Pemenang Hati

cerita selingkuh tak selalu indah

Pemenang hati adalah cerita selingkuh tak selalu indah. Jodoh itu katanya di tangan Tuhan, kenyataannya hal itu memang benar. Banyak pasangan  sudah bertahun-tahun pacaran tapi tak berujung pernikahan. Bahkan banyak pasangan yang sudah menikahpun cerai karena berbagai macam alasan. Tapi alasan paling klasik adalah sudah tak berjodoh. Kalau dipikir-pikir aneh juga alasan itu. Terlepas dari alasan itu, takdirlah yang menentukan. Percayahkah kamu dengan takdir ? bagaimana dengan cerpen selingkuh berikut.

Cerita Selingkuh Tak Selalu Indah – Pemenang Hati

Febri menyandarkan kepalanya dipundak Arsa, terasa hangat dan kokoh. Semerbak aroma tubuh Arsa yang khas sejenak membuat Febri memejamkan matanya mencoba meresapi aroma yang selalu dirindukannya itu. Sore yang teduh disaat dia dan Arsa memutuskan untuk bertemu di tempat yang biasa mereka kunjungi. Tempat yang sepi dan tidak banyak pengunjung, tempat yang selalu menjadi favorit mereka. Menikmati keteduhan dipesisir pantai sambil melihat sunset. Tangan Arsapun seolah tak mau terlepas dari genggamannya pada Febri.

Mereka terpaku, terdiam dalam redupnya mentari yang tak lama lagi akan masuk keperaduannya. Yah hampir 8 tahun mereka pacaran tapi rasa itu seolah masih begitu kuat mengikat hingga pertemuan sore itu tak ingin berakhir. Ditempat ini mereka menghabiskan waktu dan meluapkan segala kerinduan walau hanya lewat tatapan mata, genggaman tangan dan sedikit pelukan yang menghangatkan.

Hanya saat-saat seperti inilah mereka bisa melepaskan rindu dan lari dari kenyataan kalau mereka tak akan bisa saling memiliki satu sama lain. Yah Febri sudah menikah dengan laki-laki pilihan orang tuanya. Laki-laki yang dijodohkannya dengannya. Laki-laki yang memiliki segalanya bahkan lebih dari Arsa. Bukan cuma itu laki-laki itu juga sangat mencintainya. Hampir dua tahun ini mereka menikah tapi laki-laki itu sedikitpun tak pernah bersikap kasar atau menyakitinya. Malah sebaliknya semakin hari laki-laki itu semakin menunjukkan cintanya pada Febri. Padahal dia jelas tahu Febri tidak mencintainya.

Sejak awalpun Febri sudah menceritakan semuanya pada Guntur. Dan Guntur menerima hal itu, entah apa yang dipikirkan laki-laki yang sudah menikahinya walaupun dia tahu Febri memiliki perasaan pada laki-laki lain. Begitu juga dengan Arsa darah ningrat yang mengalir dalam keluarganya yang masih keluarga dekat keratin. Juga tak bisa berbuat apa-apa saat dia dinikahkan dengan gadis yang sudah di jodohkan orang tuanya sejak mereka masih kecil. Wanita yang begitu lembut dan santun, yang selalu memperlakukannya seperti raja. Sekarang Lasmi sedang mengandung anaknya.

Malam itu saat dia pulang dalam keadaan mabuk dia benar-benar berpikir kalau Febrilah yang ada dihadapannya. Baginya itu sebuah musibah saat dia mengatakan hal itu pada Febri wanita itu begitu sangat terluka. Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa naluri lelakinya di malam itu tak bisa dikendalikannya.

Sore ini saat mereka saling jujur dengan segalanya mereka disentakkan pada kedalaman sadar yang paling dalam. Karena itulah kenapa sore teduh ini begitu sepi. Mereka berdua sudah memutuskan, ini sore terakhir yang akan mereka nikmati. Dan setelah sore ini hubungan yang terjalin jauh sebelum mereka menikah akan berakhir.

Yah ini memang keputusan yang teramat sulit yang harus mereka ambil. Kalaupun disuruh memilih beribu alasan dan pertimbangan tetap tak akan bisa menyalahi takdir yang menyela begitu saja di kehidupan mereka. Realita pahit hidup mengalahkan manisnya cinta yang selama ini mereka jalani. Kedewasaan membuat mereka berpikir bijak dan akhirnya melepaskan ego masing-masing.

Siapa bilang rasa mengalahkan akal ? Rasa adalah ego, sedangkan akal adalah logika. Dimana hal itu hanya dimiliki oleh orang-orang yang sadar akan kenyataan hidup dan bukannya menyalahkan takdir atas kehidupan mereka. Seperti saat ini dimana perpisahan manis itu terjadi. Saat mereka melangkah dengan arah berlawanan, Febri dan Arsa tahu besok tidak akan sama lagi.

Saat Arsa pulang, Lasmi, wanita itu langsung menyambutnya, meraih tas kantornya mengikuti langkahnya yang langsung terduduk lesu di kursi.  Seperti biasa Lasmi akan membuka sepatunya. Walau dengan keadaan tubuh terlihat berat dengan kandungan sudah memasuki 7 bulan, dengan santun Lasmi masih berusaha membuka sepatu Arsa.

“Tidak usah Lasmi, perutmu itu sudah berat. Kasian bayinya kalau karena cuma membuka sepatuku  dia jadi tak nyaman di dalam sana.” Ucapan yang terasa lembut di telinga Lasmi terucap dari bibir Arsa diiringi dengan belaian lembut pada perutnya. Lasmi hanya bisa terdiam dengan hati takjub. Bahkan tanpa ragu Arsa meraih tubuhnya untuk mendekat dan menyadarkan telinganya di perut Lasmi. Ada sentakan kecil terasa dan Arsa terkejut. Diamatinya perut Lasmi yang bergerak perlahan.

“Dia senang bertemu denganmu Mas.”

Ada yang berbeda di hati Arsa, sesuatu yang tak bisa diungkapkan lewat kata-kata. Di dalam sana ada mahkluk kecil ajaib, gerakannya tadi menghangatkan hati dan menyejukkan jiwanya. Arsa beranjak bangkit dari duduknya dan meraih tubuh Lasmi dalam pelukannya.

“Maafkan Masmu ini Lasmi. Selama ini telah banyak melukai hatimu.”

Dan Lasmi hanya bisa memejamkan matanya yang mulai basah, doa dan harapan setiap saat dia panjatkan hari ini terkabulkan. Sang Penguasa hati manusia telah membalikkan hati suaminya. Aku akan selalu memaafkanmu Mas, bisik hatinya lirih. Lasmi yakin esok hari tak akan lagi sama. Kali ini Arsa akan selalu bersamanya. Dan lasmi hanya bisa membalas pelukan Arsa dengan erat.

“Eittt hati-hati sayang nanti anak kita protes kalau kamu menekannya terlalu kuat.” Bisik Arsa membuat Lasmi mengendorkan pelukannya dan tertunduk malu.

“Kalau begitu Mas mandi dulu yah baru makan, tadi si mbok bikin gudeg kesukaan Mas”.

Arsa menatap Lasmi dalam-dalam wanita ini kenapa baru sekarang dia menyadari kalau Lasmi ternyata begitu cantik, apalagi dalam keadaan hamil seperti ini. Tiba-tiba saja Arsa merasa sangat lapar….

Febri tiba di rumah duluan sebelum Guntur suaminya pulang.  Ini memang belum jam pulang suaminya. Entah kenapa tadi dia ingin cepat-cepat sampai di rumah. Hari ini dia ingin melakukan sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya. Memasak, yah memasak mungkin kedengarannya aneh karena pada dasarnya memasak adalah kegiatan rutin seorang istri dan ibu rumah tangga bukan? Kegiatan sederhana tidak pernah dilakukannya selama dia menikah dengan Guntur.

Bukan karena dia tidak tahu melainkan karena aktivitas pekerjaan. Dia dan Guntur memang sama-sama pekerja kantoran. Kesibukan mereka yang padat hanya bisa membuat mereka makan bersama saat sarapan. Kalaupun malam kebanyakan mereka membeli atau makan di luar. Karena itulah saat ini dia memutuskan untuk memasak walaupun tidak tahu apa yang disukai Guntur.

Ah selama ini dia sudah menjadi istri yang buruk, makanan kesukaaan Guntur saja dia tidak tahu. Febri baru selesai menata makanan hasil masakannya ketika mendengar deru mobil masuk di garasi rumah. Harumnya aroma masakan sejenak menggelitik indera penciuman Guntur. Dalam hatinya bertanya-tanya siapa yang masak ? Apakah Ibunya datang berkunjung lagi. Tak mungkinlah kalau Febri memasak, dia tahu sekali istrinya tak memiliki kesempatan untuk melakukan hal itu.

“Hmmm… baunya harum. Siapa yang memasak sayang ? ‘’Guntur mengenduskan hidungnya sambil mendekati Febri. Tiba-tiba saja Febri merasa jengah padahal ini hal biasa yang sering dilakukan Guntur padanya. Febri ingin menghindar tapi Guntur sudah lebih dulu menariknya dalam pelukan.

“Jangan Gun aku bau masakan.” Tolak Febri.

“Kamu tahu sayang bau inilah yang kutunggu darimu. Hmmm harumnya.” Tanpa di tahan Guntur sudah mencium pipinya. Dan entah kenapa kali ini jantungnya berdegub kencang. Tak sampai disitu Guntur masih belum melepaskan pelukannya.

“Aku ingin kita seperti ini sampai tua Feb. Aku tahu mungkin aku tidak sempurna sebagai seorang suami bagimu. Tapi aku berjanji akan selalu mencintaimu dan akan selalu berusaha membuatmu bahagia.” Ucapan Guntur membuat Febri terharu masuk dalam penyesalan sangat dalam. Dia hampir saja menghancurkan rumah tangganya. Laki-laki yang diberikan Tuhan ini sudah jauh dari sempurna untuk dirinya.

“Oh yah kamu tahu sayang hari ini aku dipromosikan jadi manajer keuangan di kantor. Rencananya aku ingin mengajakmu makan diluar untuk merayakannya. Tapi ternyata istriku sudah menyiapkan masakan untukku.”

Febri tertunduk, kabar yang dia terima dari Guntur menyadarkan dia satu hal. Hal-hal baik akan selalu datang jika menjalani rumah tangga dengan baik. Dia tahu mungkin saja dia hampir terlambat menyadari hal itu. Satu hal yang pasti kalau takdir dalam kehidupannya sudah tepat. Bukankah rancangan kuasa Sang Pemilik Semesta untuk setiap umatNya tidak pernah salah ?

“Maafkan aku Gun…”

“Untuk apa ?”

“Kalau masakanku ternyata tidak enak .” ucap Febri lagi. Guntur tertawa, sekali lagi dia mendekap tubuh istrinya erat. Jauh dalam hatinya dia bersyukur. Dia tahu butuh waktu untuk membuka hati Febri. Dirinya juga harus bertarung dengan ego. Satu hal yang pasti dia sangat mencintai wanita ini.

Terlepas dari masa lalu istrinya, dirinya juga sadar Febri berhasil mengalahkan pertarungannya dengan ego. Semuanya tak akan berubah secepat itu, semua butuh proses waktu dan dia sudah berjanji pada Tuhan kalau dia akan menemani Febri dalam keadaan apapun sampai hati Febri sepenuhnya menjadi miliknya.

Kebaikan akan selalu menjadi pemenang. Dan Guntur menyakini hal itu sama seperti Lasmi. Ada berjuta manusia  hidup di muka bumi ini tapi cuma segelintir saja yang memahami kalau melepas semua ego akan menghantarkan kita menjadi pemenang . Tapi terlepas seperti apa kemenangan itu, takdirlah yang memutuskan.


Terima kasih telah membaca cerita selingkuh tak selalu indah dua orang yang sama-sama menyadari bahwa pasangannya lebih baik dari selingkuhannya. Salam sukses.

Dibagikan

Putri Wahyuningsih

Penulis :

Artikel terkait