Opera Menangisi Komedi

cerita sedih opera menangisi komedi

Opera menangisi komedi adalah cerita sedih lelaki stress ditinggal pacar. Cintanya serius tapi pacarnya hanya mencari hiburan. Akibatnya dia sangat merindukan kekasihnya sehingga apapun dilihat atau dilakukannya hanya membangkitkan kenangan. Simak ceritanya berikut :

Cerpen sedih Opera Menangisi Komedi

Tanpa perlu bersender dengan tubuhmu : di barisan outlet tiket opera tak selebihnya aku hanya mengantri, sedangkan mereka berdiri tanpa peduli keberadaan sekitar atau bahkan mereka tidak peduli tentang komedi apa akan segera mereka tangisi nanti. Tentu aku bukan orang ta’tahu arah, aku juga punya alasan untuk ikut-serta menyaksikan opera bertabur komedi ini. Alasanku adalah untuk melepaskan rasa sakit yang mana telah lama aku pelihara kekang di ujung bilur, bekas pisau yang tanganmu sayat sesaat kita asyik bermain cinta.

Tak perlu adanya persiapan bagiku untuk menghela tawa, lagipula isi dompet tinggal seiris belati: hanya bisa buat beli setoples ceriping untuk hadapi rasa lapar nanti. Hal itu saja sudah cukup sebagai modal untuk menertawakan diri-sendiri. Dari toples sekarang terpegang, bodohnya diriku lupa dimana tadi ku taruh tutup toples itu berada. Sejenak kupikir-pikir dimanakah tadi kuletakan ? Mikir melulu memori ini jadi berujung andai (baca cerita sedih Perpisahan yang manis).

“Seandainya diriku menjadi tutup toples. Pasti segala rasa sedih maupun senang akan terjaga awet, tidak seperti sekarang, dirubung oleh bakteri-bakteri penyusun air mata.”

Selagi melamun dalam telinga ta’mendengar bibir bergumam tapi seraya mendengar jeritan “Sadar !” mata sayup-sayup melebar: guguplah aku tersadar. Daripada kelamaan mikir mending langsung dilahap habis tuh ceriping, nggak papa tenggorokan sakit, itu lebih baik daripada teringat wajahmu karena nantinya bisa timbul migrain di kepala.

Beberapa lama kemudian. Diriku dipersilahkan masuk ke hadapan panggung sederhana, lalu aku pilih bangku paling belakang. Sebab di situlah pandangan terbantu dengan mudah untuk melihat seperti apa muka-muka barisan penonton akan menyaksikan opera nanti. Selang tidak lama bangku-bangku sudah komplit terisi oleh pemuda maupun petua yang entah itu murni atau bayaran (cerita sedih remaja kenapa harus aku).

Kategori penonton sendirian bermuka kere

Di sekeliling mata memandang, aku telah melihat keberagaman seperti Indonesia: dari penonton sendirian bermuka kere, berpasangan bermuka seri, bersama-sama bermuka sama; ada membawa anak, bawa pacar, tapi tak ada yang membawa dirimu — Syukurlah. Diriku disini merasa prihatin karena aku termasuk dalam kategori “sendirian bermuka kere“.

Kantuk sekarang mulai merajai dengan suara angop dan batuk-batuk prajurit sebagai pelantun Lullaby. Suasana pengap disini bikin jangkrik semakin enggan menarik suara. Kalau bisa sesekali-lah ada sepoi-sepoi lewat atau aroma lavender pengusir nyamuk, pengusir stress.

Tak selang lama, suara para pemeran muncul dari belakang panggung terdengar suara seperti bibirku tadi bergumam tiada jelas — selebihnya tak membuat hati ini berseri-seri — Biasa wae. Sebenarnya diriku selalu ingin bertanya-tanya, apa tidak ada hal lebih greget dibanding hiasan gabus-gabus mubazir, nantinya percuma di-injak. Kasian mereka tukang gabus, rela mengukir selihai teliti mungkin. Tapi asalkan uang datang diundang, mungkin mereka ikhlas. Ikhlas seperti ragamu yang dulu aku terima.

Acara menunggu telah berlalu. Pemeran pertama muncul dengan berkostum batang kaktus — ceritanya memang jadi kaktus — melihatnya saja membikin perut geli teringat tubuh ini seperti mawar yang dahulu kala engkau beri tanpa mahkota, hanya tinggal sehelai batang penuh duri dan akarnya, setiap pagi lupa kau siram. Persis dengan apa dia pakai dan persis dengan apa yang ku rasakan sekarang (simak juga cerita sedih maafkan aku).

Sudah beberapa menit berlalu, aku menikmatinya. Meski sebelahku sudah tergelempar seperti tong kosong yang mendengkur karna mimpi indah, aku tetap menikmatinya. Dalam komedi ini diriku tertawa terbahak-bahak menonton lucunya pahit. Seandainya sejenak kamu ikut duduk disini dan tersenyum disini, maka penderitaan akan menjadi sebuah hiburan bagi kita berdua.

Tanpa surat undangan resmi, memoar yang tadinya aku buang bersama truk pengangkut kenangan, sekarang balik lagi.

Gegara kamu, di pojokan jadi cerita sedih

Aku menangis, menangis, menangis, dan menjerit. Tapi untung, tak ada satupun orang mendengar mulut ini meronta. Ya sudah wajar, karena ini opera lawak. Di mana seharusnya mereka lepaskan segala belenggu, segala sedih, segala air mata. Karena tetapi, aku sekarang di sini sibuk berduka menyamar berbaur dengan puluhan tawa. Supaya nanti mereka tahu: walau tiada dirimu di segala, aku tetap kuat tertawa bersama komedi.

Tapi yang ku dapat sekarang: hanyalah opera menangisi komedi. — Payah —

Mohon maafkan aku yang kini telah merindukanmu.

= TAMAT =

Terima kasih telah membaca cerita sedih opera menangisi komedi. Jangan lewatkan cerita sedih kami lainnya pada kategori cerita pendek. Salam sukses.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait