Meskipun Berbeda

cerita cinta romantis pendek

Meskipun berbeda adalah cerita cinta romantis pendek tentang pertemuan seorang gadis dengan lelaki di gerbong kereta yang kemudian tanpa disangka-sangka berlanjut menjadi sebuah lamaran pernikahan. Bagaimana ceritanya ? simak pada cerpen cinta romantis berikut.

Cerita Cinta Romantis Pendek – Meskipun Berbeda

Aku tak pernah menyangka pertemuan kita terjadi di gerbong ini. Aku hendak ke Surabaya, sedangkan kamu hendak ke Jakarta. Tujuan kita berbeda, pun alasan kita. Aku hendak mengikuti sebuah talkshow dari penulis favoritku, sedangkan kamu, apa katamu waktu itu, final presentation and evaluation? Ah, saat itu aku yang hanya disibukkan oleh kegiatan koasku di sebuah RSGM di Jogja, tidak terlalu mengerti dengan hal-hal di luar bidangku. Tidak sebelum kamu menjelaskannya.

Orang yang tahu cerita kita sebatas itu, merasa heran, bagaimana orang yang memiliki tujuan berbeda, dipertemukan bahkan disatukan di stasiun yang sama, padahal peronnya berbeda? Akupun heran. Bukankah katanya, orang dipertemukan dan disatukan karena memiliki tujuan yang sama? Tapi, nyatanya semesta bersepakat dengan kealpaan pikiranku saat itu. Kita ditakdirkan bertemu, kemudian dipersatukan, meskipun awalnya tujuan kita berbeda.

Lima tahun yang lalu

Lima menit lagi Kereta Api Logawa berangkat. Aku masih bersantai membaca buku yang baru saja sampai siang kemarin, Menentukan Arah. Toh, jarak antara tempat dudukku dengan gerbongku hanya sekitar lima belas meter, bisa kuraih dengan mudah. Aku kembali larut ke dalam buku ini. Sebuah buku yang membuka mataku bahwa pernikahan bukan terletak pada resepsi, apalagi gengsi. Tidak sesempit itu. Aku menjadi malu pada diriku sendiri, bahwa aku telah berada di usia siap menikah, dan diriku sendiri pun siap, tetapi sangat minim persiapan dan kesadaran mengenai makna besarnya.

Aku meletakkan bukuku di kursi sampingku yang kosong. Kembali merenung. Bagaimana jika aku menikah dan aku tidak bisa apa-apa? Pasti akan mengecewakan suamiku. Terlebih lagi mertuaku, mungkin mereka menyesal meridhoiku sebagai teman hidup anak kesayangannya. Bagaimana jika selain gagal sebagai istri, aku juga gagal sebagai ibu? Pasti sangat sedih ketika anak-anakku tumbuh menjadi anak nakal akibat aku yang tidak paham mendidik mereka.

Tenggelam dalam renunganku sendiri, mulutku tergagap ketika mendengar bunyi peluit petugas yang mengisyaratkan panggilan terakhir sebelum keretaku berangkat. Langsung ku gendong tasku dan berlari masuk ke dalam gerbongku. Aku merasa seperti ada seorang laki-laki yang mengejarku, tapi aku mengacuhkannya. Mungkin dia sama-sama penumpang-yang-nyaris-terlambat sepertiku.

Beberapa detik selang aku masuk, pintu kereta ditutup dan kereta mulai berjalan meninggalkan Jogja. Aku tersengal-sengal, kemudian mencari tempat dudukku. Tak sulit, karena kebetulan saat itu gerbongku tidak terlalu penuh. Bahkan kursi deretanku kosong tak berpenghuni. Aku duduk.

“Mba, maaf,” ujar seseorang memanggilku. Laki-laki tadi.

“Ya, mas?”

Ia menyodorkan buku bercover paduan warna senja dan putih, bukuku. “Maaf, tadi bukunya tertinggal di kursi sebelah saya, dan mba sepertinya tidak dengar saya memanggil-manggil mba, jadi saya ikut masuk.”

Astaghfirullah, pelupa sekali ! Ku ambil bukuku yang ia sodorkan, “ya ampuuun, terima kasih banyak ya mas, terima kasih! Saya tadi terburu-buru jadi lupa mengambil buku saya. Terima kasih banyak mas, maaf merepotkan!”

Ia tertawa pelan sambil menggaruk-garuk kepalanya, “iya, gapapa kok mba, namanya juga buru-buru. Ya sudah mba, saya pamit dulu.”

“Oh, iya iya mas, sekali lagi terima kasih banyak! Eh, mas gerbong mana?”

Ia kembali tertawa, tapi kali ini seolah dia menertawakan dirinya sendiri, “hehehe, saya sebenarnya bukan penumpang kereta ini mba. Lagipula, tujuan saya ke Jakarta. Jadi ini saya mau ke depan pintu keluar saja, biar kalau dimarahi petugas, tidak terlalu memalukan ditonton orang banyak, hehe. Mari, mba.”

Aku dibuat ternganga, bengong. Ia berlalu. Kok, bisa? Hanya demi buku, seseorang rela mengejar pemiliknya dan memasuki kereta tanpa miliki tiketnya. Padahal jika tertinggal, dan ditemukan orang baik, mungkin dapat dikirimkan atau diantarkan ke rumahku. Toh, masih di area Kota Jogja, yaaa meskipun pinggiran sih. Tapi, laki-laki ini bukanlah orang baik. Dia sangat baik.

Malamnya, aku mendapat telepon dari ibuk. Beliau memintaku untuk langsung pulang selepas acara selesai. Namun beliau menolak untuk memberi tahu apa alasannya. “Yang penting langsung pulang nduk, pake pesawat juga ndak apa-apa,” kata beliau di akhir telepon, sebelum mengucapkan salam penutup. Paginya, aku mengabari ibuk bahwa diriku sampai di Jogja sore nanti.

Di sinilah aku, membuka gerbang rumahku. Ku lihat pintu depan rumahku terbuka setengah. Ku langkahkan kaki bergegas masuk dan kuucapkan salam.

“Wa’alaikumussalam,” jawab mereka serentak sembari menatapku. Ada satu orang asing turut menjawab salamku dan menatapku. Ia tersenyum, dengan senyum teduh. Hatiku terkesiap. Dia… laki-laki kemarin.

Aku memang tidak mengetahui bagaimana ia bisa sampai ke rumahku. Pun, tidak memahami apa maksud kedatangannya. Tapi, jika dugaanku tepat, maka aku sudah tahu jawabannya:

“Aku ikhlas melaksanakan mitsaaqan ghalidzaa, dan siap menyempurnakan separuh agama kami, bersama-sama.”


Terima kasih telah membaca cerita cinta romantis pendek meskipun berbeda. Semoga cerpen romantis ini dapat memberi inspirasi bagi pemirsa sekalian. Jangan lewatkan cerita pendek kami lainnya.

Dibagikan

Merajut Pelangi

Penulis :

Artikel terkait