Pahami Rumah, Le….

cerita pendek anak broken home

Pahami rumah, Le adalah cerita pendek anak broken home yang begitu marah dan dendam pada orang tuanya. Dia anak cerdas, perlakuan tidak menyenangkan menyebabkan dia pergi dari rumah, namun tetap dalam pengawalan sahabat sejati. Bagaimana kisahnya ? simak cerita pendek berikut.

Cerita Pendek Anak Broken Home – Pahami Rumah, Le …

Di ruang tengah rumah kontrakan berukuran 4×3 meter, Tole sibuk menulis sebuah surat di secarik kertas. Sendirian, hanya berteman dengan suara kodok dan terkadang cicak yang lagi asyik bersaut-sautan bersembunyi di sela-sela dinding.

Sejak ba’da Isya Tole duduk di sana, menulis dan menulis. Hingga menjelang jam sepuluh malam ini, ia belum beranjak sejengkal pun. Kertas di depannya itu ibarat tali tambang yang menjerat kaki Tole agar tidak berpindah.

Saya mendekatinya, melihat matanya, lalu kutengok secarik kertas itu. Mata Tole sedikit sembab, Tole menulis surat untuk bapaknya yang ada di kampung, luar Jawa. Sudah tujuh tahun Ia tak pulang. Tak ada keinginannya barang sejenak untuk menengok bapaknya yang sekarang mempunyai istri baru. Masih ada dendam yang dibawanya. Tujuh tahun pula, saya mengikuti Tole ke Kota Jogja ini, tak ada sanak saudara.

Saya mengenal Tole sejak kecil, bagaimana orang yang goblok ini begitu menarik dan selalu menjadi kawan yang bisa diandalkan. Ketika masuk sekolah Menengah Pertama, saya ingat betul ia diantar oleh ibunya yang bersusah payah menyeret Tole. Tole merengek-rengek tak mau masuk sekolah sebab sepatunya tidak berwarna hitam. Manja sekali.

Saya juga ingat ketika Tole dihukum oleh Ibunya sebab ia ketahuan bolos sekolah. Ia dijewer dan disuruh tidur di teras rumah semalaman. Yang kemudian ia saya panggil tuk tidur di rumahku, yang untungnya hanya berjarak sepelemparan batu dari rumahnya. Saya pun ingat, Tole hampir tiap hari Senin mempunyai barisan sendiri bersama para begundal sekolah yang tak membawa atribut lengkap sekolah atau hanya terlambat dua-tiga menit dari prosesi upacara yang membosankan. Dan sungguh bajingan, Tole adalah kapten barisan itu.

Tak lupa pula saya pada kenangan kami menjuarai kompetisi sepakbola gawang kecil di sekolah. Bagaimana saya mengoper ke Tole lalu dengan cerdik ia mengecoh dua orang lawan dan diakhiri oleh gol pamungkas. Saya masih ingat betul kejadian yang membuat seisi sekolah itu tahu bahwa saya adalah sahabat kapten begundal sekolah kami.

Quotes kata bijak : Sebelum memutuskan untuk mengakhiri hubungan, orang yang menginginkan perpisahan dengan yang ditinggalkan akan sama-sama mengalami kesedihan dan mungkin kemarahan serta sakit hati

Cerita pendek tentang kekerasan terhadap anak

Tole bukanlah anak bodoh yang banyak tingkah. Pada awal-awal semester di kelas satu Menengah Pertama, ia masuk dalam jejeran siswa berprestasi. Namun, memasuki awal kelas dua, ia sering berbuat ulah. Saya mengetahui, masa-masa itu, ibu dan bapaknya selalu bertengkar di rumah. Ibu Tole memergoki suaminya bermain api asmara dengan orang lain. Akibatnya, Tole selalu jadi bulan-bulanan ibu dan bapaknya untuk pelampiasan. Ia selalu disiksa di dalam rumah, di kunci di dalam kamar mandi selama sehari semalam tanpa belas kasih.

Akhirnya, kedua orang tua Tole pun pisah ranjang tanpa status yang jelas. Bapaknya meninggalkan istri dan anaknya hanya untuk berpacaran dengan seorang biduan – yang kemudian hari dinikahinya. Ibu Tole depresi berat, hampir setiap hari, ia mencaci-caci Tole hanya karena masalah-masalah kecil. Tole yang pulang kemalaman, lupa mencuci piring yang kotor dan ketika Tole bermalas-malasan di kamar.

Rumah bukan lagi terjemahan surga bagi Tole. Kaki Tole ingin melangkah pergi, pergi dan pergi menjauh dari daun pintu rumahnya.

Tak hanya mencaci dan teriak-teriak tak jelas pada malam hari, kerap pula Ibu Tole melayangkan tamparan. Jika saya mengingat kejadian bagaimana Ibu Tole telah mempersiapkan atribut tuk menyiksa Tole, kepala saya benar-benar mendidih ingin menampar balik perempuan tua itu. Sungguh. Saya mungkin akan melakukannya jika saja Tole tak berujar pada saya, “Jangan pedulikan aku. Aku rela dicaci, ditampar, dipukul oleh hanya ibuku. Oleh hanya ibuku, kutegaskan. Sebab ibu kasihan, stres dia dibuat bapakku yang bajingan itu.”

Kata bijak : Dalam sebuah hubungan, sering terjadi satu pihak memicu rusaknyanya hubungan. Namun ketika pasangannya melakukan hal yang sama, yang memulai justru menjadi pihak paling tersakiti.  – Rowen –

Pada akhirnya, Dua minggu sebelum kami berwisuda, Ibu Tole berpulang ke sisi Nya. Tak kuat menanggung beban mental terkhianati oleh pria pilihan orangtuanya. Pria yang dijodohkan oleh sebab pertemanan kedua orangtua.

Setelah wisuda Menengah Atas, Tole mengatakan padaku bahwa ia ingin pergi merantau ke Pulau Jawa. Meninggalkan rumah, meninggalkan kampung halaman. Di saat bersamaan, bapaknya meminta Tole agar ikut dan tinggal bersamanya di sebuah rumah besar di pinggiran kota.

“Semua orang berhak bahagia, termasuk kamu,” kataku padanya.

“Aku bahagia dengan meninggalkan rumah dan membawa dendam ini,” katanya.

Bapakku menyarankan agar saya mengikuti Tole, merantau ke Jawa. Dan Bapakku menyarankan pula agar saya memilih menempuh pendidikan lanjut di Jawa sana.

Di Jawa, kami memutuskan tuk menetap di Jogja. Bukan di Surabaya ataupun Jakarta. Jogja menurut kami adalah rumah paling asyik yang dapat membawa kami pada mimpi-mimpi.

Impian kami ke Jogja, tentu ingin menjadi kaya, pikir saya ketika lepas dari Sekolah Menengah Atas. Namun seiring berjalannya waktu, bisa mencukupi biaya diri sendiri saja sudah bersyukur. Ya, impian saya pada awalnya entah berantah, dan akhirnya setelah tujuh tahun lamanya, ada tanda-tanda menemukan secercah harapan.

Jauh dari rumah, bukan hilang malah semakin dendam

Tidak dengan Tole. Pada awalnya ia memilih Jogja sebagai rumahnya sebab ia ingin mengalami pengalaman spiritual di kota ini. Tole berharap, rumah barunya ini, dapat memberi Tole tempat untuk menyisihkan dan sedikit demi sedikit membuang rasa dendam pada bapaknya. Nyatanya tidak. Tole semakin dendam pada bapaknya, akan kehidupannya sekarang.

Paling akhir, Tole hampir saja berakhir mati overdosis di kamar mandi kontrakan ketika ia berkelamin dengan jarum suntik dan heroin yang didapatnya dari lingkaran pertemanannya yang luas. Ia masih belum terlepas dari trauma penyiksaan dan rasa dendam pada bapaknya.

Hingga nelangsa dibuatnya sendiri. Kalau pun pulang ke rumah Bapaknya bukan pilihan pertama, membiarkan tubuh rusak harusnya bukanlah pilihan kedua. Dulu, ketika di belakang ruang sebuah rumah sakit umum yang berisikan duapuluh orang pesakitan, aku pernah bertanya padanya,

“Kau sudah bahagia ?”

“Bahagia itu apa ?” tangkasnya

“Merdeka” jawabku

“Merdeka katamu ?!” Lalu tertawa terbahak-bahak. Dibuangnya nyala rokok ke bawah kakinya lalu diinjaknya dengan kasar.

“Kita dilahirkan ini bukan untuk merdeka ! Kalau iya, dari awal kita bisa nentuin mau dilahirkan atau enggak. Nah ini, milih dilahirin siapa aja kita gak mampu. Mati dengan cara apa nantinya pun kita gak pernah tau, masih juga ngomongin bahagia. Merdeka. Taik!”

Saya kaget dibuatnya, dengan menyantap narkoba itu, pikir saya ketika itu, ia sengaja ingin mati bunuh diri. Perkataan selanjutnya, suara Tole semakin keras.

“Kita ini terperangkap dalam tubuh berengsek. Sadar gak kamu, kalo merdeka itu ya mesti mati !”

Menentukan dilahirkan atau tidak, mungkin menurut Tole ialah seperti cerita Kappa, karangan Rynosuke Akutagawa yang menggambarkan bagaimana bayi kappa benar-benar memperoleh kemerdekaannya. Bayi kappa akan ditanyai terlebih dahulu sebelum keluar dari vagina ibunya. Apakah ia ingin benar-benar dilahirkan di dunia ini ? Rynosuke mengisahkan bahwa seorang bayi kappa tak mau dilahirkan sebab beberapa alasan. Pertama, bayi kappa merasa jijik memikirkan bahwa ia harus mewarisi sesuatu dari bapaknya. Dan faktor lainnya ia menganggap bahwa keberadaannya adalah sebuah kejahatan. Dan dalam novel Rynosuke, bayi Kappa tersebut tak mau dilahirkan. Jika saja, Tole semerdeka itu, ia tentu tak mau dilahirkan pula, apalagi dengan adanya bapak pengkhianat.

Tapi saya jadi bertanya-tanya, apakah kematian adalah kekalahan atau kemenangan. Memenjarakan atau memerdekakan. Pertanyaan yang belum sempat saya utarakan pada Tole. Saya memilih mendengarkannya. Mendengarkan cerita yang kerap diulang-ulangnya tentang bapaknya yang didendam.

Dan setelah itu, ia menutupnya dengan perkataan yang membuatku terngiang-ngiang, tak akan pernah lupa. “Tak ada yang lebih kelam daripada dendam seorang anak pada orang tuanya. Tapi tak ada yang lebih kejam daripada dendam orang tua kepada pasangannya lalu dilampiaskan kepada keturunannya.”

Dan tidak ada yang lebih seram daripada dendam seorang anak kepada orang tuanya yang dilampiaskan kepada keturunannya, yang menyebabkan sang korban menghukum dirinya.

Kembali pada meja di ruang tengah,

“Kau sudah memaafkan bapakmu, Le?” tanyaku.

“Belum,” jawabnya.

“Jadi, surat ini?”

“Bapakku yang brengsek itu sedang stroke, ku diberi kabar, ia menginginkanku pulang. Tapi ku tak bisa,”

“Sudahlah Le. Pulanglah ke rumah.”

Quotes : Tak ada yang lebih kelam daripada dendam seorang anak pada orang tuanya. Tapi tak ada yang lebih kejam daripada dendam seorang pada pasangannya namun dilampiaskan kepada keturunannya.

Saya percaya dengan ungkapan bahwa manusia itu fana, sementara waktu itu abadi. Esok atau lusa, sepertinya hidup Bapak Tole akan usai, juga dendam Tole. Tapi tidak pada waktu. Tak bisa kita mengembalikan waktu, sebelum sebuah tragedi terjadi. Kembali ke rumah, memaafkan hal atau seseorang yang kita benci dan mengambil faedahnya adalah hal yang paling baik untuk dilakukan. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, ungkap Nyai Ontosoroh, tokoh yang mendiami rumah besar yang di dalamnya memuat banyak prahara dibanding bahagianya, semua tertuang pada roman Bumi Manusia.

Ketika dendam itu mulai sirna, kembali pada rumah, juga merupakan hal paling bijak. Setelah tujuh tahun merantau, setelah tujuh tahun terpuruk sebab dendam yang dianggapnya tak pernah usai. Rumah adalah tempat paling nyaman. Kalau kata Henry A. Grunwald, rumah ialah tempat kelahiran yang disempurnakan oleh kenangan masa lalu, yang bukan untuk diabaikan apalagi didendam. Rumah adalah tempat untuk direnungi.

Quotes kata bijak : rumah adalah tempat kelahiran yang disempurnakan oleh kenangan masa lalu, bukan untuk diabaikan apalagi didendamkan

Saya percaya, Tole dan saya sendiri pada dasarnya tak akan pernah bisa meninggalkan rumah. Saya percaya bahwa seseorang membawa bayangannya dan ketakutan-ketakutannya di bawah kulitnya sendiri, di sudut yang tajam dari mata seseorang, ungkap Maya Angelou saya sadur, mungkin juga di bawah tulang rawan pada telinga.

Quote kata mutiara : Berani bukan berarti tidak takut

Saya meyakinkan Tole untuk segera pulang, daripada menjadi seonggok daging tak berguna sebab dendam yang tak kunjung reda. Selesaikan dulu ketakutan-ketakutan pada fikiranmu sendiri, saya bilang pada Tole. Tentu, di tempat semua berawal yaitu rumahnya.

Primus Inter Pares : Kesenangan adalah membuat hidup menjadi lebih berarti

Dengan kembali ke rumah, Tole mungkin akan sadar bahwa bersenang-senang, dan prinsipnya yang menyatakan kesenangan sebagai primus inter pares, sebagai kebajikan tertinggi yang dengan itulah hidupnya menjadi lebih berarti. Lebih-lebih berarti adalah melakukan tanggung-jawabnya sebagai manusia, yaitu memaafkan orang yang akan dimakan oleh waktu. Tapi, saya juga menyadari, bukankah hal itu susah tuk dilakukan ?

Dan saya percaya bahwa ketika kita menua, kita ingin kembali pada rumah. Dengan banyaknya persoalan yang kita tinggalkan –atau kabur dari persoalan– ketika kita sedang tumbuh, pada akhirnya kita harus menyelesaikannya, walau usia kita sudah tua. Sebab, seperti puisi Chairil Anwar,

Puisi kata mutiara “hidup hanya menunda kekalahan / … / dan tahu ada yang tetap terucapkan / sebelum akhirnya menyerah.”

Akhirnya, pada pukul dua dinihari, dan setan mulai meninggalkan rumahnya. Tole kemudian menyadari, dan akhirnya memutuskan, untuk kembali ke rumah(lama)nya. Membuat surga baru, mencoba mengalahkan ketakutan-ketakutannya akan rumah dan mencoba memaafkan seisi rumah yang membuatnya tak betah berlama-lama di rumah.

Kata bijak : Kenapa harus kalah kalau sudah sejauh ini ?

Dua jam kemudian saya langsung mengantarnya ke bandara Adi Sucipto. Ia menangis, saya menangis, karena mungkin momen inilah yang terakhir untuk kita bertemu lagi, sampai kedatangan saya di kampung halaman kami. Mungkin dua-tiga tahun kemudian.

Kembali ke kontrakan, lalu menggeletak di atas kasur, terasa sepi. Tak ada suara dengkuran Tole lagi. Dan saya tiba-tiba saja merasa ingin keluar dari kamar (baca:kesibukan) ini untuk memahami rumah (baca: hidup) secara utuh. Itu saja dulu. @arciarfrian


Terima kasih telah membaca cerita pendek tentang anak broken home karya Arciarfrian. Semoga cerpen diatas dapat menghibur, bermanfaat dan menambaf pengetahuan sobat Bisfren sekalian. Tetaplah semangat dan optimis, tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan asalkan kita mau bersabar dan terus berusaha. Salam sukses selalu.

Dibagikan

Arci Arfrian

Penulis :

Artikel terkait