihat dilayar hape masih ada panggilan dari Artha. Artha sahabat Arvian cowok yang belakangan ini mampu mengusik hari-hariku. Aku mengenal mereka ketika mereka berkunjung ke cafeku. Dan jadi pelanggan setiaku sampai saat ini.

” Hai Na, lagi sibuk ya? lama banget angkatnya. ” Suara Artha diujung sana langsung menyemprotku ketika kuangkat telfonnya.

” Heeem nggak juga, ada apa ? tumben telfon.”

” Nggak ada apa-apa, ntar malem sibuk nggak? nonton yuk? ”

” Heeemm gimana yah? aku udah ada janji sebenarnya mas? maaf yaa? ” Jawabku mencari alasan.

” Serius, padahal aku udah beli tiket 5 nih.” Suara Artha terdengar sedikit kecewa.

” Rame-rame pasti seru Na, ada Dinda,Arvian,Mario juga , pasti rame Na.” Kudengar Artha menyebut nama Arvian, tanpa pikir lagi aku mengiyakan ajakan Artha yang sempat ku tolak tadi.

” Hmmm… iya deh aku ikut, ntar ketemuan di sana aja yah?” Jawabku dengan semangat. Langsung kumatikan telfonku sebelum Artha sempat menjawab apa-apa. Biarlah Artha berfikir aku aneh, saat ini aku hanya ingin bertemu Arvian. Dengan wajah kembali sumringah aku masuk ke dalam cafe untuk mengambil tasku.

” Del, titip cafe yah? aku mau pergi dulu. ” Kataku sambil meraih tas di samping Adel. Kulihat Adel tersenyum-senyum sambil menatapku.

” Kenapa kamu Del?” Tanyaku sedikit heran.

” Ada yang lagi seneng kelihatannya hehehe” Adel kembali menggodaku.

” Kamu sok tau Del. Dah ya pergi dulu, daaaah” Pamitku lalu pergi meninggalkan cafe.

Sudah dari 15 menit yang lalu aku berdiri disini didepan pintu bioskop. Sesekali kuarahkan pandanganku untuk mencari-cari sosok yang ku tunggu-tunggu. Kuambil hape dalam tasku, baru saja ingin ku ketikan sebuah bbm pada Artha, dari jauh kulihat dia sudah tersenyum dengan melambaikan tangan ke arahku. Diikuti mas Mario dan mb Dinda dibelakangnya, tapi sosok yang kunantikan tak bersama mereka. Pikiranku mulai sedikit kacau, kecewa mungkin tapi bisa saja mas Arvian masih dibelakang.

” Udah lama na? maaf tadi nunggu Arvian lama banget.” Jelas Artha sebelum aku sempat bertanya.

” Tuh Arvian ” Mario menunjuk kearah Arvian muncul. Tapi Arvian tak sendiri, ada sosok cewek manis dibalut kerudung hijau muda membuatnya semakin terlihat cantik. Siapa wanita yang bersama Arvian, aku belum pernah melihatnya.

” Sorry ya telat nunggu Citra tadi.Kamu ikut Na, Artha berhasil bujukin kamu ya, asiiik-assiik. ” Aku hanya mampu tersenyum mendengar Arvian menggodaku. Meski sebenarnya aku tak ingin dia berkata begitu.

” Udah mau dimulai tuh, masuk yuk?” Ajak Mario. Aku hanya mengikuti mereka paling belakang. Hatiku semakin tak enak, melihat Arvian menggandeng tangan Citra. “Ya Allah kuatkan aku” doaku dalam hati sembari mengela nafas dalam. Aku dapat tempat duduk di tengah untung saja Citra yang duduk disampingku buka Arvian. Tapi tiba-tiba Citra meminta Arvian untuk pindah ke sampingku.

” Sorry ya Citra sukanya duduk dipinggir ” Tiba-tiba Arvian berbisik ke telingaku. Aku hanya bisa tersenyum kecil lalu kembali menatap layar didepanku. Sesekali kuarahkan pandanganku kearah Arvian dan Citra. Melihat mereka dalam jarak sedekat ini membuatku semakin tak bisa berlama-lama di sini. Aku ingin pulang duluan tapi bagaimana caraku bicara ke mereka. Tiba-tiba dalam kegelisahanku, kurasakan tangan Arvian menggenggamku. Aku semakin bingung tak tau harus bagaimana lagi. Aku ingin melepaskan genggamanya tapi terlalu kuat. Akhirnya kubiarkan saja hingga kami pulang.

Siang ini cuacanya begitu panas, cafe juga tak terlalu ramai jadi kuputuskan untuk melanjutkan menulis novelku yang tertunda semalam. Hampir 15 menit aku terhanyut dalam ceritaku hingga tak kusadari meja di sudut kanan cafe sudah ada Artha, Arvian dan 3 temannya. Aku tersenyum ke arah mereka lalu kembali asyik dengan tulisanku. “ting ting” hapeku berbunyi sebuah bbm masuk dari mas Artha. ” Sibuk aja, ada pelangganya cakep datang kok nggak disambut. hehehe” Aku hanya tersenyum tanpa membalas bbmnya. Aku kembali asyik menatap layar laptop didepanku. “ting ting” hapeku kembali berbunyi. Sebuah pesan bbm dari Arvian. ” Maaf ya ay, baru bisa bbm kamu sekarang. ” Aku kembali tersenyum dan mengetikan sebuah pesan balasan ” Gpp aku ngerti kok.” Aku kembali tersenyum dan menatap ke arahnya. Semua kembali mengalir, seperti sebelumnya. Aku dan mas Arvian masih terus berkomunikasi meski jarang bertemu.

3 bulan belakangan ini hubunganku dengan Arvian semakin dekat. Meski tak pernah bertemu cukup lewat sebuah pesan singkat bbm mampu semakin mendekatkan kami. Aku juga dekat dengan semua teman-temanya ,Artha, Nanda dan Mario. Tapi aku lebih sering cerita ke Artha sekarang, sekedar basa basi menanyakan Arvian tapi tak sampai membuat Artha curiga padaku. Semuanya mengalir begitu saja tanpa mampu ku cegah. Apa yang tak kuharapkan pun terjadi. Perasaanku kepada mas Arvian semakin dalam. Semua terjadi begitu cepat, tak pernah ada kata cinta diantara aku dan Arvian. Tapi kami saling memanggil sayang. Setiap ku tanya Arvian selalu bilang sayang padaku, yah aku tak peduli meski Arvian tak punya perasaan yang sama padaku. Aku bisa mersakan ketika dia menatapku. Ada something spesial di kedua matanya. Aku tak tahu itu apa tapi aku yakin itu yang membuatku semakin menyanyanginya.

Malam ini mas Arvian menelfonku, banyak yang kami ceritakan padaku. Saat pertama kali bertemu di cafe hingga akhirnya sampai seperti sekarang.

“Na, aku pertama ketemu kamu langsung suka.” Katanya padaku.

”Mulai gombalkan. hehehe”

“Na…aku takut sebenarnya, takut tambah sayang kamu.” Kata arvian dengan nada agak pelan.

“Emangnya mas beneran sayang sama aku? sayang sama suka itu beda mas” Tanyaku sedikit manja.

“Aku suka dan sayang sama kamu dan sekarang tambah sayang.”

“Bohong lagi pasti” Godaku dengan sedikit tawa.

“Bener ay?” katanya meyakinkan aku lagi.

“Mas, biarkan semua berjalan apa adanya. Sebenarnya aku tak peduli mas. Biarlah menjadi urusanku, aku sayang kamu, dan dengan mas mau sayang aku ataupun tidak itu mejadi urusan mas.” Kataku lebih serius. Setelah cukup lama akhirnya telfon kumatikan karena aku harus tidur, besok ada kuliah pagi.

Sudah 3 hari tak ada kabar dari Arvian. Rasanya ada yang hilang tak ada yang menanyakan kabarku. 3 hari ini hanya Artha yang selalu mengirimkan pesan bbm untukku. Aku mencoba berbasa basi untuk mencari tahu kemana Arvian, tapi tak ada jawaban yang memuaskan yang kudapat. Aku tak berani lebih dalam bertanya. Aku takut Artha tahu tentang hubunganku dan Arvian.

“Del, nanti kalau mas Vian ke sini suruh tunggu aku ya? aku ada perlu sebentar.” Pesanku pada Adel. Kulihat Adel hanya tersenyum dan mengacungkan 2 jempolnya.

Aku bergegas keluar menuju mobilku. Artha memintaku menemuinya di taman dekat cafeku. Tak biasanya Artha begini katanya ada hal penting yang harus dikatakan padaku. Mungkin saja tentang Arvian. Aku makin tak sabar lagi.

Kulihat Artha sudah duduk di bangku panjang dibawah sebuah pohon.

“Sudah lama mas? maaf tadi cafe agak rame” Jelasku pada Artha.

“Nggak aku juga baru datang” Katanya dengan senyumnya yang khas selalu membuatku tertawa.

“Ada apa mas ? sepertinya ada yg penting?” Tanyaku penasaran. Kulirik Artha hanya terdiam, sepertinya dia ragu.

“mas ?” Aku kembali menatapnya kali ini lebih serius.

“Aku bingung mau mulai dari mana Nuna. Tapi aku cuma mau bilang aku suka kamu. Aku sayang sama kamu, dan aku peduli sama kamu.” Kata-kata Artha serasa menusuk hatiku. Aku tak siap dengan keadaan ini aku juga tak pernah membayangkan sebelumnya akan seperti ini.

“Na, mau kamu jadi pacarku?” Kata-kata yang tak pernah kufikirkan jawabanya. Aku hanya terdiam , mencoba mencari alasan yang tepat untuk menjelaskan perasaanku. Artha terlalu baik buatku, aku sayang sama dia tapi aku tak bisa jadi pacarnya. Hatiku memang kosong tapi dulu sebelum Arvian masuk ke dalam hidupku.

“Mas maaf ya sebelumnya. Aku nggak bisa mas, aku sayang sama mas Artha tapi tak lebih dari rasa sayang seorang adik kepada kakaknya. Maaf mas” Kataku pelan dan berhati-hati takut akan melukai Artha. Meski aku tahu seperti ini sudah menyakitinya.

“Tak apa Nunaaa.” Artha tersenyum padaku sembari mengacak acak rambutku. Aku tahu di balik senyumnya ada kecewa yang ia coba tutupi. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa, ini bukan keinginanku tapi perasaanku. “ting ting” Hapeku tiba-tiba berdering. Bbm dari Arvian. ” Aku tunggu di cafe sekarang” Aku tersenyum dan kembali memasukan hape ke dalam tasku.

“Mas, aku pulang dulu ya. Ada yang menungguku di cafe.”

“Iya hati-hati ya, maaf Na.” Kupandang Artha dengan senyum termanisku sebelum aku pergi. ” Maaf mas aku sayang sama mas Vian.”bisikku dalam hati.

Kulihat Arvian sudah duduk di kursi paling belakang. Tangannya terus memainkan hape yang dipegangnya.

“Mas, udah dari tadi ya?” Tanyaku basa basi untuk menutupi kegugupanku.

“Dari mana kamu?” tanyanya sedikit sinis.

“Mas ada apa? kok mas beda sekarang. Cuek sama aku.” Kutatap kedua mata Arvian,terlihat jelas kemarahan didalamnya.

“Kenapa kamu bohong Na? katanya kamu nggak pernah ketemu Artha. Ngapain tadi di taman berduaan?”

“Mas, aku nggak bohong aku bisa jelasin. Mass kenapa sih ? 3 hari nggak ada kabar sekali saja, sekarang marah-marah dengan alasan yang nggak jelas.”

“Na, aku lihat sendiri. Kamu bohong sama aku. Katanya kamu sayang sama aku. Mana?”Arvian terlihat begitu marah padaku.

“Mas kalau udah nggak sayang nggak perlu seperti ini. Aku sadar siapa aku, aku bukan siapa-siapa di hati kamu. Aku tahu hanya Citra yang ada di hati kamu. Mas boleh anggap aku bohong tapi tentang perasan ini aku tak pernah bohong mas. Aku tak peduli mas mau percaya atau nggak itu urusan mas yang jelas aku sayang sama kamu.” Aku tak dapat menahan kesedihanku. Aku pergi meninggalkan Arvian, aku ingin segera pulang. Aku sangat sakit Arvian seperti itu.

Jam di kamarku sudah hampir menunjukan angka 10 malam. Arvian sama sekali tak menghubungiku. Jangankan telfon, untuk sekedar bbm aja tak ada. Aku putuskan untuk mengubungi dia lebih dulu. Tapi tak pernah diangkat, akhirnya kutuliskan sebuah bbm untuknya. ” Mas maaf ya? kalau mas merasa aku bohongi tapi tentang perasaanku aku jujur aku sayang sama kamu. ” Aku berharap Arvian akan membaca dan membalasnya. Lama aku menunggu tak ada balasan juga. Aku massih bersabar tapi akhirnya aku menyerah juga. Sudah lebih dari 10 pesanku tak ada yang dibalasnya.Kuputuskan untuk tak lagi menghubunginya tapi aku masih berharap. Kucoba sekali lagi untuk mengirimkan pesan bbm untuknya,” Mas bener nggak mau maafin aku ya? aku menyerah mas. Maaf sudah pernah mengganggu hidup mas. Makasih buat semuanya. ” Aku mencoba menahan agar air mataku tak jatuh. Ini resiko yang harus aku ambil, aku harusnya sadar dari dulu Arvian tak pernah dengan tulus menyayangiku. Aku tahu di hatinya cuma ada Citra,meski pernah ada sayang untuku tak lebih dari sayang yang ia punya untuk Citra. “ting ting” hapeku akhirnya berbunyi aku sangat berharap Arvian membalas pesanku.

“Na, maaf jangan hubungi aku lagi. Maaf aku lagi banyak masalah. Aku mau memafkan kamu”. Rasanya ada sebuah benda tajam yang merobek hatiku. Aku kembali membalas pesan Arvian ” Makasih mas udah mau maafin aku. Aku janji nggak akan hubungi mas lagi. Makasih buat semuanya,maaf aku sudah pernah menjadi penggangu di hati mas, love you.” Kini aku tak dapat menahan derasnya air mata yang keluar dari kedua mataku. Aku terhanyut dalam kesedihanku. Kisah ini begitu singkat, tapi kenangan itu sudah terlanjut terukir di hatiku. Aku harus kuat, aku pasti bisa. Dengan begitu berat aku hapus kontak Arvian dari hapeku. Aku akan selalu berdoa buat kebahagianmu mas Vian. Biarlah kisah singkat ini hanya kita yang tau. Menjadi cerita yang tak indah namun terlalu manis untuk dilupakan.


Terima kasih telah membaca cerita cinta remaja “Maaf Aku Sayang Kamu” karya Nurma Ajah. Semoga cerpen cinta diatas dapat menghibur pemirsa. Salam sukses.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait