Miss..!

cerpen cinta tak sampai

Miss adalah cerpen cinta tak sampai seorang gadis yang harus kehilangan pujaan hatinya hanya karena salah bicara akibat tidak mampu menahan atau mengontrol emosinya. Bagaimana kisahnya ? simak pada cerita menyerupai kisah menolak sebelum ditembak berikut.

Cerpen Cinta Tak Sampai – Miss

Sabrina : Bahkan ini belum dimulai… Aku ingin bertemu dengannya lagi

Hening… hanya desisan raupan angin yang begitu hangat, menerbangkan beberapa helai rambutku. Semilirnya berbisik lembut ditelinga, membuat gaun putihku menari-nari diudara hingga menyelimuti seluruh tubuhku. Gesekan yang begitu hangat mengalunkan nada indah disekelilingku. Rumput-rumput menari disekitar, burung-burung kecil berkicau dan beberapa daun plum menggugurkan daunnya. Beberapa pejalan kaki terlihat dari seberang jalan, ada yang berhenti hanya sekedar melihat jam besar yang ada di dinding dekat taman kota, atau hanya mencicipi donat dari toko kecil yang ada di sebelah utara dekat bangunan tua. Iya, bangunan tua itu.

Seorang waiter perempuan keluar dari restoran di pinggir jalan bersebelahan dengan toko buku yang biasa didatangi oleh para remaja sepulang sekolah. Bukan hanya para remaja, namun para pejalan kaki atau orang dewasapun menyempatkan diri sekedar untuk menghabiskan waktu singgah membaca atau membeli beberapa buku.

Aku menarik kedua sudut bibirku ketika si waiter perempuan melambai kearahku, ku balas lambaiannya.

“Masuklah” teriaknya melawan bising kendaraan yang lewat, dia sering menawarkanku untuk masuk ke dalam restoran itu. Tapi diriku selalu menolak dengan berkata, “Nanti saja. Aku masih menunggu seseorang” ujarku.

Menunggu bukan hal menyita waktu dan membosankan jika ada yang kita harapkan

Menunggu… Iya, menunggu untuk waktu lama. Ada beberapa hal mungkin perlu kukatakan sebelum kau mendengarkan kisahku. Ada saatnya, sesuatu akan singgah untuk sementara didalam hidupmu. Sesuatu itu mungkin akan kembali, tapi bukan sesuatu yang pernah kau temui di dalam kehidupanmu sebelumnya. Mungkin ia sama, tapi berbeda. Pernah kah kau mendengar kisah si angin yang sempat berjumpa dengan malam ? Iya, angin itu datang menemui malam kemudian pergi, dan dia hanya mampir sebentar. Dia akan datang lagi, meski hanya menyentuh punggung udara, mengeok pepohonan dan menyentuh dedaunan.

Setiap hari seperti itu, hanya sesaat. Tidak sadarkah, bahwa angin yang selalu datang bukanlah angin yang sama? Angin itu hilang tertelan udara. Muncul angin baru, meski ia melakukan hal yang sama namun kesannya berbeda. Lalu pernahkah kau mendengar kisah air Hujan? Embun dan Matahari? Ahh.. padahal hatiku ingin kau mendengar kisah mereka sebelum kau mendengar kisahku. Mungkin ini akan sangat menyita waktu, kau akan merasa bosan. Tenanglah… aku akan memulainya.

Setiap kejadian dalam hidup memiliki kisah sendiri

Setiap lembaran kehidupan memiliki kisah sendiri. Diatas lembaran masa silam ada kisah baru yang telah tersematkan dan akan dituliskan dengan gumpalan warna-warna berbeda. Kubolak-balik lembaran masa silam di dinding sampai ke langit-langit bahkan di pinggir kehidupan, tak ingin terlewatkan beberapa hal pernah membawaku mengawang-awang diudara, atau menyentilku bahkan menghempaskan ku ke dasar bumi. Sepertinya, lembaran itu telah terkikis oleh tahun dan waktu, diriku tidak akan menyangkal hal itu. Ia telah berdebu dan berwarna kecoklatan, namun ia masih dengan tulisan yang rapi dan terselip disekitar lemari buku-ku.

Aku menarik kedua sudut bibirku-lagi. Lahan-perlahan, lembaran itu terseok-seok membawaku menuju ruangan moment yang mulai merangkulku pelan dan mengajakku bersendawa. Lalu ia menyentuh tubuhku, mendorongku sampai depan pintu, aku masuk melalui pintu moment masih samar-samar terlihat olehku, lama-lama jutaan warna berada disekelilingku menghiasi tembok-tembok dalam ruangan moment itu. Hitam, kelabu, jingga, kuning, merah, putih, merah muda ahh.. dan berbagai jenis macamnya. Warna itu terlalu banyak, memang benar… ada warna buram yang ingin ku tembus, tapi diriku menolak untuk menyentuhnya terlebih dahulu.

Tiba-tiba saja, udara panas itu menjadi sedikit berhawa dingin. Dan diriku berada di sekitar lingkungan para remaja yang mengenakan seragam sekolah. Beberapa remaja seusiaku sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ada yang bermain sepak bola di lapangan, berjalan di sekitar koridor kelas, menuju ke kantin dan memakan bekal didalam kelas. Dan disinilah diriku, baru saja keluar dari kelas.

“Bina…” panggil seseorang dan aku membalik badan.

“Kau mau kekantin bersama?” tanya Mega teman satu kelasku. Kepalaku mengangguk.

Gadis ini adalah teman dekatku, ia sering menceritakan keluarganya padaku dan dia teramat baik. Pada saat gadis-gadis lain menghindariku, dia selalu berada disampingku, menenangkanku.

“Mereka hanya cemburu padamu. Tidak apa-apa, jangan kau fikirkan. Aku masih mau menjadi temanmu” dia sering mengatakan hal itu, entah mengapa setelah mendengar kata-katanya itu hatiku selalu tenang.

Kami melewati koridor kelas, pada saat itulah ku lihat dia berdiri di pinggir jendela bersama teman-temannya. Bryan, dari kelas sebelah. Dia selalu senyum, suaranya pelan.. juga sangat lembut. Wajahnya putih, memiliki tahi lalat di pipi kirinya. Dia tertawa, tawanya tidak dibuat-buat. Hanya dia yang mengalihkan perhatianku, mataku tidak pernah melihat siapapun kecuali dia. Dia sangat baik.

“Hei Bina.. Mega” sapa salah seorang teman Bryan pada kami.

“Oh.. Jimmy” balas Mega, dia menghampiri Jimmy. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Tetapi yang ku tahu, Mega menyukai Jimmy. Ahh.. begitulah rupa orang jatuh cinta. Bola mataku bergerak kearah lain, ku lihat Bryan tengah memperhatikan mereka. Mataku tidak bisa pergi dari dirinya, pada saat itulah.. mata kami bertemu. Iya, selalu saja seperti itu setiap kali kami bertemu, tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut kami. Hanya saling pandang dan setelah itu menunduk.

Aku ingin duduk sebentar. Sebuah bangku kayu panjang di bawah pohon plum yang sedang berguguran. Pohon plum yang empat tahun lalu masih kecil, tumbuh sendirian di depan gerbang bangunan tua itu. Pohon kecilnya selalu meliuk-liuk ketika angin menyapa. Kini, ia tumbuh besar dan dewasa. Ahh… pohon ini. Aku sempat berdiri didekatnya waktu itu. Disampingnya ada bunga lilac kecil ikut tertempa daun jingga kemerahannya. Orang-orang semakin ramai terlihat di restaurant itu begitupun di toko buku sebelahnya. Terik berjalan menuju sore, matahari mulai perlahan menutupi diri dibalik awan. Tapi tidak semuanya, matahari masih memiliki hati hingga membiarkan hari bermain-main sebentar sebelum pekat menggerubungi malam.

Satu titik, dua titik… Gumpalan air yang membelah langit menyerbu bumi. Di hari itu, rintikannya turun perlahan namun semakin lama ia semakin cepat juga sangat banyak. Tubuhku hampir basah kuyup karenanya. Menutupi kepala dengan tas agar tak kena air hujan sambil berlari mencari tempat untuk berteduh. Ku lihat sebuah bangunan tua kosong di pinggir jalan, mungkin disana aku bisa menunggu hujan sampai mereda. Tanpa fikir panjang, aku melesat memasuki gerbang bangunan itu lalu mencari tempat untuk berteduh.

Sepi, aku sedikit menoleh ke arah selatan. ‘Ada seseorang rupanya’ namun dia menoleh pula kearahku.

“Hujannya deras” katanya.

“Iya” balasku. Ia bangun dari tempat duduknya. Selama itu, kami hanya diam. Tidak ada sepatah-dua patah kata yang keluar juga tidak ada yang memulai. Menunggu hujan reda tanpa suatu perbincangan rasanya sangat menjemukan. Aku mencari topik pembicaraan untuk mengajaknya berbicara, dan pada saat itu. Ku rasakan jantungku terus berpacu sangat cepat, inginnya ku sangkal bahwa ‘ini bukanlah cinta’. Iya, ini bukan cinta. Hanya rasa gemetar ketika sedang berduaan dengan laki-laki.

“Hei… Bryan, apa kau mau ikut jalan-jalan denganku besok di pasar malam?” tanyaku pelan. Wajahku memerah saat aku mengajaknya. Sempat ku lihat raut wajahnya menoleh sebentar ke arahku. Dia sangat manis sekali, kemudian selalu saja.. dia menunduk.

“Mungkin aku perlu menanyakan hal ini pada Mega. Iya… aku akan mengajak Mega saja” alih-alih ku potong cepat.

“Kau lucu sekali, Sabrina” ujarnya sembari tertawa lalu melangkah menuju kearahku.

“Gunakan ini, untuk mengeringkan rambutmu” katanya lagi menyodorkan sebuah handuk kecil.

“Terima kasih” jawabku, aku sedikit mengintip… dia tersenyum. Wajah putihnya memerah dan dia sangat manis sekali.

Dan sayangnya, pada waktu itu… toko donat, restaurant dan toko buku itu belum ada disana. Jadi bangunan itu tidak kutuliskan dalam lembaran kenanganku.

Esoknya, aku berdiri didepan kelasnya. Mengendap-endap memeriksa apakah Bryan ada didalam kelas atau sedang keluar. Tetapi, dia sudah muncul didepan pintu dengan wajah yang memerah. Aku berniat untuk mengembalikan handuk yang kemarin di pinjamkan untukku.

“Terima kasih” ujarku, dia mengangguk.

“Sabrina” panggilnya, rasanya pertemuan kami begitu kaku. Aku menoleh,

“Apa kau belum merencanakan untuk pergi dengan temanmu?” ujarnya.

“Umm..”

“Besok, jam delapan malam. Aku akan menunggumu didekat taman kota” katanya, entah kenapa dia selalu menutup hidung dengan telapak tangannya. Kemarin dia sempat melakukan itu, ketika kami berteduh dibangunan tua dekat taman kota.

Aku mengangguk. Dia mengajakku keluar. Senangnya…!!

“Kalau begitu, aku masuk ke dalam kelas” lanjutnya lagi dan pergi meninggalkanku menuju kelasnya. Dan aku tersenyum sendiri, seperti anak kecil yang mendapatkan ribuan hadiah permen.

“Ah… Sabrina. Kau tadi bertemu dengan Bryan ya? Kau ada hubungan apa dengan dia?” Ralf salah satu teman sekelas Bryan, dia sering menyapaku setiap kali kami bertemu. Dan dia sering menanyakan tentangku pada Mega.

“Kau memiliki hubungan apa dengan Bryan?” tanyanya, nadanya sedikit naik. Dan aku tidak suka ketika seseorang meneriakiku.

“Aku tidak memiliki hubungan dengannya” balasku.

“Kau jangan bohong” ketusnya, ia menarik pergelangan tanganku.

“Lepaskan. Kau jangan memaksaku. Aku tidak suka jika kau terus-terus bertanya seperti ini”

“Katakan padaku”

Dan … aku salah bicara !!!

“Kau mengganggu sekali, oleh karena itu aku membenci semua laki-laki. Kalian sangat naif dan seperti orang bodoh. Aku membenci semua laki-laki” teriakku di depannya.

Dan pada saat itu, ku lihat wajah Bryan teduh menoleh kearahku. Kemudian menunduk dan pergi. Setelah itu, ia tidak berbalik ataupun menoleh. Kepalanya tertunduk, dia tidak menoleh dan tidak menoleh lagi. Aku memang membenci semua laki-laki, kecuali dia. Dia berbeda. Dia pasti tahu bahwa dirinya berbeda, tidak ada yang salah. Dia tidak akan salah faham-kan? Iya, tidak akan salah faham.. dan janji untuk bertemu didekat taman kota, dia pasti akan datang. Aku selalu mengulang kalimat itu dalam fikiranku, dia tidak akan salah faham. Dia mengerti dan tahu bahwa dirinya berbeda dari semua laki-laki meski aku tidak mengatakannya langsung.

Dan besok malamnya. Aku menunggunya di taman kota. Di dekat pohon plum kecil, merasakan angin malam merembes disekitar. Menyaksikan banyak pasangan lewat di depanku menuju pasar malam dipusat kota. ‘Dia pasti akan datang’ aku menunggunya. Sendirian. Lama… sangat lama… diriku masih menunggunya. Pada akhirnya, dia tetap tidak akan datang. Hatiku ingin menangis, namun ku tahan. Ini salahku, karena membuatnya mendengar ucapan bodohku kemarin. Ku tinggalkan tempat itu dengan penuh rasa bersalah dan kesedihan. Aku akan meminta maaf dan menjelaskannya.

Kurasakan udara disore hari mulai terasa dingin. Tapi matahari masih setia menaungi hari yang rasanya sedikit panjang ini. Hahaha… mungkin matahari masih ingin mendengar kisahku lagi. Liburan semester saat ini, kujalani seperti biasa. Sama seperti pada saat itu.

Setelah liburan semester berakhir, tidak ada kesan yang istimewa. Semuanya berjalan seperti biasa, tahun lalu dan sebelum-sebelumnya.

Beberapa hari terakhir semenjak pertama kali masuk sekolah, mataku tidak pernah melihat Bryan dilingkungan sekolah.

“Dia sudah pindah sekolah dan aku juga tidak tahu dimana dia tinggal” ujar Jimmy mengalihkan perhatianku kearahnya. Pada saat itu, hatiku merasa sangat, sangat bersalah. Dan terlebih lagi, diriku kecewa karena belum sempat memberitahu dia bagaimana perasaanku padanya. Ku biarkan diriku menangis dibelakang sekolah, menangisi kekecewaanku, menangisi kesalah-fahaman itu dan menangisi diriku. Tidak tahu kapan aku akan bertemu dengannya lagi ? Atau bahkan, mungkin tidak akan pernah.

Dan setelah itu, ku jalani kehidupan sekolah seperti biasa

“Aku duluan ya..” kataku pada Mega. Tahun ke-tiga ku ditempat itu. Buru-buru aku berlari, awan terlihat sedang tidak bersahabat. Berharap agar hujan tidak menghambat kepulanganku. Namun, rupanya alam berkata lain dan diriku kembali berteduh di bangunan tua itu.

‘Hujannya deras’ dia pernah berteduh juga karena hujan. Tentu saja, dia tidak akan ada disana. Huh… lain kali, jika kami berteduh ditempat yang sama.. aku akan mengajaknya berbincang lebih lama. Ku tatap awan mendung dibarengi dengan rintikan hujan deras, lain kali. Kapan itu lain kali ? Mungkin diriku tidak akan pernah bertemu dengannya lagi. Mataku panas, dan aku tidak bisa membendung buliran air yang telah menerobos membentuk genangan kecil di pipiku. Aku menyukai Bryan, serta sangat merindukannya. Aku ingin melihat wajahnya, ‘Bahkan ini belum dimulai, aku ingin bertemu dengannya lagi’.

Rupanya matahari telah diam-diam mendahuluiku, ia sudah menaikkan senjanya beberapa menit yang lalu. Daun-daunan plum jatuh diatas kepala dan pangkuanku. Warna daunnya terlihat sama dengan senja di sore itu. Iya… masa lalu, kapan itu lain kali? Kapan aku bertemu dengan dia lagi?. Aku menutup mata dan sedikit menyunggingkan senyum. Apakah  tuhan membatasi pertemuanku dengannya? Meskipun begitu… Aku merindukannya. Aku benar-benar merindukannya. Bryan, aku selalu menunggumu. Lain kali, aku akan menjelaskan semuanya dan akan mengatakan bagaimana perasaanku terhadapmu. Lain kali juga, kita akan menepati janji kita untuk jalan-jalan di pasar malam. Aku selalu menunggumu dan menanti kedatanganmu – kekasihmu, Sabrina. = Tamat =


Terima kasih telah membaca cerita remaja cerpen cinta tak sampai Miss. Semoga cerita pendek diatas dapat menghibur dan memberi pelajaran bagi pemirsa sekalian untuk selalu berhati-hati dalam berbicara terutama yang menyangkut dengan harapan dan impian. Salam sukses dan tetap semangat.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait