Penantian Unni

cerita pendek romantis keluarga penantian unni

Penantian Unni  adalah cerita pendek romantis keluarga tentang wanita istri nelayan kehilangan suami saat melaut mencari nafkah. Cerpen ini begitu mengharukan sekaligus romantis, jangan lewatkan.

Cerita Pendek Romantis Keluarga “Penantian Unni”

Unni menatap lautan lepas didepannya dengan hati perih. Hatinya berderit sakit. Ini sudah bulan ke 12. Genap setahun sudah kepergian Odes suaminya tercinta, tapi Unni belum bisa menerima kenyataan kalau Odes sudah meninggal. Tidak, hatinya yakin Odes masih hidup, dia mungkin terdampar di suatu pulau tak berpenghuni atau mungkin ditolong oleh kapal-kapal besar hingga akhirnya membawanya berlayar. Odes kuat, keahlian berenangnya jangan ditanya lagi, Odes juga sering menyelam, daya tahan nafasnya begitu kuat juga lama.

Tidak ada orang tak mengenal Odes dikampung ini. Odes terkenal karena sering menang dalam lomba tahan nafas serta lomba renang biasa diadakan dikampungnya setiap perayaan 17 Agustus oleh Kelurahan. Unni selalu bangga pada Odes. Keahliannya sebagai nelayan penangkap ikan juga tidak diragukan. Sejak menikah 5 tahun lalu – semua kebutuhan rumah tangga serta keperluan lainnya, hingga bisa membangun rumah sederhana – itu semua dari hasil melaut Odes.

Pagi pagi seperti ini – usai menjerang air, menyiapkan sarapan untuk Odes – Unni dengan ember ditangan akan menanti Odes datang dari melaut. Rutinitas setiap pagi dia lakukan dengan hati riang. Bersama beberapa ibu seperti dirinya, menanti suami-suami mereka datang dari melaut.

Mereka berkumpul dipinggir pantai sambil bercerita apa saja. Tapi Unni lebih sering memilih duduk menyendiri. Unni tidak suka bergosip, karena dirinya takut nanti jadi kebiasaan.

Apabila dari jauh sudah tampak perahu kecil berwarna hijau kuning, hati Unni akan gembira, sambil tak putus-putusnya memanjatkan doa dan puji kepada Tuhan karena telah mengembalikan suaminya dari melaut dengan selamat.

Setiap saat, siang maupun malam, hanya doa selalu Unni panjatkan. Dia tidak peduli hasil laut banyak atau sedikit. Baginya hal terpenting adalah sang suami, Odes, pulang dengan selamat. Unni yakin setiap manusia sudah diberikan porsi rejekinya masing – masing.

Odes adalah suami yang baik, sangat perhatian serta penuh tanggung jawab. Semakin hari rasa sayang juga cinta Unni semakin kental pada Odes. Begitu juga Odes pada Unni. Cinta diantara mereka begitu kuat meski belum dikaruniai anak. Seperti rejeki, mereka yakin Allah pasti akan memberikan mereka anugerah berupa anak jika mereka sudah siap.

cerita pendek nelayan melaut
Nelayan melaut (@NationalGeographic)

Sore itu langit terlihat begitu bersih, Odes siap melaut. Unni sudah menyiapkan semua keperluan Odes mulai dari minyak bensin untuk mesin motor perahu, makanan, mantel hujan, juga lampu senter. Odes berangkat bersama sama teman-teman nelayan lainnya. Unni menatapnya dari daratan sampai kemudian bayangan perahu Odes mengecil dan menghilang. Segenggam doa dipanjatkan, memohon keselamatan, hanya itu bisa dilakukannya.

Menjelang malam Unni terkejut dengan perubahan cuaca begitu drastis. Angin bertiup kencang, deburan ombak menghempas keras terasa sampai kerumah. Unni berlari kepantai. Dilihatnya ombak mulai meninggi. Tadi sore laut begitu tenang, kini tiba tiba seperti marah. Hati Unni cemas, pasti akan ada badai malam ini.

Unni teringat Odes. Hatinya takut terjadi apa apa pada Odes. Cuaca malam sungguh sangat buruk juga tidak seperti cuaca pada hari-hari kemarin. Baru kali ini cuaca memburuk dengan cepat.

Unni segera kembali kerumah lalu langsung masuk kedalam kamarnya. Dia sujud berdoa, memohon pada Yang Maha Kuasa untuk menjaga suaminya dari segala musibah. Usai berdoa dia menjadi lebih tenang keudian mencoba menghibur hati. Hatinya berkata Odes pandai berenang, Odes kuat, Odes tidak akan apa apa.

cerita pendek tim sar penyelamat
Tim SAR (@LasdNews)

Keesokan hari Odes tidak muncul. Unni menanti hingga menjelang siang, hatinya mulai panik. Keluarga serta orang di kampung juga panik. Hingga menjelang sore Odes tidak nampak juga. Pak Lurah pun akhirnya berangkat ke kota malam itu juga melaporkan kejadian pada Polisi pantai.

Keesokan harinya bersama sama dengan POL AIRUT dan SAR mereka turun kelaut mengadakan pencarian. Tapi Odes tidak ditemukan. Hingga pencarian dilanjutkan esok harinya lagi, esok lagi dan lagi. Namun Odes belum juga ditemukan.Seminggu sudah Odes tidak ditemukan keberadaannya. Mata Unni sembab karena terus menangis. Dia tidak bisa menerima kenyataan kalau Odes tidak kembali.

Beberapa minggu kemudian datang orang dari kampung sebelah. Mereka menemukan beberapa perlengkapan serta beberapa potongan kayu dari perahu Odes. Unni mengenal semua barang itu sebagai milik Odes, suaminya. Hatinya semakin hancur.

Lewat satu tahun Unni masih menunggu. Unni akan merelakan Odes pergi jika Unni melihat mayat Odes. Walaupun Odes dinyatakan hilang serta sudah meninggal, dia masih tidak terima. Hatinya baru bisa percaya kalau mayat Odes ditemukan. Dia berjanji akan tetap menunggu meski jauh didasar hati semakin kehilangan harapan.

Unni masih setia menatap laut menanti suaminya meski dengan hati perih. Harapnya melihat sebuah perahu hijau kuning akan menepi. Angannya melihat lambaian tangan Odes memanggil.  Seperti hari semua bayangan juga kenangan Odes membuatnya terisak. Tapi cepat dihapusnya airmata menetes ketika meihat Rima gadis tetangganya berlari-lari mendekati.

“Unni…, Melati menangis Unni…!!!”

Mendengar nama Melati, Unni cepat-cepat kembali ke rumah. Melati adalah putri kecilnya berusia 6 bulan. Saat kejadian hilangnya Odes, Unni tidak tahu kalau dirinya sudah mengandung 2 bulan. Sebulan sesudah kejadian itu Unni merasa ada sesuatu dengan dirinya, tidak biasanya sering muntah serta mual dipagi hari. Ternyata dirinya sudah mengandung 2 bulan saat memeriksakan dirinya pada bidan di Puskesmas desa mereka. Saat mendengar itu Unni semakin sedih. Betapa bahagianya Odes jika mendengar bahwa mereka akan memiliki anak. Tapi kebahagiaan itu tidak akan pernah Odes rasakan. Odes sudah pergi meninggalkan dirinya dalam kesendirian. Betapa hancur hatinya menerima kenyataan ini.

Menatap wajah mungil melati, mendengar tangisnya, itu merupakan hal paling berharga dalam hidupnya saat ditinggalkan Odes. Melati persis seperti Odes, hidungnya mancung, matanya, semua membawa rupa Odes. Kerinduannya pada Odes terobati dengan kehadiran Melati. Tapi Unni masih tetap berharap Odes akan pulang,walaupun semakin hari semakin pupus harapan Unni. Semakin hari Melati semakin tumbuh, semakin lucu. Unni harus bekerja, kerja apa saja, dari menjual ikan, mencuci pakaian, apa saja asalkan halal. Unni tidak punya keahlian apa apa, Unni Cuma tamatan SMP.

*******

Tak terasa sudah 3 tahun berlalu. Melati kini berumur 3 tahun, usia anak lagi lucu lucunya. Bicaranya sudah lancar walau lafal R nya belum jelas. Melati adalah malaikat kecil Unni. Unni sangat menyayangi Melati.

Hari ini Unni serta beberapa orang keluarganya akan pergi ke pulau Bangka, ada acara peringatan kematian sanak keluarga mereka disana. Mereka naik perahu menuju pulau tidak begitu jauh dari desa mereka. Satu jam setengah jarak tempuh dengan menggunakan perahu motor tempel. Unni sudah biasa ke pulau ini, selain memiliki banyak keluarga dia juga memiliki teman disini, namanya Lena. Unni dengan Lena berteman cukup akrab karena mereka satu SMP. Selain untuk acara keluarga, Unni berencana mengunjungi Lenna sekedar berbincang bincang sekaligus bernostalgia waktu SMP dulu. Mereka terakhir bertemu 4 tahun lalu. Lena belum menikah juga.

Panas begitu terik saat mereka menambatkan perahu di pulau itu. Dibanding 4 tahun lalu pulau ini terlihat lebih ramai. Selesai acara peringatan kematian salah satu keluarganya, Unni bergegas kerumah Lena. Rindu benar dia pada sahabatnya yang pendiam itu. Sebaiknya dia lewat belakang saja, kebiasaannya kalau ingin mengagetkan Lena.

Tapi saat dia berjalan dibelakang rumah Lena, mata Unni menangkap sesosok tubuh sedang asyik menjahit jala sambil bersiul. Jantung Unni berdebar keras. Unni sangat mengenal senandung dari siulan itu. Unni sangat mengenal suara itu. Bersamaan dengan itu Lena sahabatnya keluar dari dalam rumah sambil menggendong bayi berumur 6 bulan.

Lena menatap Unni dengan terkejut. Mata Unni berkaca kaca, tapi sosok laki laki itu masih tidak menyadari apa telah terjadi, bahkan dia hanya menatap Unni dengan tatapan seolah tidak mengenalnya.

“Unni, kenapa kamu disini” terkejut Lena bertanya. Unni tidak menjawab, dia masih kaget, dia masih shock.

“Odes…” Seru Unni sambil menghambur pada lelaki sedang menjahit jala itu. Laki laki itu terkejut saat Unni menghambur kepelukannya. Laki laki itu refleks menghindar, Unni jatuh berlutut dipasir. Laki laki tersebut menatap Unni kaget lalu menatap Lena.

“Lena, siapa wanita ini ? Kenapa dia memanggilku Odes, namaku Banda bukan Odes” laki laki itu menatap Lena menanti kejelasan. Unni jatuh berlutut dengan hati perih, menatap Odes dengan mata penuh airmata.

“Odes ini aku, Unni istrimu.”

“Maafkan aku namaku Banda, istriku Lena. ” Ujar laki laki itu lagi menatap Lena. Lena terdiam dia tidak tahu harus bagaimana, dirinya merasa sangat bersalah, apalagi saat melihat tatapan Banda menuntut kejelasan sementara Unni masih terisak menatapnya tak percaya.

“Iya, dia Banda suamiku Unni bukan Odes”

“Kamu bohong Lena. Kamu tahu Odes suamiku, kamu tahu dirinya hilang kenapa kamu malah menutupinya juga tidak mengabari aku. Tega sekali kamu Lena…”

Lena mendekati Unni mengajaknya berdiri lalu membawanya ketepi pantai dimana mereka bisa bicara tanpa diganggu.

“Maafkan aku Unni, aku memang bersalah…”. Cerita panjangpun mengalir dari bibir Lena, seperti air mata Unni yang terus menetes mendengar cerita Lena. Ya, Banda adalah Odes. Dua hari sejak Odes hanyut. Odes terdampar di pulau mereka. Dan Lena yang menemukannya diantara bebatuan karang disebelah pulau yang jarang didatangi penduduk desa.

Seminggu Odes tidak sadar, bahkan setelah sadar butuh sebulan untuk merawat Odes. Tapi Odes sama sekali tidak mengenal dirinya lagi, bahkan dia menolak utk dikembalikan ke desanya. Dia berkeras ingin tinggal bersama Lena. Kebaikan dan ketelatenan Lena dalam merawat Odes membuat Odes yang hilang ingatan jatuh cinta pada Lena.

Lena sudah berusaha untuk mengembalikan ingatan Odes. Tapi Odes tetap tidak bisa mengingat apa apa. Bahkan jika dipaksa untuk mengingat, Odes akan merasa kesakitan yang luar biasa. Sehingga Lena tidak ingin memaksanya lagi. ena takut jika dia terlalu memaksa Odes akan meninggal.

Kebersamaan mereka membuat Lena juga jatuh cinta pada Odes, walau hati kecilnya merontah karena tahu Odes suami Unni. Lena tidak berdaya dengan cintanya.

Ya, Lena menentang semua orang dengan menikahi Odes. Walau Odes trauma untuk ke laut lagi dan memilih kerja di darat, Lena peduli asal Odes bersamanya. Cinta sudah membutakan hatinya, dia tidak lagi peduli kalau Odes milik Unni. Apa bedanya jika Odes tidak lagi bisa mengingat Unni.

“Maafkan aku Unni, maafkan aku.” isak Lena. Rasa bersalah memenuhi hatinya. Dia sudah pasrah, jika Unni marah, memukulnya, menjambak rambutnya.

Tapi Unni hanya terdiam. Tak ada lagi air mata di pipi Unni. Unni malah mengenggam tangannya erat sambil menatap bayi dalam gendongan Lena dengan iba.

Ya, Unni tidak bisa berbuat apa apa, Unni juga tidak berdaya membawa Odes kembali kerumahnya. Apalagi saat melihat bayi dalam gendongan Lena. Dia senang akhirnya dia bisa bertemu Odes lagi walaupun jauh dari yang dia harapkan.

Odes bukan miliknya lagi, hati Odes juga bukan miliknya lagi. Laki laki itu adalah Banda, suami Lena dan Ayah dari anak Lena. Dia bersyukur Odes sekarang baik baik saja dan dalam keadaan sehat walaupun kehilangan ingatannya. Dan dia sangat berterima kasih pada Lena telah merawat dan menjaga Odes dengan baik.

“Jangan menangis Lena, mungkin ini namanya takdir, akupun tidak menyalahkanmu. Jaga Odes untukku Lena. Kutitipkan dia padamu.” Ujar Unni dengan hati teramat perih. Tapi dia harus rela. Dia tidak bisa menyalahkan Lena. Biarlah dirinya merelakan Odes untuk Lena. Apa gunanya jika Odes sama sekali tidak bisa mengenalinya. Odes suaminya tersayang kini menjadi Banda dan suami sahabat karibnya.

Hati Unni berbisik lirih “Tuhan jika ini jawaban dari penantianku selama ini, biarlah aku tetap akan menanti sampai aku bisa memenuhi janji sakral pernikahan kami.” Dengan langkah gontai Unni melangkah pergi meninggalkan Lena yang masih terisak dan tak percaya dengan sikap Unni merelakan Odes untuknya.

Pertemuan dengan Odes membuat Unni tersadar untuk menjalani hidupnya dengan kenyataan disodorkan takdir kepadanya. Walaupun begitu pahit juga perih, Unni mencoba tegar serta tabah. Harapan Unni sebelumnya hampir pupus kini berganti dengan harapan baru. Tapi menatap wajah polos serta tak berdosa Melati membuat Unni semakin kuat. Dia harus kuat demi putrinya, demi malaikat kecilnya. Unni ihklas asalkan Odes tetap sehat dan baik-baik saja. Cinta tidak harus memiliki. Cinta sejati adalah membiarkan orang yang kita sayangi bahagia dengan kehidupannya. Meski kehidupan dijalani bukan kehidupan sebagai Odes tapi sebagai Banda.

Unni akan tetap menunggu. Menunggu jika suatu saat nanti Odes akan kembali. Dia tidak akan pernah menggantikan posisi Odes dengan laki laki lain dihatinya. Cintanya hanya utk Odes. Sampai maut menjemput dia akan tetap menunggu Odes.

cerita pendek penantian unni bertemu kembali
Bersatu kembali (@Mirror.co.uk)

Setahun, dua tahun, hingga akhirnya bertahun tahun terlewati. Unni tak lagi muda. Kulitnya mulai keriput, rambutnya memutih, tenaganya pun sudah tak sekuat dulu. Unni kini lebih banyak dirumah menjaga cucunya Farah yang lucu. Farah duduk di bangku TK. Melati ibunya seorang Guru TK di desa sedangkan ayah Melati seorang Guru di SD.

Unni senang Melati menikah dengan laki laki baik lagi penuh tanggung jawab. Unni juga senang karena Melati bisa menyelesaikan pendidikan sarjananya dengan baik. Kini Unni bisa melewati hari tuanya dengah bahagia.

Unni berdiri dipantai itu. Memandang kelaut lepas, mencoba mengingat kisah lama nyaris terkubur, kenangan akan cinta begitu dalam, sedalam lautan biru terbentang luas dihadapan.

Angin bertiup lembut membawa ingatan Unni akan sosok serta wujud Odes. Odes lelaki tampan, memiliki mata lembut. Odes yang sangat Unni cintai.

Tiba-tiba mata Unni memicing. mencoba melihat jelas sesuatu mendekat. Semakin lama semakin dekat. Unni seperti melihat perahu Odes mendekat. Pikiran tua Unni sesaat mencoba menghilangkan bayangan Odes lalu kembali menatap perahu mendekat.

Dua orang tak dikenal menepi lalu menarik perahu yang mereka naiiki ketepian. Kedua orang tersebut mendekat ke arah Unni. Satunya terlihat berumur 30 an, dan satunya terlihat sudah berumur mungkin sekitar 60 tahunan. Rambutnya juga sudah memutih tapi jalannya masih sangat tegap dan kuat. Raut wajahnya terlihat kokoh menyisahkan raut tampan semasa mudanya.

Semakin dekat mereka semakin berdebar hati Unni, sudah setua ini hatinya masih berdebar jika melihat ada perahu yang datang. Berharap Odes akan muncul didepannya lalu memanggil namanya.

” Unni.. Unni” Sebuah panggilan sangat Unni kenal terdengar. Suara yang mengingatkan dia akan sosok sudah bertahun-tahun menghilang tapi tetap diingatnya. Itu suara Odes.

Laki-laki tua beruban berdiri tak jauh di depannya menatap dengan mata sendu dan berkaca-kaca. Unni mengejabkan mata berulang kali. Mencoba menguatkan hati sekaligus memastikan pandangannya kalau yang berdiri didepannya adalah Odes, suaminya tersayang, laki laki yang selama ini dinantinya.

“Unni ini aku.. aku Odes. Aku Odes Unni suamimu” Suara itu terdengar lagi, kali ini begitu dekat. Unni bukan bermimpi.  Wujud di depannya sangat dikenalnya meski kini sudah beruban lagi keriput. Unni masih mengingatnya.

“Odes, Odes suamiku sayang” Seru Unni keras sekali. Kali ini Unni tak bisa lagi membendung airmatanya. Dengan langkah tertatih kedua orang tua itu saling mendekat dan satu dalam pelukan.

Odes menciumi wajah Unni berulang kali. Odes tak peduli dengan sekelilingnya. Aroma tubuh Unni masih seperti dulu, Unni masih cantik seperti dulu.

Loki, anak bungsu Odes dari pernikahannya dengan Lena, menatap kedua orang tua itu dengan airmata bercucuran. Perasannya menyatu pada adegan haru biru didepannya. Loki tahu benar cerita tentang mereka karena sebelum ibunya meninggal dia sudah menceritakan kisah itu padanya. Dan kesinilah dirinya membawa ayahnya sesuai pesan terakhir sang Ibu setelah 10 tahun menunggu keajaiban ayahnya bisa mengingat kembali masa lalunya.

Kisah diantara mereka berdua mungkin cuma mereka saja yang tahu. Seberapa dalam cinta yang ada di antara mereka hanya mereka yang rasakan. Meski takdir mempermainkan kehidupan, cinta akan tetap menjadi pemenangnya. Saat takdir lelah bermain dengan nasib manusia dan menyerah pada cinta mereka.

Unni menatap Odes nanar, tangan tua Odes menghapus airmata Unni. Tidak ada yang bisa mereka katakan, hanya hatilah yang bisa bicara lewat tatapan mata tua mereka kalau cinta diantara mereka tak akan pernah hilang walau waktu terhenti.


Terima kasih telah membaca cerita pendek romantis Penantian Unni. Semoga cerpen diatas bermanfaat dan bisa memberi inspirasi bagi sobat pembaca sekalian.

Dibagikan

Putri Wahyuningsih

Penulis :

Artikel terkait