Mukena Baru Untuk Afifah @ Cerita Pendek Inspiratif

Cerita Pendek Renungan Keluarga Mukena Baru Untuk Afifah Cerita PendekMuslim Di Cina

Cerita Pendek Renungan Keluarga “Mukena Baru Untuk Afifah” merupakan cerita pendek tentang arti kasih sayang seorang ibu kepada anak gadisnya. Cerita pendek renungan keluarga yang diambil dari kejadian sederhana di masyarakat ini ditulis oleh Putry Wahyuningsih untuk komunitas cerita pendek keluarga pada edisi bulan Ramadhan. Bagaimana kisah cerita pendek renungan keluarga ini ? silahkan simak pada cerita pendek berikut.

Cerita Pendek Renungan Keluarga “Mukena Baru Untuk Afifah”

Aku membelai rambut Afifah lembut, dalam tidur pulas dia seperti malaikat kecil yang polos. Ada senyum di bibir mungilnya, aku tersenyum dia pasti sedang bermimpi indah. Mungkin dongeng yang kuceritakan sebelum tidur tadi tentang Cinderella terbawa dalam tidurnya. Kutarik selimut kecil kesayangan yang selalu menjadi teman tidurnya dan meraih boneka panda di atas kepalanya dan memasukkannya dalam pelukannya. Sejenak Afifah menggeliat lalu kembali tertidur. Aku bangun dari tempat tidur sudah jam 10 malam tapi aku tidak bisa tidur. Padahal besok aku harus bangun pagi untuk bekerja. Hampir setahun terakhir ini aku bekerja sebagai buruh cuci dan setrika di rumah-rumah tetanggaku, ijasah yang cuma tamat sd membuatku harus bekerja seperti ini. Masih untung bisa baca dan tulis teman-temanku yang lain bahkan membacapun tidak bisa. [Kalau suka membaca cerita pendek renungan keluarga, baca juga cerita motivasi remaja Cinta Suci.]

Sejak kepergian Mas Wawan untuk kerja sebagai TKW di Singapura aku harus banting tulang mencukupi kebutuhan keluargaku apalagi ibu Mas Wawan sudah tua. Selama 2 tahun kepergiannya sampai saat ini tak ada kabar sama sekali tentang Mas Wawan dia seolah hilang di telan bumi. Aku yang tidak tahu apa-apa hanya bisa menunggu dengan pasrah sambil berharap Mas Wawan  suatu saat akan kembali. Satu-satunya pelipur laraku cuma Afifah, gadis kecilku yang baru duduk di kelas 3 SD. Gadis kecil kebanggaanku, mutiara dihatiku. Rasanya tak bisa hidup tanpa melihat senyumnya. Satu-satunya anugerah dari Tuhan yang sampai saat ini kujaga dengan penuh kasih sayang. Buah cintaku dengan Mas Wawan. Karena itulah walaupun harus susah payah bekerja aku tidak peduli yang kupedulikan adalah Afifah bisa sekolah dan hidup dengan baik. Walaupun aku tahu kehidupan yang kuberikan padanya bukan kehidupan yang mewah tapi sederhana. Dan Afifa selalu menerimanyanya tanpa keluh kesah, dia seolah mengerti dengan keadaan kami dengan pekerjaan ibunya yang cuma buruh cuci. Afifaku sangat cantik memiliki hidung mancung sama seperti Mas Wawan, kulitnya putih mungkin ikut denganku. Rambutnya hitam lebat dan panjang, afifahku memiliki mata yang indah, aku suka sekali melihat dia bercerita tentang teman-temannya dan kegiatannya disekolah dengan bola mata yang berbinar-binar. Tak jarang dia menanyakan tentang ayahnya dan aku hanya bisa menjawab kalau ayahnya sedang bekerja. Satu yang menjadi kebanggaanku Afifahku selalu berusaha sholat 5 waktu. Tak jarang dia mengajakku untuk sholat bersama betapa bahagianya aku memiliki anak yang soleh seperti Afifah. Saking seringnya sholat mukena yang dia pakai sudah tua dan terlihat lusuh. Pembicaraan tadi sore membuat aku terharu. [Kalau suka membaca cerita pendek renungan keluarga, baca juga cerita pendek rohani Islam Namun Senyum Mu Tetap Mengikuti.]

“Bunda beberapa hari lagi bulan puasa tiba, boleh tidak Afifah di belikan mukena yang baru. ” permintaan Afifah membuatku menitikkan air mata.

“Bunda kenapa menangis ? tidak apa-apa bunda kalau belum punya uang  Afifah tidak apa-apa. Tapi bunda jangan menangis.”

“Tidak sayang bunda tidak menangis karena bunda tidak sanggup membelikan Afifah mukena, tidak sayang, bunda janji puasa pertama Afifah akan pakai mukena baru. Bunda janji” ucapku menghapus airmata yang menetes di pipiku dan memeluk Afifaku dengan penuh kasih. Permintaan sederhana dari putriku yang selama ini tidak pernah meminta apa-apa dariku. Sebuah mukena, aku barus sadar saat aku menyentuh mukena Afifah yang biasa di pakainya untuk sholat sudah terlihat tua, warnanya pun sudah memudar. Pinggiran jahitannyapun sudah banyak yang terbuka. Dalam hatiku berjanji untuk membelikan Afifah mukena yang paling bagus. [Kalau suka membaca cerita pendek renungan keluarga, baca juga cerita pendek inspiratif Jangan Pernah Menganggap Remeh Persoalan Sepele.]

Setelah mempersiapkan sarapan dan seragam Afifah akupun pamit pada ibu untuk bekerja. Aku tidak kuatir meninggalkan Afifah yang sudah biasa mengurus keperluan sekolahnya sendiri apalagi ada ibu mertuaku yang selalu membantuku untuk mengurus Afifah. Hari ini aku mencuci pakaiannya ibu Yuda tetangga di komplek rumah. Dia memang biasa memakai tenagaku untuk mencuci pakaiannya. Ibu Yuda adalah juga salah satu yang tidak suka menggunakan mesin cuci. Katanya baju-bajunya sering rusak kalau pakai mesin cuci. Dia lebih suka menyewa buruh cuci dari pada menyuci pakaiannya di mesin cuci.

“Ti, anakmu umur berapa  ? ”

“9 Tahun Bu.” [Kalau suka membaca cerita pendek renungan keluarga, baca juga cerita pendek motivasi dan inspiratif Akuarium Baru, Dan Kebaikan Tanpa Ilmu.]

“Hati-hati lho Ti sekarang banyak penjahat berkeliaran barusan tadi di berita anak kecil  di perkosa, di bunuh lalu di buang kesungai. Kasian.” celoteh ibu Yuda yang sedang mengiris sayuran yang duduk tak jauh di depanku.

“Duh Gusti semoga di jauhkan dari hal seperti itu.” Doaku menengadah keatas.

“Iya Ti, apalagi Afifah cantik.”

“Duh, ibu jangan nakutin kayak gitu dong.”pintaku masih tetap mencuci. Ibu Yuda tertawa,” cuma mengingatkan kamu saja Ti, biar Afifah di awasin terus. ” [Kalau suka membaca cerita pendek renungan keluarga, baca juga cerita pendek inspiratif kehidupan Penasehat Yang Dinasehati.]

Dalam hatiku juga mengiyakan ucapan ibu Yuda, jaman sekarang kejahatan semakin merajalela, gak orang dewasa anak kecil jadi korban kebiadaban. Sudah banyak kejadian yang kudengar dan kulihat dari TV itulah terkadang membuatku was-was. Apalagi baru-baru ini di TV aku menonton sebuah berita kejahatan yang sangat sadis anak kelas 2 SMP diperkosa oleh 14 orang. Astagfirullah… yah Allah tak terbayangkan hal itu jika terjadi pada anakku.  Apalagi Afifah memang terlihat beda dengan anak seusianya aku memang merawatnya dengan sebaik mungkin. Bahkan jika mau kesekolah aku selalu menyarankan Afifah untuk membawa payung atau jaket agar kulitnya yang putih tidak terkena sinar matahari dan Afifah selalu menurutinya. Terkadang kecemasan itu datang tapi aku selalu berdoa, aku yakin Allah akan selalu menjaga Afifah untukku. [Kalau suka membaca cerita pendek renungan keluarga, baca juga cerita pendek inspiratif Keluargaku.]

Cerita Pendek Keluarga “Mukena Baru Untuk Afifah”

Di perjalanan pulang aku menghitung bayaran yang kuterima lumayanlah bila aku kumpulkan dengan besok, pasti lusa nanti aku akan bisa membeli mukena Afifah, dan pada sholat tarawih pertama Afifah sudah bisa mengenakan mukena barunya. Mengingat itu aku jadi senyum-senyum sendiri membayangkan wajah anakku saat dia tahu aku sudah membelikan mukena baru untuknya. Membayangkan senyumnya yang lebar dan matanya yang berbinar-binar ceria pasti dia akan bersorak gembira sambil memelukku, menciumku dan mengatakan terima kasih bunda. Oh sayangku Afifah tak sabar ingin segera besok.

“Bunda besok sudah salat tarawih pertama yah.”

“Iya, kenapa sudah gak sabaran yah ? apa karena besok ada mukena baru,” selaku. Afifah berbalik menatapku. Matanya yang bening melebar.” Memang besok bunda jadi beliin Afifah mukena?” tanyanya menatapku serius. Senyumku melebar kucubit lembut pipi  Afifah gemas. [Kalau suka membaca cerita pendek renungan keluarga, baca juga cerita pendek cinta jarak jauh Ikhlas.]

“Iya dong bundakan sudah janji.”

“yang bener bunda ?”

“Masa bunda boong sih lagiankan  boong itu gak baik kan ? apalagi mau bulan puasa. ”

“Asyik, makasih yah bunda. Afifah sayang banget sama bunda.” Afifah mendekapku erat.

“Bunda juga sayang banget sama Afifah.” Ucapku mengecup dahi Afifah lembut dan kembali memeluknya. [Kalau suka membaca cerita pendek renungan keluarga, baca juga cerita selingkuh singkat Perpisahan Yang Manis.]

Sepulangku dari bekerja aku mampir ke sebuah toko pakaian dekat pasar, ada sebuah mukena yang sudah kuincar untuk kubeli. Warnanya putih dengan renda emas dipinggiran jahitannya, aku yakin jika Afifah memakainya pasti akan terlihat cantik dan akan semakin cantik jika dia memakainya sholat. Walaupun harganya sedikit agak mahal tapi aku yakin tak akan sia-sia aku membelinya. Sudah kubayangkan wajahnya seperti apa ? semalam saja saat bicara tentang mukena baru matanya sudah berbinar-binar ceria bagaimana jika dia memakainya. Ah Afifaku sayang tak sabar ingin cepat-cepat sampai kerumah. Setelah mampir kepasar untuk membeli persiapan  masak makanan sahur aku langsung pulang. Tumben rumah sepi biasanya kalau melihat aku pulang Afifah pasti akan buru-buru menghampiriku dan mengambil belanjaan di tanganku. Saat aku masuk kedalam yang kudapati cuma ibu yang sedang menonton TV. [Kalau suka membaca cerita pendek renungan keluarga, baca juga cerita pendek kehidupan sosial Para Penjaja Warta.]

“Afifah mana bu ? ”

“Lho bukannya sama kamu Ti ?”

“Memangnya tadi sudah pulang sekolah ?”

“Iya, tapi katanya mo langsung kerumah ibu Wahid nyusul kamu katanya.”

“Maksud ibu ,Afifah bilang mau menyusulku kerumah Ibu Wahid?” ulangku lagi.

“Iya.”

Entah kenapa perasaanku begitu tidak enak, aku langsung bergegas kerumah ibu Wahid, sesampainya di sana aku semakin ketakutan saat ibu Wahid mengatakan Afifah tidak kesitu. Aku seperti orang gila berkeliling komplek, mencari ketempat teman-teman Afifah tapi tak ada satupun yang melihatnya. Yah Allah semoga saja tidak terjadi apa-apa. Bayangan-bayangan yang ada di TV tentang kejahatan yang menimpa anak-anak di bawah umur memenuhi otakku. Aku benar-benar ketakutan, aku mulai menangis, oleh pak RT ku disarankan untuk melapor ke polsek terdekat. Akupun memutuskan untuk pulang kerumah dulu. Ganti pakaian dan pamit pada mertuaku aku juga tidak ingin ibu mertuaku shock atau tiba-tiba pingsan mendengar berita ini. Aku benar-benar di hantui ketakutan tentang kejahatan yang akhir-akhir ini sering terjadi. Aku baru saja tiba, saat di pintu depan terdengar salam seseorang yang begitu kukenal suaranya. Di depanku Mas Wawan berdiri menggandeng tangan Afifah. Kudekap wajahku penuh rasa syukur. [Kalau suka membaca cerita pendek renungan keluarga, baca juga cerita romantis Seperti Itu Ku Mencintamu Sampai Mati.]

“Alhamdulillah yah Allah, Afifah.” Cepat kuraih tubuh Afifah dan memeluknya erat. “Afifah jangan buat bunda ketakutan kayak gini dong” seruku sembari menarik nafas lega.

“Maaf Bunda tadi pas waktu mau  nyusul bunda ke rumah ibu Wahid Afifah ketemu ayah di jalan. Afifah di ajak ayah beli mukena tapi Afifah ingat bunda pasti sudah membelikan mukena buat Afifah jadi Afifah dan ayah beliin bunda juga mukena. Ini bunda “Afifah menyodorkan sebuah bungkusan di tangannya kearahku yang kuterima dengan penuh haru. Ku tatap suamiku dengan  perasaan campur aduk, dan mencium tangannya lembut.

“Maafkan aku Ti, selama ini tak memberi kabar, banyak yang ingin kuceritakan padamu.”

“Aku memaafkanmu Mas, aku yakin kamu pasti akan kembali. Allah sudah mengabulkan doaku. Karena itu ceritanya nanti saja sekarang siap-siap dulu sudah mau maghrib mas.” Ingatku. Afifah yang juga sadar sudah hampir maghrib buru-buru masuk kedalam rumah. Tinggalah aku dan suamiku saling tatap penuh rasa rindu. Aku yakin apapun alasannya Mas Wawan pasti memilikinya masih banyak waktu untuk aku mendengarnya. Dan akupun tak perduli selama dia kembali padaku aku akan selalu menerimanya sebagai suamiku. [Kalau suka membaca cerita pendek renungan keluarga, baca juga cerita motivasi inspiratif Salim Anakku.]

“Terima kasih untuk mukenanya Mas.”

“Itu hadiahku dan Afifah untukmu, Ti ” bisik Mas Wawan lembut. Ya Allah terima kasih, Engkau kembalikan suamiku dan anakku dengan utuh di sampingku tak ada kata yang bisa melukiskan kebahagiaanku hanya sujud syukur ke hadiratmu ya Allah. Adzan maghrib terdengar begitu teduh, meneduhkan hati untuk sujud sejenak di depan Sang Khalik. Aku yakin doa-doaku akan selalu di kabulkan oleh Allah SWT untuk melindungi orang-orang yang kukasihi dari kejahatan setan, manusia, dan dari kejahatan yang dilakukan oleh diri sendiri. (PW)


Terima kasih telah mengunjungi dan membaca cerita pendek renungan keluarga “Mukena Baru Untuk Afifah”. Untuk mengapresiasi penulis cerita pendek renungan keluarga, mohon berikan suka dan bagikan cerita pendek renungan keluarga ini melalui Facebook, Twitter, Google+, Whatsapp dan Pinterest dengan mengklik ikon dibawah. Jangan lupa baca juga cerita motivasi kami lainnya.

Dibagikan

Putri Wahyuningsih

Penulis :

Artikel terkait