Pemikiran Penulis

cara menulis cerita pendek

Pemikiran penulis ialah hal abstrak tak akan pernah kau temui ujungnya. Cara menulis cerita pendek dengan pena dan tinta dijadikan senjata, kertas polos nan menggoda sebagai bidikannya. Ini semua bermula ketika suatu senja ditumpahi air dari langit.

Cara Menulis Cerita Pendek – Pemikiran Penulis

Di balik jendela ada secangkir kopi tengah mati-matian berusaha menjaga kehangatan tubuhnya. Selain itu hanyalah seorang penulis beku bertatapan kosong. Kemudian terpaku matanya pada dinding jendela kebasahan karena percik air hujan.

“Ayo berpikir.” Katanya sambil memukul-mukul ringan kepala. Kali ini dia mulai putus asa melihat apa di depannya. Pada suatu hari. Namun tiada kelanjutannya.

Tapi sungguh tidak satu setan pun tahu apa akan terjadi. Lantas hujan berhenti seakan mengamini saat itu juga. Secangkir kopi hangat tadi turut menghabisi terjaganya. Lalu aroma kehangatan mulai tercium semerbak menghantui seisi ruangan. Beberapa hewan kecil di luar sana bersuara lantang. Harmonisasi dengan nyanyian alam. Rupanya pangeran segera tiba. Lengkap dengan mahkota dan kuda tunggangannya.

“Dengan segala hormat, tuan putri” ucap sang pangeran sembari bersimpuh menggamit tangan penulis tadi.

Apakah ini hanya mimpi ?

Senyumnya mengembang tiada terkira Seperti dapat diterka, yang terjadi berikutnya hanyalah satu di antara dua pilihan. Angannya terbang karena tidak kuat dengan buaian, atau dia terjatuh pingsan karena tidak percaya dengan kenyataan di hadapannya.

Sekian detik kemudian ia telah berada di balik punggung sang pangeran. Menunggangi kuda kerajaan bersama. Berjalan santai, mengelilingi taman bunga. Saat itu dunia serasa milik berdua. Satu hal ada di pikirannya hanyalah kejadian berikutnya adalah sang pangeran membawanya ke istana, lantas melamarnya dengan cara paling manis yang pernah ada. Cerita paling romantis tiada tara.

Namun seketika pikiran itu lekas ia buang jauh-jauh tatkala hidungnya mencium bauan menusuk. Seperti bangkai unggas mengambang pada lautan tinja ! Ini bau apa ?! Ia bertanya-tanya dalam hati. Ia menoleh kiri-kanan. Mengendus-endus sambil menahan. Telusurnya berakhir pada lekuk ketiak sang pangeran. Tapi apa iya? Rasanya tidak mungkin makhluk setampan pangeran memiliki bau sedemikian rupa jahilnya. Pasti ini bau dari kuda! Kata pikirannya berusaha mendoktrin. Tapi apa yang ia rasa benar-benar tak sejalan dengan hasutannya sendiri. Ini benar-benar aroma busuk sang pangeran !

Lanjutkan saja semua hayalan biarkan dia berkelana kemanapun

Ia hampir mati karena tak tahan. Napasnya tersengal. Ini mulai tak masuk akal. Bunga di sepanjang jalan turut melayu. Kuda pun mulai terkuras tenaganya. Lebih-lebih langit mulai runtuh. Dari celah antar retakan langit, ratusan bangkai mulai jatuh. Menghujani. Bukan hanya ratusan tapi ribuan—bahkan jutaan!

Tak berhenti sampai di situ, satu-dua bangkai tadi menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Organ-organ rusak tak menentu bentuknya mulai berdegup. Bergerak sedikit demi sedikit. Bak mayat bangkit dari kuburnya, mereka berdiri lalu berjalan mendekati. Kudanya terkesiap. Pangeran dan penulis terjatuh. Tak menunggu waktu lama, kuda melarikan diri. Terbirit-birit berusaha menjauhi. Sedang sang pangeran lebih tak tahu diri. Menangis sesenggukan di sudut mulut gua. Miris.

Penulis kembali menatap ke depan. Di depannya telah berbaris rapi bangkai hidup kian mendekat. Tanpa berpikir untuk mundur lagi, penulis tadi berjuang. Dengan berani dia mengayunkan pedang pangeran. Tebas sana. Tebas sini. Tebas lagi. Darah kental mencelat ke wajah, ke tubuh, ke mana-mana. Bau amis menguasai tiada bandingannya.

Belasan-puluhan-ratusan-ribuan. Sudah tak terhitung lagi musuh jatuh di tangan. Ia lelah. Ia penat. Ia tak sanggup lagi dengan bangkai-bangkai hidup seakan tak pernah sampai habisnya. Perlahan, tubuhnya ia relakan. Perlahan, ia biarkan tubuhnya diangkat dan dibawa entah ke mana. Menuju peraduan. Tempat semua mengabdikan kesetiaan.

Jangan terburu-buru menghentikan. Hingga kamu merasa sudah waktunya untuk dihentikan, maka persiapkan penutup yang menarik

Di perjalanan itu setitik cahaya tampak menusuk dari arah jam dua belas. Setitik terang keemasan. Dan penggal-penggal jarak menuju titik itu semakin membangunkan. Si penulis tercekat. Butir-butir sinar itu membersihkan tubuhnya dari bauan amis. Dari noda darah iblis siluman serigala. Ia merasa hangat. Nyaman. Seakan hidup jadi terasa amat ringan. Dibaginya sepotong buah pemberi kesejukan. Buah istimewa belum pernah ditemui sebelumnya. Pada saat itu ia baru tersadar bahwa bangkai hidup tadi telah benar-benar menghilang. Tapi ke mana kepergian mereka sungguh bukan suatu hal teramat dipedulikan.

Ia ternyenyak. Bersama butiran cahaya emas hampir membuatnya tak ingin bergerak. Kaku. Beku. Detik itu pula ia baru tersadar bahwa dirinya mulai membeku. Butiran cahaya tadi memutih. Menyamakan wujud dengan butir salju. Kemudian menyelimuti seluruh tubuh penulis. Sampai berat. Sampai terguling dari atas bukit. Terus berguling. Menggulung hingga jadi bola teramat besar.

Terus berguling. Terus. Dan byur !

Ia dan selimut bola saljunya tercebur ke sungai. Lalu meleleh. Sampai-sampai ia tersedak karena tanpa sengaja terminum air sungai tadi. Tapi jangan kau bayangkan sungai itu begitu besar dan berarus deras. Sungai itu begitu tenang dan mengalir apa adanya. Maka darinya dia tak hanyut.

Dilihatnya sekitar, seperti berada di sungai tengah hutan. Tapi bukan hutan menyeramkan. Kalau boleh ia namai, mungkin namanya adalah hutan ketenangan. Berhias pohonan santun. Hewan kecil nan jujur. Dan nyanyian air mengalir syahdu bak syair kata kata bijak mengalun. Bersatu dengan rintik hujan kecil yang padu.

Turunnya hujan itu membasahi tanah. Menggelorakan aroma luar biasa. Seakan melantukan kata-kata cinta. Semerbak aroma ini mengingatkannya pada suatu senja ditumpahi air langit. Di balik jendela yang ada secangkir kopi tengah mati-matian berusaha menjaga kehangatan tubuhnya. Yang selain itu hanya ia dapati dirinya beku bertatapan kosong. Yang kemudian terpaku pada dinding jendela kebasahan karena percik air hujan.

Lalu dia terbangun, namun sebuah cerita lainnya sudah ada dalam kepala

Bersama bauan kopi menakjubkan namun menyayat hati. Pun wanita tua bermainkan biola di sudut bangunan sana. Dengan hujan tak kunjung reda, menyuarakan aspirasinya pada dunia.

“Pada suatu hari” tulisnya dengan pena bertinta hitam.

Inilah satu di mana semua bermula. Dan seperti pernah kukatakan, ini tak akan habis. Selama itu pula pikiran penulis tak akan pernah kau dapati ujungnya.

Dan wanita tua yang bermainkan biola tadi mulai memakan biolanya sendiri. = TAMAT =


Demikianlah sekilas tentang cara menulis cerita pendek dengan langsung menuangkan pemikiran penulis. Semoga bermanfaat

Dibagikan

Faiz Kurn

Penulis :

Artikel terkait