Pelangi Sore Di Cakrawala

cerita cinta dan kejujuran

Pelangi sore di cakrawala adalah cerita cinta dan kejujuran seorang gadis yang selalu duduk untuk melihat pelangi setiap sore hari. Cerpen ini memberi pesan pesan untuk tidak berbohong dalam menjalin hubungan yang sehat, sehingga tidak menyulitkan diri sendiri bila meningkat ke tahap lebih tinggi. Simak pada cerpen romantis berikut.

Cerita Cinta Dan Kejujuran – Pelangi Sore Di Cakrawala

Aku melintas bangunan indah yang tampak asing diantara arakan awan merah membayang di balik pohon akasia.  Ini adalah hari pertama aku tingal di kota Jogja setelah 18 tahun menetap di Jakarta. Dan ini adalah kehidupan baru bagiku tanpa seorang ayah, karena dia pergi meninggalkan aku dan ibu. Entahlah, aku tidak paham akan keadaan ini. Di kanan jalan, aku melihat seorang gadis dengan baju hijau muda bertopi bunga, duduk di kursi jalan, membelakangi lintasanku. Sekilas terfikir apa yang sedang dia lakukan, tapi biarlah itu bukan urusanku. Akhirnya tiba langkahku di rumah baruku.

“Andi, ayo makan dulu” ucap ibu di ruang makan sore itu.

“Iya bu” jawabku sambil menghampiri ibu lalu duduk di sampingnya.

Selesai makan, aku segera menuju kamar. Kamar baru yang tak jauh berbeda dengan kamar yang dulu. Hijau tetap merupakan warna favoritku. Aku memandang foto di samping tempat tidur dan ku lihat papa tersenyum ke arahku sambil menggendong Lita, gadis cantik, lucu dan menggemaskan. Aku merindukan adikku yang berumur 3 tahun itu. Dia merupakan pengobat segala luka bagiku, bila aku sedih, galau karena apapun, Lita adalah obat mujarab yang bisa membuat aku tersenyum. Tapi kini dia tidak ada lagi, bahkan suara manjanya kini tak bisa ku dengar lagi. Aku cuma bisa memandang foto di kamar ini. Aku sangat merindukan dia, Lita.

Lelapku berlalu. Pagi cerah mengawali sekolah baruku di Jogja. Bertemu dengan teman-teman baru yang asing namun menyenangkan. Saat sore hari, aku mencari keluar rumah mencari udara segar. Tanpa ku duga, aku melihat lagi gadis yang kemarin duduk di kursi jalan. Dia tetap duduk di kursi membelakangi jalan. Kali ini, ia mengenakan baju biru dan topi seperti kemarin. Aku ingin menghampiri namun ragu, jadi kubiarkan langkahku berlalu. Tapi sepanjang perjalanan aku bertanya dalam hati. Siapa gadis itu ? apa yang dilakukannya setiap sore disana ?

Pada keesokan harinya aku sengaja melewati jalan itu kembali untuk melihat apakah dia ada disana.  Dan ternyata dia ada disana, di kursi yang sama, duduk dengan posisi yang sama.  Kali ini aku tidak lagi dapat menahan rasa penasaran. Aku hampiri dan aku pun duduk di sampingnya. Dia menoleh, aku tersenyum.

“Maaf, apakah kamu keberatan kalau aku duduk disini ?” ucapku bersahabat.

“Silahkan saja, gak masalah.” jawabnya sambil tersenyum. Sekilas aku perhatikan sepertinya dia memiliki darah campuran, mungkin ada nenek moyangnya yang keturunan Belanda.

“Nama kamu siapa  ?” tanyaku.

“Aku Nita, kamu ?” sepertinya dia menyambut akrab.

“Aku Andi, aku tinggal tidak jauh dari sini. Aku orang baru disini.”

“Ya, wajahmu terlihat asing. Rumahku juga tidak jauh dari sini, Kenapa kamu pindah kesini ?”

“Keluargaku pisah. Aku memilih tinggal dengan ibu disini, dan papa membawa adikku tinggal di Jakarta. Bagaimana dengan kamu ? Sepertinya kamu indo ?” tanyaku.

“Iya, mama ku asli Indonesia, my dad keturunan Belanda. Mereka tinggal di Belanda sementara aku tinggal disini dengan nenek.”

“Tapi sepertinya kau tak memiliki bola mata berwarna seperti kebanyakan orang Bule atau Blasteran? Lalu rambutmu pun juga hitam, tidak pirang. kenapa begitu ?”

“Kamu setiap sore duduk disini sedang apa  ?” tanyaku ingin tahu.

“Aku hanya ingin melihat indahnya pelangi di  cakrawala sana. Coba lihat, indah sekali bukan ?” jarinya mengarah ke langit, ke arah warna-warni pelagi. Memang indah sekali. Tapi apakah setiap setiap hari ada pelangi sehingga dia duduk disana setiap sore. Sepertinya Nita bisa membaca fikiranku, dia mengatakan cuma disini dia bisa melihat pelangi hampir setiap sore, makanya dia selalu menunggu saat-saat itu.

“Sepertinya hari mulai gelap, kamu belum mau pulang  ?” tanyaku.

“Oh, iya, mari kita pulang.” katanya sambil beranjak dari tempat duduk. Kamipun pulang menuju rumah masing-masing.

Sejak saat itu, setiap sore, aku selalu mendatangi tempat dimana aku dapat melihat keindahan pelangi sore dengan Nita. Sekedar mengobrol, kadang sambil makan makanan ringan dan minum. Bicara apa saja, bercerita keluarga, teman dan lain-lain. Dari obrolan-obrolan itu akhirnya aku mengetahui bahwa dia belum punya pacar. Itu adalah sesuatu yang penting dan berharga bagiku karena lama kelamaan ada perasaan cinta tubuh di hatiku. Akhirnya pada malam ini aku mengajaknya makan malam di sebuah kafe. Kami duduk berhadap-hadapan tidak seperti di kursi jalan saat melihat pelangi. Aku memandangnya takjub seakan baru pertama kali melihatnya.

Saking takjubnya, gak terasa ngeliatin dia terus kayak kucing liat ikan asin

“Kenapa kamu menatap aku seperti itu ?” tanya Nita.

“Owh.. maaf, aku seperti melihat bidadari turun dari pelangi.” kataku dengan nada jahil. Nita tersenyum sesaat lalu tertunduk.

“Andi, aku ingin mengatakan sesuatu kepada kamu ,”

“Oh ya, silahkan, aku akan menjadi pendengar yang baik.” jawabku sambil tersenyum untuk mencairkan suasana.

“Andi, boleh aku jujur padamu ?” ucap Nita lembut sambil menyentuh tanganku sehingga membuat jantungku berdegub seperti dipacu ribuan kuda sementara nafasku memburu. Aku berusaha untuk tenang, tapi aku tidak bisa sepenuhnya menutupi rasa yang ada di hatiku.

“Sangat boleh, katakan saja.” jawabku, agak bergetar.

“Harus aku akui, aku menyukaimu sejak pertama melihatmu. Tapi Andi… aku menyesal” Nita terdiam sejenak.

“Menyesal kenapa ?” desakku.

“Karena aku sudah … sudah … membohongi kamu.” Ucap Nita lirih.

“Bohong tentang apa ?”

“Sebenarnya aku tidak mengetahui siapa orang tuaku. Mereka bukan di negeri Belanda seperti yang aku ceritakan kepadamu. Ibuku pergi setelah melahirkan aku, dan aku tidak tahu  siapa ayahku karena ibu hamil sebelum menikah. Dia pergi tak tahu dimana. Aku hanya mengenal nenekku. Disini tidak ada yang mau berteman denganku karena aku anak haram. Maaf aku telah membohongimu.” ucap Nita dengan wajah memelas. Aku tersedak. Bagaimana tidak, gadis yang aku sukai ternyata seorang pembohong, aktris pemain watak yang pintar berakting.

Aku terdiam, mencoba mencerna kembali semua kata-katanya tadi. Makanan yang dihidangkan tidak lagi menarik perhatian. Aku dihadapi pada kenyataan bahwa aku menyukai gadis yang sudah tidak jujur sejak awal. Aku sangat menghargai kejujuran meski kejujuran kadang menyakitkan.

Dalam sebuah perkenalan memang biasa seseorang menutupi jati dirinya untuk tidak terlalu terlibat dengan orang asing. Tapi hal ini bisa menyebabkan kebohongan-kebohongan yang terus dan berulang ketika kemudian perkenalan itu meningkat menjadi persahabatan. Dan ketika kita tidak bisa berhenti meredam kebohongan, maka persahabatan bisa berakhir dengan permusuhan.

Tapi aku juga tidak ingin menjadi orang yang perfeksionis. Yang menginginkan sesuatu yang terbaik dari orang lain tanpa melihat jati diriku sendiri. Semua manusia punya kelebihan dan kekurangan. Sama seperti aku dan dirinya. Mungkin dia berbohong karena tidak ingin kehilangan kesempatan memiliki teman seperti aku, meskipun aku sudah berkata dan berlaku jujur mengatakan tentang diriku apa adanya.

Aku menatapnya “Mari kita pulang, biarlah persahabatan kita tetap menjadi persahabatan. Jika itu bisa berubah menjadi rasa cinta diantara kita, biarkan waktu yang menjawabnya. Sejujurnya aku menyukai kamu, tapi aku tidak ingin ada kebohongan diantara kita.”.

Nita diam, menunduk, tidak mau memandangku. Aku membaca kesedihan dihatinya, tapi aku juga melihat bahwa dia siap sekalipun aku meninggalkannya. Sama siapnya seperti dia menyendiri sebelum bertemu dan berkenalan denganku. Dan aku membaca ketulusan hati bahwa dia sebenarnya ingin menghentikan semua dustanya untuk masuk ke babak hubungan yang lebih tinggi.

Perlahan aku bangkit dari kursi tanpa menyentuh makananku. Kugamit tangannya “Besok sore kita duduk di kursi itu lagi, sambil melihat pelangi yang indah. Lalu kita memulai segalanya dari awal lagi. Dengan kejujuran dan ketulusan hati.”

Nita menggengam tanganku dan bangkit dari kursi. Kami berjalan keluar dari kafe itu sambil berpegangan tangan. Meski kami sudah sama-sama menyatakan perasaan suka, tapi biarlah waktu yang menjawabnya. Sementara itu biarlah kami menjalin persabahatan dari awal lagi  bersama pelangi sore di cakrawala. Tanpa ada janji.


Terima kasih telah mengunjungi dan membaca cerita cinta dan kejujuran dalam menjalin hubungan. Semoga cerpen romantis diatas dapat menghibur serta memberi inspirasi dan motivasi bagi sobat muda Bisfren sekalian. Salam sukses.

Dibagikan

Mia Hanifah

Penulis :

Artikel terkait

1 Comment

  1. ceritanya sungguh menarik KK, kenapa tidak buat novel sekalian..^-*
    waktu yg cukup singkat ..cepat akrab ya si nita dgn andi..