Ooh… Mirna

cerita pendek keluarga

Ooh Mirna merupakan cerita pendek keluarga berisi percakapan antar remaja yang bersaudara. Bagaimana ceritanya ? simak pada cerpen berikut :

Cerita Pendek Keluarga – Ooh Mirna

“Mirna, cepat sini. Ada kabar baru dari nenek,” panggil Tejo, sepupu Mirna dari ibunya Mirna, Sanikem. Mendengar  panggilan Tejo Mirna tetap saja berada di dapur, mencuci beberapa buah yang diantarkan oleh Rima, adik Tejo, dari pasar. Mirna dipanggil sekali lagi oleh tejo. Tapi hanya menjawab, “sebentar aku sedang di dapur!”

“ya sudah kalau tak percaya!” tegas Tejo. Ia kesal karena dapat bentak dari Mirna. Ia meradang sendiri di depan televisi. Rima datang dari kamar tidur, ia kaget ada suara keras dari Mirna, “ada apa sih ribut-ribut?” nadanya pun sinis. Jengkel juga ke Mirna karena Mirna lah yang pertama kali bersuara keras.

Mirna tinggal di rumah Tejo. Awalnya rumah itu adalah rumah orang tua Tejo yang telah meninggal 7 tahun lalu. Mirna sendiri yatim piatu. Bapaknya meninggal karena sakit keras ketika Sanikem sedang hamil Mirna. Kemudian satu bulan Mirna lahir, 17 tahun sebelumnya, Sanikem meninggal dunia karena operasi setelah kelahiran Mirna. Kemudian nenek Mirna, Suryani, yang merawat Mirna.

Setelah kira-kira Mirna berumur 16 tahun ia pindah bersama Tejo dan Rima disuruh Nenek Suryani. Di Sleman Nenek tinggal bersama pembantunya yang setia sampai nenek Suryani sampai tua juga. Di Jakarta Mirna dan Rima sekolah di tempat yang sama. Sedangkan Tejo, usianya 20, sudah berkuliah. Tejo dan Rima tidak kesulitan masalah uang, mereka mendapat warisan dari bapaknya. Ibunya tak pernah kembali lagi ketika kabur, tidak tahan akibat perbuatan ayah Tejo yang berhidung belang. Sampai sekarang ibunya juga tak pernah kunjung datang untuk menengok mereka.

“Mir, kalau bicara jangan terlalu keras!” sambung Rima yang kesal. “maaf, Rim!” kata Mirna.

Tejo sendiri kembali melihat telivisi, tak menghiraukan mereka berdua. Kemudian Mirna datang ke meja makan meletakan buah-buahan di meja. Kemudian kembali ke dapur lagi untuk memasak nasi. Melihat Mirna kembali ke dapur Tejo hanya melihati Mirna tak mau beritahu kalau ada kabar dari nenek.

Rima yang dirudung jengkel duduk di meja makan. Dagunya dipangku oleh dua tangannya. Rambut yang biasanya terurai panjang sampai ke punggung diikat pada siang itu. Karena hari sedang panas Tejo hanya memaki kaus dalam tipis bewarna hitam, dan bercelana pendek. Mirna memakai daster panjang bewarna putih.

“dunia makin amburadul!” sontak Tejo yang sedang melihat acara berita di televisi.

Rima tetap membatu dalam posisi semula. Mirna tak menggubris perkataan adik sepupunya itu. “kalau tidak mau amburadul bunuh diri saja!” kata Rima setelah menyandarkan badannya ke sandaran kursi kayu.

“itu bukan jawaban, Rim!” balas Tejo.

Mirna kembali lagi ke meja makan. Membawa segelas teh untuk dirinya sendiri. Sebelum ikut duduk di samping kursi samping Rima ia melongok sedikit ke televisi yang ditonton Tejo. Setelah sepuluh detik duduk di kursi ia mulai bicara, “makin kacau kalau dipikirin sebagai sesuatu yang kacau. Kalau tidak dipikiri hal yang kacau ya tidak ada apa-apa, Jo.”

Tejo menolehkan wajahnya ke arah Mirna, kemudian Rima juga melihat ke arah Mirna. Mirna sendiri meniupi teh panas itu agar lekas hangat. Tejo tak bilang apapun, tapi ia memikirkan pendapat Mirna. Rima mencibir Mirna, “ah, kau buta, ya. Masa berita kriminal seperti itu tidak kacau.”

“bagiku tidak kacau. Biasa saja. Itu, kan, persepsi kita,”

“persepsi?. Kau serius, Mir?” wajah Tejo seperti sedang mencibir Mirna.

Mirna tak menjawab. Ia berjalan ke dapur lagi untuk melihat air rebusan yang ia masak beberapa saat lalu. Saat Mirna di dapur Rima mengatakan suatu hal yang tidak mengenakan tentang Mirna ke Tejo, “Mirna makin aneh. Betul juga kata bude Yati. Ia bukan pribadi yang kuat untuk hidup tanpa orang tua. Lihat, Mas, cara berpikirnya, aneh, kan?”

“mungkin embah tidak kuat lihat dia…” balasan Tejo dipotong Rima, “makanya disuruh tinggal di sini untuk belajar dari kondisi kita.”

Pikiran Rima sejak kedatangan Mirna di rumahnya memang seperti itu. Rima bisa menerimanya, ia juga sempat berpikiran kalau bude Sanikem tidak sesukses orang tuanya sehingga Mirna tak memiliki warisan yang banyak untuk menghidupinya. Tapi meski Mirna tinggal di rumah Tejo dan Rima, ia mendapat uang untuk sekolah dari nenek Suryan.

“terus di sekolahan bagaimana?” tanya Tejo ke Rima.

“tak pernah kudengar ia dapat nilai buruk sedikit pun di sekolah. Malah kemarin daftar ikut lomba puisi.”

“aku sering belikan dia makanan, mas, kalau Mirna tak bawa makanan.”

“lho, bukannya dia punya uang?”

“buat beli buku, katanya” jawab Rima.

“beli buku terus? Televisi juga jendela pengetahuan, koq!” kata Tejo, kemudian kembali ke sofa depan televisi.

“biarlah. Itu, kan, nilai bagus untuknya” Rima mencoba membela Mirna.

“kalau nilai bagus harusnya kau ikuti dia beli buku,” Tejo membela dirinya.

Lalu, Rima angkat dari  kursi meja makan. Berjalan ke arah Tejo. Kemudian mengambil remote Televisi untuk mengecilkan volume suara. Saat wajah Tejo menoleh ke Rima untuk protes Rima malah yang bicara lebih dulu, “kau ingat, kan, saat dia bilang kalau Tuhan itu juga persepsi?”

“aku ingat. Benci sekali aku dengar itu. Masa Tuhan dibilang persepsi. Guru agamamu tak bicara hal-hal seperti itu, kan?”

“mana mungkin guruku bilang hal seperti itu, bisa dapat surat pecat dari sekolah dia. Yang pasti dari buku-bukunya itu.”

Tejo terdiam sejenak, lalu berang beberapa detik kemudian ia bicara, “kau betul, Rim,” membenarkan adiknya.

Mirna datang dari dapur ke meja makan, meletakan makanan untuk makan siang. Tejo dan Rima menengok ke arah Mirna. Ingin mereka ucap sesuatu, tapi masih segan karena takut sakiti perasaan Mirna. Malam sebelum hari itu ketika mereka bertiga berkumpul bersama Mirna mengatakan sesuatu yang sulit diterima oleh kedua sepupunya itu: Tuhan tidak bisa meletakan gunung slamet dalam sebuah gelas yang aku pegang ini. Kemudian dia tanya, payah, kan?

Terbelalak mata Tejo dan Rima mendengar ucapan Mirna. Sedangkan Mirna hanya tertawa sampai puas. Memang hati Tejo merasa ada yang aneh dan salah pada sepupunya itu sampai-sampai membatin, kalau Mirna bukan sepupunya ia akan diusir oleh Tejo malam itu juga.

Tejo bukan orang yang taat beragama, bukan pula orang baik secara moral. Ia masih sering meminum minuman keras di kampus bersama teman-temannya, tapi anehnya jika agama yang dianutnya dilecehkan oleh orang lain ia akan marah, semarah-marahnya. Begitupula Rima, ia seperti mas-nya yang terhadap agama tidak terlalu memikirkan mendalam. Padahal Mirna pernah bilang ke mereka berdua tentang pentingnya berpikir dalam agama:

Kita belajar untuk nilai di sekolah, dan kita juga sadar kalau nilai pelajaran itu penting bagi masa depan kita. Kalau agama kita anggap sebagai sesuatu yang penting juga, mengapa kita tidak pernah memikirkannya sedikit pun, mengapa kita harus ikut apa yang orang bilang. Padahal orang yang kita ikuti belum tentu benar. Kepercayaan kita yang mengikuti kepercayaan orang lain bukan sebuah jembatan untuk sampai pada kebenaran. Kalau diperlawankan juga bisa seperti ini; ketidakpercayaan kita atas kepercayaan orang lain juga bukan merupakan pengetahuan atas sesuatu yang hakiki, bukan kebenaran bagi pengetahuan kita.

Mirna dalam agama sama seperti sepupunya. Tapi yang menarik dari hidup Mirna adalah ia dapat secara mandiri membuat kode moral untuk kehidupannya sendiri, sedari dini, ia sudah mulai mencobanya. Tak dari agama ia ambil kode-kode moral, ia berani memikirkannya secara mandiri. Tapi apalah daya, setiap pikiran Mirna dikatakan sesuatu yang tidak benar oleh sepupunya, tapi di sekolah Mirna bukan orang selalu dipanggil ke guru BK atau mendapat peringatan yang keras dari kepala sekolah.

“sebelum kita makan, aku mandi dulu, ya, Jo, Rim” kata Rima sambil menenteng handuk.

“jangan lama, Mir, baunya sedap sekali,” kata Rima.

Saat Rima baru masuk kamar mandi yang terletak di lantai atas Tejo bicara lagi ke adiknya, “aku akan adukan ke nenek tentang ke anehan Mirna. Aku takut ada apa-apa dalam pikirannya.”

“jangan dulu. Itu belum terlalu parah,” Rima melarang.

Tejo menolehkan wajah ke arah tangga takut Mirna datang. Setelah itu ia bicara lagi, “belum parah apanya, Rim. Kau tahu ada orang gila dekat kampusku karena suka bicara hal-hal seperti itu. agama buat main-main.”

Rima tak membalas perkataan mas-nya seucap pun. Tejo pun juga ikut terdiam, sekarang ia tolehkan lagi wajahnya ke televisi. Telinga mereka mendengar suara air dari kamar mandi meski suaranya kecil sekali.

“menurutku, Rim, lebih baik tidak beragama dari pada memainkan agama dengan pikiran-pikiran yang kacau itu.”

Lalu Rima sontak membalas, “itu lebih gila! Kan, ada opsi satu lagi, yaitu, beragama dengan benar-benar mengimani apa yang harus diimani. Bukan memilih untuk tidak beragama.”

“itu, kan, pilihanku; dari pada beragama kemudian menyelewengkan agama dengan dalih berpikir kritis lebih baik tidak sama sekali, bukan?. Aneh! Agama, koq, dikritisi!”

“tapi, mas, guru sejarah di sekolahku juga pernah cerita kalau ada sekelompok orang yang anti-agama.”

“jadi maksudmu Mirna itu anti-agama?”

Rima mematikan televisi dengan remote agar mata mas-nya bisa fokus pada pembicaraan ini. “belum tentu, mas. Itu namanya nuduh Mirna.”

“lho, tadi katamu ada orang anti-agama,” Tejo makin heran.

“ya maksudku Mirna itu mungkin cuma mau mengutak-atik pikirannya.”

“maksudmu apa lagi?”

Suara pintu kamar mandi lantai atas berbunyi. Langkah kaki Mirna juga terdengar pelan, menuju kamarnya untuk ganti berdandan. Rima dan Tejo masih tetap di sofa depan televisi. Jarak sofa dengan meja makan tidak hanya perlu sedikit melangkah. Selagi Mirna belum turun ke lantai bawah Rima menjawab pertanyaan mas-nya, “mungkin ia hanya penuh keraguan, mas. Dengar sendiri, kan, tadi, bagaimana ia katakan kalau kekacauan itu hanya persepsi semata. Itu berarti ia bisa mengganti menolak hal-hal terjadi, mas.”

“maka dari itu nanti bakal ada efek yang parah, Rim. Mirna bisa menolak segala macam peristiwa.”

Rima tertawa mendengar ucapan mas-nya. Sedangkan Tejo mengkrenyitkan jidat. “bisa-bisa dirinya sendiri merupakan persepsi semata, mas. Kan, lucu, kalau diri ini, yang paling nyata, dikatakan sebagai persepsi semata,” kemudian Rima lanjut tertawa.

Tejo kesalm ia hanya berucap, “kau sama saja akhirnya!”

“beda, mas! Kalau aku lihat peristiwa itu ya sebagai sesuatu yang terjadi. Sedangkan Mirna hanya persepsi. Yang namanya persepsi itu bisa berubah-ubah.”

“Jo, Rim, tunggu sebentar. Aku sedang jemur handuk,” kata Mirna dari kejauhan.

“iya…” Tejo dan Mirna membalas dari lantai bawah.

“nanti aku mau tanya-tanya sambil makan, mas,” kata Rima.

Tejo tak menjawab. Kemudian ia berdiri, berjalan menuju ke meja makan. Ia juga menyiapkan gelas untuk tiga orang. Mirna turun ke bawah memakai pakaian rapih bewarna merah muda. Rima kemudian bertanya, “kau mau kemana memakai pakaian rapih seperti itu?”

Sambil jalan Mirna menjawab, “ke toko buku.”

“kerjamu itu saja ya, Mir?” Tejo menimpali.

“aku butuh penyegar, Jo,” jawab Mirna.

“yuk, makan dulu,” ajak Rima.

Setelah berkumpul di meja makan. Semuanya tak berucap satu patah kata pun, hanya suara sendok yang beradu ke piring saja yang muncul. Mereka bertiga lahap memakan menu makan siang itu yang dimasak oleh ibu Lilis, orang suruhan Nenek Suryani di Jakarta untuk urus semua keperluan cucu-cucunya.

Tejo mulau bicara, “Mir, kau ini penuh keraguan, ya, orangnya?”

“maksudmu, Jo?” tanya Mirna balik.

“pikiranmu terlalu ekstrim. Banyak hal nyata yang sekarang kau ragukan,” Rima menimpali dan menyudahi makannya. Lalu ia bicara lagi, “Tejo penasaran, mengapa kau bilang kalau kekacauan itu hanya persepsi semata, padahal jelas-jelas ia terjadi.”

“ya, Mir. Kau ini banyak ke anehan,” tambah Tejo.

“lho, memangnya ada yang salah?” tanya Mirna, kemudian menyodorkan teko air ke dua sepupunya itu.

“iya ada, Mir,” jawab Tejo.

“apa?” tanya Mirna kembali.

“persepsi apa yang kau maksud ketika aku sedang bicara tentang berbagai peristiwa di televisi tadi?”

“kalau dari hal seperti itu kau ragu bagaimana lagi kau yakin pada hal yang besar?” Rima menyambung perkataan mas-nya.

“memangnya aku tak boleh ragu, ya?” tanya Mirna untuk mengetes kedua sepupunya itu.

“bukannya tidak boleh, Mir, tapi terlalu nyata untuk kau ragukan. Beda halnya dengan yang masih samar dan tidak jelas, itu pantas kau ragukan, bahkan masih bisa kau bilang ‘itu tergantung persepsi’!” Rima mulai memperdebatkan masalah itu.

“aku tidak meragukan kejadian itu,” Mirna bicara dengan enteng.

“lho, buktinya kau masih bilang kalau itu sebuah persepsi,” balas Tejo, sementara Rima mendangakkan kepalanya ke arah kipas angin di atas meja makan.

“peristiwa yang kau lihat di televisi tadi apa?” tanya Mirna menantang.

“itu kriminal, Mir,” Tejo jawab kembali.

“kacau menurutmu?” kembali Mirna menantang.

“jelas!” Tejo memekik. Makannya pun juga sudah selesai.

“kau buta, Mir,” kata Rima.

“bukannya buta, Rim. Aku hanya melihat dari sudut lain.”

“maksudmu?” tanya Rima.

“sudut dari mana?” Tejo ikut bertanya.

“dari sudut peristiwanya. Bukan sudut bahasa dan pikiran kalian.”

“kami juga dari sudut peristiwanya,” Tejo tak mau kalah.

“bagaimana mungkin dari sudut peristiwanya tapi hanya melalui televisi,” kemudian Mirna tersenyum manis pada keduanya.

“kenapa harus menjadi tidak mungkin?” tanya Rima.

“itu, kan, gambaran di televisi, bukan kenyataan sesungguhnya,” Mirna membalikan pertanyaan Rima.

“coba jelaskan!” perintah Tejo.

“jelaskan yang mana?”

“apa saja!” kata Tejo lagi.

“sudah kubilang ada sudut, kan, tadi? sudut pertama jangan berjarak dengan kenyataan. Sudut kedua, jangan menghakimi kejadian yang hanya dilalui dengna gambar-gambar di telivisi. Kau tahu betul, kan, bahwa gambar-gambar di televisi itu bukan realitas atau kenyataan yang sesungguhnya?”

“televisi seperti cermin, Mir. Benda itu bisa mengantarkan kita pada kenyataan dari kejauhan,” Rima menimpali. Lalu ia mengambil piring bekas makan saudara-saudaranya dan menumpuknya menjadi satu.

“kalau dari kejauhan mengapa kau nilai itu seakan-akan terjadi dekat denganmu?” tanya Mirna kembali.

“memangnya ada yang salah?. Lagi pula, bukannya begitu keuntungan kita dari dunia modern; mendekatkan yang jauh! Mengapa kau benar-benar tak bersyukur?” Tejo mulai kesal.

“mengapa kau benar-benar yakin dengan apa yang nampak di televisi? Kau tak taku tertipu rupanya, ya?” tanya Mirna kembali.

“kalau pun ada kebohongan itu pasti sudah terhukum dengan undang-undang yang penyiaran?”

“kalau ada persekongkolan hukum dan penyiar televisi bagaimana, kau bisa tahu?” Mirna menekan Tejo.

“pasti akan ketahuan. Waktu yang menjawabnya,” jawab Rima.

“yang jelas; televisi itu bukan realitas sesungguhnya, kan?”

“benar,” sambil menatap tajam ke Mirna Tejo menjawab.

“kalau begitu mengapa yakin betul pada sesuatu yang bukan realitas sesungguhnya?” Mirna terus memojokan. Wajahnya terlihat seperti sedang memplonco kedua sepupunya.

Rima hanya diam. Lagi-lagi ia memangku dagunya dengan tangan kanannya. Mata Tejo sekarang berkedip lebih kencang dari sebelumnya. Ia seperti tidak terima atas jawaban-jawaban dan pertanyaan yang memojokan dirinya dari sepupunya.

“hayo. Mengapa kita yakin betul atas realitas yang bukan sesungguhnya?” kembali Mirna bertanya.

Tejo dan Rima hanya terdiam. Barang beberapa detik kemudian Tejo bicara, “bukannya aku yakin betul, masalahnya adalah mengapa kita harus ragu dengan cermin yang benar-benar menampakan diri kita seutuhnya?”

Kemudian Mirna yang terdiam sekarang, kemduain diikuti juga oleh kedua sepupunya. Selagi terdiam Mirna melongok ke arah luar rumah. Ia juga berpikir untuk menjawab pertanyaan Tejo. Kemudian ia mencoba menjawab, “cermin itu langsung, aku dan bayanganku. Sedangkan siaran televisi perllu orang banyak untuk menggarapnya, perlu berbagai ahli untuk menyiarkan. Bisa-bisa dibentuk oleh mereka untuk menyampaikan sesuatu yang tidak semestinya.”

“jadi kau menuduh acara di televisi itu bohon?” kemudian Rima yang bicara.

“bukan bohong. Tapi, alangkah baiknya kita memberikan penilaian seperti yang Tejo bilang tadi tapi tidak terburu-buru.”

“lho, Mir, aku, kan harus lihat dahulu isi beritanya baru aku beri penilaian. Bukan main asal jeplak saja!”

“aku tahu. tapi kau sadar betul, kan, kalau ada jarak antara kenyataan dan realitas yang dibentuk televisi. Kemudian, parahnya, gambar-gambar di televisi membentuk pikiran kita sedemikian rupa lalu menjadi keyakinan bagi diri kita atas realitas yang terjadi. Dan, kau bilang itu kacau. Padahal, kan, belum tentu. Kau masih bisa menilai apa pun dari berbagai sudut!” tegas Mirna keras pada Tejo.

Tejo terdiam lagi. Bukan diam biasa, membatu pula sekujur tubuhnya. Sedangkan Rima ingin bicara tapi tergagap-gapap pula. Selagi kedua sepupunya terdiam Mirna mengambil kesempatan untuk bicara, “kalau tadi aku bilang hanya persepsi itu hal yang lain dari bicara kita. Sekiranya aku tahu betul, bahkan aku yang merasai satu peristiwa, kesadaranku yang pertama adalah bahwa peristiwa itu ada. Ia sebagai sesuatu yang nyata. Adapun bicara tentang kacau atas peristiwa itu adalah bicara tentang perasaanku, bukan realitas luaran diriku. Seperti itu pikiranku, cara aku memikirkan peristiwa.”

Wajah Tejo yang tadinya menegang mulai melonggar. Rima masih seperti posisi semula. Mirna kemudian bertanya, “mana surat dari nenek?”

“ini untuk kita bertiga,” jawab Tejo.

Di depan surat itu tertera tulisan untuk ketiga cucu-cucuku. Kemudian pembahasan di meja makan terputus. Rima diperintah Tejo untuk membaca surat itu. Tejo dan Mirna mendengarkan dengan seksama. Awal kalimat yang terucap adalah:

Maafkan Mirna. Ia sudah nenek asah, sudah nenek ajarkan kebajikan dengan cara kritis. Kritisisme Mirna mungkin menggangu kalian berdua, tapi yakinlah kalian adalah lawan yang tangguh baginya…

Dibagikan

Artikel terkait