Malika

cerita pendek remaja Malika

Cerita pendek tentang pencarian diri dan arti cinta sebenarnya yang dialami oleh gadis remaja muslimah bernama Malika yang berharap ingin segera mendapat kekasih, dipinang lalu menikah. Bagaimana cerita pendek remaja ini berkisah ? silahkan simak pada cerpen berikut :

Cerita Pendek Remaja “Malika”

Jam hampir menunjukkan pukul 9 malam ketika Malika melirik jam tangan berwarna silver yang melingkar di tangannya. Sudah lewat 4 jam dari waktu seharusnya gadis itu pulang. Tapi, setumpuk pekerjaan yang masih menggunung di meja kerja menahannya tetap di kantor sampai setidaknya tiga per empat dari tugasnya selesai. Tidak hanya Malika, beberapa orang teman seperjuangan juga masih sibuk dengan pekerjaanya masing-masing.

“Aku mau keluar dulu, beli nasi goreng di depan. Kalian mau titip enggak ?” tiba-tiba seorang lelaki duduk di seberang meja kerja Malika bertanya, Arkan namanya.

“Aku mau ! Pedasnya setengah, telurnya dipisah, terus enggak pake MSG.” sahut Ghea

“Aku juga ! Tapi aku maunya mie goreng aja, gak pake sayur, kecapnya yang banyak.” teriak  Khansa yang sedang menyeduh sebungkus kopi di sudut dapur.

“Oke. Malika, serius amat, kamu enggak akan makan?” Arkan tampak heran mengapa Malika lebih banyak diam.

“Eh, iya, Kan. Aku juga mau titip deh. Nasi goreng satu. Makasih yaaa.” Ia langsung kembali pada pekerjaannya tanpa melirik Arkan yang melenggang ke luar ruangan menuju parkiran.

Tangan Malika sibuk sekali mengetikkan ini itu di laptopnya, sementara pikirannya sedang melanglang buana. Sejak seminggu yang lalu, ia menangis hampir di setiap selesai sholatnya. Di hatinya sedang ada sesuatu. Kemudian ia teringat lagi obrolan dengan sahabatnya beberapa malam lalu (baca cerita pendek remaja Don’t you remember me).

“Perantaraku belum kasih kabar apa-apa soal kak Arkan, aku ragu untuk nanya, tapi sebenarnya aku bingung juga apakah aku akan ta’aruf sama dia atau enggak. Terus, kemarin Faizal bilang, katanya beberapa bulan lagi dia akan ke Jepang dan pulang setelah masternya selesai. Terus, aku rasa kak Arkan lagi dekatin Ghea. Aku memang belum merasa apa-apa ke mereka, tapi aku sedih banget. Aku jadi merasa gak ada harapan banget untuk bisa menikah tahun depan.”

“Oh gitu. Hmm, Malika, siapa sih yang bilang kalau kamu enggak ada harapan untuk nikah tahun depan? Memangnya Allah bilang ya sama kamu kalau jodoh kamu adalah salah satu diantara kak Arkan atau Faizal ? Engga kan, ya?”

Malika gemetar hebat, “Iya Ran, engga. Astagfirullah!”

“Nah iya, kamu kayak udah tau aja apa yang jadi keputusannya Allah. Hehe. Sekarang perasaanmu gimana?”

“Aku tau ini perasaan yang negatif, tapi aku mau menerima perasaanku dulu. Aku mau terima dulu kalau sekarang lagi sedih, insecure sama hari-hari ke depan, kecewa sama kak Arkan, putus asa, tapi juga takut banget sama Allah. Gimana coba Allah akan ridho denganku yang begini ? Astagfirullaaah!”

“Iya, pasti ! Perasaan-perasaan macam itu memang pasti ada. Just back to Him! Kembali, Mal, mungkin kamu lagi futur makannya jadi begini. Sekarang, baiknya kamu fokus dulu kerja dan karya buat Allah, insyaAllah urusan menikahmu sudah diatur sama Allah.” Sampai dengan hari ini, Malik sedang mencerna kata-kata Ranti.

Kyaaaa! Sebuah teriakan memecah lamunan Malika, “Geeeengs, ini Hilda kirim undangan nikah. Waah, ternyata seminggu lagi. Duh, gimana ya perasaannya kalau seminggu lagi mau nikah?” sahut Ghea.

“Alhamdulillah. Hmm, gimana ya, mungkin degdegan, terus khawatir, tapi seneng. Hehe. Belum tau juga sih, belum ngerasain.” jawab Malika

“Mal, kamu kapan rencananya nikah ?” (baca : kalau mau sukses, menikahlah di usia muda)

“Belum tahu, doakan sajaaa …” dalam hati, ingin sekali ia menjawab tahun depan, tapi jawaban itu tertahan di langit-langit hatinya, “Kalau kamu kapan, Ghe?”

“Diusahakan segera, insyaAllah secepatnya.”

“Waaah, alhamdulillah, udah ada calonnya, Ghe?”

“Hmm, ada.”

“Siapa siapa? Ketemunya dimana?” tanya Malika penasaran

“Di kampus, kakak tingkat tapi beda jurusan.”

Deg! Malika kaget, badannya sedikit gemetar, kak Arkan kan satu kampus dan beda jurusan dengan Ghea. Tapi Malika mencoba tenang, “Ihiiiiw, Alhamdulillah! Seneng banget aku Gheaaa! Eh gaun nikahnya Nadhira kemarin cantik banget, lho! Kamu mau enggak kalau stylenya begitu?”

“Iya bener, cantik. Aku suka flower crownnya, terus …” kemudian, suara Arkan terdengar dari balik ruangan

“Assalamu’alaikum, ayo ayo makan dulu, jangan kerja terus nanti kurus!” sahut Arkan, membuat seantero ruangan sibuk dengan makanannya masing-masing.

Setelah dirasa cukup untuk lembur malam ini, semua orang pulang satu per satu. Di perjalanan, Malika bercerita kepada Khansa tentang apa yang mengganggu hatinya selama ini,

“Malika, wajar aja kalau kamu jadinya aneh gak jelas kayak sekarang, karena kamu sedang sibuk-sibuknya mempertanyakan sesuatu yang sebenarnya enggak perlu kamu pertanyakan. Dengan siapa kamu akan menikah, gimana ketemunya, kapan dan dimana walimahnya, akan seperti apa kehidupan setelah pernikahannya, semua udah diatur sama Allah jauuuuuh banget sebelum kamu memikirkannya. Soal kamu sama kak Arkan, Faizal atau ternyata sama yang lain, itu juga bagian dari pengaturannya Allah. Mau kamu nanya-nanya terus sampai berbusa juga kamu tetap enggak akan nemu jawabannya sekarang, kan semua tepat pada waktunya Allah.”

“Tapi, Sa, kalau ternyata kak Arkan beneran sama Ghea, gimana? Kalau ternyata aku juga enggak sama Faizal karena dia nemu yang lain gimana ?”

“Enggak gimana-gimana, Allah maunya begitu, yaudah. Toh kamu nanti akan dikasih ganti yang lebih suitable sama kamu kok, yang bukan cuma untuk sehari dua hari, tapi seterusnyaaa. Aku percaya, perempuan yang berusaha menjaga diri kayak kamu akan dipertemukan dengan lelaki shaleh.”

Malika hanya diam, di otaknya sedang terjadi pencernaan yang dalam.

“Malika, misalnya kamu enggak nikah sama kak Arkan yang ayah-able banget atau enggak sama Faizal yang luar biasa mempesona itu, itu bukan karena kamu kurang ini kurang itu. Bukan juga karena dia yang terlalu begini terlalu begitu. Bukan juga gara-gara si ini atau si itu. Semua karena Allah menakdirkannya begitu, titik.”

“Hmm, astagfirullah, ya Allah kembalikanlah hatiku pada keterpautan kepada-Mu …” bisik Malika, tapi masih cukup terdegar oleh Khansa

“Aamin.”

Dalam hati, Malika turut mengaminkan sambil berdoa, Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyyatina qurrota a’yun waj’alna lilmuttaqina imama. Lalu ia terus berjalan menuju tempat tinggalnya, juga berjalan menyusuri takdir-takdir baik Allah atas dirinya.


Terima kasih telah membaca cerita pendek remaja kami. Jangan lupa berikan komentar pada kolom dibawah untuk mendukung penulis dan baca cerita pendek kami lainnya.

Dibagikan

Penulis :

You may also like