Maafkan Anakmu Ibu

cerpen kisah inspiratif remaja hamil duluan

Maafkan anakmu ibu adalah cerita kisah inspiratif remaja hamil duluan akibat pergaulan bebas. Malangnya pacarnya meninggal dunia sebelum mengetahui dirinya hamil. Bagaimana kisah mereka ? simak pada cerpen berikut :

Cerita Kisah Inspiratif Remaja – Maafkan Anakmu, Ibu

Senja sudah mulai menghilang tertutup langit hitam. Suara adzan Maghrib berkumandang. Dan malam ini adalah malam minggu. Malam dimana aku bebas pergi ke mana saja dengan teman-teman, karena besok adalah hari libur.

Malam ini bersama teman-teman, aku berencana menonton film di  salah satu mall di kota kami. Setelah mandi aku, sudah siap-siap berdandan rapi dan cantik. Sedikit kupoleskan lipstick merah jambu.

“Ana, mau kemana kamu Nak ?” tanya Ibu di depan pintu kamarku. Ibu sudah mengenakan mukena, hendak berangkat sholat berjamah di masjid. “Pergi.” Jawabku ketus.  “Ayo sholat dulu Nak.” Aku pura-pura tidak mendengar kata-kata Ibu.

“Ayo Nak.” Ajak Ibu lagi. Ihh…berisik rasanya mendengar Ibu mengulang-ulang kata-katanya.  “Sudah..Ibu berangkat saja sendiri.” Kataku sedikit keras. “Masya Allah Nak.”

“Sudah deh Ibu cepat berangkat, daripada nanti terlambat.” Kataku lagi. Akhirnya Ibu berangkat ke masjid sendiri.

Sementara aku meneruskan mempercantik diri di depan cermin. Malam ini pokoknya aku harus kelihatan cantik. Karena malam ini, aku mau dijemput Dito pacarku. Tak berapa lama, Ibu sudah pulang dari masjid. “Bu, Ana mau minta uang.” Pintaku. “Buat apa Nak ?” tanya Ibu sambil melepas mukena. “Jalan-jalan dong Bu.” Jawabku ketus. “Sholat dulu Nak.” Suruh Ibu lagi.

Diingatkan agar sholat dulu, aku malah langsung ngacir

Sebentar kemudian terdengar suara klakson motor Dito dari luar. “Sudah deh Bu, mana uang sakunya.” Pintaku. Aku agak kesal dengan sikap Ibu, yang nggak pengertian banget. Akhirnya Ibu menyerahkan uangnya juga padaku. Bersamaan datang Mas Anto, kakakku.

“Eh mau kemana kamu ?” tanya Mas Anto padaku. “Malam mingguan lah.” Jawabku cuek.

“Eh ingat, kamu anak cewek, pulangnya jangan malem-malem ya. Sama bilangin sama temenmu itu, kalau mau ngajak kamu suruh turun dulu, minta ijin kek, nggak nongkrong di jalan, anak nggak sopan.” Ucap Mas Anto panjang lebar.

“Aaahhh…sudahlah Mas, bukan urusanmu.” Kataku sambil berlalu, tak peduli dengan Mas Anto yang masih berteriak-teriak. Nggak usah dipikirin, yang penting sekarang aku bersenang-senang. Apalagi boncengan sama pacar, seneng dong. Dunia serasa milik berdua.

“Jadi nonton konser sama temen-temen kamu Yang ?” tanya Dito. “Iya.” Jawabku.

“Kita muter-muter dulu ya.” Ajak Dito. Aku mengangguk, tanda setuju. Apalagi suasana malam begitu sejuk, membuat suasana lebih romantis.

Setelah agak lama muter-muter, suara HP ku berbunyi. Dari Mira rupanya. “An, kamu dimana ?” tanya Mira. “Lagi muter-muter nih.” Jawabku. “Kamu cepat ke sini ya, filmnya sudah mau mulai.” Kata Mira.

“Siapa ?” tanya Dito. “Mira, katanya filmnya sudah mau mulai.” Kataku. “Yang, kok liat film sama temen-temenmu cewek sih, kan akunya yang nggak enak.” Kata Dito sedikit protes, kayaknya nggak setuju. Iya juga, masak ngajak Dito sama temen-temen cewek aku yang rempong, kasian nanti Dito.

Diajak pacar ke puncak lihat pemandangan

“Iya sih, terus kamu mau kemana penginnya ?” tanyaku. “Kita ke atas yuk, pemandangan di sana kayaknya lebih indah.” Dito mengajak ke daerah atas, alias agak pegunungan gitu. Pemandangannya di sana emang lebih indah. Ya udah, aku nurut saja.

Akhirnya kami menuju ke atas, sepanjang perjalanan banyak orang pacaran. Pegangan tanganku juga semakin erat. Benar juga, di sini pemandangannya lebih indah, banyak lampu-lampu di bagian bawah begitu indah menyala kerlap kerlip. “Bener kan, disini lebih indah.” Kata Dito, sambil menghentikan motornya dan parkir di pinggir jalan.

Di sini kami bebas melihat pemandangan di bawah. Apalagi angin bertiup semilir menyejukkan. “Gimana kamu senang kan ?” tanya Dito padaku. “Iyalah, apalagi sama kamu.” Kataku.

Kami di situ agak lama, bahkan sampai jam sembilan. Hingga akhirnya tanpa kami duga, hujan pun turun. Kami mencari tempat berteduh, akhirnya dapat di emperan toko.  Hujan turun begitu deras, disertai angin. Kebetulan aku tidak memakai jaket, sehingga aku merasakan kedinginan, apalagi bajuku juga sudah basah kena air hujan.

Karena baju basah dan kedinginan akhirnya kami mencari penginapan

Dito juga kedinginan, badannya menggigil. Lumayan lama kami menunggu hujan reda. Tapi hujan semakin deras. Entah mengapa Dito punya usul untuk mencari penginapan. Alasannya kalau pulang juga sudah malam dan jaraknya terlalu jauh. Di kondisi hujan seperti ini terlalu bahaya untuk mengendarai motor.

Dan aku pun setuju dengan usul Dito, apalagi badanku juga sudah mulai kedinginan. Lega rasanya akhirnya dapat tempat berteduh yang nyaman. Kebetulan kamar di situ tinggal satu, jadinya kami tinggal satu kamar.

Dalam kamar itu kami melakukan hubungan intim suami istri

Dan, entah setan apa, akhirnya kami melakukan perbuatan yang belum boleh kami lakukan. Malam itu Dito merenggut keperawananku, aku menangis. “Sudah sayang, nggak papa, kan pada akhirnya nanti kita juga melakukan.” Kata Dito enteng, tapi entah mengapa aku merasa sangat bersalah.

Terbayang wajah Ibu yang selalu menyayangiku, walaupun kadang aku bersikap kasar, membangkang. Pasti Ibu kecewa sekali denganku. Air mataku tak henti-hentinya menangis. Dito membujuk tidur, tapi aku masih larut dalam kesedihan.

Paginya Dito mengantar aku pulang, tapi hanya sampai jalan depan rumah, tidak masuk dulu.  “Ayo masuk dulu, Dit. Kamu harus jelaskan kenapa kita bisa pulang pagi.” Pintaku.

“Nggak usah, kan kamu bisa bilang kalau kamu kemaleman dan hujan deras, jadi nginep di rumah Mira.” Katanya. Dan setelah itudia langsung menggeber motornya pulang.

Sementara hatiku rasanya tak karuan, aku takut Mas Anto marah.  Aku juga takut dengan Ibu. Belum juga aku masuk rumah, mas Anto sudah menghadang di depan pintu. “Dari mana kamu ?” tanya mas Anto dengan membentak. “Dari rumah Mira.” Kataku berbohong lalu buru-buru masuk kamar.

“Bohong kamu, bagaimana dengan temen cowokmu itu ?” tanya Mas Anto lagi. “Dia pulang, tadi jemput aku.”  Jawabku berbohong lagi. Mas Anto masih memberondongku dengan banyak pertanyaan. Hingga Ibu datang. “Sudah Anto, kasihan adikmu, dia kecapekan.”

Beruntung Ibu masih membelaku. “Ana, sana masuk kamar.” Suruh Ibuku.

“Kalau Ibu membela dia terus, dia akan jadi anak nggak tahu diri Bu.” Protes mas Anto. Di dalam kamar aku menangis, ingat akan kejadian semalam. Rasanya ada yang hilang, yang sangat besar dari diriku, kini yang kurasakan kosong. Kini aku sudah tidak perawan lagi, aku benci.

Aku pandangi wajahku di cermin, aku merasa kotor. Ibu, pasti engkau akan kecewa sekali dengan anakmu ini Bu. Kukunci pintu rapat-rapat, supaya tangisku tak terdengardari luar.

Hingga beberapa saat, Ibu mengetuk pintu kamarku. “Nak, sarapan dulu ya.” Suruh Ibu. Aku kembali menangis. Ibuku sangat baik sekali, walaupun aku nakal, tapi Ibu tidak pernah memarahiku, dia selalu menyayangiku. Tingkahku yang menyebalkan, tak membuatnya membenciku.

Aaarrrrgghhh…kenapa aku bisa melakukan semua ini. “Nak, sarapan dulu ya Nak, pasti kamu lapar.” Ibu masih di depan kamarku. “Nanti saja Bu, aku masih ngantuk.” Jawabku, sambil berusaha mengusap air mataku. Tapi mataku sudah terlanjur bengkak, karena kebanyakan menangis.

Dan seharian aku mengurung diri di kamar. Sementara Dito aku hubungi HP nya nggak aktif. Aku tidak mungkin menceritakan kejadian ini pada Mira atau teman-temanku yang lain. Ku pandangi hujan dari balik jendela kamarku. Dan betapa hatiku sedih dan kecewa, betapa bodohnya aku.

Ternyata pacarku kecelakaan setelah mengantarku pulang

Keesokkan harinya aku berangkat sekolah seperti biasa. Dan tak kudapati Dito masuk sekolah. Aku ingin bicara dengan Dito, hanya dia yang bisa aku ajak bicara tentang kejadian ini. Beberapa hari dia tidak juga masuk sekolah, hingga akhirnya terdengar kabar kalau Dito kecelakaan pada hari Minggu pagi, jadi setelah mengantar aku. Kondisi Dito sekarang koma.

Hatiku berdegup kencang, aku khawatir sekali dengan Dito. Akhirnya dengan diantar teman-teman, aku menjenguk Dito. Benar, Dito masih koma, dan sekarang di rawat di ruang ICU. Aku hanya bisa memandanginya dari balik jendela kaca. Air mataku tumpah, ingin sebenarnya aku marah padanya, tapi kondisi dia sangat lemah. Teman-temanku mencoba menghiburku. Entah aku menangis karena apa, sedih atau marah atau jengkel, tapi semua sudah terjadi.

Dan akhirnya dia mati sebelum bertobat dari dosa besar

Beberapa hari dirawat di ruang ICU, akhirnya kabar mengejutkan datang, Dito meninggal dunia. “Innalillahi wa inna illahi rojiun. Selamat jalan, pacarku.” Dan aku menangis.  “Kenapa kamu pergi secepat ini Dit, dan sebelum kamu pergi mengapa kita berbuat dosa, semoga Allah mengampuni kita.” Dadaku sesak, aku teringat dosa pada malam itu, aku menangis, menyesal.

Hari-hari berikutnya aku lebih sering diam, aku lebih suka mengurung diri di kamar. Aku lebih rajin sholat, aku ingin merasa lebih tenang. Ibu kulihat gembira melihat peubahanku.

Setelah beberapa lama, aku merasa ada keanehan pada tubuhku, aku sering merasa kelelahan. Badanku juga sering panas. “Kamu masuk angin, Nak. Banyak istirahat, jangan kecapekan.” Ucap Ibu. Tapi entah mengapa, aku jadi sering muntah. Karena khawatir dengan kondisiku, akhirnya Ibu membawaku ke dokter.

Aku hamil duluan, di luar nikah

Dan dokter berkata, “Anak Ibu hamil.” Kata-kata itu sungguh mengagetkan kami. Ibu sangat syok, dia memandangku. “Nak….” Aku hanya menunduk, aku juga sangat terkejut, bagaimana ini bisa terjadi. Lalu Ibu membawaku pulang. Di rumah aku menangis tersedu-sedu. Aku bersujud di kaki Ibu.

“Ibu, maafkan aku Ibu.” Ibu juga menangis, dia angkat tanganku. “Siapa ayah bayi yangkau kandung Nak ?” tanya Ibu lembut.

Aku semakin menangis, kejadian malam itu teringat lagi. “Dito Bu.” Ucapku lirih. Kulhat Ibu mengusap airmatanya. Tak kuasa aku menangis di pangkuan Ibu. Pasti hati Ibu hancur dengan kejadian ini.

“Ibu maafkan Ana Bu….” Kataku berulang kali. “Sudah Nak.” Ibu mengusap airmataku. Aku jadi semakin merasa bersalah, karena Ibu tidak memarahiku sama sekali. Bahkan mas Anto ketika mau memarahiku juga dilarang Ibu.

“Yang sabar ya Nak.” Kata Iubu sambil membelaiku.

Betapa durhakanya aku padamu Bu. Dan Ibu menyuruhku untuk merawat kandunganku. Maafkan anakmu, Ibu.(AF)


Terima kasih telah membaca cerita kisah inspiratif remaja hamil duluan. Semoga cerpen diatas dapat menghibur sekaligus memberi inpirasi juga motivasi bagi remaja untuk menjaga hubungan dengan baik tanpa melebih batas norma sosial dan norma agama.

Dibagikan

Anik Fityastutik

Penulis :

Artikel terkait