Mantan Istri Suamiku

cerita pendek keluarga mantan istri suamiku

Adakah wanita bersahabat dengan orang yang merebut suaminya ? cerpen keluarga ini bercerita tentang wanita yang menjadi teman mantan istri suaminya. Bagaimana ceritanya ? simak pada cerita pendek berikut.

Cerpen Keluarga Mantan Istri Suamiku

Aku menatap wanita didepanku tanpa kedip, inikah wanita itu yang sering jadi pembicaraan keluarga suamiku, dalam pembicaraan, sering kudengar selalu saja menyebutkan hal tidak baik tentang wanita ini, jika sudah begitu pasti akhir dari pembicaraan adalah hinaan. Hatiku jadi penasaran seperti apakah sosok wanita yang selalu hadir dalam setiap pembicaraan keluarga. Dalam balutan seragam PNS nya tak kutemukan kejelekkan sebagaimana dibicarakan mereka. Wanita ini cantik walaupun terlihat penampilannya agak tomboy apalagi dia mengenakan seragam PNS dengan atribut POL PP. Kelihatan wanita macho dengan rambutnya digunting cepak. Aku maklum sih namanya juga kerja di POL PP rambutnya harus pendek.

Di usianya yang sudah memiliki tiga orang anak perempuan, dia masih kelihatan menarik. Yah ada sesuatu pembuat wanita di depanku ini terlihat menarik. Tak sadar ku mencoba membandingkan diriku dengannya. Dibanding denganku, dia memang lebih cantik. Tubuhku tidak terlalu tinggi, standar saja, wajahkupun pas-pasan, mungkin yang membedakan dengannya adalah usiaku masih muda, umurku 19 tahun saat menikah dengan duda beranak 3 berumur 35 tahun.

Tapi karena hatiku jatuh cinta padanya, diriku tak peduli dengan umurnya, apalagi penampilan suamiku memang trendy hingga orang tak berpikir kalau usianya sudah 35 tahun. Apa alasan suamiku menceraikan wanita ini ? dia masih sangat menarik, lihat saja tatapan matanya yang sayu,  dan bibirnya yang sensual, ditunjang  postur tubuhnya yang tinggi yang semakin terlihat tinggi dengan sepatu boot hitam melengkapi penampilannya. Apa benar seperti pembicaraan keluarga suamiku kalau mantan istrinya selingkuh ? mataku terus saja memperhatikannya ketika sikut Jaminah menyentakkan lengan.

“Liat apa Ning ? ” tanyanya penasaran. Ku beri isyarat pada sosok tak jauh di depan dengan tatapanku. Jaminah melihat isyarat menarikku ke dalam warung.

“Itu ? ”

“Iya, aku tahu mantan istrinya suamiku. ” selaku cepat.

“Oooh kamu sudah tahu to. ”

“Ya iyalah tahu wong foto-fotonya banyak di ponsel suamiku belum lagi album-album pernikahan di gudang. Belum lagi yang disimpan anak-anak.” Ujarku cepat dengan suara setengah jengkel. Yah memang agak sedikit jengkel hampir dua tahun pernikahan dengan Abdi, tapi sosok perempuan itu masih saja menjadi pembicaraan keluarga suamiku, belum lagi barang-barang yang berhubungan dengannya belum disingkirkan.  Ini membuatku tidak nyaman. Setiap kali  mencoba untuk menyingkirkan barang-barangnya, diriku selalu diprotes anak-anak. Sepertinya diriku belum bisa menggantikan tempat ibu mereka di hati mereka.

Tapi jika benar wanita itu selingkuh duluan, kenapa sampai saat ini belum menikah-menikah juga. Rasa penasaran juga sedikit ketakutan selalu menghantui pikiran. Bagaimana jika suamiku masih ada rasa pada mantan istrinya itu. Jujur saja ketakutan-ketakutan diiringi dengan pikiran buruk selalu saja datang. Dan hatiku sama sekali tak bisa menepisnya. Apalagi saat  tahu ternyata wanita mantan istri suamiku lebih menarik dibanding diriku. Tapi biar bagaimanapun posisiku tetaplah menjadi pemenang buktinya, aku bisa menikah dengan Abdi dan hatiku sungguh bahagia menikah dengannya walaupun dia duda beranak 3. Abdi juga sangat menyayangiku lalu untuk apa cemas.

Bertengkar dengan suami gara-gara dia mengigau menyebut nama mantan istrinya

cerita tidur mengigau sebut nama mantan
Bebek bobo

Hari ini aku bertengkar hebat dengan Abdi selama 3 tahun pernikahan dengannya baru kali ini  bertengkar hebat dengannya. Masalahnya hanya sepele saja, tadi malam aku kaget dan terbangun dari tidur saat mendengar Abdi mengigau dalam mimpinya, yang lebih kaget lagi dalam igauannya ku dengar nama wanita itu disebut-sebut. Itulah kenapa tanpa pikir panjang aku langsung membahasnya saat sarapan. Memang tidak tepat waktunya tapi rasa cemburu benar-benar sudah membutakan hati. Karena masih ada anak-anak, Abdi terlihat menghindari semua pertanyaan nantilah setelah anak-anak ke sekolah baru dia menyanggah semua perkataanku.

Hasilnya, akibat rasa dongkol semalam ditambah rasa cemburu diriku tidak mampu mengendalikan rasa emosi. Pertengkaran itupun terjadi… tapi hasil dari pertengkaran itu tak memuaskan, sebagai wanita aku ingin penjelasan lebih. Memang tidak masuk akal jika hanya karena mimpi kami sampai ribut berat. Tapi masalahnya, masalahnya karena igauannya adalah nama mantan istrinya. Apa Abdi masih mencintai istrinya ? lalu kenapa dia menikahiku dengan alasan mencintai… bagiku ini tidak adil.

Habis bertengkar, ujungnya diam-diaman

Akupun semakin dongkol karena akibat dari pertengkaran hebat pagi itu kami diam-diaman, aku lebih memilih diam untuk melampiaskan kejengkelan, sementara Abdi lebih memilih untuk menghindar. Dan akupun semakin ketakutan, hatiku takut dia mencari mantan istrinya saat kami sedang ada masalah. Apalagi beberapa hari terakhir ini Abdi lebih memilih tidur di kamar tamu. Itu semakin menyesakkan dadaku. Diriku merasa terabaikan, merasa tak dicintai dan itu melukai hati dan harga diri ku.

Tiba-tiba mantan istri suamiku telpon

cerpen cinta suami dengan mantan istri
Menelpon

Pagi ini aku menerima sebuah telpon dari nomor tidak kukenal, dan ternyata itu dari mantan istrinya Abdi. Dalam hatiku agak dongkol juga bisa-bisanya dia menelpon dan meminta untuk bertemu. Tapi walau merasa jengkel karena mengingat dia yang menjadi sumber pertengkaran hebat dengan Abdi aku menyanggupi untuk bertemu. Kami bertemu di sebuah Café di pinggiran kota cukup sepi. Kali ini wanita itu tidak memakai seragam, dia mengenakan celana panjang dan kemeja. Dalam hati aku jadi iri melihat penampilannya seperti anak kuliahan, begitu sporty, padahal dia sudah berumur. Sementara aku, jadi malu menyadari penampilan asal-asalan padahal suamiku orang berpangkat dan berduit.

Dia menyambutku dengan uluran tangannya, tersenyum ramah. Aku menyambut uluran tangannya dengan asal-asalan lalu langsung duduk. Bayangan kejadian di malam itu masih sering terlintas dibenak. Hatiku jadi jengkel lagi.

“Ada apa ya mbak ? ” tanyaku tak sabaran.

“Sepertinya kamu sedang terburu-buru Ning ?”

“Enggak juga Mbak…” sanggahku cepat.

“Baiklah, sudah lama sebenarnya ingin bertemu dan bicara berdua denganmu Ning. Tapi baru kali ini punya kesempatan. Bagaimana anak-anak apa mereka baik-baik saja.”

“Alhamdulillah baik Mbak…” jawabku, memangnya kamu pikir aku ibu tiri jahat yah. Desisku dalam hati.

“Syukurlah senang mendengarnya. ”

“Gimana si bungsu sehatkan, oh yah siapa namanya Nauval yah ?”

“Eh iya Mbak sehat… ” apa sih maksud wanita ini.

“Ku harap kamu tidak terganggu dengan ajakanku bertemu  Ning, aku hanya ingin mengenalmu. Karena jujur saja diriku hanya bisa melihatmu dari jauh, jika Abdi sudah menentukan pilihan untuk menikahimu itu berarti dia benar-benar mencintaimu.”

“Maksud Mbak apa ? ” selaku cepat. Wanita di depanku tersenyum simpul seolah menyimpan suatu cerita. Dan aku jadi tertarik untuk duduk lebih lama mendengar ceritanya. Dan apa yang kudengar darinya membuatku yang tadinya sempat dongkol berubah. Sebaliknya jadi merasa sangat malu, bahkan tak berani mengangkat wajahku. Rasa bersalah begitu hebat menerpa diriku seperti angin puting beliung. Meluluh lantakkan harga diriku yang kurasa paling tinggi karena sudah menjadi istri Abdi. Tapi ternyata diriku tak ada beda dengan wanita yang merampas suami orang.

“Tapi sudahlah Ning, kita tidak bisa memaksakan perasaan orang untuk kita. Begitu juga diriku pada Abdi. Bagiku tali jodoh kami sudah berakhir karena takdir, aku tak menyalahkan siapa-siapa. Mungkin memang belum bisa memberikan kebahagiaan seperti yang Abdi temukan pada dirimu. Karena itu diriku sangat berharap kamu bisa membahagiakan Abdi dan mengurus anak-anak dengan baik. ”

“Maafkan aku Mbak…”

“Hei hei aku mengajakmu bertemu untuk menjalin persahabatan denganmu bukan untuk menyalahkanmu. Kamu juga ibu dari anak-anakku. Aku ingin kita dekat supaya aku bisa tahu kabar anak-anak darimu. Dan juga jika kamu kekurangan apa-apa kamu bisa bilang padaku. Dan juga Ning aku memahami perasaanmu jika ada perasaan cemburu padamu itu wajar rasa itu timbul karena kita memiliki cinta. Tapi satu hal Ning aku dan Abdi sudah tak ada hubungan apa –apa selain hanya mantan istri atau suami.”

“Sungguhkah Mbak mau berteman denganku ? orang yang sudah merampas suamimu dan menghancurkan rumah tanggamu. Sungguhkah ?”

“Ada satu hal yang kamu harus berjanji padaku Ning. Berjanjilah untuk mencintai dengan setulus hati dan membahagiakan Abdi. Abdi butuh wanita sepertimu Ning yang selalu ada untuknya dan juga bukan hanya mencintai Abdi tapi anak-anak. Memang mereka belum terbiasa tapi kamu bisa memenangkan hati anak-anak dan aku akan membantumu. ” segala hal buruk mengenai mantan istri Abdi hilang begitu saja saat aku mengenalnya di sore itu.

Diapun banyak bercerita tentang kesukaan anak-anak yang begitu sangat membantuku. Walaupun disatu sisi aku merasa berdosa karena akulah penyebab hingga Abdi meninggalkan dirinya tapi semuanya sudah terjadi dan akupun sadar aku tak bisa begitu saja memutuskan tali silahturahmu diantara kami. Seandainya aku tidak hadir dalam kehidupan Abdi mungkin mereka masih bersama saat ini. Sejak saat itu aku tidak pernah lagi merasa cemburu dengan mantan istri suamiku. Hubunganku dengan Abdi-pun kembali menghangat. Ku tahu apa yang terjadi saat ini tak lepas dari namanya takdir kehidupan. Karena itu aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk hidup bersama dengan orang yang ku cintai. Dan akupun berdoa semoga wanita itu bisa memiliki kebahagiaan sama dengan yang aku miliki saat ini.


Terima kasih telah membaca cerpen keluarga tentang mantan istri. Semoga cerita pendek diatas dapat menghibur dan memberi inspirasi bagi pengunjung Bisfren sekalian.

Dibagikan

Putri Wahyuningsih

Penulis :

Artikel terkait