Misteri Bangunan Tua

cerita misteri seram

Bangunan tua adalan sebuah cerita misteri seram tempat terjadinya peristiwa pembunuhan berantai yang dibiarkan kosong sehingga menarik hati dua gadis bersahabat untuk masuk ke dalamnya. Apa yang terjadi kemudian ? simak pada cerpen mistis berikut

Cerita Misteri Seram Bangunan Tua

Malam ini hembusan angin terasa lebih dingin dari biasanya. Mungkin karena menjelang musim hujan. Rika menyibak tirai jendela kamarnya. Tidak terlihat awan gelap di langit. Bintang-bintang pun bersinar terang menampilkan kecanRikannya. Sudah menjelang waktu makan malam. Diapun segera beranjak dari atas tempat tidur menuju kamar mandi. Tak lama kemudian terdengar suara nyanyian kecilnya, dia memang seringkali bernyanyi di kamar mandi, meskipun sudah seringkali dilarang oleh orang tuanya. Menurut orang tuanya bernyanyi dan berlama-lama di kamar mandi membuat orang disukai oleh jin dan mudah terpengaruh oleh mahluk halus. Di era modern seperti sekarang, cerita tersebut hanya dianggap kisah dongeng,  tidak dipercaya, cerita tidak masuk akal bagi kalangan muda. Meskipun hal itu jelas-jelas disebutkan dalam kitab suci.

Usai mandi Rika segera keluar dari kamarnya menuju meja makan. Disana sudah menunggu ibu bersama ayahnya serta kedua adiknya. “Bu, setelah makan, aku mau main ke rumah Nina. Boleh ya ?” ucap Rika kepada ibunya sambil tangannya menjumput nasi dari dalam penanak listrik berlapis teflon.

“Iya, tapi jangan pulang malam-malam” jawab ibunya. Ibu memberi izin karena malam ini adalah malam minggu dan rumah Nani letaknya tidak terlalu jauh di pinggir komplek perumahan mereka.

Rika pun segera menghabiskan makan malamnya. Setelah itu dia segera mencari sandalnya keudian setengah berlari menuju rumah sahabatnya Nani. Hanya beberapa menit saja dia sudah tiba disana. Dilihatnya lampu rumah tersebut tidak semuanya menyala. Hanya lampu taman serta lampu ruang tamu yang dinyalakan.  Rika sedikit ragu, hatinya menduga Nani beserta keluarga sedang pergi keluar. Namun karena pintu pagar tidak terkunci, dia tetap saja memasuki halaman rumah lalu mengetuk pintu.

Mau main malah diisengin teman

Tok tok tok … Rika mengetuk pintu rumah beberapa kali. “Nani …!! buka pintunya, dong !!”. Tidak terdengar suara jawaban dari dalam. Rika menjadi yakin sahabat dan keluarganya tidak dirumah saat itu. Dia baru saja akan membalikkan badan untuk kembali pulang ketika … “Dorr !!!” suara seseorang dari belakang mengejutkannya.

“Aaaahhh …!!!”  Rika berteriak kaget. Ditolehnya ke belakang. “”Ha .. ha .. ha .. kaget ya” ternyata Nani mentertawakan kekagetannya. “Iiiiih …. Nani !!!” kata Rika sebal. “Iseng banget sih bikin kaget aja !”

“He… he… he… ” Nani tersenyum nyengir. “Masuk, yuk !! Di dalam enggak ada orang. Pada pergi semua nih. Kebetulan kamu datang aku mau cerita,” kata Nani.

“Baiklah.. aku kesini seperti biasa memang mau denger cerita kamu si bawel.. ha ha ha ” sahut Rika. Mereka pun kemudian masuk ke dalam rumah. Serasa di rumah sendiri, Rika dengan santainya langsung saja merebahkan dirinya di atas kasur Nani sambil memeluk guling. Memang mereka berdua sudah sangat akrab layaknya dua bersaudara. Persahabatan mereka berdua sudah cukup lama. Selain rumah mereka berdekatan, sekolah pun mereka selalu bersama-sama.

“Hadeeeh …. anggap saja rumah sendiri non. Mentang-mentang di rumah sahabat kelakukaannya sopan banget deh !” kata Nani menyindir. Rika hanya nyengir mendengarnya. Baginya sindiran Nani hanyalah kata kata gurauan, toh di rumahnya Nani juga melakukan hal sama.

Nani bercerita seram tentang bangunan tua

“Kamu tadi mau cerita apa ?” tanya Rika penasaran.

“Aku mo cerita seram, masalah pembunuhan berantai di bangunan tua dekat sekolah. Ingat kan ?” wajah Nani tiba-tiba berubah serius. Sementara Rika mendengarkan perkataan temannya dengan perasaan takut. “Oh … iya. Ada apa lagi memangnya ? udah ah gak usah cerita seram begitu” tanya Rika memperlihatkan rasa ketakutannya.

Namun Nani masih melanjutkan. “Hm … begini. Aku justru pengen kita kesana uji keberanian. Sekalian melihat ada apa disana. Bagaimana ?”. Rika merinding, tapi ada rasa penasaran dalam hatinya. “Gak ah, takut” katanya ragu menolak ajakan temannya.

“Gak usah masuk sampai dalam, di ruang depan saja. Kan bisa bawa senter. Lagi pula di depan jalannya kan kalau belum terlalu malam ramai pedagang mondar-mandir. Yuk kesana yuk, kita lihat” rayu Nani membujuk sahabatnya.

Setelah dirayu-rayu mau juga ke bangunan tua

Akhirnya entah karena penasaran atau karena merasa tidak enak pada rayuan sahabatnya, pergilah mereka berdua ke bangunan tua tersebut. Meskipun hari belum terlalu malam dan jalan di depan bangunan itu terang benderang serta banyak dilewati pedagang, mereka masing-masing membawa senter dan beberapa batang lilin buat jaga-jaga.

Sampai disana, Nani dengan berani langsung melangkah masuk melalui pagar rusak tak terkunci. Sementara Rika perlahan-lahan mengikuti sahabatnya. Sampai di depan pintu, Nani mendorong pintu kemudian melihat sekeliling dengan penerangan senter. Terlihat ruangan kosong yang kotor dengan beberapa furnitur masih berserakan dalam keadaan rusak.

Bulu kuduknya berdiri menyaksikan pemandangan tersebut. Belum sempat dia mengatakan apa-apa, tiba-tiba saja tangan Nani menariknya masuk ke dalam. Kini tampaklah dengan jelas ceceran darah mengering dimana-mana. Rika merasa ketakutan. Dia menggerakan senternya mencari-cari Nani yang menghilang setelah menyeretnya masuk barusan. Tapi temannya tak ditemukan, segera saja dia menjadi panik. “Nani … aku takut. Jangan nakut-nakutin dong” Ujar Rika lirih setengah menangis. Akan tetapi bukan yang dicari muncul, kini terdengar suara gadis bersenandung. Rika mencoba mempertajam pendengarannya, itu bukan suara Nani. Lalu siapa ?

Dia terkunci di dalam sendirian, temannya pergi entah kemana

Kini hati Rika benar-benar ketakutan. Dia mulai menangis dan segera mencari pintu dimana dia tadi ditarik masuk. Akan tetapi pintu tersebut sekarang tertutup. Segera dia berlari kesana mencoba membukanya. Tidak bisa. Pintu tersebut terkunci. Dicobanya mendorong-dorong pintu tersebut dengan tubuhnya, namun tetap saja tak dapat dibuka. Air mata bercucuran disela-sela isak tangisnya. “Nani … Nani … tolong …!!! Ayah !!! … Ibu …!!!” teriaknya berkali-kali.

Tiba-tiba Rika terkesiap pada aroma bau busuk menyengat. Tanpa sadar dia menoleh ke belakang. Lalu dilihatnya disana ada sesosok tubuh perempuan. Sahabatnya Nani dengan kepala berlumuran darah. Kini ketakutan Rika sudah mencapai tingkat tertinggi. Perasaan takut membuatnya gagal fokus sehingga hilang kesadaran. Diiringi teriakan “Ayaaaaah …. Ibu …. aku takuuuuuut !!!”. Rika jatuh pingsan.

Keesokan harinya

“Rika … Rika … bangun” suara ibu membangunkan Rika.

“Ibu …,” kata Rika. Dia telah siuman dari pingsannya. Ibunya langsung memeluknya penuh kasih sayang dan rasa bahagia.

“Aku dimana bu ?” tanya Rika.

“Kamu di rumah, sayang. Barusan ada Bapak tetangga melihat kamu pingsan tergolek di halaman bangunan kosong. Dia lalu memanggil orang-orang dan membawamu kesini. Mereka baru saja pergi” jelas ibu lembut.

“Dimana Nani ?” tanya Rika pelan.

“Aku disini,” kata sahabatnya Nani dengan nada suara yang khas. Ternyata dia ada di belakang ibunya.

“Semalam kamu kemana ? kenapa kamu pergi ninggalin aku  ?” tanya Rika dengan napas tak beraturan.

“Haaaah ? Semalam ? Enggak, kok ! Aku dan keluarga sejak tiga hari lalu pergi dan baru saja datang.  Aku kesini bawa oleh-oleh buat kamu. Tapi sampai disini banyak orang, katanya kamu pingsan. Mana mungkin aku ninggalin kamu disana, aku juga takut kali ke bangunan tua itu,” jelas Nani.

Deeg … Rika pun pingsan kembali.


Terima kasih telah membaca cerita misteri seram bangunan tua. Semoga cerpen mistis diatas dapat menghibur dan yang terpenting adalah dapat memberi inspirasi bagi pemirsa Bisfren untuk menghasilkan karya – karya serupa. Salam sukses buat semua.

Dibagikan

Mia Hanifah

Penulis :

Artikel terkait