Maafkan Aku Fani

cerita cinta keluarga pendek maafkan aku fani

Maafkan Aku Fani adalah cerita cinta keluarga pendek tentang cinta Mika kepada teman kecilnya, Fani, yang tidak bisa hilang meski akan menikah dengan Jian. Bagaimana Jian mengatasi hal tersebut dalam cerita cinta keluarga berikut.

Cerita cinta keluarga “Maafkan Aku Fani”

Cerita Mika

Panas begitu menyengat, tapi dia masih asyik saja bermain sesekali smash kerasnya membuat anak-anak kelas IIIA1 kewalahan. Tubuh tingginya membuat bebas dan mudah dalam mengendalikan bola Voli. Sesekali dia mengangkat kaosnya melap keringat mengucur deras diwajahnya. Ugh… keluhku dalam hati dari balik kaca ruang kelas, keringetan begitu saja sudah keren apalagi kalau gak keringetan.

Anak-anak penonton lomba bola voli antar kelas kembali bersorak saat tangannya kembali melancarkan smashnya, … uuups… masuk. Pfff… lihat saja mereka kebanyakan kaum cewek, siapa sih tidak kenal pada Fani Dutasena anak kelas II A2 super keren. Selain termasuk salah satu atlet voli berbakat di sekolahku dia juga atlet taekwondo diperhitungkan di daerahku.

Mungkin semua kaum cewek di sekolahku pernah bermimpi untuk pacaran dengannya, siapa tidak mau punya pacar keren, ganteng, kaya, terkenal lagi. Sayang sampai detik ini tidak pernah kulihat atau kudengar dia jalan bareng sama cewek. Tidak dalam sekolah maupun di luar sekolah. Mungkin bagi sebagian kaum cewek di sekolahku menganggap jika bisa berteman atau dekat dengannya merupakan satu anugerah tapi tidak bagiku.

Keluarga kami sangat dekat

Uh….jadi sebal kalau mengingat betapa usilnya dia. Yah kami memang memang teman sejak TK. Rumah kami satu komplek bahkan orang tua kami selayaknya tetangga sudah sangat akrab. Mamaku serta mamanya bisa dibilang teman baik, begitu juga papaku dengan papanya. Kalo urusan shopping, salon, arisan jangan ditanya deh, mama kami paling jago.

Untuk urusan mancing akhir minggu atau main golf papaku juga papanya adalah jagonya. Kadang jika kedua orang tua kami sibuk urusan salon atau mancing, tinggalah kami anaknya terabaikan. Karena kami anak tunggal, otomatis kami menjadi dekat. Tapi dasarnya dirinya badung juga suka usil, sering membuatku marah serta jengkel. Tapi entah kenapa rasa jengkel juga marahku tidak pernah bertahan lama terhadapnya. Diriku juga bingung mungkin karena kedekatan serta setiap proses kehidupan kami jalani hingga kami bisa begitu dekat.

Ah Fani.. lihat saja dengan wujud begitu sempurna, dirinya benar benar idola para cewek-cewek di sekolahku. Anehnya tidak pernah dirinya peduli pada ketenaran serta tidak pernah merasa lebih dari teman lain.

Dirinya selalu saja menyenangkan

“haa… lagi mikirin aku yah ?”

“Yah elaa…nih anak kapan sih usilmu ilang..kaget tau.” Kuelus dadaku, dia terbahak keras seolah senang telah melihatku kaget.

“Koq gak nonton aku main tadi ?”

“Males… mending belajar besok ada ulangan Kimia.”

Wajahnya memberengut, terlihat lucu, hatiku tersenyum. Sengaja memang ingin membuatnya jengkel karena telah mengagetkanku tadi. Benar saja, ia terlihat kecewa. “Koq bisa sih seharusnya kamu memberi semangat atau yel-yel atau apa kek… benar benar gak punya perasaan”.

Tuh kan dia protes apa tidak tahu kalau sedari tadi walaupun cuma dari balik kaca ruang kelasku aku menontonnya.

“Yah malah senyam senyum lagi”.

“Makanya cepetan cari pacar biar ada yang semangatin dari pinggir lapangan”

“Kalau aku cari pacar beneran, trus kamu gimana ?”.

“Lho koq mikirin aku sih, itukan urusanku .”

“Beneran gak nyesel ? Ntar gak bisa pergi juga pulang bareng kamu lagi. Gak temenin kamu nonton juga main PS. Gak bisa nganterin les piano, mau ?”.

Iya juga yah ntar kesepian lagi…

“Tuh kan mikir..”

“Yah kan bisa pulang bareng mah pacar kamu”.

“Dasar bego adanya pacarku bisa cemburu mah kamu tahu”

“Cemburu… apaan tuh ?” tanyaku serius. Dia tergelak, tangannya cepat sudah mengacak poniku.

“Cemburu adalah semangkok bakso enak banget, apalagi kalo ditraktir Mika”

“Faniiiii…” seruku jengkel. Yang punya nama berlari keluar kelas, aku mengejarnya. Kuhentakkan kakiku jengkel saat tak bisa mengejarnya. Yah beginilah kami, selintas mungkin orang-orang takkan menduga jika kami berteman sedari kecil. Mungkin mereka akan berpikir kami pacaran karena melihat hubungan kami begitu dekat.

Juga melindungi

Bahkan ada teman terang-terangan bertanya tentang kedekatan kami tapi dengan enteng dia menjawab bahwa kami memang pacaran. Mungkin hanya teman tertentu tahu kami tidak pacaran tapi dekat sejak kecil lagipula tetanggaan. Ia sudah seperti pelindung bagiku, selalu ada disampingku. Kadang ia harus berantem dengan teman-teman karena suka meledekku. Mungkin juga membuatnya termotivasi untuk ikut latihan Taekwondo waktu kelas 4 SD. “Biar gak ada orang berani ledekin Mika lagi”. Itulah jawabannya saat ditanya kenapa ikut latihan Taekwondo.

Hari-hari kami lalui memiliki kisah kenangan sulit untuk dilupakan. Mungkin juga penyebab sampai saat ini diriku belum punya pacar. Entah karena memang belum ada lelaki kusuka atau karena cowok-cowok di sekolahku takut mendekat karena ia selalu disampingku. Entahlah, tidak tahu, pastinya hatiku merasa senang dengan keadaanku sekarang. Tak pernah ia berusaha untuk jauh dariku. Sepertinya dirinya juga senang dengan kedekatan ini.

Mungkin karena kami sama-sama tinggal didunia sepi kami. Orang tua kami memang sibuk. Kalaupun punya waktu, akan mereka habiskan untuk hobby mereka masing-masing. Sedangkan kami anaknya cukup dengan fasilitas tersedia untuk mengisi keseharian. Tapi bagiku tak apa-apa. Asalkan ada dirinya, dunia tidak akan terasa sepi. Terkadang ketakutanku sering datang. Bagaimana jika dia tidak ada ? Entah bagaimana dengan duniaku. Aku sangat bergantung padanya.

Jam empat pagi bangunin orang

Kringgggggg… weker diatas meja berdering tiba tiba. Ahhh… jam berapa sih ? Kubuka pelan-pelan mataku lalu meraih wekerku. Busettt… jam 4 pagi. Perasaan weker kusetel jam 6, kok jam empat pagi udah bunyi sih. Kumatikan wekerku lalu kembali masuk dalam selimutku. Kringgggggggg… wekerku berbunyi lagi. Duh kenapa lagi sih dengan ni weker ?. Jangan-jangan rusak lagi. Dengan malas kuraih weker masih lalu mematikannya lagi. Kali ini tidak ku stel kembali. Benar-benar kumatikan.

Kembali tubuhku masuk dalam selimut. Namun, baru saja akan terlelap, Kringggggggg… Kontan diriku terlonjak bangun. Pasti ada tidak beres nih. Benar saja saat bangun terdengar suara cekikikan menahan tawa dari balik gorden.

“Faniiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii…!!!” kali ini ku berteriak kuat saking jengkel. Fani muncul dari balik gorden jendela sambil terbahak-bahak menahan perutnya. Kuraih bantal gulingku lalu kulemparkan kearahnya. Dengan gesit dihindarinya.

“Dasar usil usil… sehari aja ga usil napa ?. Ini jam 4 pagi tahu. Setan aja masih tidur” seruku jengkel.

“Abisnya susah tidur Mika, belum bikin PR fisika. Kamu taukan si killer Pak Gun”

Aduh… Kugaruk-garuk rambutku acak-acakan.

“Kenapa gak dari semalam ngomongnya sih ? akukan bisa ngerjain tadi malam”.

Cuma minta dibantuin PR Fisika

“Semalam kamu tidur nyenyak banget sih, gak tega bangunin, lagian HP nya gak diangkat angkat padahal baru jam 8 malam”

Ku garuk-garuk kepala lagi. Kutatap wujudnya didepanku dengan buku catatan fisikanya. Lucu juga melihatnya dengan kimono berwarna merah muda. Baru kuingat bajunya adalah kado ultah untuknya tahun kemarin. Lupa kalau dia gak suka warna merah muda, tapi sudah terlanjur dibeli. hhiiiihiii… ketawa dalam hati melihatnya pakai kimono pemberianku.

“Woi senyum-senyum lagi !”

“Kimononya bagus”

“Abis mau gimana lagi… keabisan baju tidur”

“Katanya ga suka warna pink”

“Dah tau juga masih dibeli. Aku ini cowok bukan cewek. Bukannya bersyukur dipake. Nih jangan rewel buatin PR ku”

“Wek.. bilang aja kalo mau membujuk dengan kimono itu” cibirku.

“terakhir deh pake…”.

Beranjak kemeja belajar, semenit kemudian diriku sudah sibuk mengerjakan PR Fisika. Sementara dia duduk didepanku menatap senyum-senyum.

“Kamu cantik juga kalo baru bangun tidur Mika”

“Jangan berisik, lagian kayak ga pernah liat orang baru bangun”

“Tahu gak ? aku tuh paling suka ngeliatin kamu tidur serta bangun tidur kaya gini. Kata papaku kalo mau melihat wanita dengan kecantikan alaminya, liat kalo baru bangun tidur”

“Ada-ada aja…”

“Ternyata benar Mik, buktinya kita temenan dari kecil tapi ga pernah bosen ngeliatin kamu”

“Besok jendela dikunci biar kamu gak bisa nyelinap masuk lagi”

“Jangan dong… ntar PR ku siapa bikin”

“Yah bikin sendiri…”

“Kejam banget sih”

“Biarin wek…” Yah seperti inilah kami dia bisa bebas menyelinap kamarku kapan saja dia mau. Bebas usilin diriku kapanpun dia mau, walaupun jengkel tetap saja hatiku tak bisa membencinya.

Siswi baru di sekolah merebut perhatian Fani dariku

Pagi ini kelasku agak beda suasananya mungkin karena ada murid baru pindah namanya Amanda Mirela. Nama cantik, secantik orangnya. Amanda memang cantik, seperti boneka Barby anggun. Rambutnya panjang lurus. Kulitnya putih seputih batu pualam. Hidungnya mancung. Ah pokoknya cantik deh. Diriku saja, perempuan, terkagum kagum gimana laki-laki. Benar saja, waktu dia memperkenalkan dirinya, semua anak laki-laki dikelasku langsung bersuit-suit menggoda termasuk Fani. Bisa di bayangkan dalam waktu dua minggu nama Amanda Mirela sudah booming disekolah. Bukan main, langsung ke peringkat satu primadona sekolah. Mengalahkan Venna Littia kakak kelas, sang primadona sebelumnya.

Selain cantik, Amanda pinter bergaul, supel juga tak pemilih. Dikelas termasuk pinter walaupun masih dibawahku. Tapi dalam hal tertentu dia memang memiliki banyak kelebihan. Guru-guru  suka dengannya karena selain ramah, Amanda suka membawa kue untuk para guru. Aku sih nggak tahu maksudnya apa ? tapi itukan urusannya.

Semula aku tenang-tenang saja. Tapi memasuki sebulan terakhir mulai tertangkap gelagat aneh dari Amanda. Dia mulai sering mendekatiku, mengajak bicara. Tanpa curiga kuladeni karena menganggap sebagai teman. Tapi lama-lama dia banyak bertanya tentang Fani. Diriku jadi gak suka sehingga mulai menjaga jarak. Apa maksudnya bertanya tanya tentang Fani ? apa dia menyukai Fani ?

Mungkin merasa diriku mulai menjauh juga mengambil jarak, dia secara langsung mulai mendekati Fani. Anehnya Fanipun sepertinya mulai tertarik. Amanda memang pinter mengambil hati seseorang. Tanpa disadari, dia mulai terbawa daya tarik Amanda. Terbukti sudah 3 hari ini diriku gak barengan lagi pergi maupun pulang sekolah dengan Fani. Amanda benar-benar sudah membuatnya berubah. Perubahannya  membuatku merasa terabaikan. Tapi saat merenung memikirkan hubunganku dengannya, diriku hanya bisa diam. Apa hakku melarangnya ? lagian bukankah dari dulu diriku selalu menyuruhnya mencari pacar ?.

Harus kuakui ada cemburu

Tak terasa sebulan berlalu. Fani seperti dimabuk cinta. Dia benar-benar melupakanku. Tiada lagi canda serta usilannya disetiap hari. Semuanya berubah. Semua karena Amanda. Jujur hatiku benci padanya karena sudah merampasnya dariku. Sepertinya Amanda bangga.  Setiap lewat bergandengan tangan, lalu matanya mengerling. Seakan ingin menunjukkan kalau Fani sekarang miliknya. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Jika melihatnya tertawa atau tersenyum saat bersama Amanda, mulutku cuma bisa mendesah lalu menghibur hatiku. Jika ia bahagia kenapa diriku tidak ?. Jika hatinya menyukai Amanda kenapa diriku harus keberatan ?.

Hari-hariku terasa sepi. Tak ada lagi yang sering mengusiliku membuatku jengkel atau marah. Diriku benar-benar merasa kehilangan. Hatiku tiba-tiba saja sakit, rasanya ingin menangis. Sungguh menyesal setelah sekian lama bersamanya, kenapa gak tahu kalo hatiku menyukainya. Apa karena keberadaannya disisiku saja sudah cukup ?. Kupikir dia juga menyukaiku hingga nggak pernah berpikir ia akan meninggalkanku. Tapi sepertinya salah. Dia hanyalah pelindung yang akan meninggalkanku saat merasa diriku siap untuk ditinggalkan. Mungkin inilah saatnya. Saat dia menemukan seseorang benar-benar disukai.

Jadi malas sekolah

Semakin hari, semakin menyiksa. Mereka benar-benar tak terpisahkan. Sedangkan diriku hanya bisa tertunduk saat teman-teman kelasku menatapku aneh. Mungkin pikir mereka diriku sudah dicampakkannya. Aku mulai tak betah dikelas. Mulai sering ijin dengan alasan sakit. Kegiatan disekolah serta kelas membuatku tersiksa. Sementara Fani sepertinya menganggap hal biasa. Meski tahu segala kebiasaanku, tidak pernah bertanya mengapa diriku mulai jarang sekolah. Yah untuk apa bertanya kalau waktunya tersita untuk Amanda.

Grrrr… Emosiku naik jika mengingat Amanda. Coba kalau dia tidak hadir dalam kehidupan kami. Coba kalau tidak pindah kesekolahku, mungkin sampai saat ini kami masih bersama.

Sudah dua hari ini aku tidak sekolah. Padahal badanku sama sekali tidak sakit. Cuma hatiku sakit. Benar-benar ku tak mampu melihat kebersamaan mereka begitu mesra dan romantis. Lebih baik tidak sekolah. Saat membersihkan kamarku, Mbok Suti menatap dengan heran. Mungkin hatinya bertanya kenapa akhir-akhir ini jarang masuk sekolah. Mengapa jarang bersama Fani.

Biasanya hatiku akan sedikit tenang jika melihat keindahan mawar-mawar didepanku. Tapi kali ini hatiku tidak tersentuh dengan keindahannya. Apa karena bunga mawar berkaitan erat dengannya ? yah Fanilah penanam bunga mawar didepan jendela. Bahkan setiap hari rajin datang menyirami serta memberi pupuk hingga tumbuh berkembang lebat hampir menutupi jendela kamarku. Ternyata ia punya maksud tertentu saat menanam bunga mawar disitu. Agar bisa leluasa masuk tanpa terlihat. Yah pohon mawar tumbuh lebat ternyata sangat berguna untuknya menyelinap tanpa terlihat saat masuk kekamarku.

Apa semudah dirinya melupakanku ?. Kebersamaan selama bertahun-tahun hilang begitu saja. Apa dia tidak merindukan bunga mawar ini ?. Lihat saja ujung batang mawar mulai menguning. Daun-daunnya mulai rontok. Entah karena jarang disiram atau seperti gersangnya hatiku.

Ujian kenaikan kelas

Ujian kenaikan kelas tiba. Biasanya saat-saat seperti ini Fani pasti panik minta belajar bareng. Walau terkantuk-kantuk menghafal rumus Fisika Kimia namun tak pernah bosan belajar denganku. Tapi sekarang lihat disana, dirinya duduk dengan tenang membaca buku Fisika bersama Amanda. Hatiku berderit sakit. Kalau tidak mengingat ujian kenaikan kelas, mungkin aku tidak masuk sekolah lagi. Padahal sudah dua kali dipanggil wali kelas serta diberi teguran.

Mika sang juara kelas sekarang punya title baru, Mika tukang bolos. Tidak semangat sekolah, tidak semangat belajar. Ah.. aku tertunduk murung menekuri buku cetak Kimia. Sepertinya harus merelakannya untuk Amanda. Tidak boleh terus seperti ini. Kalau nilaiku anjlok tahun ini, papa mama akan kecewa lalu mengomeliku habis habisan. Mereka berdua tidak akan menerima alasan apapun jika nilaiku anjlok.

Aku melangkah gontai menyusuri koridor kelas menuju gerbang sekolah. Sengaja kutunggu kelas sepi sampai semua pulang hingga kedua mahkluk menyebalkan lenyap dari pandangan. Jadi tidak perlu melihat kemesraan mereka berdua.

Tertunduk ku berjalan menekuri ujung sepatu ketsku.

Brukkk……

“Adowww…” seruku kesakitan saat merasa lengan kiriku disambar keras.

Lalu insiden itu …

“Maaf” hanya itu suara kudengar, lalu dengan cuek melewatiku. Entah darimana tiba-tiba saja amarahku memuncak. Lalu…

“Hei….punya mata apa ga sih ? Mang kamu pikir sekolah ini punya nenek moyangmu apa ?” teriakku marah. Sosoknya berbalik menatapku. Mataku melotot. Bukan karena pakaian seragamnya beda tapi karena dengan berani melangkah mendekatiku kemudian ….

“Kalau memang punya nenek moyangku kenapa ? kamu keberatan ? Kamukan cuma numpang sekolah disini apa hakmu marah-marah”

“Jadi karena sekolah ini punya nenek moyangmu jadi kamu seenaknya nabrak orang gitu !?”

“Apa tidak cukup dengan kata maafku tadi hingga kamu marah seperti nenek kehilangan kakek”.

“Nenek… apa katamu nenek ?” seruku tambah marah.

“Iya tampangmu seperti nenek lagi patah hati. Sebenarnya yang musti marah aku. Karena kamu jalan gak pake mata tapi dengkul, jalan koq nunduk”

“ka..kamu…dasar”

“Dasar apa ayo ? Masih berani marah ?”

Aku belingsatan antara gugup, panik, juga marah karena wajah imut sosok didepanku semakin mendekat kearahku. Seumur umur baru kali ini ada wajah cowok yang begitu dekat dengan wajahku.

“Pergi pergi jangan dekat-dekat”

“Enak aja akukan pemilik sekolah ini kenapa kamu mengusirku”

Wajahnya semakin dekat mungkin jaraknya tinggal 5 cm ngeri kupejamkan mataku. Tiba-tiba terdengar tawa keras cowok di depanku.

“Idih…kegeeran jangan mimpi minta dicium”

Blukk… Mataku melotot, “dasar kurang ajar siapa juga minta dicium !” teriakku. Aduh mimpi apa sih semalam sampe ketemu cowok brengsek seperti ini, keluhku dalam hati. Aku berbalik melanjuntkan langkahku. Cepat-cepat aku berjalan menyembunyikan wajah memerah.

Kenapa jadi penasaran ?

Huuuh… sejak kapan jadi suka salah tingkah. Bukankah tadi suasana hatiku sedang tidak enak gara-gara memikirkannya. Tapi kenapa tiba-tiba saja perasaanku berubah. Kemarahan memuncak tadi kenapa hilang begitu saja ? Apa karena si imut ? jiahhh … lagian untuk apa anak sekolah lain datang kesini ? trus pake ngaku-ngaku pemilik sekolah. Gayanya aja sok meyakinkan.

Tapi siapa sih dia ? Penasaran jadinya. Pertanyaan-pertanyaan memenuhi otakku. Sampai pada keesokkan harinya, dia muncul saat istirahat. Dia celingak-celinguk seolah-olah mencari sesuatu. Karena langsung tahu kalau dirinya cowok kemarin, langsung menyembunyikan wajahku dibalik buku sambil berdoa dalam hati kalau dia tidak melihatku.

“Hmmm… ternyata disini rupanya si galak sembunyi..”

Jiah… hidungku mendengus jengkel saat buku ditanganku berpindah dengan cepat ketangannya. Dengan gugup melihat kekiri kanan. Syukurlah cuma aku yang ada dikelas. Teman-teman semuanya sedang keluar, termasuk Fani serta Amanda.

“Namamu bagus juga yah untuk ukuran cewek galak lagi pemarah”

“Apa-apaan sih kamu, mau kamu apa sih ? lagian kamu bukan murid disini, ngapain kesini ?” sentakku meraih buku ditangannya. Bukannya tersinggung mahkluk didepanku malah tertawa.

“lho akukan pemilik sekolah ini suka-suka dong… lagian aku murid disini tahu, itu mulai berlaku sekarang”

Aku melotot, menggeleng keras. Tidak, tidak mungkin mahkluk menjengkelkan ini sekolah disini. Bisa kacau hari-hariku. Sedangkan baru ketemu kemarin aja sudah berani-berani datang mengusikku gimana kalau sekolah disini.

“Sudahlah jangan melotot gitu, nanti aku jadi tambah suka sama kamu”

What.. !!! “Pergi… jangan ganggu !” usirku. Namun jadi tertunduk saat melihatnya masuk bersama Amanda, selintas matanya menatap sosok didepanku dengan tatapan curiga. Tapi dia malah dengan cuek menyapa.

Sikapnya cueknya, bikin gregetan

“Hai… halo, namaku Jiant”

Aduh kugigit bibirku kesal, nih cowok syaraf kali yeh. Gak diminta, ngenalin diri sendiri.

“Hei Mika cantik, namaku Jiant.” bisik cowok itu dekat telingaku lalu langsung melangkah cuek meninggalkan diriku bengong sendiri. Tiada menyangka dengan sikap cuek serta bikin gregetan Jiant. Sekilas pandanganku menatap matanya yang seolah mau protes, tapi mataku langsung pura pura sibuk dengan bacaanku. Yah untuk apa memikirkanku ?, bukankah kau milik Amanda sekarang. Kau bukanlah yang dulu, sekarang kau sudah jauh berbeda.

Aku baru saja keluar dari gerbang sekolah ketika sosok Jiant sudah berdiri didepanku dengan senyum membuatku benar-benar nggak bisa mengusirnya.

“Mika cantik mau pulang yah ? dianterin yah.”

“Plisss deh … Jiant jangan ganggu yah”

“Semakin kamu mengatakan jangan mengganggumu aku akan semakin menganggumu. Siapa suruh kamu jadi cewek pertama mengomeliku”

“Itu karena salahmu bukan salahku”

“Kata siapa ayo ? sore itu kan kamu jalan gak liat liat”

“jiah… kamu tuh…” tunjukku tepat dihidung Jiant. Tanpa kusangka Jiant menarik telunjukku sambil menempelkannya pada hidungnya. Persis disaat mereka lewat. Terlambat ku menarik telunjukku, karena momen itu seperti sudah dirancang sedemikian rupa. Wajahku berubah, mungkin seperti tomat kelewat matang. Yakin sekali wajahku pasti berubah merah. Sementara Fani menatapku sekali lagi dengan kilatan marah dimatanya. Sedangkan Jiant malah sebaliknya, terbahak-bahak karena merasa berhasil mengerjaiku. Segera kutarik telunjukku lalu melangkah pergi cepat-cepat.

Perlahan aku mulai move on

Kehadiran Jian dengan tingkah jenaka kadang konyol pelan-pelan mulai mempengaruhi perasaanku. Jiant selalu saja bisa membuatku tertawa. Perlahan-lahan kesedihanku akibat kehilangan Fani mulai tergantikan dengan keceriaan. Aku juga mencoba untuk tak peduli lagi padanya walau jauh dihati kecilku masih sangat menyayangi. Rela ataupun tak rela, Fani sudah memilih Amanda. Kenyataan itu harus kuterima.

Hubungan pertemananku dengan Jian berjalan lancar semakin akrab. Jian seperti menggantikan posisi Fani dihatiku. Pergi pulang sekolah bareng. Jadi punya teman curhat walau kadang lebih banyak diledek serta digoda. Dia juga sangat menyayangkan kerenggangan hubungan kami. Hingga tak terasa ujian akhir semakin dekat, kami mulai konsentrasi dengan pelajaran sekolah.

Masa SMA akan segera berakhir, saat perpisahan dengan teman-teman semua orang-orang kusayangi sudah dekat. Tiada tahu apa menantiku dimasa datang. Hatiku belum rela kehilangan Fani juga Jiant. Tapi apapun akan terjadi nanti biarlah itu mengalir seperti air mengalir. Entah bermuara dimana hanya waktulah akan menjawabnya.

Tiba-tiba Fani datang

Aku terbangun gemerisik pohon mawar dibawah jendela kamarku membuatku tersentak, itu pasti Fani. Siapa lagi berani masuk dengan sembunyi-sembunyi ke kamarku kalau bukan dia. Mau apa dia ? Ah lupa ku mengunci jendelaku, ataukah sengaja karena masih berharap Fani akan datang walaupun cuma sekedar mengerjaiku. Kupejamkan mata pura pura tidur, benar samar-samar kulihat langkahnya pelan menuju tempat tidurku lalu duduk disampingku.

[Baca juga cerita cinta keluarga, Cerita pendek cinta Jawaban atas penantianku.]

“Maafkan yah Mika… selama ini sudah melupakanmu. Tak seharusnya memperlakukan kamu seperti itu. Diriku benar-benar merasa sangat kehilanganmu. Maafkan aku. Tahukah kamu Mika, hatiku sering jengkel melihatmu bersama si Jian itu. Apa karena dia anak pemilik yayasan sekolah ini ?  Hatiku tak suka melihatmu bersamanya. Bercanda, ledek-ledekkan seperti biasa kita lakukan. Tak tahu kenapa bisa sejengkel itu, aku masih sayang kamu Mika, ”

Ah ingin rasanya kubuka mata lalu mengatakan telingaku mendengar ucapannya, tapi aku tidak bisa. Hatiku masih marah, masih tidak menerima sikap tidak memperdulikanku.

“Mika… selalu saja kalau lagi tidur kamu terlihat seperti Putri tidur. Tak lama lagi kita lulus SMA Mika. Kamu tahukan Mika cita-citaku untuk melanjutkan kuliah di Melbourne ? aku akan segera kesana. Bagaimana denganmu Mika ? Apa kamu jadi kuliah kedokteran ? kamu bilang kamu ingin jadi dokter bedah. Kalau benar-benar ingin jadi dokter bedah kamu harus berani, siapa tahu kalau sakit nanti kamu bisa mengoperasiku”.

Uh… hatiku mendesis lirih, ada belaian lembut di rambutku.

“Tidur lelap yah Mika. Jangan kuatirkan Amanda mungkin dia hanya cinta monyetku. Aku masih tetap menyayangimu Mika. Tapi kumohon kamu jangan terlalu dekat dengan Jian yah. Aku benci banget melihat dia membelai atau mengusap rambutmu. Cuma tanganku boleh menyentuh rambutmu seperti sekarang ini. Aku pulang dulu yah Mika…”

Meski bikin galau, akan menunggu

Langkah Fani menjauh membawa lara hatiku. Faniku tersayang mungkin waktu ini tidak berpihak padaku. Akan kuberikan waktu untukmu menyadari cinta siapa didalam hatimu. Aku tidak ingin menahan langkah Fani. Seiring dengan langkahnya kian menghilang diriku tahu masa indah SMA sudah usai. Tidak akan ada lagi canda ria seorang Fani. Biarlah kami berjuang untuk masa depan. Jika akhirnya bertemu lagi pada suasana berbeda, aku ingin pertemuan nanti akan berbeda dengan cinta yang mungkin bukan cuma cinta monyet, tapi cinta sebenarnya.

Aku melangkah kearah jendela, menatap langit malam sepi. Kukunci jendela kamarku, tak akan kuijinkan lagi Fani masuk ke kamarku. Seperti jendela ini, akan kukunci hatiku baru akan kubuka lagi saat seseorang datang memberikanku cinta tulusnya.

Singkatnya, kini aku sudah menjadi dokter

Kumiringkan leherku ke kiri ke kanan. Rasa pegal pada tengkukku benar-benar sangat mengganggu. Selesai mencuci tangan bergegas keluar ruangan. Map status disodorkan perawat Henni cepat-cepat kuterima lalu menuliskan status pasien baru kuoperasi. Letih sekali hari ini. Ada dua operasi harus kutangani, membuat syaraf-syaraf motorikku ikutan pegal. Letih, lelah itu sudah pasti. Tapi tetap saja ada kepuasan tersendiri saat semua operasi berjalan dengan baik.

Sebagai dokter ahli bedah jantung, diriku memang dituntut untuk selalu hati-hati juga teliti dalam setiap tindakan operasi kulakukan. Karena semua kulakukan demi menyelamatkan serta menyembuhkan pasien-pasien penderita kelainan jantung bawaan ataupun penyakit jantung lainnya.

Terkadang memang diperhadapkan pada situasi sulit dimana pasien harus segera dioperasi. Sementara sebagai manusia terkadang kita merasa kurang. Memiliki banyak kelemahan walaupun berprofesi dokter. Tapi dengan keyakinan pada Sang Pemilik Kehidupan, diriku selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik. Dengan segala apa yang kupelajari, kuteliti, dalam setiap praktek, teori serta berbagai macam pengalaman melakukan tindakan operasi. Mungkin karena percaya diri tinggi diriku bisa menjadi seorang dokter bedah jantung cukup diperhitungkan dalam dunia kedokteran jantung.

Tag : cerita cinta pendek cerpen cinta pendek cerpen pendek cinta inspirasi cinta cerita motivasi cinta kata cinta kata bijak cinta kata cerita cinta

Karirku bagus dan sibuk

Pada usia masih terbilang sangat muda, kuraih gelar doktor spesialis bedah jantung, paru, bedah pembuluh darah. Jabatanku sebagai kepala divisi Bedah toraks kardio vaskular rumah sakit terkenal kota ini membuatku benar-benar dituntut totalitas penuh dalam kerja.

Hampir seluruh hari kuhabiskan di rumah sakit. Hampir separuh hariku, kuhabiskan di meja operasi. Dalam otakku hanyalah bagaimana bisa membedah pasien untuk menyelamatkan nyawa mereka dari penyakit diidap hampir 40 persen orang dinegeri ini. Bahkan hampir 50 persen kematian penduduk Amerika disebabkan penyakit ini.

Yah penyakit jantung adalah momok menakuntukan bagi setiap orang hidup. Tapi dunia kedokteran semakin canggih sehingga penyakit ini tak lagi menakutkan. Pola hidup sehat, serta berbagai penemuan baru tentang penyakit jantung memberikan harapan bagi pengidap penyakit jantung bawaan ataupun gagal jantung. Bahkan sekarangpun sudah ada donor jantung. Aku diberi tugas untuk memastikan apakah jantung seseorang bisa berfungsi dengan baik atau tidak.

Tugasku sebagai dokter bedah jantung sangat berat. Karena itu tak ada waktu untuk bermain-main. Dalam setiap waktu luang akupun harus tetap konsen membaca juga belajar berulang-ulang kali guna menambah pengetahuanku. Itu sebabnya pada usia ke 43 inipun diriku masih sendiri. Karena sibuk atau terlalu takut untuk membuka hati. Walaupun kadang jika bertemu teman atau rekan sejawat bersama keluarga mereka hatiku sering merasa iri.

Kapan bisa sama seperti mereka menikmati hari-hariku bersama lelaki yang kucintai. Aku juga tak bisa memungkiri keinginan untuk pacaran selalu ada. Bahkan beberapa rekan terang-terangan mengungkapkan isi hati mereka. Tapi selalu kutolak halus dengan alasan masih terlalu sibuk. Padahal jauh dilubuk hatiku masih mengharapkan seseorang yang dulu pernah ada dan masih selalu ada dihatiku.

Aku masih tak bisa melupakannya mereka

Entah bagaimana keadaannya sekarang ? Sejak tamat SMA dia berangkat ke Melbourne tanpa pamit padaku. Kami sudah tidak pernah bertemu. Bagaimana wujudnya sekarang ? Pasti dia sudah menikah. Terakhir kudengar kabar dari mama bahwa Fani sempat pulang saat orangtuanya merayakan perkawinan perak mereka. Setelah itu tidak ada kabar sama sekali. Akupun sudah tidak mencari tahu lagi karena kesibukanku. Sedangkan Jian, mahkluk itu juga seperti hilang ditelan bumi. Yang kuingat tentangnya adalah saat mengatakan akan ke Singapura. Entah melanjutkan sekolah atau apa. Diriku tidak tahu jelas, karena saat itu kepergian Fani sangat melukaiku. Dan Jian sepertinya tahu akan suasana hatiku waktu itu, sehingga dia juga menghilang. Mereka menghilang hampir bersamaan dan akupun memilih untuk konsen dengan kuliahku.

Masa masa awal kuliah adalah masa sulit karena harus beradaptasi dengan suasana baru serta bertumpuk buku tebal. Waktuku kuhabiskan lebih banyak dengan buku daripada bersosialisasi dengan teman-teman. Sepertinya diriku benar-benar melarikan diri dari kesepian lalu mencurahkan semuanya untuk meraih cita-cita. Jika sebelumnya selalu tak bisa melihat darah bahkan ngeri dengan darah akhirnya jadi terbiasa. Awalnya mual, ingin muntah. Tapi lama kelamaan itu menjadi hal wajar bagiku.

Kuraih tasku. Hari ini harus pulang cepat karena ini adalah hari ulang tahun mama. Harus kupenuhi janjiku makan malam bersama keluarga. Setidaknya ini usaha terakhirku menyenangkan mama karena dua tahun terakhir ingatanku suka lupa dengan ultah mama.

Seringkali acara keluarga harus dikalahkan

“Dok… untuk jadwal besok gimana ?” Perawat Henny mengekori langkahku.

“Sudah diobservasi kan pasien kelas 1 itu ?”

“Sudah dok HBnya sudah naik sudah 11,1”

“Kalo begitu masukan dia dijadwal operasiku besok setelah pasien paviliun Anggrek yah”

“Baik dok”

“Oh yah jangan lupa hasil lab untuk kultur darahnya”

“sip dok..”

“Malam ini ada dokter Gerry kalau ada apa-apa hubungi beliau saja. Oh yah jangan lupa kontrol pasien diruang recovery, besok pagi-pagi sudah bisa dipindah”

“Baik dok… oh yah tadi ada telpon dari dokter Milla katanya nanti disuruh menghubungi”

“Ok… oh yah dokter bedah jaga malam ini siapa ?”

“Dokter Irma dan dan dokter Andre kalau ga salah”

“Oh yah udah ….”

Kaki melangkah cepat menuruni tangga, sedangkan perawat Henny kembali keruang perawatan. Baru saja mau masuk ke mobil, tiba-tiba ponselku berbunyi. Dokter Yan ahli penyakit dalam menelponku.

“Dokter Mika dimana ?”.

“Waduh saya baru mau pulang ni… ada acara keluarga” ucapku.

“Maaf dok, ada pasien gawat jantung baru masuk. Dokter Gerry belum ada”

Pfff.. aku menarik nafas berat, “sekarang dimana ? masih di UGD ?”.

“Iya dok”.

“Ok saya kesana”.

Kalau sudah begini hanya bisa mengirimkan pesan singkat permohonan maaf pada mama. Semoga kue tart pesanan tadi siang sudah diantar. Tak bisa untuk tak peduli. Seseorang sedang berjuang melawan maut sehingga harus berusaha untuk ditolong. Setengah berlari langkahku menuju ruang UGD.

Lelah bercampur bahagia

Ugh… Kuteguk minumanku hingga tak tersisa. Alamak lihatlah diriku didepan kaca ruang ganti operasi menatap wajah keletihan. Baru saja kuselesaikan satu operasi lagi, dan bisa bernafas lega karena satu nyawa terselamatkan. Seorang wanita sebaya mengalami gagal jantung. Dari statusnya dia mengidap penyakit jantung bawaan. Harus ekstra hati-hati memasang katup di serambi kiri jantungnya. Alat itu bisa membuat jantungnya stabil walaupun tidak menjamin seberapa lama alat itu bisa menunjang umurnya. Pastinya untuk saat ini kami berhasil membuatnya bertahan. Perawat Henny, perawat kepala ruang operasi, menatapku dengan tatapan sama. Bukan cuma diriku dan perawat Henny merasakan letih, tapi seluruh tim bedah bertugas hari ini.

“Kerja bagus ” ucapku saat Perawat Henny serta beberapa orang dalam tim bedah muncul diruang ganti.

“Pulang dok… istirahat”.

Aku tersenyum kecut. “he.. he .. he .. sudah terlambat untuk makan malam Hen. Oh yah suaminya sih pasien sudah datang”

“Sudah dok sekarang sedang menunggu di ruang tunggu”

“Ok kalo begitu saya akan menemuinya sekalian pulang”. Aku beranjak, membuka kostum bedah, merapikan pakaian lalu keluar dari ruangan. Di ruang tunggu seorang laki laki duduk sambil mendekap wajahnya. Terlihat sekali sedang berpikir ataupun bergumul dengan hatinya. Bertanya-tanya apakah istrinya selamat atau tidak. Saat-saat seperti inilah saat faforitku, menyampaikan kabar gembira pada keluarga pasien. Melihat roman mimik wajah gembira mereka. Itu adalah momen sangat berharga sekaligus momen sangat menggembirakan.

Ternyata pasien itu …

“Suaminya Ibu Mirella” sapaku ramah.

Sosok itu sepertinya kaget, langsung mendongak menatapku. Dan saat kami bertatapan kakiku tersurut mundur selangkah. Rasanya tak percaya dengan pandangan dihadapanku. Sosok itu juga sama kagetnya denganku.

“Fani”

“Mika”

Sesaat suasana berubah hening, sekejap kenangan diantara kami terkuak. Tapi akhirnya aku tersadar cepat. Baru saja mulutku ingin bicara ketika Fani sudah memelukku erat, erat sekali hingga tak bisa bernafas.

“Mika… sungguh tak ku sangka”

“Fani… di dalam itu ?”

“Itu Amanda …”

Kubuka map status ditangan, benar disitu ada nama Amanda Mirella Wijaya. Ah kenapa hal ini tidak kuperhatikan ? apa karena keletihanku ?. Pertemuan ini membawa kami sama-sama duduk diruang tunggu. Memaksaku untuk mendengar cerita sedih, tak akan pernah kuduga bila Fani bisa menjalaninya.

<< baca lanjutan cerita pendek ini di : cerita cinta Maafkan aku Fani bagian kedua >>

 

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Dibagikan

Putri Wahyuningsih

Penulis :

Artikel terkait