Maafkan Aku Fani Bagian 2

cerita cinta keluarga pendek maafkan aku fani

Maafkan aku Fani bagian 2, lanjutan “cerita cinta keluarga” bagian pertama, tentang rasa cinta segitiga antara Fani – Mika – Jian. Takdir memang tak bisa ditolak, tapi pilihan menentukan seperti apa jalan cerita hidup selanjutnya. Apabila anda belum membaca bagian pertama ceritanya, silahkan klik disini.

Cerita cinta keluarga Maafkan Aku Fani

“Saat mengenal Amanda diriku tidak pernah tahu kalau dirinya mengidap penyakit jantung bawaan. Awal pacaran dengannya hanya iseng doang. Tapi tak menyangka kalau akhirnya Amanda bisa sangat mencintaiku. Kamu tahukan siapa diriku juga bagaimana sikapku, pacaran dengan Amanda cuma cinta monyet masa SMA. Saat kamu dekat dengan Jian, baru kusadari kalau hatiku ternyata menyukaimu. Tapi semua sudah terlambat bagiku, diriku mengetahui penyakit Amanda, tidak bisa meninggalkannya.”

“Aku tahu Fan” selaku lirih.

“Kamu tahu Mika, sejak kapan ?”.

Bibirku tertawa kecil “Waktu kamu menyelinap masu kamarku malam itu”.

“Jadi kamu tidak tidur yah waktu itu, kamu pura-pura tidur yah ?”.

“Hehehe…. tidak ingin menghapus momen indah itu Fan lagian tidak ingin membuatmu malu.”.

“Ah Mika… kenapa ? padahal saat itu kamu bisa bangun dan…”.

“Iya Fan…semua bisa saja terjadi malam itu, bisa saja bangun lalu mengatakan hal sama padamu. Tapi seperti katamu apapun terjadi pada malam itu takkan mengubah segalanya karena kamu sudah mengetahui penyakit Amanda kan ?”

Kita tetap berteman

Desah nafas Fani terdengar berhembus keras “yah.. kenyataannya sekarang kita dipertemukan dalam situasi berbeda, tak menyangka jika akhirnya kamu bisa mewujudkan cita-citamu menjadi dokter ahli bedah, ahli bedah jantung lagi. Bangga rasanya pernah jadi temanmu Mika”

“Sekarangpun kita akan selalu jadi teman Fan…” ucapku tersenyum. Fani hanya bisa menganguk. Yah kenyataan diluar kita harapkan Fan. Kau kini sudah menikah sementara diriku masih saja berharap kau datang menemuiku dengan cinta nyatamu. Tapi kenyataan dihadapanku sekarang ternyata jauh dari harapan.

“Untuk sekarang kondisi Amanda sudah stabil. Tapi tak bisa menjamin berapa lama dia bisa bertahan dengan alat itu Fan. Sebagai dokter kusarankan untuk tetap mengawasinya juga tetap memberikan obat-obatan sesuai anjuran dokter. Kau sudah tahukan ? bagaimana menghindarkannya penyebab jantung berpacu cepat ? sebisa mungkin tidak boleh stres dan shock….” ucapku.

Tawa kecilnya terdengar lagi, “Hampir 17 tahun bersamanya Mika, jelas tahu sekali apa harus kulakukan. Terimakasih yah atas saranmu”

“Hatiku salut padamu Fan, kamu laki laki hebat mau berkorban untuk orang kau sayangi”.

Diriku masih sendiri, tapi harapanku sudah berakhir

“Ha ha ha… diriku juga salut padamu Mika. Kamu wanita hebat bisa mewujudkan cita-citamu, lihatlah sekarang dirimu terlihat sangat menakjubkan”

“Simpan pujianmu Fan, diriku tidaklah seperti itu. Hal yang jauh lebih berharga dari pekerjaanku adalah bagaimana bisa menolong seseorang termasuk istrimu. Sekarang kuanjurkan kau istirahat dulu. Baru besok pagi bisa menemui istrimu. Aku pulang dulu yah, karena sudah melewatkan acara makan malam keluarga”

“Oh iya, terimakasih Mika, sampaikan salamku pada keluargamu. Pasti anakmu dah gede sekarang yah ?”

“Acara makan malam bersama papa mama Fan, diriku belum menikah. Udah dulu ya” kataku sambil melangkah pergi meninggalkan tatatap Fani penuh tanda tanya. Sorot mata terpancar lewat tatapannya tidak bisa kuartikan. Diriku masih sendiri, masih menantimu Fani. Tapi kenyataan di hadapanku tak bisa kuhindari. Baru saja baru kusadari kalau semua penantianku tentang cinta nyata darimu sudah berakhir. Setitik harap dihatiku kini musnah.

Rutinitas pagi

Jam sembilan pagi sudah berada di rumah sakit. Bersama beberapa dokter muda kami mulai memeriksa pasien operasi jantung satu demi satu. Sambil memberi masukan dan pengarahan untuk dokter-dokter muda. Satu demi satu pasien kuperiksa sampai tiba saatnya memeriksa Amanda. Saat melihatku dia tersenyum getir.

“Bagaimana keadaannya ibu Amanda, apakah ada keluhan ?” tanyaku formal di depan dokter lain memeriksa nadi Amanda. Sedangkan Fani disampingnya hanya diam.

“Saya sudah merasa lebih baik Dokter Mika” ucap Amanda pelan.

Kucoba tersenyum, “Kamu harus kuat, berusaha untuk sembuh agar bisa pulang”

“Kalau ada waktu bisakah bicara berdua Dok ?” permintaan Amanda membuatku menatap suaminya, ia menganguk setuju.

“Baiklah, saya akan kembali kesini kalau sudah selesai memeriksa pasien”

“Mohon ya dok” pinta Amanda dengan nada penuh permohonan. Kepalaku menganguk pelan lalu kembali beranjak menuju pasien lain. Rasanya lucu mendengar Amanda memanggilku Dokter. Kami sudah terbiasa memanggil nama sejak SMA. Dalam hatiku merasa sangat bersalah pernah membencinya. Kalau saja waktu itu kutahu dirinya mengidap penyakit jantung bawaan, mungkin sudah lama Fani kurelakan.

Pengakuan Amanda

Setelah menyelesaikan semua rutinitas pagi, diriku kembali ke ruang Amanda. Saat melihatku datang, suaminya meninggalkanku bersama istrinya. Kududuk disampingnya menatap dengan tatapan menenangkan. Sebagai dokter tidak boleh melemahkan hati pasien. Amanda mencoba tersenyum, selang oksigen, beberapa kabel monitor jantung, serta beberapa mesin penunjang masih melekat ditubuhnya.

“Lucu yah melihatku begini” desisnya lirih. Kepalaku menggeleng.

“Tidak ada yang lucu Amanda”

“Diriku memiliki segalanya. Tapi ternyata harus selalu berhubungan dengan rumah sakit. Bahkan mungkin mereka sudah bosan melihatku masuk keluar rumah sakit. Hatiku sudah terlalu letih Mika. Rasanya sudah tak sanggup lagi menghadapi semuanya.”

“Kamu tidak boleh putus asa, kamu masih memiliki suami, keluargamu”

Amanda terbatuk tapi cepat-cepat dia menenangkan diri dan kembali tersenyum “Jujur Mika, sangat bahagia bisa bersama dengannya. Dia adalah cinta pertamaku dan tak bisa kumerelakannya dengan siapapun termasuk kamu meski jelas-jelas sangat dicintainya. Diriku begitu egois dengan mengikatnya secara sepihak dengan penyakitku.”

“Jangan berkata begitu Amanda, suamimu sangat mencintaimu”

“Ia tidak pernah mencintaiku Mika, diriku sudah tahu sejak awal. Tapi cinta serta keegoisanku membuatku ingin memilikinya, ingin bersamanya. Hatiku mencintainya meski membuatnya menderita. Seharusnya tidak seperti itu. Seharusnya kubiarkan ia memilih, bukannya mengikat dengan penyakitku. Tapi dia tidak pernah marah ataupun menyesali keputusannya. Tetap bersamaku bahkan menikahiku walau tidak mencintaiku.”

Dia sudah lelah, putus harapan

Aku terguguh, Ah haruskah kasihan atau marah padamu ? tapi takdir dan perjalanan hidup seseorang bukanlah kita mengatur. Jika akhirnya kehidupan harus begini, siapakah harus disalahkan ?. Menyalahkan Tuhan ! tentu tidak.

Sebagai manusia cuma bisa menjalani hidup sebagaimana disodorkan Tuhan, menerima takdir sudah ditentukan. Setiap manusia tidak akan pernah tahu jalan hidup akan dijalani. Karena kita tidak pernah berhak atas kehidupan. Tuhanlah lebih berhak.

“Diriku hanya ingin membalas semua kebaikan Fani. Ingin memberinya cinta yang diinginkan. Hidupku sudah tidak akan lama lagi. Kurasa jantungku tidak akan bertahan lama lagi. Mohon maafkan diriku Mika, maafkan telah membuatmu terluka”

Kugenggam tangan Amanda “tidak Amanda, jangan pernah menyalahkan dirimu karena merasa cinta. Kau berhak dengan cinta milikmu. Tidak ada siapapun bisa menghalangi perasaan seseorang. Jika akhirnya perasaanmu terbalas dengan cara berbeda kau harus mensyukuri hal itu,” jawabku seakan memahami perasaan Amanda.

Kok Amanda tahu diriku belum nikah ?

“Yah ku tahu Mika, karena itu ku ingin kau berjanji padaku jika diriku sudah tidak ada nanti maukah kah menerima Fani dalam hatimu lagi. Kau masih mencintainyakan ? Kau tidak bisa membohongiku”

“Keadaan dan situasi kita sudah berbeda Amanda, sekarang jangan bicarakan hal itu lagi yah. Berusahalah untuk sembuh, kalau tidak, sebagai dokter diriku akan merasa gagal. Lagipula sebagai teman sangat kecewa melihatmu begini. Cintanya hanya untukmu Amanda. Ada ataupun tiada dirimu disampingnya. Jangan buat pengorbanannya sia-sia, bertahanlah”

“Aku sudah lelah Mika, akupun sudah merasa bahagia karena Fani selalu ada disampingku. Sudah 17 Tahun Mika, berikan kesempatan untuk membuatnya bahagia”

“Bertahan hidup juga berusaha sembuh itu paling membahagiakan buatnya Amanda”.

“Diriku tidak bisa sembuh, jangan membohongiku Mika.”

Aku diam. Penyakit jantung bawaan ataupun penyakit jantung lainnya sangat sulit untuk sembuh total. Kalaupun bisa mungkin karena keajaiban. Tapi dalam profesiku, jarang terjadi penderita penyakit jantung bawaan bisa sembuh total. Semua hanya membuat pasien bertahan hidup dengan berbagai operasi rumit. Mereka bisa hidup normal tapi harus benar benar terkontrol kesehatan jantungnya.

Ada banyak jenis penyakit jantung, mungkin sekitar 50 jenis penyakit jantung. Tapi paling banyak terjadi adalah gagal jantung, jantung koroner, aritmia gangguan irama atau detak jantung, dan heart valve disease. Masalah pada katup jantung itu diderita Amanda. Jalan satu-satunya untuk pengobatan adalah melalui operasi.

Aku malas membicarakan hal seperti ini, meskipun hatiku cinta, Fani bukan yang dulu lagi

“Istirahat dulu yah, kamu belum boleh banyak bergerak dan bicara,”

“Mika aku mohon…”

“Kita bicara lagi nanti kalau kamu sudah sehat ya” selaku. Amanda diam, mulutnya ingin protes tapi ku gelengkan kepala melarangnya banyak bicara. Sedikit berbasa-basi menghibur dan menguatkan hatinya lalu pamit.

Di pintu masuk bertemu dengan suaminya, dia menatapku penuh penyesalan.

“Apa katakannya Mik ?” tanyanya.

“Tidak ada, cuma mengatakan kalau dirinya sangat mencintaimu serta takut kehilanganmu, hal wajar jika seorang istri mengkuatirkan suaminya” ujarku.

“Dia tidak bicara aneh-anek kan ? soalnya belakangan dia sangat berubah”

Kugelengkan kepala. “Tidak ada. Kamu harus selalu ada disampingnya. Harus selalu menguatkan hatinya agar jangan putus harapan. Itu arti hubungan suami istri, saling menguatkan.”

“Aku tahu Mika…”

“Kalau begitu aku pergi dulu ya, kalau ada apa apa hubungi aku. Setiap 2 jam akan ada perawat mengontrol, siang nanti aku kembali” kutepuk bahunya lalu melangkah pergi. Aku melangkah cepat. Masih tak sanggup menatapnya dan menentang tatapan penuh harap padaku. Lagipula diriku tak bisa pura-pura bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi disana ada istrimu sedang berusaha hidup. Dirinya begitu mencintaimu. Dan kesabaranmu menemaninya sangat menakjubkan meski jauh dalam hatimu tidak mencintainya. Ah Fani, aku mendesah berat dalam hati.

Aku baru saja mau menikmati makan siangku dikantin RS ketika ponselku berbunyi. Dokter Gerry teman sejawatku menelponku.

“Ya”

“Dokter Mika pasien ruang 3 …”

Kalimat Dokter Gerry belum selesai ketika ponsel langsung kututup lalu beranjak berlari cepat menuju ruang 3. Itu ruang Amanda. Tidak, tidak boleh terjadi apa-apa dengannya, operasinya berjalan baik semalam, semua dalam keadaan terkontrol. Tiba disana Dokter Gerry serta beberapa perawat sibuk menangani Amanda. Mengetahui aku datang mereka langsung menepi. Kuperiksa semua alat-alat bantunya, tapi monitor jantung sudah menunjukkan garis datar, “Sudah berapa lama ?”

Selamat jalan Amanda

“Satu menit”

Aku masih berusaha dan terus berusaha menyelamatkannya tapi sepertinya Amanda sudah menyerah.

“Dokter sudahlah” Dokter Gerry menahan tanganku.

“Tidak, Amanda kumohon, hiduplah” terus kucoba menekan dadanya sambil berharap jarum monitor jantung berubah.

“Dokter, dok..” kali ini Dokter Gerry dengan keras menahanku. Aku terguguh, tak mampu menahan tangisku. Tak bisa kuterima kenyataan kalau Amanda meninggal. Dirinya begitu kuat setelah sekian lama mengidap kelainan jantung. Seharusnya masih bisa bertahan. Semua upayaku mengoperasinya, tidak ada salah, semua berjalan baik. Tapi mengapa ? mengapa ?

“Maafkan, maafkan aku Amanda”

Seperti tahu pasien masih berkaitan denganku, satu persatu perawat serta dokter meninggalkanku. Seolah–olah memberiku kesempatan dengan kesedihanku. Dengan airmata tak berhenti menetes. Yah sebagai seorang dokter hal demikian sudah biasa kualami. Tapi tidak menyangka jika akhirnya Amanda bisa meninggal.

Menatap wajah Amanda terakhir kalinya, tampaknya seperti sedang tersenyum lega. Senyum bahagia terbebas dari penderitaannya. Seorang perawat masuk lalu mulai menanggalkan selang diseluruh tubuh Amanda. Sementara di luar sana suaminya hanya bisa berdiri menatapku pilu. Susah payah kuhapus airmata dan mencoba untuk tidak menangis didepannya.

Fani cukup tegar

“Maafkan Fan, kami sudah berusaha, maafkan aku” bergetar suaraku.

Fani hanya menggeleng “Tidak Mika, bukan salahmu. Inilah kehendak Tuhan. Amanda sudah cukup tersiksa. Kini dia bahagia, dia bahagia. Di akhir hidupnya bisa bertemu denganmu bahkan kamu juga mengoperasinya. Tahukah kamu Mika, selama bertahun-tahun ini Amanda ingin sekali bertemu denganmu, tapi selalu kuhalangi. Namun sepertinya takdir berkata lain, kami bertemu denganmu secara begini” ujarnya lirih.

“seharusnya aku mengawasinya sendiri, seharusnya,”

“Sstttt… sudahlah. Jangan pernah menyalahkan dirimu. Kamu dokter baik, tidak pernah kumeragukanmu Mika,” ada sentuhan lembut di pipiku. Fani melangkah masuk kedalam ruangan sementara diriku terdiam menatapnya penuh ketegaran. Kesabarannya sebagai seorang suami mencium istrinya berulang kali untuk terakhir kalinya.

Kalaupun cinta nya hanya untukku seperti kata Amanda, adalah keliru. Fani sudah mencintainya dengan caranya sendiri. Dalam pernikahan sekian lama, dengan rasa saling memiliki begitu erat. Seharusnya Amanda tahu, suaminya tidak akan pernah meninggalkannya. Dan sekarang, orang paling menderita serta merasa kehilangan adalah suaminya, yang dengan setia menemani hingga diakhir hayatnya.

Secara tidak langsung dengan meninggalnya Amanda membuatku tidak puas dengan hasil kerjaku. Walaupun kematian bisa terjadi pada pasien penderita penyakit jantung bawaan. Tapi kenapa harus kepada Amanda ? Istri dari Fani, laki-laki yang masih sangat kucintai. Lalu mengapa kami harus dipertemukan dengan cara begini ?. Apa dengan meninggalnya Amanda bisa membuat diriku dan Fani bersama ? tidak, tidak, sesederhana begitu. Cinta bukan begitu, tak seegois itu.

Ada dokter terkenal akan datang

“Benar lho dok, katanya dalam satu dua hari dokter Gino akan datang, dia akan memberikan sedikit materi tentang bedah saraf pada klinik saraf kita”. Begitu kata perawat Anni si cerewet. Aku tersenyum. “Memangnya sudah pernah melihatnya An ?”

“Bukan pernah lagi dok, saya pernah di ruang operasi sama-sama dengan dokter Gino”

Kupicingkan mataku penasaran “memangnya dokter Gino benar-benar tampan yah ?”

“Iya dokter sumpah deh, bayangin deh udah tampan, bujangan, terkenal, salah satu ahli bedah saraf terbaik negeri ini. Ada websitenya dok, di internet ada, di fb juga ada profilnya dok”.

Aku tertawa melihat perawat Anni berbicara berapi-api. Malas menanggapi ocehan perawat Anni, karena di rumah sakit ini gosip apapun dia pasti tahu. Tapi senang juga melihat dia bicara karena akan terlihat dan terdengar lucu dengan lafal huruf R nya tidak jelas.

Tiga tahun terakhir memang nama Gino A. Tian sedang membooming. Katanya dia merupakan salah satu dokter bedah saraf terbaik di negeri ini. Masih muda, bujangan, dan sudah sukses dibidangnya. Bukan hanya itulah saja pembuatnya terkenal, tapi penemuannya pada bidang teknologi baru operasi bedah saraf otak melalui hidung. Bahkan Gino bersama timnya sudah menangani penderita dari berbagai negara yang mempercayainya sebagai ahli bedah saraf otak terkemuka.

Dokter Gino juga menjadi konsultan berbagai rumah sakit dan organisasi bedah saraf. Yah sekejab saja, jika mendengar semua, wanita mana tidak akan tergiur. Tapi tidak denganku, sama sekali diriku tak tertarik dengan objek manusianya. Hanya tertarik dengan bidang ilmunya. Jika suatu saat nanti bisa bertemu dengannya pasti dengan senang hati bisa berbagi ilmu dengannya.

Kenapa dipanggil direktur ya ?

Asyik berbincang bincang aku dikagetkan dengan bunyi telpon diatas meja. Ternyata dari Dokter Anwar, direktur rumah sakit tempatku bekerja. Beliau memintaku untuk ke ruangannya karena ada hal harus dia bicarakan. Hmmm… ada apa yah ? Perasaan selama ini tidak ada masalah serta hal penting untuk seorang direktur bicarakan denganku. Kalau berkaitan administrasi, bukan aku harus dicari. Tapi sudahlah, mungkin memang ada hal penting akan dibicarakan Dokter Anwar.

Sebelum masuk, seperti biasa aku mengetuk pintu. Terdengar suara Dokter Anwar mengijinkanku masuk. Saat masuk, agak kaget juga karena ada seseorang sedang duduk membelakangiku. Hmmm… ternyata ada tamu, tapi kenapa Dokter Anwar memanggilku.

Pertemuan mengejutkan

“Mari dokter Mika, kenalkan Ini dokter Gino”. Dokter Anwar memperkenalkan tamunya. Dia langsung berdiri lalu berbalik. Tangan baru saja kuulurlan untuk berjabat, namun diriku terkejut.

“Jian…!!!” seruku keras tak tertahan. Ups ! kudekap mulut reflek melirik Dokter Anwar yang tersenyum geli melihat tingkahku. Sementara Jian, alias dokter Gino, malah tanpa malu-malu langsung mendekapku erat. Tapi adegan pelukan tak berlangsung lama. Segera kulepaskan pelukannya dengan rasa malu terhadap Dokter Anwar. Sinting nih orang, dari dulu gak hilang-hilang juga kegilaannya.

“Tenang saja Mika, Dokter Anwar adalah pamanku, Adik papaku”. Ujar Jian tersenyum. Ya Tuhan, aku sama sekali tidak menyangka kalau Jian adalah si dokter Gino si terkenal. Benar kata perawat Anni, tidak bisa ditampik Jian memang sudah berubah, sangat berubah. Sekarang dirinya begitu tampan juga sangat menarik. Siapapun wanita bila berhadapan dengannya pasti akan lumer seperti es meleleh.

“Saya tinggalkan kalian sebentar yah, ” dokter Anwar beranjak pergi. Mataku melotot kearah Jian. Saat dokter Anwar sudah pergi, cepat kutinju lengan Jiant keras.

“Punya profesi baru jadi atlet tinju ?” goda jiant.

“Sialan kirain dipanggil ada apa, ternyata kamu.”

“Bagaimana kabarmu Mika ?, sudah lama yah”.

“Yah sangat lama, bagaimana denganmu ?”.

Jian mengedikan bahunya. “Beginilah aku, bujangan sukses. Kamu pasti sudah menjadi ibu dari seorang atau dua orang anak”.

“Ha ha… anak ?, nikah saja belum apalagi punya anak” aku tertawa.

“Ahaaa… berarti pamanku mengerjaiku tadi. Waktu bertanya tentangmu karena melihat foto di profil RS paman mengatakan kamu sudah menikah”.

“Kalau memang iya kenapa ?”

“Yah tentu saja patah hati untuk kedua kalinya”

“Jian … jian … kamu ada ada saja”

Bahagianya bisa berjumpa kembali

Tak bisa kupungkiri pertemuanku dengan Gino Arjian Tian membuatku gembira. Yah sama sekali tak kusangka bisa kembali dipertemukan dengannya. Jian juga terlihat sangat senang dengan pertemuan ini. Cerita – cerita mengalir seolah tak ada habisnya. Akupun bisa melihat ada harapan disorot matanya. Tapi takut untuk menduga harapan apa. Takut menjadi terlalu percaya diri.

“Aku ditawari sebagai kepala divisi di Sebuah rumah sakit terkemuka di kota ini. Tak kusangka saat aku datang kesini bisa bertemu denganmu. Dan ternyata lihat dirimu, kamu semakin cantik Mika. Juga seorang dokter bedah jantung handal disini.”

“Wah dibanding denganmu aku kalah jauh Jian, kamu lebih sukses”

“Bagaimana jika kita bertemu lagi nanti, kamu pulang jam berapa ? nanti kujemput”

“sekitar jam 6 sore, kebetulan hari ini jadwal operasiku cuma satu”

“Sip deh kalo begitu…”

Obrolan di kantor ruang Direktur, paman Jian, membuka cakrawala baru dalam relung hatiku. Ah kenapa Jian selalu muncul disaat saat diriku butuh seseorang. Jian selalu datang dengan jenaka, simpatik namun sedikit cuek.

Aku sama sekali tak menyangka jika dia juga berkeinginan jadi dokter. Sejak dulu selalu menanyakan apa cita-citaku, selalu kukatakan ingin jadi dokter bedah. Sebaliknya saat kutanya, dia hanya mengatakan mungkin akan Sekolah Bisnis Management. Dirinya ingin menggantikan posisi papanya pada perusahan keluarga mereka. Sungguh tak kusangka kalau Jian ternyata menjadi dokter.

Haruskah kuterima cintanya

Hari berlalu tanpa terasa. Tak bisa kupungkiri kehadiran kembali  Jian dalam hidupku membuat hidupku terasa berbeda. Sikap juga caranya memperlakukanku benar-benar menunjukkan kalau sejatinya menginginkanku lebih dari sekedar sahabat. Sementara aku ?, bagaimana dengan hatiku ? apakah sudah siap menerima Jian sementara hatiku masih mencintai Fani. Ataukah memang sudah takdir kalau diriku dan Fani tidak berjodoh. Jika ada cinta nyata datang padaku, haruskah terus kututup hatiku ?. Sementara hati ini semakin merasa kesepian. Butuh teman bicara, butuh seseorang pelindung. Apalagi harus kucari jika ada Jian  didepanku ?. Yang selalu siap mengulurkan tangan untuk memegangku.

Kedekatan kami membuat Jian semakin berani. Dia mengenalkanku pada keluarganya, papa mamanya. Bahkan pamannya, direktur rumah sakit tempatku berdinas, terang-terangan mendukung hubungan kami. Parahnya diriku tidak bisa menolak. Semua keluarga Jian menyambut baik kedekatanku dengan Jian. Tapi hatiku masih takut, takut dengan pilihanku.

Sore ini saat matahari mulai terbenam. Jiant berada di hadapanku, menatapku dengan lembut. Aku tahu apa akan diungkapkan dan hatiku begitu takut. Takut jika hatiku menolaknya, takut mengecewakannya.

“Aku mencintaimu sejak dulu saat masih SMA. Saat pertama melihatmu, saat kamu marah-marah mengomeliku. Sejak saat itulah hatiku sudah jatuh cinta padamu. Sekarang disaat diriku benar-benar yakin akan takdirku, sebelum matahari menghilang…. Inginku bertanya padamu maukah kau menikah denganku ?”. Seperti adegan film romantis di televisi, Jian berlutut menyodorkan sebuah kotak berisi cincin permata. Aku terdiam. Mataku berkaca–kaca. Mungkin sudah saatnya membuka hati lalu menghentikan penantianku. Biarlah cintaku pada Fani tersimpan dalam palung hatiku paling dalam.

“Mikaela Anjani cepat jawab, matahari hampir tenggelam, nanti gak romantis lagi” selah jian konyol. Aku menangis sekaligus tertawa “iya… iya… Jian aku menerimanya” ucapku.

Pesta pernikahan sudah disiapkan, lalu Fani muncul kembali

Jiant merengkuh tubuh dan mendekapku erat. Dia memakaikan cincin dijari manisku seraya mengecup bibirku lembut. “Sekarang kau adalah milikku, Mikaela, tak akan kuijinkan siapapun merebutmu dari sisiku ataupun hidupku” bisik Jian ditelingaku.

Yah betapa bahagianya wanita bila mengalami momen seperti kualami. Akupun sudah memutuskan menerima lamaran Jiant walau masih mencintai Fani. “Maafkan Fani, sudah lelah ku menanti. Sudah letih menunggu waktu agar berpihak pada kita. Biarlah cinta ini tetap tersimpan dalam hatiku” batinku berbisik.

Semuanya sudah siap. Pernikahanku dengan Jian tinggal beberapa hari lagi. Kakiku baru saja turun dari taksi ketika melihat sosok Fani didepan rumahku. Kehadiran tiba-tibanya membuat hatiku sedikit cemas. Kenapa muncul di depan rumahku ?. Pada malam penuh rintik hujan saat tinggal menghitung hari pernikahanku dengan Jian ?

“Fani ada apa ? Kenapa tiba-tiba kamu muncul. Lihat Kamu basah” kupayungi dengan payungku. Matanya menatapku aneh, ada kilatan kekecewaan disana.

“Tak bisakah kamu bersabar menungguku Mika ?, aku mencintaimu tidak tahukah kamu ?”.

“Maafkan Fani, maafkan aku”.

“Tak bisa ku maafkan kalau kamu menikah dengan laki-laki tersebut, sudah kukatakan aku benci melihatnya dekat denganmu”.

“Kalau Jian orang lain apakah kamu masih benci juga Fani ?”. Dia terdiam beberapa saat.

“Aku mohon jangan menikah Mika. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu, setelah bertahan dengan cinta padamu sekian lama, tidak bisakah kamu bertahan sedikit saja.” Pintah Fani dengan suara bergetar. Airmata menggenang dipelupuk mataku.

Kuputuskan untuk menolaknya

“Kita tak berjodoh Fani, sadarilah”

“Siapa bilang tidak berjodoh ? aku ada disini didepanmu. Kembalilah padaku Mika, kumohon”

Aku terdiam bagai patung didepannya. Terlihat sekali penderitaan pada wajahnya. Tanpa sadar tanganku mengelus pipi kurusnya. Andaikan saja kau tahu aku juga sangat mencintaimu Fani ?. Tapi bagaimana pernikahan ini, dua keluarga ini ?. Haruskah keegoisanku harus menyakiti orang-orang menyayangiku ?. Mereka sudah mempersiapkan semuanya hanya untukku, demi aku. Haruskah menunggumu lagi tanpa kejelasan ?. Lalu Jian, haruskah kusakiti lagi untuk kedua kalinya ?. Bagaimana dengan karirku sementara paman Jian adalah direktur rumah sakit tempatku berdinas ?. Tidak mungkin, tidak mungkin Fani.

“Maafkan Fan, semua sudah jadi keputusanku”

“Tapi baru saja aku kehilangan Amanda, Mika, kumohon mengertilah”

“Karena itulah aku tak bisa bersamamu Fani. Mengertilah kalau rasa bersalahku tak mungkin membuatku kembali padamu. Kesalahanku, kelalaianku hingga Amanda meninggal.” teriakku.

“Tidak, kamu salah Mika, Kamu salah. Amanda meninggal karena takdir, bukan karena salahmu. Kamu sudah berusaha”.

Kutatap Fani lalu menggelengkan kepala perlahan. “kalau begitu takdir telah membuat kita tidak bisa bersatu Fani,” air mataku tumpah tak terbendung. Fani mendekapku erat. Kudengar isakannya. Fani menangis, aku menangis. Kami larut dalam kesedihan karena cinta tak bisa bersatu. Maafkan Fani, telah kupilih Jian sebagai jalanku. Kulepaskan pelukan Fani lalu meninggalkannya dalam gerimis malam. Sejak saat itulah tidak pernah lagi mataku melihatnya hingga saat menikah dengan Jian.

– Cerita Jiant –

Malam itu aku bergegas kerumah Mika karena lupa menjemputnya dari rumah sakit. Padahal sudah janji akan mengajaknya makan malam. Beberapa hari lagi hari pernikahan kami, tidak sabar ku menanti hari bahagia. Ini impianku saat mengenal Mika waktu SMA. Mengingat saat lalu aku jadi tersenyum-senyum sepanjang jalan menuju rumah Mika. Tapi kesal juga saat baru mau berbelok masuk ke lorong perumahan Mika, mobilku terbatuk batuk.

Ah… mobilku mogok pada saat tidak tepat, padahal tinggal beberapa puluh meter, sementara lupa membawa payung. Hujan memang tak lagi lebat, tapi gerimisnya bisa membuatku basah kuyup. Tapi tidak peduli, kuputuskan untuk melanjutkan dengan berjalan kaki.

Namun pemandangan didepanku membuatku tersentak kaget. Tak jauh didepan, Mika sedang berbicara dengan seseorang. Mulanya tak ada fikiran buruk, tapi saat kulihat tangannya memeluk tubuh Mika, hatiku terbakar. Aku marah, cemburu, ingin rasanya kudekati mereka lalu memukulnya. Apa Mika telah menghianatiku ? tidak mungkin. Selama ini dirinya selalu menghabiskan waktu di rumah sakit. Tapi dia ?. Kuperhatikan seksama lalu betapa terkejut hatiku saat tahu laki-laki tersebut adalah Fani, cinta pertama Mika.

Aku tahu, Mika sudah banyak cerita tentang Fani. Tapi setelah sekian lama, kenapa dia muncul lagi lalu mencoba masuk dalam kehidupan kami. Tak puaskah sudah menyakiti hati Mika. Kalau dulu bolehlah aku mengalah, membiarkannya, tapi sekarang tidak. Tak ingin dia menghancurkan kebahagiaanku, merampas satu-satunya wanita ku cintai.

Aku juga tahu Mika masih sangat mencintai Fani. Tapi saat Mika menerima lamaranku diriku yakin pada keputusan Mika. Dan kali ini tidak ingin siapapun merebut Mika dariku termasuk Fani. Hatiku membara melihatnya. Namun saat menemukan Mika terisak dikamarnya hatiku luluh.

Mikaku menangis

“Ada apa sayang ? kenapa menangis ?”

“Tidak, tidak ada apa jian” Mika berbohong. Mika membohongiku. Seharusnya dia jujur padaku, seperti dulu saat tanpa ragu bercerita tentang Fani.

“Apa kamu berniat membatalkan pernikahan kita Mika ?” tanyaku tiba-tiba. Mika menatapku kaget lalu menggeleng keras. “Tidak, tidak sama sekali Jian, ” jawaban tegas Mika membuatku lega. Syukurlah kalau begitu. Diriku belum siap kehilangan, belum bisa menerima kehancuran. Persiapan pernikahan hampir 80 persen sudah matang. Keluargaku dan keluarganya, apakah harus hancur karena cinta mereka. Tidak, tak akan kubiarkan hal konyol menimpaku. Apa kata dunia nanti ? Seorang dokter ahli bedah syaraf otak terkenal lagi sukses dicampakkan calon istrinya demi laki laki lain.

Tidak, tak akan bisa menerima hal itu. Kalaupun nanti kami harus pisah, bukan dengan cara begitu. Cintaku begitu dalam pada Mika. Tapi rasa cemburuku sudah membakar hati dan pikiranku. Apakah karena cinta begitu besar hingga rasa cemburu juga begitu besar. Harga diriku seolah-olah terluka dengan cinta mereka. Jika tidak mencintaiku kenapa menerima lamaranku ?. Dan setelah setengah jalan apakah harus berakhir seperti ini. Tidak, tak akan kubiarkan Fani menghancurkan kebahagiaanku. Pedih rasanya mengetahui kalau cinta tulus pada wanita ternyata dicampakkan karena masih mencintai laki laki lain.

Egoku sebagai laki-laki memberontak. Beberapa hari lagi wanita cintaku ini akan menjadi istriku, menjadi milikku. Tak peduli cinta atau tidak dirinya padaku, aku harus menjadikannya milikku.

Panggilan tugas mendadak

Dering ponsel mengagetkanku dari tidur. Hampir pukul jam tiga dini hari. Ada apa ini ? Jarang-jarang kudapat telpon dini hari seperti ini. Saat membuka ponselku ternyata dari Dokter Farah salah satu Tim bedahku.

“Maaf dok mengganggu, ”

“Iya ada apa..”

“Ada pasien gawat kecelakaan mobil dengan luka cedera kepala yang cukup serius sepertinya harus segera dioperasi”

“Sudah melakukan scan”

“Sudah dok ada pendarahan pada otak kanan”

“Oh ya dok keluarga pasien meminta penanganan terbaik dokter, kelihatannya mereka keluarga berpengaruh dikota ini…”

“Baiklah hubungi tim kita lainnya, 30 menit lagi kita ketemu di ruang bedah”. Tenyata pasien kecelakaan, pantas saja dipanggil dini hari begini. Bekerja pada sebuah rumah sakit cukup ternama di kota ini memang gampang-gampang susah. Di rumah sakit inipun tidak sembarangan pasien bisa masuk. Prosudur administrasinya cukup rumit juga harganya terbilang mahal. Saat menerima tawaran dari rumah sakit ini beberapa bulan lalu aku langsung menerimanya karena aku yakin sepadan dengan ilmu kumiliki. Tapi satu-satunya alasan adalah karena dikota ini ada Mika, wanita ku cintai.

Kutatap wajah pasien yang akan kuoperasi. Kondisinya dalam keadaan tak sadar. Sebuah kebetulan pasien ini bernama Fani Dutasena, laki laki yang dicintai calon istriku. Sesaat kemarahan memenuhi hatiku. Tapi akhirnya kutarik nafas panjang lalu mencoba menghilangkan kemarahan, diriku harus bersikap profesional. Keluarganya sedang menunggu dengan sangat harap. Yah, akan kukerahkan seluruh kemampuan untuk menyelamatkan otak Fani.

Operasi berjalan hampir lima jam selesai dengan mulus dan sukses. Pendarahan diotak Fani berhasil dihentikan dan gumpalan darah dikeluarkan. Beberapa hari kedepan nanti keadaan Fani pasti akan membaik. Apalagi ditubuhnya juga tidak ada cedera berarti. Aku yakin keadaanya pasti akan membaik.

Pernikahanku

Hari ini pengantinku terlihat sangat cantik sekali. Dan diriku adalah laki-laki paling berbahagia dimuka bumi ini karena bisa menikahinya. Lihatlah Mika dengan senyumnya melempar buket bunga mawar putih kearah kerumunan wanita. Ssuasana berubah jadi ribut karena mereka saling berebutan. Aku tersenyum, Mika tertawa bahagia, kupeluk pinggang Mika mesra tak ingin melepaskannya. Bahagianya bisa bersama Mika. Sekarang tidak takut lagi kehilangan  karena yakin dirinya akan selalu disampingku. Meski jauh dalam hatiku meminta maaf karena sengaja ataupun tidak sudah menjauhkan cintamu dari Fani.

Egoku tidak mengijinkan cinta kalian bersatu. Sekarang kau adalah milikku dan diriku akan selalu memberi hal terbaik untukmu juga kebahagiaanmu. Tak perduli jika kamu tak cinta. Biarlah diriku saja mencintaimu. Melihatmu tersenyum saja membuatku bahagia. Jika suatu saat nanti tindakanku ini salah, ku rela kehilanganmu. Tapi untuk saat ini, biarkan kurasakan sedikit kebahagiaan dengan melihatmu tersenyum.

Kontrol pasien

“Bagaimana keadaan anda pak Fani ?” tanyaku saat mulai membuka perban dikepala Fani.
Dia diam tak menjawab pertanyaanku, sepertinya ingin mengingat sesuatu. Luka di kepalanya sudah mengering, tapi dia masih terlihat bingung.

“Anak saya tak kenapa-napa kan dok ? selama seminggu ini jadi aneh selalu bertanya-tanya siapa dirinya. Kami sudah menjelaskannya, tapi sepertinya masih bingung,” keluh papa Fani. Sementara mamanya hanya menganguk-nganguk mengiyakan.

“Kemungkinan akibat kecelakaan Fani mengalami Amnesia. Kami akan tetap melakukan pemeriksaan lanjutan. Apabila dirinya mengalami amnesia seperti dugaaan, akan ada beberapa terapi lanjutan. Tapi bapak dan ibu jangan khawatir, hal tersebut tidak berdampak untuk kesehatan tubuhnya.” Ucapku lagi.

Kutatap Fani iba, maafkan aku Fani, biarlah tetap seperti ini. Mungkin dengan tidak mengingat apa-apa tak akan ada beban diantara kita berdua. Biarlah ini menjadi dosa untuk kutanggung, biarlah akan tetap menjadi rahasiaku. Jika suatu saat nanti keajaiban mengembalikan ingatanmu tentang Mika serta cinta kalian. Aku akan menyerah dan rela hati melepaskan Mika untukmu.

Maafkan aku Fani, maafkan aku istriku

Maafkan aku, sebagai laki laki tak bisa ku menerima lelaki lain dihati wanita cinta ku. Jadi jika kuputuskan untuk menutup saraf ingatanmu saat operasi, semua karena tak ada pilihan lain. Meski kutahu tidak berhak menghapus ingatanmu, tapi kita bertiga sudah terlalu lama menderita dengan cinta kita. Jika ini jalan terbaik biarlah aku menanggung resikonya dengan menjadikan rahasia menjadi beban harus kupikul entah sampai kapan. Aku baru keluar dari ruang perawatan Fani ketika Mika muncul dengan senyumnya.

“Hai sayang” sapanya manja.

“Tumben, ada apa ini ?” tanyaku. Mika menggandeng lenganku mesra.

“Mengajak suamiku makan siang”

“Baiklah kalau begitu. Dengan senang hati akan ku temaniku istriku makan siang,” ucapku gembira. Namun jauh dihatiku, hatiku hanya bisa berbisik. Maafkan aku istriku, maafkan aku Fani, ampuni aku Tuhan. Jika harus menerima hukuman atas apa yang kulakukan,  aku akan menerimanya. Tapi ijinkanlah sekejab kurasakan kebahagiaan ini.(pw)

Dibagikan

Putri Wahyuningsih

Penulis :

Artikel terkait