My Dream

cerita testimoni penulis cerpen my dream

Sebuah cerita testimoni dari seorang penulis pemula yang mengirim cerpen ke redaksi Bisfren.com, pada usianya yang relatif masih muda sudah cukup banyak karya dihasilkan. Keberanian menulis merupakan modal dasar untuk bisa menulis. Sedangkan kemampuan menulis akan terasah dengan sendirinya seiring dengan semakin banyak membaca dan menulis serta, yang terpenting, bertambahnya pengalaman hidup. Jadi buat penulis muda, publikasikan saja karya kalian, kewajiban kita adalah mengekspresikan dan mengembangkan bakat. Biarlah menjadi urusan orang lain yang menilai bagus tidaknya karya kita.

Cerita Testimoni My Dream

Hai.. namaku Rubia Anjuliani tapi aku lebih akrab di panggil dengan sebutan Ria. Saat ini aku masih menginjak di bangku SMP kelas 3. Banyak hal ku alami selama menginjakan kaki di bangku sekolah menengah. Salah satunya adalah cinta monyet ku dengan guru Bahasa Indonesia ku, namanya pak Rudi. Dia memang masih muda dan juga ganteng. Setiap belajar sama dia aku selalu berusaha untuk tetap aktif meskipun dulunya aku sangat tidak suka dengan pelajaran yang satu ini, tapi semenjak ada pak Rudi entah kenapa diriku mulai menyukai pelajaran Bahasa Indonesia.

Suatu hari, pak Rudi mengajarkan kami tentang drama, dari namanya saja jelas bahwa disini pasti bakalan di suruh acting, nggak hobi ku banget tuch!! Tapi aku harus tetap berlatih supaya jadi yang terbaik dan tetap no satu bagi pak Rudi. Kebetulan aku punya kakak satu kos yang pintar acting namnya anita, setiap hari aku selalu minta bantuan dia bagaimana cara berakting dengan baik, katanya setiap dialog yang menjadi peran kita harus dihayati dan menganggap bahwa yang dalam dialog itu benaran kita. Gampang-gampang susah sich, tapi aku selalu berusaha yang terbaik.

Ketika harinya tiba aku dan kelompok ku berusaha melakukan yang terbaik dan tidak disangka  drama kami lah yang terbaik. Baik dari segi judul atau pun penampilan. Drama kami berjudul best friend forever dimana aku disini berperan sebagai Meitha, cewek rebutan dua orang cowok adri dan rian. Namun pada akhirnya tidak satupun yang Meitha terima karena bagi Meitha kedua cowok itu adalah sahabatnya.

Sejak bermain drama hari itu entah kenapa aku suka ber acting dan menulis cerita. Sejak itu lah aku mulai menekuni bidang menulis, aku berusaha menulis berbagai cerita tentang kehidupan ku atau pun kadang-kadang dari cerita curhatan teman.

Hal ini terus berlanjut ketika aku sudah duduk di bangku SMA, aku terus menulis terutama drama. Suatu ketika aku melihat sebuah buku di perpustakaan, buku itu berjudul referensi bimbingan karir “bekerja sebagai penulis skenario” sebenarnya antara drama dan skenario tidak jauh berbeda, masih sama-sama menggunakan dialog, tapi dalam skenario memiliki banyak istilah-istilah yang harus di pelajari dimana istilah itu akan digunakan saat kita menulis.

Setelah membaca buku referensi bimbingan karir itu aku jadi tertarik untuk menjadi penulis skenario, maka drama-drama yang aku buat selama ini pun aku jadi dalam bentuk skenario. Banyak teman-teman ku yang menyukai tulisanku, namun ada juga di antara mereka mengejek hasil karyaku. Kata nya sich impian ku menjadi seorang penulis itu nggak bakalan terwujud. Namun aku tidak pernah putus asa, aku tetap menulis !!!.

Suatu ketika seorang guru membaca hasil karyaku, namun berbentuk sebuah cerpen. “Lumayan bagus, kenapa nggak di coba untuk di publikasikan ?” itulah kata yang dilontarkan guruku ketika selesai membaca hasil karyaku itu.

Hmmm..  sebenarnya sich pengen banget untuk di pupulikasikan apalagi skenario ku, siapa tau bisa jadi seorang penulis skenario terkenal nantinya, tapi hatiku masih bimbang untuk mempublikasikannya. Takutnya nanti hasil karyaku ditolak, akhirnya rencana untuk mengirim skenario ke PH (Production House) ku pending dulu. Sebaiknya ku siapkan dulu skenario sebanyak-banyaknya, ntar kalau udah saat nya ya tinggal kirim aja.

Waktu terus berjalan… dan tak terasa sekarang aku sudah duduk di perguruan tinggi. Aku tak pernah berhenti untuk menulis dan menulis. Karena semakin tinggi ilmu ku semakin banyak juga pengetahuan yang aku dapatkan untuk menulis. Aku juga sudah berulang kali mengalami yang namanya jatuh cinta, patah hati ataupun sejenisnya. Namun aku nggak pernah ambil pusing, toh itu semua bisa aku jadikan sebuah ide cerita.

Tak terasa tulisan ku sudah banyak yang numpuk, hingga aku memutuskan untuk mengirim ke PH. Menurut informasi yang aku baca aku harus sabar menunggu kurang lebih dalam jangka waktu 6 bulan. Jika dalam waktu 6 bulan tidak ada kabar berarti memang tulisan ku tidak layak untuk diterima.

Setelah 6 bulan menunggu, memang tidak ada kabar dari PH. Bahkan ketika hampir 1 tahun juga tidak ada kabar. Dari sana aku mulai putus asa untuk menjadi seorang penulis. Mungkin benar apa yang dibilang teman ku waktu SMA dulu, aku nggak bakalan pernah bisa menjadi seorang penulis. Perlahan aku mulai menghentikan kegiatan menulisku.

Hingga 3 bulan kemudian aku mendapat sebuah ide ketika aku membuka internet, informasi yang aku baca saat ini banyak yang membutuhkan penulis cerpen. Aku tertari dengan informasi tersebut. Skenarioku yang numpuk itu kenapa nggak ku jadiin dalam bentuk cerpen aja. Siapa tau bisa terbit. Akupun mulai berfikir sebagai penulis pemula tidak harus terlalu tinggi dulu melompat keatas seperti menjadi penulis skenario tadi. Aku pun memulainya dari hal yang lebih kecil yaitu cerpen. Semua skenario yang ku tulis selama ini akhirnya kujadikan cerita pendek.

Lumayan banyak juga cerita pendek yang aku kirim ke berbagai redaksi, sesuai informasi aku harus menunggu dalam waktu tiga bulan. Jika dalam waktu itu tidak ada kabar itu artinya cerpen ku tidak layak untuk di muat.

Diriku kembali dalam keputus asaan karena lebih dari 3 bulan cerpen-cerpen ku tidak ada yang di muat satu pun. Aku mulai berhenti menulis dan melupakan impian ku untuk menjadi seorang penulis karena bagi ku itu hanya akan membuang waktu ku saja, lebih baik ku waktu menulis ku gunakan untuk belajar. Selama ini aku selalu membagi waktu antara menulis dan belajar. Tapi sekarang waktu luang ku digunakan hanya untuk belajar.

Setelah hampir 2 tahun duduk di perguruan tinggi entah apa sebabnya keinginan ku untuk menulis muncul lagi, terutama setelah aku membaca sebuah situs tentang sebuah redaksi yaitu bisfren. Katanya bisfren akan menerbitkan karya-karya penulis pemula yang berbakat. Tanpa banyak berfikir aku mencoba mengirim beberapa cerpen ku ke redaksi bisfren. Dan Alhamdulillah cerpenku pun akhirnya dimuat.

Ketika keputus-asaan melanda diriku namun Bisfren hadir kembali menyemangatiku. Sejak itu lah aku memulai kembali kegiatan menulis ku.  Aku juga harus membagi waktu antara belajar dan menulis . meskipun aku belum bisa menjadi seorang penulis scenario aku tetap bersyukur bisa menjadi penulis cerpen.

Namun aku tetap berharap suatu saat nanti tulisan ku di baca oleh PH, lalu diminta untuk menjadikannya sebuah skenario, Amiiinn !

Thank bisfren sudah menerbitkan hasil karyaku

SELESAI

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait

2 Comments