Mentari Queena Dan Jenna

cerita cinta pendek

Queena Dan Jenna adalah cerita cinta pendek dalam balutan pesona keindahan alam bernuansa rohani Kristen. Kisah cinta diakhiri dengan perpisahan untuk sementara memberi pertanyaan akan kelanjutan hubungan tokoh utamanya. Simak selengkapnya pada cerita cinta berikut.

Cerita Cinta Pendek – Mentari Queena Dan Jenna

Pagi ini aku harus berangkat ke kampus dengan tergesa – gesa. Aku bangun kesiangan, lagi ! Dengan cepat, aku menghabiskan sarapan pagi sangat sederhana dari Mama. Aku memanggil Papa untuk segera mengantarkanku ke kampus. Sesampainya dipintu gerbang utama, bel tanda pelajaran pun berbunyi. Aku berlari menuju ke kelas.

Jenna adalah teman sebangkuku, ia duduk manis di kursinya sambil menyiapkan buku pelajaran pada jam ini. Dia menoleh dengan santai dan tersenyum kepadaku. “ Hampir terlambat lagi ya, Queena ? “ Diriku hanya menganggukkan kepala saja, dan baru teringat kalau lupa mengerjakan PR untuk mata kuliah Bahasa Jepang. Seperti biasa Jenna dengan sukarela meminjamkan buku PRnya. Queena adalah teman paling dekat di kampus. Jenna selalu dengan sabar mendengarkan semua keluh kesahku saat ku mendapatkan masalah di rumah atau bersama teman – teman di luar kampus. Dia penuh perhatian dan sangat baik, tulus, meskipun diriku kadang – kadang agak cuek serta lupa dengan kata – kata bijaknya.

Hari ini tanggal 14 Februari adalah hari ulang tahun Jenna. Sejak kemarin diriku sudah menyiapkan satu kado istimewa buatnya. Dengan uang tabungan dan pemberian dari Mama, ku hadiahkan seuntai kalung mutiara hitam karena diriku tahu bahwa Jenna sangat suka perhiasan. Aku ingin memberikan sebuah kejutan ringan siang hari ini, jadi berangkat pagi – pagi ke kampus. Beruntung sekali diriku lebih dulu tiba di kelas, tapi hingga jam masuk berbunyi, dia belum juga muncul dengan senyumannya riang serta sangat manis. Hatiku mulai resah. Sampai jam pelajaran terakhir usai, dia benar – benar absen. Aku bertanya pada teman – teman dekat lainnya, kenapa Jenna tidak masuk hari ini ? tidak ada satu orangpun tahu.

Satu bulan berlalu. Jenna tidak masuk kampus, hatiku merasa khawatir lalu mencoba tuk meneleponnya kerumah. Lima menit, seorang ibu berusia paruh baya mengangkat telepon, “ Halo, selamat pagi ?! “ “ Ibu,  apakah benar ini rumah Jenna ? “ tanyaku hati – hati karena takut salah memencet nomer. “ Iya nak, benar ini rumahnya, ini siapa ya, apa ada dapat ibu bantu ? “ “ Jenna ada, bu ? “ tanyaku denga kegirangan hati. “ Dia sedang ke pasar, semenjak Papanya sakit, keluarga kami mengalami kesusahan keuangan. Oleh karenanya, dia ikut tantenya berjualan keju di salah satu toko makanan milik keluarga kami. Dulu dia senang membantu saat pulang kuliah tetapi kemungkinan dia harus berhenti kuliah karena pekerjaan ditoko sangat sibuk  “. Hatiku terkejut mendengar ucapan Mama Jenna.

“Sampaikan salam saya buatnya, mungkin nanti malam saya akan mampir ke rumah”. Jenna selalu optimis memandang masa depan, ia selalu rajin belajar serta menjadi juara dikampus, meskipun berasal dari keluarga kurang mampu. Namun dirinya tidak pernah mengeluh bahkan tidak mau memperlihatkan penderitaannya.

Waktu menunjukkan pukul 7 malam, dari kejauhan mataku melihat Jenna sudah menunggu kedatanganku dengan sabar didepan pintu gerbang rumah sederhana, tinggal beberapa langkah lagi kakiku tiba disana, aku segera memeluk tubuh mungilnya. “ Jenna, aku kangen sekali dengan kamu. ”, sapaku dengan lembut di depan wajahnya. Kulihat sekujur tubuhnya sangat kurus, mungkin dirinya terlalu kelelahan serta kurang istirahat karena harus bekerja full dua puluh empat jam juga harus merawat Papanya yang sedang sakit.

Kuberikan kado yang berhari – hari kusimpan setelah hari ulang tahunnya berlalu karena musibah menimpa Jenna. “ Terima kasih Queena, engkau masih ingat hari ulang tahunku, karena diriku sendiri sudah lupa, kami semua sangat sibuk ! “ Pelan – pelan dibukanya kado dariku, matanya berbinar sangat bahagia. “ Terimakasih, kalung mutiara hitam ini sangat indah, akan kukenakan pada perayaan malam Natal bulan depan, semoga kondisi kesehatan Papa membaik  “ seru Jenna dengan gembira.

Aku pun turut merasakan kebahagiaan ketika melihat binar – binar ceria menari – nari di kedua bola mata indah sahabatku. Meskipun kesedihan dan beratnya hidup harus dia jalani, dia masih bisa tersenyum kepadaku karena kado aku berikan.

“ Engkau bisa mampir ke toko makanan kami di pasar, kapan pun kamu mau, karena kita bagaikan sepasang kupu – kupu akan selalu terbang bersama – sama kemana pun kita suka, meskipun sudah tidak di kampus lagi. “ Diriku tidak akan melupakannya. Apa yang dipikirkan Jenna ternyata sangat berharga bagi kelangsungan persahabatan kami. “ Sekali lagi, terima kasih Queena, atas hadiahmu  “ Kami  pun  berpisah  karena sebentar lagi malam  akan  menjelang. “ Sampai jumpa, Queena. “ Sama – sama !.

*****

Liburan Natal dan tahun baru di Ribeauville.

Queena melihat kepada jam digital tercantum pada layar ponselnya. Ia tiba dini hari di stasiun kereta api dan sedikit bingung untuk membangunkan orang rumah sepagi buta begini ? Namun bathinnya tak bisa menyembunyikan rasa cemas berlebihan. Mungkin harus menyewa sebuah taksi saja terparkir rapi pada area kosong sekitar stasiun kereta api. Sementara itu berjalan pelan juga santai ke sebuah kedai kopi yang kebetulan sudah buka dan pemiliknya adalah seorang wanita paruh baya berasal dari Belanda. Segelas Cappuccino hangat memberi semangat baru terhadap sekujur tubuh kedinginanku. “ Apakah anda sedang menunggu kedatangan seseorang ? “ Seorang pelayan kedai bertanya ramah kepada Queena sambil meninggalkan salinan captain order dihadapannya. Queena menggeleng dan memberikan sebuah senyuman ramah  kepadanya,  meskipun  raut  wajahnya  terlihat  layu  karena  kelelahan,      “ Sebenarnya saya ingin menelepon Opa untuk menjemput disini. Tetapi karena hari masih sangat pagi, saya tidak enak mengganggu mereka  “ jawabku dengan lembut.

Pelayan itu mengangguk – anggukkan kepala tanda mengerti kondisiku saat ini. Bibirku tersenyum sekali lagi melihatnya berusaha mengerti dari keabstainannya berkomentar meskipun sebenarnya saat ini hatiku sedang tidak begitu senang untuk dikomentari sehingga hanya memberi jawaban – jawaban lugas serta singkat, implisit mengatakan bahwa diriku sangat lelah serta mengantuk setelah melalui sebuah perjalanan panjang dari kota Paris menuju ke Ribeauville sama seperti dirinya yang enggan untuk diganggu melihat setumpuk pekerjaan harus segera ia selesaikan. “ Apakah ada hal lain bisa saya bantu untuk anda, nona ? “ “ Tidak, terimakasih  “ “ Iya deh, kalau begitu selamat menikmati sarapan pagi. “ “ Terima kasih  “

Satu jam kemudian, diriku berdiri kemudian pamit kepada pelayan kedai, kakiku menuju ke sebuah taksi terparkir tidak jauh dari sini untuk mengantarkanku menuju ke rumah Opa yang masih sangat jauh dari stasiun. Kubayangkan bisa mendapatkan sedikit keberuntungan, berbaring dengan nyaman pada jok belakang empuk dan hangat, sambil menikmati sekotak Carac masih hangat yaitu Swiss pastry berisi green icing dan cokelat beraroma apel serta buah lemon, hmmmmm, kemudian taksi akan melaju dengan tenang mengantarkanku menuju ke rumah Opa ditengah perkebunan anggur termanis di Perancis. Ketika mentari mulai bersinar, menandakan bahwa pagi hari mulai merekah, diriku tiba didepan rumah Opa dan Oma lalu akan membuat sedikit kejutan telah kusiapkan.

“ Queena ?! “

Benakku terjaga dari lamunan. Kepalaku mendongak ketika ada seorang laki – laki bersuara bariton memanggil namaku sangat jelas tanpa ragu – ragu. “ Anda Queena bukan ? “ Wajahku menghadapi mukanya, “ Masa engkau lupa denganku, Queen ? Aku Albertine. Kamu lupa ya ? Aku bekerja diperkebunan anggur milik keluargamu didesa  Kita pernah bersama – sama ketika musim panen buah anggur tiba tiga tahun lalu, semoga kamu masih ingat ? “

Bibirku tersenyum lebar lalu langsung mengenali siapa dia, aku berjabatan tangan dengannya. Tak mungkin melupakan tubuh tinggi besar serta kulit kecokelatan serasi dengan rambut lurus hitam legam itu. Seorang pria sederhana berperan besar dalam kesuksesan usaha perkebunan anggur milik Opa karena ia pandai membuat beberapa perubahan penting serta keputusan sangat cepat untuk kebaikan perusahaan.

“ Hai, apa kabar ? ” Albertine tersenyum lebar serta kelihatan bahagia karena beruntung bertemu dengannya distasiun kereta api asing ini. Jabatan tangannya sangat erat, kuat, hangat, namun tidak berkesan berlebihan. “ Berlibur dirumah Opa ya ? Ikut bersama saya saja karena hari ini kebetulan saya ada perlu dengan seorang kolega dekat stasiun ini, karena pagi – pagi begini beberapa sopir taksi masih malas memulai untuk bekerja ? “ ajaknya dengan sopan lagi ramah.

Kepalaku mengangguk. “ Ya. Tapi aku tidak merepotkan anda bukan ? “ “ Sama sekali tidak  “ Dia tertawa, terlihat kedua lesung pipit menghiasi rahang kokohnya, semakin mendukung ketampanan wajah dimiliki. Setelah beberapa menit mereka asyik mengobrol serta saling melempar gurauan – gurauan kecil akrab, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju ke rumah Opa. “ Kamu tidak berubah, Queen, “ ujar pria itu dengan lembut. Kedua tatapan matanya mampu menembus hingga ke relung hati paling dalam melalui mata Queena. Wanita yang terkenal teguh pendirian tersebut menjadi merona pada kedua pipinya karena tersipu. “ Ya, aku selalu senang dengan traveling, berlibur didesa – desa terpencil untuk merayakan Natal serta suka menyembunyikan rahasia kecil. Senang bertanya meskipun terlebih dulu sudah menemukan sebuah jawaban sebelum aku memberikan pendapat apa – apa. Sedikit tricky. ”

*****

Seperti halnya desa – desa yang lain di Perancis, Ribeauville berada pada pusat perkebunan anggur Alsace berada dikaki gunung Vosges, mempunyai pemandangan alam begitu mempesona.

Dua jam menempuh perjalanan cukup melelahkan, akhirnya kami tiba dirumah Opa. Sebagian besar dibangun dengan memakai kayu jati diberi ukiran – ukiran cantik serta unik khas negeri Perancis. Memakai cat dalam warna – warna terang, serta dikelilingi oleh taman bunga Tulip serta mawar hutan liar, ladang buah stroberi juga beberapa batang pohon anggur. Terlihat begitu asri.

Kami tiba di depan rumah Opa dan Oma. Dalam kondisi tubuh lelah karena menempuh perjalanan panjang dari kota ke desa, kedua kakiku segera  berlari – lari kecil menuju  ke  pintu  gerbang sebuah rumah yang sangat besar. “ Omaaaaaa ! “, diriku tergesa – gesa mencarinya ke dapur, dan dugaanku benar, kulihat dia sedang asyik memasak sesuatu untuk menu makan siang. Kudekap tubuhnya yang terlihat ringkih dan semakin tua dari belakang.

Meskipun diriku dilahirkan oleh Papa dan Mama namun kuyakin bisa sukses seperti ini karena Oma telah telaten turut merawat dan membesarkanku. “ Engkaukah itu, Queena ? “ “ Iya, Oma, ini Queen  “ balasku sigap. Kulihat kedua matanya mengeluarkan tetes – tetes air bening yang membasahi kedua pipinya.

Ia terbelalak memandangi sekujur tubuhku yang telah berubah banyak. “ Kamu sangat cantik seperti Mamamu meskipun tubuhmu terlihat sedikit gemuk ? “ candanya. Terlukis bulir – bulir haru pada wajah keriputnya. Air mata semakin deras keluar. Suaranya pun mulai terdengar parau. “ Oma sangat merindukanmu. “ Kedua tangannya gemetar melingkar lembut pada bahuku. Kehangatan hubungan kami berdua sangat tulus menjalar ke seluruh tubuhku yang telah beranjak dewasa.

*****

Mengolah rasa manis dari sebuah awal yang berjalan mulus agar tetap manis adalah jika anda pintar meramu rasa tersebut tetap manis. Hubungan masa lalu mereka telah berjalan hampir 3 bulan ini berlangsung bahagia kini tersambung kembali.

Penantian adalah sebuah kondisi yang rentan terhadap rasa hiba
Seperti 365 hari yang pernah dia dan aku lalui
Saat mereka begitu pasti dia akan menjadi miliknya
Saat waktu – waktu penantian kehilangan sekelip mata
Penuh setia
Tanpa sebarang kata

Albertine dan aku sedang menikmati suasana pantai di pagi hari ketika kedua telingaku menangkap sepasang burung Camar asyik mendendangkan sebuah lagu pujian terhadap keindahan alam semesta. Angin dengan lembut membelai rambutku, membuat hati ini terasa tenang dan begitu lapang. Sayup – sayup kelihatan beberapa sampan tradisional para nelayan sedang sibuk mencari sumber rezeki di laut.

Beberapa remaja lewat didepan mereka sambil membawa keranjang – keranjang dari bambu berisi hasil tangkapan nelayan ditengah laut. Mereka terlihat antusias serta penuh keceriaan menyapa sang mentari pagi.

Kawasan pantai ini sangat tepat digunakan untuk berkemah dengan teman – teman. Sekedar menghilangkan stres, apalagi para nelayan tersebut sangat ramah menyapa para pengunjung pantai sedang menikmati keindahan alam semesta ciptaan dari Ilahi yang memang sangat indah. Kemudian sepi, tak ada suara selama lima menit, lamunan Albertine hanya fokus pada Queena saja. Dia gadis cantik, periang, meskipun sedikit misterius. Tidak suka berbicara banyak, serta hanya tertarik hidup dengan dunianya sendiri. Sukar dipahami karena dirinya adalah seorang perempuan senang berahasia.

Kembali mereka berdua bercanda dan saling mengemukakan pendapat tentang apa saja hingga cinta ! Dua burung Camar menghampiri mereka berharap mendapatkan beberapa remah – remah roti kering dibawa oleh Queen. Sebagai ungkapan rasa terimakasih, mereka bernyanyi sekali lagi dengan mendendangkan lagu – lagu pujian terhadap sepasang manusia. Mereka tahu sebentar lagi akan melangkahkan kaki bersama – sama menuju kapel di atas tebing, di pinggir laut dimana setiap hari ribuan burung Camar berenang melawan ganasnya ombak pantai hanya untuk menangkap seekor ikan buat sarapan pagi.

“ Let’s me talking about love  “ Albertine mengambil tangan kanan Queen dengan serius memperhatikan ruas – ruas telapak tangan yang dipercaya bisa membimbing si pemiliknya untuk mencari sebuah berkah kehidupan. “ Express your love ? Ikuti saya ………. ? “ Queena mendengar dengan penuh minat. Ini pertama kali yang dilakukan oleh Albertine sejak hubungan persahabatan mereka terjalin tiga tahun silam. Queen memfokuskan pikiran.

Albertine memperhatikan raut wajah Queen yang menunjukkan minat besar terhadap cinta pada hubungan pertama. “ Meskipun kita jarang bertemu, hanya mendapatkan waktu ketika liburan musim panas atau perayaan Natal serta tahun baru seperti saat ini, kita duduk – duduk diatas bangku taman kebun anggur, menikmati sarapan pagi terlezat dari Oma tercinta, namun kita jarang share hal – hal ini  So ………. now dear, let me know your feelings ? Semua akan membuat saya merasa tertarik. “ Queena mengakui memang mereka jarang dekat meskipun berada dalam satu atap rumah, Albertine tinggal di dalam rumah keluarga Queena bersama dengan Opa serta Oma untuk mengurus perkebunan anggur mereka. Mereka saling menghormati juga masing – masing menjaga perasaan untuk tidak saling mencampuri urusan pribadi.

“ Ok.  Let’s  we  start from now ! Nama  siapa  ada  di dalam  hatimu ? “     “ Kamu ! “ Tidak ada salah jika akhirnya di pantai ini mereka mendeklarasikan diri sebagai sepasang kekasih baru, saling menyayangi juga mencintai tetapi hal paling penting adalah mereka berusaha belajar tuk menjaga perasaan semua pihak tetap hangat hingga hubungan baru berlangsung ini berjalan dengan mulus dan suatu hari nanti mereka bersama – sama melangkahkan kaki menuju ke kapel.

*****

Di dalam kamar tidur Queena

Dia membuka laptop merah kesayangannya lalu memulai chating di YM. Dia menulis sebait kalimat pembuka berbunyi : salahkah hatiku mencintainya ? Lalu kemudian seseorang menjawab pertanyaannya. Sebenarnya itu bukanlah sebuah pertanyaan membutuhkan jawaban, Queena hanya melukiskan kegembiraan hatinya. Jenna Danisha, diklik nama itu, seorang gadis cantik lain nun jauh di kota Paris menjawab pertanyaannya dengan kesungguhan hati : perasaan cinta menyebabkan jiwa tak boleh dikotori oleh hasrat karena hasrat lebih menonjolkan insting kebinatangan. Cinta membuat seseorang menjadi suka berbicara apa saja dengan orang dicintai, lebih senang menghabiskan sebagian waktu mereka untuk yang terkasih, serta lebih suka mengintip kemauan pasangan serta mulai melupakan orang – orang biasa disekitar mereka  Queena menjawab : iya, kamu benar, cinta senantiasa membimbing sekaligus mengarahkan manusia kepada Tuhannya, karena melaui cinta, Tuhan akan mempertemukan lebih dekat lagi antara manusia dengan manusia lainnya berlainan jenis. Cinta sejati merupakan cinta dari sepasang anak manusia atas nama Tuhan yang termanifestasi terhadap cinta lain yang erat hubungannya dengan berkah Tuhan, seperti cinta kepada sesama, cinta terhadap sebuah hubungan pasti akan berakhir bahagia, atau cinta keindahan.

Mereka asyik chating hingga tiba waktu makan malam, “ Queen, segeralah turun, Opa dan Oma sudah siap untuk makan malam ? “ Queen buru – buru mengakhiri percakapan hangatnya dengan sang sahabat : cinta seperti itulah akan menjadikan manusia sebagai salah satu sosok ciptaan Ilahi paling sempurna, aku berharap pada suatu hari nanti, kamu juga mengalami hal paling menarik di dunia ini seperti aku ………. goodnight, dear

Pada keluarga kami seperti di rumah bersama Papa juga Mama, menemukan acara makan malam sebagai acara paling penting juga sangat menarik selalu ditunggu – tunggu oleh seluruh anggota keluarga. Kami duduk melingkar bersama – sama di meja makan pada ruang keluarga nyaman juga hangat meskipun di luar sedang turun hujan salju, kami selalu mengutamakan etika seperti orang – orang Eropa pada umumnya, seluruh sajian dimasak sendiri oleh Oma dengan dibantu oleh beberapa pelayan, karena keluarga kami mempertimbangkan makanan sehat buat anggota keluarga. Meskipun demikian, mereka tak lupa menyediakan beberapa minuman dingin kesukaanku, hmmmmmm, aku makan dengan lahap malam ini.

*****

Liburanku akan segera usai

Hari ini adalah terakhir aku bermain – main di rumah Opa dan Oma. Albertine berkunjung kemari sambil membawakan aku setangkai bunga mawar merah yang mengeluarkan aroma wangi, membuat hati ini semakin damai untuk menjalani sisa hari yang tinggal sedikit, bersama – sama.

Sebelum matahari mulai menampakkan sinarnya dalam seribu satu warna, kami telah duduk santai di halaman rumah Opa. Besok pagi adalah waktu perpisahan aku dan dia. Oleh karenanya, aku tak ingin melewatkan waktu paling berharga ini seorang diri. “ Queen, hari ini kita mau kemana ? “ tanya Albertine penuh semangat. “ Ke pantai ! “ “ Okee, aku duluan jalan, nanti kamu menyusul ya ?! “ Albertine berlari meninggalkanku. Satu jam kemudian, kami sudah duduk di pinggir pantai dengan hamparan pasir putih yang sangat mempesona mata tuk memandangnya. Kami sama – sama terdiam, masih asyik dengan lamunan masing –masing tentang hubungan kekasih yang telah kami jalani meskipun pada akhirnya nanti kami harus berpisah tempat tinggal. Tiba – tiba suara dia mengagetkanku,      “ Lihatlah kedua burung Camar itu, dia akan menyanyikan sebuah lagu alam buat kita, apakah kamu ingin mendengarkannya, Albert ? “ “ Tentu saja ! “ Kami berdua saling berpegangan tangan menuju ke tepi pantai dengan airnya hangat menggelitik telapak kaki. Lalu Queen melemparkan remah – remah roti kering buat kedua Camar itu dan teman – temannya. Mereka berebut untuk mendapatkan menu sarapan pagi terunik yang mereka suka selain ikan – ikan laut : berjanjilah wahai kekasihku, jika engkau harus meninggalkan aku pada suatu hari nanti, tetaplah tersenyum, walaupun hati kita sedih dan menangis, namun kuingin engkau tetap tabah menghadapinya.

Terputar kembali kenangan – kenangan indah saat aku pertama kali berjumpa dengan Albertine beberapa tahun yang lalu, kami menjalin tali pertemanan biasa dan selalu senang melewati waktu luang bersama – sama. Waktu di masa lampau tersebut kami isi dengan jiwa petualang travel, canda dan tawa, senyum atau kadang – kadang kedua mata indah Queen berkaca – kaca karena terharu. Jika kami harus berpisah, kami pasti akan saling rindu. Lalu kami terdiam lagi. Albert melirik ke wajah putih Queeba, dia melihat ada butir – butir bening muncul perlahan – lahan  di  pelupuk  matanya.  “ Kamu tidak apa – apa kan ? “ tanya dia. “ Kamu akan tetap ingat aku, ya ? “ ucap Queen lirih. “ Pasti ! “ Kuraih sebuah kotak yang terletak di dalam tas pinggangku. Kuberikan kotak kecil itu buat Albertine. “ Ini aku mempunyai kenang – kenangan indah untukmu, karena perjalanan hidupku di kota masih sangat panjang, aku harus menyelesaikan kuliah dan setelahnya aku harus mencari sebuah pekerjaan yang bagus, pakailah cincin hadiah dariku, supaya kamu ingat aku terus. ” “ Cincin berlian ? ” tanya dia heran, setelah membuka bungkus hadiah dari aku. “ Iya, ada sepasang. Pasangannya ada di aku. Cincin ini adalah tali pengikat hubungan baru kita, agar kita yakin kalau suatu saat nanti akan bertemu lagi. Aku pakaikan ya ? “ ucapku. Albertine mengangguk.

******

“ I will miss you so much, ” Albertine menunduk sedih saat mengantar kepergianku di stasiun kereta api. “ Me too, Queen. Jaga diri baik – baik yah ! ” Diiringi dengan hujan, perpisahan kami pun tak terelakkan. Queena telah pergi meninggalkan desa ini, aku dan semua tempat terindah yang pernah kami kunjungi bersama – sama, kini hanya menjadi sebuah kenangan manis.


Terima kasih telah berkunjung ke laman Bisfren dan membaca cerita cinta pendek kami. Semoga cerpen diatas dapat menghibur dan bermanfaat bagi sobat muda sekalian. Salam sukses.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait