Maafkan Aku @ Cerita Pendek Sedih

cerpen sedih maafkan aku

Cerita pendek (cerpen) sedih tentang cowok mutusin pacar karena fitnah. Setelah tahu kabar bohong, dia menyesal tapi ceweknya sudah pergi entah kemana. Sebuah pembelajaran untuk tidak memutuskan hubungan hanya karena kabar belum pasti dari orang. Jangan mudah terpancing emosi dan tetaplah berpikir positif.

Cerita Sedih Maafkan Aku

Malam ini, tepat setahun kau pergi meninggalkanku. Andai saja waktu bisa berputar, pasti diriku akan mencegahmu pergi. Akan tetapi ternyata aku malah mengusirmu, menyakitimu dengan kata-kata sangat kasar.

Penyesalan sudah tiada arti, sampai sekarang tidak satu kabar pun ku dapat tentang dirimu. Maafkan diriku Nila, hatiku kangen sekali padamu.

Deburan ombak pantai Seroja di tengah suasana syahdu matahari sebentar lagi tenggelam menjadi saksi bisu pertengkaran kami. Masih ku ingat jelas wajahmu berurai airmata, pasti saat itu hati kamu sangat sakit. Sekarang baru kusadari betapa kejamnya diriku saat itu.

Semua terjadi karena begitu saja hatiku percaya pada kabar burung dihembuskan orang tentang dirimu. Dari Mira teman kampus kita, diriku diberitahu kabar tentang perselingkuhanmu dengan Akbar. Bahkan bukan hanya Akbar tapi juga banyak korbanmu lainnya. Ternyata kau terkenal sebagai cewek matre, cewek suka morotin harta cowok-cowok kaya.

Saat itu rasanya diriku jadi orang paling bodoh, merasa tertipu. Tertipu pada paras ayu juga wajah polosmu. Hatiku kagum pada kesederhanaan sikapmu apa adanya. Bahkan sampai Mamaku rela ikut membiayai kuliahmu, karena melihat kondisi keluarga sederhana juga kekurangan.

Tapi apa balasanmu, ternyata diriku hanya kau jadikan alat. Kau telah menipuku, di belakangku ternyata kamu juga menipu cowok-cowok kaya temanku. Seketika itu hatiku sangat membencimu, aku benar-benar merasa bodoh.

Kudatangi kamu penuh dengan kemarahan. Dengan wajah bingung kau melihatku. “Mulai sekarang diriku tak mau melihatmu lagi. Dasar perempuan murahan, Hatku sangat menyesal bertemu denganmu. Pergi kamu, mataku jijik melihatmu.” Kataku penuh emosi meluap-luap. Aku sudah tidak tahan lagi untuk mengatakan sumpah serapah pada Nila, cewek sialan itu.

Sementara Nila menatapku dengan penuh tanda tanya. Satu per satu bulir-bulir airmata keluar dari matanya. Dia hanya terdiam terpaku, tak ada satu patah katapun keluar darinya.

“Heiiii…pergi kamu cewek murahan.” Bentakku keras, bahkan tanpa kusadari telah menendangnya, hingga dia jatuh tersungkur. Hatku tidak peduli, walaupun tangisnya semakin menjadi. Emosi dan kebencian telah menguasai diriku.

Cinta tulus selama ini kita bina hilang begitu saja. Nila, dalam hatiku sebenarnya, merasa sangat sakit. Tak percaya kau begitu tega melakukan semuanya padaku. Selama ini hatiku tulus mencintaimu, namun dengan teganya kau menodainya, kamu mengkhianatiku.

Rasanya tak sanggup menerima semuanya. Hatiku juga cintaku hancur seketika hilang bersama kenangan cinta kita selama dua tahun sirna.

Tanpa peduli padamu, aku meninggalkan kamu begitu saja. Meninggalkan kamu di tempat pertama kali kita bertemu. Dan di tempat ini kenangan kita berakhir dengan sangat menyakitkan.

Kini setahun telah berlalu, sejak itu kau pergi entah kemana. Tak ada seorangpun tahu keberadaanmu. Kamu seperti hilang ditelan bumi. Kepergianmu ternyata juga dirasakan oleh teman-teman kita. Namun lebih membuatku sangat menyesal, ternyata kabar negatif tentangmu tidaklah benar, semua ternyata hanya akal-akalan Mira karena iri padamu.

Kini hatiku hanya bisa menyesal, sudah kemana-mana kucari tapi belum juga kutemukan dirimu. Maafkan diriku Nila, gadis cantikku. Bulir-bulir airmata menetes dari mataku, menahan kepedihan ku rasakan. Aku hanya bisa berharap, waktu kembali mempertemukanku dengannya.

“Ini es kelapanya Pak.” Kata pelayan. Hatiku sangat terkejut dengan sosok perempuan di depanku. Ya, tak salah lagi, cewek pelayan tersebut adalah Nila.

“Nila…!” panggilku pada pelayan. “Maaf Mas salah orang.” Katanya sambil berlalu pergi. Hatiku sangat yakin kalau cewek itu benar Nila, aku tak akan melepasnya, dia sekarang berada di hadapanku, ya diriku telah menemukannya.

Bergegas ku kejar hingga akhirnya dia hilang masuk ke dalam. “Maaf mau cari siapa Mas ?” kata Manager resto mencegatku ketika hendak masuk. “Pak, cewek pelayan tadi Nila kan ?” tanyaku. “Maaf Pak, tidak ada pelayan kami bernama Nila, Mas mungkin salah orang.”

“Nggak Pak, dia tadi bener Nila, dia pacar saya Pak.” Aku masih ngotot. “Maaf Mas salah orang.” “Pak, boleh kan saya bertemu dengan pelayan disini ?”. Beruntung Manager tersebut mengijinkanku masuk ke dalam.

Dan ternyata di dalam tidak kutemukan Nila diantara para pelayan. Nggak mungkin mataku tadi salah lihat, dia benar Nila, mataku masih sangat jelas mengingat wajahnya. Akhirnya aku menyerah, karena memang tidak ada sosok Nila disitu. Tapi saat keluar, mataku melihat lagi sosok Nila sedang melayani tamu.

“Nila…!” aku berteriak sambil mengejarnya. Sekarang tak ingin kulepaskan, dia sudah ku pegang. “Nila, maafkan aku.”

Perempuan itu menoleh padaku. “ Maaf Mas, salah orang. Nila sudah meninggal Mas.” Kata perempuan itu menatapku tajam. Wajah perempuan itu sama persis, tapi sorot mata wanita ini beda, dia bukan Nila. Dan kata-kata wanita itu sungguh mengejutkanku.

“Apa Nila meninggal ?” tanyaku sangat kaget. “Iya, dia telah meninggal setahun lalu, beberapa hari setelah kami meninggalkannya di pantai sendirian.” “Nggak mungkin, kamu bohong.” Kataku tak percaya.

“Aku Mila, dia saudara kembarku, dia meninggal karena sakit. Selama ini dia sakit kanker otak, tapi dia tidak pernah bilang pada kami.” Sungguh, hatiku sangat tidak percaya pada cerita Mila.

Kini, diriku hanya bisa menangis. Hanya bisa menyesal di depan pusara Nila. “Selamat jalan sayang, maafkan aku.” Kataku lirih, sambil mengusap batu nisan Nila.

Dibagikan

Anik Fityastutik

Penulis :

You may also like