Pasar Malam

cerita pengalaman di pasar malam

Seusai sholat magrib di masjid, rombongan 4 motor dengan 4 orang wanita dan 2 orang laki-laki bergegas ke Lido – Sukabumi. Disana sedang berlangsung pasar malam hingga akhir tahun menjelang nanti. Setelah membayar kartu parkir dan tiket masuk, kita memarkirkan motor terlebih dahulu. Lalu mencari tempat makan untuk menghilangkan rasa lapar. Dipilihlah sebuah tempat makan yang bertuliskan “Baso dan Mie Ayam”. Kamipun memesan makanan dan duduk di kursi dengan meja panjang. Sesekali bercanda soal sumpit karena ada yang tidak bisa cara pakainya. Yang laki-laki cepat sekali menghabiskan makanannya, lalu diakhiri oleh seorang teman saya yang sepanjang tadi ngoceh mulu tiada henti. Ada saja yang dia katakan. Bahkan tanpa sadar sumpit yang dia pakaipun terbaik hingga menjadi bahan tertawaan.

Cerita Pengalaman Di Pasar Malam

Setelah itu, kita berjalan kedalam area pasar malam. Disana selain banyak yang berjualan makanan, minuman, pakaian, aksesoris, harus manis (candy) dan dagangan lainnya, ternyata diramaikan juga dengan wahana permainan seperti yang ada di tempat rekreasi walau tidak semuanya ada. Kerlap-kerlip lampu yang berwarna-warni mencerahi suasana malam ini. Lampion-lampion penerang setiap sudut tempat penjualan. Keramaian yang diisi oleh kanak-kanak, remaja, dewasa, orang tua bahkan mungkin ada nenek-nenek, kakek-kakek.

Saat ini sudah jarang sekali adanya pasar malam disuatu daerah apalagi sampai diwajibkan harus ada 2 kali setiap tahunnya. Rasanya terakhir saya mengunjunggi pasar malam saat masa kecil dahulu. Itupun tidak sebesar yang saya temui malam ini. Meski dalam taraf kehidupan menengah, ternyata ada banyak kebahagiakan yang bisa kita diciptakan. Tidak melulu harus dengan pengeluaran biaya yang besar, pergi ke mall-mall yang bingar, tau tempat yang jauh sekalipun. Bahagia bisa dengan hal-hal yang sederhana sekalipun kita bertingkah seperti anak kecil. Dengan membeli harus manis, rasanya begitu senang sekali terlebih bisa dibentuk-bentuk rupanya padahal itu namanya gulali dan itu tidak ada di sini. hehe Lalu memakannya bersama teman-teman.

Selanjutnya kita memesan tiket untuk bisa menikmati wahana permainan yang disediakan. Karena sadar umur kita merasa malu padahal ingin sekali menaiki semua permainan. Yang perempuan naik biang lala walau tidak besar dan bentuknya seperti kandang burung. Namun saya begitu menikmati suasana itu. Keindahan malam hari, putaran biang lala berjalan, keramaian menghilangkan penat sejenak dari kesibukkan. Setelah selesai, dua teman saya melanjutkan menaiki permainan entah apa itu namanya. Yang jelas kita hanya duduk lalu nanti diputar-putar keatas dan bawah.

Tidak terasa waktu sudah jam setengah 9 malam. Kamipun memutuskan untuk pulang. Disepanjang perjalanan teman saya yang memboncengi saya bercerita panjang lebar mengenai hal yang baru saja dilalui. Pasti selalu ada cerita dari setiap cerita. Mungkin semuanya mempunyai cerita masing-masing dan menjadi peran utamanya. Sayapun hanya tertawa, khawatir ada romance di pasar malam. Cinta yang akan dimulai entah pada siapakah yang akan merasakan. Saya juga tidak bisa menyimpulkan banyak hal sebelum ada penjelasan, hal itupun berlaku pada teman saya. Meski saya tidak tau arah cerita teman saya ini sedang mengarah kemana. Namun soal perasaan memang lebih baik disembunyikan. Terkadang lebih terasa indah, membuat senyum-senyum sendiri bagi orang yang dilandanya.

Dan malam hari ini, kebahagian itu dilengkapi dengan keindahan kerlap-kerlip lampu rumah penduduk yang membentang panjang dibawah kaki Gunung Pangranggo dan Gunung Salak. Pemandangan itu selalu membuat mata saya terpana betapa indahnya kebesaran Allah. Merasa bahagia dan damai menikmatinya. Terkadang moment itu tidak perlu didokumentasikan untuk diabadikan, tetapi cukup dirasakan untuk selalu dikenang. Karena kebahagiaan bisa kita rasakan dengan hal-hal yang sederhana. Kesederhanaan yang ada disekitar kita.

Dibagikan

Aisya Zaira

Penulis :

Artikel terkait