Ketiadaanmu Adalah Patah Hati Paling Menyakitkan

cerita pendek sedih tentang ayah

Ketiadaanmu adalah patah hati paling menyakitkan adalah cerita pendek sedih tentang ayah yang meninggal dunia sehingga menyisakan kesedihan dan kepedihan di hati anak – anak serta istrinya. Simak selengkapnya pada cerpen sedih keluarga berikut :

Cerita Pendek Sedih – Ketiadaanmu Adalah Patah Hati Paling Menyakitkan

Seperti biasa malam itu aku bergegas keluar dari tempat kerjaku menuju parkiran tempat biasa kau menanti kepulanganku. Aku berdiri menatap sekelilingku sebab kau tak ada disitu. Anehnya aku tak ingin melirik HP seperti biasanya, aku memilih menunggumu saja.

Sesekali ku lirik jam tangan dan sekitar yang mulai sepi. Lalu ku pilih menyalakan HP, terdengar beberapa bunyi bbm serta pesan. Aku memilih satu pesan masuk dari ibuku bertuliskan “ayah masuk rumah sakit Nov kamu pulang sendiri” Hah? Ayah masuk rumah sakit beberapa kali ku ulang dalam otak ku tanpa ku balas, bukankah ayah baik-baik saja tadi siang. Ada perasaan panik saat aku sadar teman-temanku sudah pada pulang lalu siapa yang bisa aku mintai tolong agar aku bisa pulang ? Aku telpon ibuku lalu meminta salah satu kerabat untuk menjemputku karena jarak Rumah Sakit dan tempat kerjaku lumayan jauh.

Setengah jam kemudian ku lihat sebuah mobil menepi dekat halte, rupanya ayuk dan kakak (kerabat bukan saudara kandungku) yang menjemput. Di perjalanan aku yang duduk dibelakang entah kenapa tiba-tiba menjatuhkan air mata, rasanya ada perasaan yang memukul hatiku entah itu apa. Lalu ku buka suara menanyakan bagaimana kondisi ayah.  “Ayahmu baik-baik saja terakhir dia mengeluh pusing lalu jatuh pingsan dan di bawa ke Rumah Sakit Siti Khadijah barang kali ayahmu kena tensi tinggi”.

Benarkah begitu ? padahal tadi siang ayah kelihatan sehat loh kak, malah tadi aku mau minta antar ke tempat kerja tapi aku lupa bilang lalu ketiduran eh pas bangun ayah sudah on the way ke rumah kakak. “Dik.. Nanti.. kamu bilangin ke ibu harus sabar jangan terlalu memperbesarkan masalah ya Dik gak enak didengar orang”. Hmm.. Dikalimat itu aku merasa ada hal parah sedang menimpa ayahku, aku tahan air mata yang sedari tadi seakan ingin terus mengalir.

“Dik nova.. kita ke rumah dinas kakak dulu ya mau ambil sesuatu, setelah itu baru kita ke Rumah Sakit”. Sesekali ku lirik jalan melalu kaca mobil dan aku kenal betul jalan yang ku lalui malam itu sampailah kami didepan sebuah rumah yang minim penerangan, aku coba mengintip lewat kaca mobil melihat sekelilingnya. Oh, rupanya ini rumah dinas kakak dan ayuk yang sempat ayah ceritakan tempo hari.

Tiba di Rumah Sakit Siti Khadijah

Memasuki suasana ruang tunggu Rumah Sakit, Ku tatap mata sembab ibu juga cicik, serta mereka yang hadir memandang kearahku beberapa memilih bungkam. Aku menepis jauh-jauh pikiran burukku, kemudian ibu menyuruhku sholat lalu do’akan lah ayahmu. Belum sampai selesai sholatku speaker ruang ICU berbunyi “keluarga bapak Marjani” telingaku hanya menyaring kalimat itu di dua raka’at hingga ku selesaikan raka’at terakhir dan mulai berdo’a tapi pamanku menghampiri menyuruhku tinggalkan do’a mu ayo masuk ke ruang ICU lihat ayahmu kata dokter seluruh keluarga harus berkumpul sekarang.

Hah??? Apa separah itu sakitnya ayahku. Jantungku seolah ingin berhenti mendengar kalimat itu. Ku percepat langkah kaki mencari ruang ICU. Tapi aku tak berani masuk hanya mondar-mandir di depan pintu. Kemudian pamanku kembali lagi seraya berkata: masuklah nova apa lagi yang kau tunggu, jangan lupa pake baju seragam di balik pintu. Paman mau telpon keluarga yang lain dulu.

Perlahan ku langkahkan kaki lambat-lambat masuk ke ruang ICU penampakan suara mesin dan detak jantung dari 2 pasien sebelumnya membuat miris perasaanku. Sampailah aku pada satu ruangan tertutup dimana ku lihat ayahku terbaring lelap lalu dada, mulut dan hidung dipenuhi kabel juga selang rupanya sedari siang tadi beliau koma. Sebuah penampakan yang membuat dadaku terasa sempit. Ku lihat wajah ayah dari balik tangan suster dan dokter yang menangani, Seperti nampak menyakitkan.

Seketika perasaan takut akan kehilangan menyergap jantungku hingga terasa sesak nafasku. Ayah apa yang sebenarnya terjadi??? Aku hanya terdiam diujung kakinya sesekali aku meyakinkan hati bahwa ini cuma mimpi belaka dan kau tak akan benar-benar pergi dari hidupku, ayah apakah kau tak ingin mengantar dan menjemputku lagi??? Apa kau sudah bosan menasehatiku??? Kami masih membutuhkan hadirmu. Aku masih menyayangimu. Ternyata mereka berdua membohongiku katanya kau akan baik-baik saja. Tapi yang kulihat kau terbaring begitu parah. Mataku mulai berkaca-kaca ketika dokter menyuruh kami yang ada di dalam ruangan keluar karena pasien mengalami pembekuan darah di otak. Oh.. Ayahku.. Pasti itu terasa menyakitkan bukan?. Kami semua mulai membacakan Surah Yasiin untukmu sementara ibu sudah menangis sejadi-jadinya, kulirik adik lelakiku ikut menangis sendu membuat aku semakin merasa pilu.

Disuasana hening Paman angkat bicara: “kita semua harus ikhlaskan beliau sebab sudah tak ada harapan lagi, dan kamu nova do’akan ayahmu lalu ikhlaskan lah ayahmu dia itu bertahan untuk menunggu kedatanganmu, Percayakah kamu???” Tapi do’a dalam hatiku masih tetap menginginkan Tuhan menyembuhkan ayah jika Dia berkehendak lain maka ku ikhlaskan ia menghadap-Mu Ya Allah ku mohon dengarlah do’aku. Aku masih sanggup menahan air mataku kala itu, Tapi ketika pintu ICU dibuka dan seluruh alat dilepas semua kerabat berhamburan menangis sejadi-jadinya.

Mulailah ibu membisikkan syahadat dan ucapan maaf dituruti adik lelakiku, terakhir Ku bisikan syahadat pula ditelinga ayah ditengah nafasnya yang kian menghilang, maafkan nova ya yah. Ibu, adik, cicik serta para kerabat ku yang hadir berhamburan keluar sembari menangis memecah keheningan suasana Rumah Sakit malam itu. Aku masih memilih bertahan dalam ruangan, ku peluk ayah dan tangis pun tak dapat lagi ku tahan, aku menangis meratapi engkau yang telah benar-benar pergi meninggalkanku.. Ayah.. Ayah.. Ayah.. Kulihat matamu dan ku harap kau membukanya.

Oh Tuhan.. Aku tak pernah meminta hal seperti ini terjadi dalam hidupku. Bagaimana nasib kami bertiga nanti? Bukankah ini hanya disinetron yang sering ku tonton, kenapa aku harus mengalaminya, banyak hal yang ku bincangkan pada Tuhan di dalam hati. Kemudian aku dipaksa keluar ruangan karena jenazah akan disiapkan pulang. Aku berjalan menyusuri ruangan dengan kehampaan kakiku. Ku tenangkan ibu yang mulai tak sadarkan diri ku ambil hp ku mengabari partner kerjaku, sahabatku, temanku tak lupa pula kekasihku. Beberapa dari mereka tak percaya dengan pesan ku mereka kira itu lelucon ku. Ketika kekasihku menelpon pun beberapa kata yang bisa ku ucapkan selebihnya hanya terdengar suara tangisanku tangisan ibuku dan kerabatku, Bukankah aku tak berbohong saat itu.

Aku tak pernah membayangkan akan duduk disebuah mobil jenazah, suara sirine ambulan menambah pilu perjalanan pulang malam itu. Aku berusaha tegar dihadapan ibu dan adik ku, hanya sesekali saja mataku nampak basah. Semalaman aku tak ingin tidur, aku berharap ayah bangun lalu menyuruhku tidur seperti malam-malam biasanya. Aku masih tak menyangka engkau pergi begitu cepat dengan keadaan seperti itu pula. Beberapa orang menyuruhku untuk tidur biarlah mereka yang ganti menjaga. Mata ku pun mulai mengantuk kemudian terpejam disamping ayah.

Aku terbangun ketika adzan tengah berkumandang ku tatap dalam ke wajah sosok di sampingku. Ternyata benar aku tidak sedang bermimpi ini sungguh kenyataan dalam hidupku. Mentari mulai muncul semua orang perlahan memenuhi area rumahku, seluruh pelayat berkata sangat terkejut dengan berita meninggalnya ayah begitupun rekan-rekan kerja ayah. Kala itu aku muak mendengar ucapan bela sungkawa yang terdengar berulangkali ditelingaku, aku benci dengan uang yang mereka berikan. Tuhan apa ini hukuman untukku yang pernah membangkang padanya atau mungkin sudah takdirku. Berapa kali ku lap hidung beliau yang terus mengeluarkan darah ku lihat muncul memar gelap dibagian belakang kepala sampai badan, sesakit itukah kau menahan benturan wahai ayahku sayang.

Tibalah engkau dirumah terakhirmu dimana kita akan benar-benar berpisah, kini engkau telah tertutup tanah suasana tangis haru tak berhenti muncul, do’a bersama kami gelar semoga ayah ditempatkan disisi-Nya yang paling mulia dijauhkan dari siksa api neraka. Mulailah langkah kami menjauhi tempat peristirahatanmu. Selamat tinggal ayah.. Selamat jalan ayah.. Do’akan kami agar kuat meski tanpamu lagi (Ucapku dalam hati) seketika langit mulai gelap kemudian hujan turun dengan lebat seolah mengiringi kepergianmu meninggalkan kami.

Kepadamu kakak & Ayuk (kerabat) yang membuat cerita palsu untuk kami kuharap Tuhan mengampunimu. Sebab yang ku dengar ayah terjatuh dari ketinggian namun kalian berdua bersikeras menepisnya. Ketahuilah dalam dadaku terkumpul kebencian yang mendalam dan aku masih menyimpan seluruh ucapanmu dan tanggung jawabmu ke depan dalam sebuah rekaman. Kaulah penyebab kekacauan hidup, Sampai saat ini aku tak pernah tahu persis kronologi peristiwa kematian ayah yang begitu mendadak ketika berada dirumah dinas itu. Setelah kepergian ayah lambat laun aku menyadari bahwa kematian dan kehidupan adalah satu kesatuan dalam Takdir tiap manusia, Bersyukurlah karena Allah lebih senang pada hamba-Nya yang selalu bersabar setiap cobaan yang datang pasti menyimpan hikmah nan indah.


Terima kasih telah membaca cerita pendek sedih tentang ayah. Semoga cerpen diatas bermanfaat dan menghibur sobat Bisfren sekalian. Salam sukses selalu dan ingatlah untuk tetap semangat serta optimis dalam menghadapi segala permasalahan hidup.

Dibagikan

novagustini

Penulis :

Artikel terkait