Muhasabah Diri

muhasabah diri - catatan pribadi inspiratif cerpen mini

Catatan pribadi inspiratif tentang muhasabah diri atau merenungi dan menyesali segala perbuatan dosa yang pernah dilakukan baik besar maupun kecil, dosa kepada Allah maupun perbuatan salah yang menyakiti hati orang.

Catatan Pribadi Inspiratif Muhasabah Diri

Pagi ini kekuatan itu datang menyemangati jiwaku yang lemah. Baru kemarin aku bersih dari kedatangan tamu setiap bulannya. Entah dinginnya pagi, kantuknya mata bisa aku lawan. Tekad itu begitu bulat. Dan aku memutuskan untuk beranjak meninggalkan tempat tidur. Masih pukul 04.00 pagi. Suara-suara bacaan sebelum adzan subuh dikumandangan terdengar saling menyahuti. Tidak lama waktu shalat subuh tiba. Aku luangkan waktu sebentar untuk merendam pakaian kemudian membersihkan seluruh tubuh dengan mandi. Setelah itu melaksanakan shalat fajar dan subuh. Aku tidak tahu kapan terakhir kali melaksanakan shalat fajar padahal shalat fajar lebih baik dari seisi dunia. Disaksikan pula oleh malaikat penjaga siang dan malam yang bertukar tugas setiap harinya.

Masih terlalu pagi, namun keributan kecil antara kakak-adik masih saja sering terjadi yaitu berebut kamar mandi. Rencananya aku akan pergi dengan tetehku pagi ini untuk menghadiri dzikir akbar di masjid Adz Zikra Sentul tepat pukul 05.00. Namun semuanya diluar kendali. Sepagi ini dia sudah merubah moodku menjadi tidak enak, dibuat kesal olehnya. Lama sekali aku menunggunya. Hingga kami baru berangkat jam 05.30. Semakin siang sampai disana belum tentu bisa mendapatkan tempat duduk yang nyaman untuk khusyuk berdzikir. Karena dari segala penjuru tanah air (ada yang dari lampung, majalengka) saling berbondong-bondong untuk datang ke masjid yang InsyaAllah menjadi taman-taman surga. Semua langkah itu digerakkan oleh-Nya yang Maha Kuasa.

Entah harus bahagia atau sedih. Ternyata yang hadir tidak sebanyak seperti yang pernah aku alami. Ditahun 2017 ini pula awal aku mendatanginya kembali setelah setengah tahun kegiatan minggu pagiku digantikan dengan belajar “tahsin”. Aku begitu rindu. Dan diawal tahun ini pula aku memutuskan untuk istiqomah menghadirinya setiap bulan, InsyaAllah. Biasanya aku ke sini dengan sahabat-sahabatku. Semoga lain waktu mereka bisa ikut.

Setelah sampai, langkah kaki ini segera menuju lantai paling atas khusus untuk wanita. Aku memilih duduk di tengah-tengah sebelah kiri ruangan. Membuka bekal sarapan yang dibawa dari rumah. Kemudian pergi ke toliet untuk mengambil wudhu. Acara dimulai dengan tilawah surah Yaasin bersama-sama. Hingga tiba pada acara intinya yang dibuka dengan khutbah dari ustadz M. Arifin Ilham lalu menyaksikan 2 orang muallaf yang hari ini masuk Islam dan dilanjutkan dengan dzikir. Semuanya duduk menghadap ke kiblat, memejamkan mata, memfokuskan untuk berkhalwat dengan Allah di tengah-tengah keramaian. Satu persatu doa terpanjatkan supaya tembus pada langit-langit sana hingga Allah mentakdirkan untuk diijabah. Lisan ini mengikuti bacaan dari pemimpin dzikir.

Semua bermuhasabah diri, merenungkan segala yang pernah diperbuat. Betapa banyak dosa yang dilakukan dari awal aqil baligh sampai detik ini, dari masa jahiliyah dulu, kemaksiatan, kemalasan beribadah, kedzaliman, bersikap tidak baik pada orang tua, berkata dusta, kotor, gampang marah dan segala perbuatan tercela lainnya. Mungkin terlalu banyak melanggar perintah-Nya. Perenungan itu selalu saja berhasil membawaku melihat kedalam lubuk hati, betapa lemah, hinanya diri ini tanpa-Nya. Semuanya menangis mengingat segala dosa-dosa yang dilakukan. Bersama-sama memanjatkan hajat, doa, harapan meminta pada-Nya. Berharap ampunan dari-Nya, dimatikan dalam khusnul khatimah. Yaaa Allah… Yaa Allah… kabulkanlah…

Aku mohon..

Aku tidak ingin muhasabah diri ini bukan hanya menyesali saja. Tapi aku ingin menjadi penyesalan yang sebenar-benarnya dengan berazzam kuat untuk tidak lagi menggulanginya. Untuk tidak lagi melakukan kesalahan yang sama. Yaa Rabbana kuatkanlah azzam ini. Sebab tidak ada yang lebih indah selain meraih ridhamu, berjumpa dengan-Mu, menatap wajah-Mu di akhirat nanti. Aku ingin menjadi sebaik-baiknya hamba-Mu yang beriman yang ciri-cirinya selalu melakukan kebaikan-kebaikan. Istiqomahkan aku tetap berada dijalan lurus-Mu.

Dan aku mohon cabutlah segala keinginan-keinginan yang buruk, hasutan hawa nafsu. Pada-Mu aku meminta pertolongan. Aku ingin kembali pada-Mu dengan perjumpaan yang indah. Hidup dan matiku berapa dalam kuasa-Mu.

Dibagikan

Aisya Zaira

Penulis :

Artikel terkait