Pengakuan

cerita romantis menikah terpaksa jadi cinta

Pengakuan merupakan cerita romantis menikah terpaksa jadi cinta akibat dijodohkan oleh orang tua. Meski hatinya mencintai jodohnya tapi sang lelaki tidak terlihat menyukainya. Kesabarannya diuji karena ayahnya sakit kanker paru-paru. Hingga sang ayah meninggal dia merasa harus bersikap mengambil keputusan. Simak pada cerpen berikut.

Cerita Romantis Menikah Terpaksa Jadi Cinta : Pengakuan

Allya menyikut lenganku, membuat mataku menoleh kearah ditunjuknya dengan isyarat matanya. Kuikuti bayangan tengah melangkah santai diiringi seorang gadis bergaun merah darah berjalan disampingnya penuh percaya diri. Seperti biasa, diriku hanya mengedikkan bahu acuh tak acuh, kemudian kembali melanjutkan makan siang yang terganggu dengan keingin tahuan Allya.

“Cuma segitu ?” Allya berteriak tanpa sadar sambil mengaduk-ngaduk sop ayamnya hingga muncrat kemana-mana. “Laaa… aku musti gimana All ? sudah tabiatnya begitu biarin aja. Ntar kalo bosan juga balik ke aku lagi,” santai ucapanku.

Terdengar suara deru nafas berat panjang kemudian disusul dengan diraihnya baki beirisi makananku. Gantian mataku menatap Allya protes. “Kamu itu kenapa sih Manda ? koq bisa-bisanya bersikap bodoh kayak gini. Itu tunangan kamu bukan pacar, kenapa diam saja melihatnya selingkuh sama cewek lain ? duh kamu benar-benar udah gak normal sarafnya”.

Aku menarik baki makananku lagi lalu kembali melanjutkan makan siang karena lagi-lagi terganggu dengan kepedulian Allya.

“Mandaaaa….!” Terdengar seruan gemas Allya diiringi dengan kursi bergeser serta langkah Allya beranjak meninggalkan diriku jengkel. Aku hanya bisa menelan makananku sambil geleng-geleng kepala melihat kepergian Allya.

Sembari meneguk air putih, ekor mataku melirik kearah ditunjuk Allya, pasangan tersebut masih ada di pojok restoran. Terlihat menikmati lunch mereka tanpa terganggu sekeliling mereka, keberadaanku ataupun bahkan orang-orang makan di sekitar mereka. Jam makan siang sudah selesai, diriku beranjak dari tempatku lalu bergegas kembali ke kantor berjarak tak terlalu jauh dari restoran tempat ku pilih untuk makan siang.

Bertemu di dalam lift tapi biasa-biasa saja

Pintu Lift hampir tertutup ketika satu sosok sigap menahan pintu lift kemudian masuk, seiring itu lift  langsung tertutup otomatis. Agak sedikit gugup saat tahu sosok berada satu lift denganku.

“Lama tidak bertemu Manda, apa kabarmu ?” suaranya memecahkan kesunyian dalam lift karena memang cuma berisi kami berdua.

“Aku baik-baik saja.”

“Syukurlah,” hanya itu terdengar, pintu lift terbuka diriku keluar lebih dulu. Tak ada basa basi untuk sekedar pamit atau permisi lebih dulu. Suasana menjadi terasa sangat kaku lagi tidak nyaman. Sikap Mario benar-benar berubah begitu dingin datar walau diriku tahu dengan sangat jelas bahwa dia mencintaiku. Hatiku mengerti kenapa dirinya berubah namun diriku tak ingin mengubahnya, biarlah tetap seperti ini. Jika dia !  Mario,  masih bersikap baik padaku hanya akan membuat hati tersiksa. Jujur saja berada satu gedung dengannya walau beda perusahan sudah membuatku tidak nyaman apalagi jika masih selalu bersikap baik padaku.

Ponselku berbunyi…Sebuah pesan masuk, “tadi kulihat Allya pergi, kenapa ? apa dia marah lagi melihatku bersama Yohana. Katakan padanya Yohana gak berarti buatku, satu-satunya wanita punya arti dalam hidup juga hatiku cuma kamu Manda. Kamu pasti tahu itu.” Kalimat kuanggap bernada gurauan tersebut membuatku tersenyum sinis.

“Sepertinya cewek satu ini lama membuatmu bosan.” Balasku .

“Dia bisa memberikanku sesuatu tidak kudapatkan darimu Manda tapi tenang saja dirinya gak akan menggeser kamu dari kedudukkanmu sebagai ratu di hatiku.”

“Berhenti bermain-main Abra, jalani saja peranmu kuharap kau tak akan bosan.”

“Bosan bukan berarti kau pergikan ? Beri waktu sedikit lagi ok.”

Entah sampai kapan kami lakoni permainan ini

Ku tarik nafas panjang kemudian kembali pada aktifitas pekerjaan. Apa telah terjadi pada perasaanku ? Kenapa masih bertahan pada peranku. Pria tersebut masih sibuk bermain-main dengan asmara. Mungkin sengaja melakukannya untuk membuatku lelah hingga akhirnya mundur. Sayangnya diriku harus tetap bertahan sampai akhir. Bukannya tak peduli, tapi rasa cinta ada di hati entah mengapa tak bisa hilang, jadi seperti biasa, diriku semakin terbiasa. Malah ku pikir sebaliknya, sungguh sangat kasihan mereka menjadi objek lalu dimanfaatkan sebagai permainan Abra. Dengan penuh percaya diri ku yakini Abra akan kembali padaku dengan pesona tak pernah lekang.

Ha ha ha … percaya diri karena kemanapun Abra berlari, dirinya tak akan bisa berlari dari perjodohan kami. Tapi sampai kapan sikap Abra bermain-main akan berakhir ? bagaimana jika suatu saat nanti hatiku bosan lalu memilih menyerah ?.

Hatiku jatuh cinta sejak pandang pertama

Hatiku mencintai Abra sejak pertama kali melihatnya. Sejak pertama kali pertemuan perjodohan pada sebuah restoran mewah oleh keluarganya. Masih jelas di ingatan bagaimana wajahnya. Rasa protes serta tak sukanya benar-benar tiada bisa disembunyikan, beda dengan diriku, sangat pintar berpura-pura dalam menyembunyikan perasaan.

Pertemuan tersebut membuat duniaku berubah, Abra memandangku dengan rasa tak suka seolah membenci sikapku sementara diriku dengan sekali melihat  sudah jatuh cinta kepadanya. Dunia memang anehkan ? kami sama-sama tak diberi pilihan untuk menentukan hidup kami selanjutnya. Karena sejak awal, masa depan kami sudah ditentukan orang tua. Itulah mungkin kenapa hatinya membenciku.

Keluarga kami sudah terikat sejak kami masih kecil, orang tuaku karena ingin membalas budi keluarga Abra, kemudian menjodohkan kami. Saat usaha keluarga Abra beberapa waktu lalu terpuruk, keluargaku gantian membantu mereka hingga usaha mereka tidak jatuh. Sehingga kami akhirnya terjebak pada situasi rumit mengharuskan kami terikat tanpa ada ikatan perasaan. Didepan keluargaku serta keluarganya, kami berpura-pura menunjukkan kemesraan kami. Semua teman-teman serta keluargapun tahu diriku sudah bertunangan dengan Abra, mereka seringkali berpikir betapa beruntungnya diriku karena bisa bertunangan pada anak pengusaha. Tapi mereka tidak pernah tahu cerita sesungguhnya. Cerita lebih banyak memendam rasa sakit.

Diriku tak diberi pilihan. Selama Ayah masih hidup dan berusaha hidup, diriku tak mungkin membuat beliau kecewa. Lagipula tiada mungkin berharap Ayah cepat meninggalkan dunia hanya karena ego. Rasa tidak adil karena tak diberi pilihan dalam hidup tetap ada didalam hati meski tak bisa memberontak, aku menyayangi Ayah. Tak ingin diriku menjadi anak durhaka. Tidak… karena itu biarlah begini hingga waktunya tiba, tetap tenggelam dalam lukaku sendiri.

Dia tak suka dijodohkan

“Kamu anak baik Manda, tapi diriku tak bisa sepertimu. Saat tahu sudah dijodohkan, kekasihku meninggalkanku. Kau tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang kemudian ditinggalkan saat masih sangat mencintainya ?. Dan ku rasa sungguh tidak adil… jika saja kau mau memberontak juga berani mengatakan tidak pada orang tuamu. Mungkin diriku tak akan merasakan sakitnya ditinggalkan oleh orang ku sayangi. Perjodohan kita adalah hal terkonyol pernah ku tahu, kupikir kisah-kisah di film serta drama hanyalah rekaan saja tapi ternyata terjadi dalam kehidupanku. Hahahah…. Diriku mengalaminya bahkan jika bisa difilmkan mungkin akan lebih menarik.”

Waktu itu Abra memintaku untuk bertemu untuk bicara, diriku sama sekali tak tahu kalau dirinya sudah memiliki kekasih. Seharusnya sudah ku duga kalau lelaki sukses dan tampan begitu sudah punya kekasih. Tapi hatiku begitu naif, bahkan sudah jatuh cinta padanya pada pandangan pertama. Jatuh cinta disaat matanya menatapku dengan tatapan tak suka serta marah.

Karena itulah saat Abra meminta untuk tetap bersandiwara di depan keluarga kami masing-masing dengan mudah ku setujui. Karena itulah diriku tak bisa protes kalau Abra berubah menjadi sosok suka gonta-ganti pacar. Ku tahu jelas kalau dirinya hanya ingin menyembuhkan luka hatinya. Ah seandainya saja dia mengijinkanku untuk membantunya.

Owh .. ternyata dia ingin menguasai harta keluargaku

“Aku tetap akan menikahimu Manda, jangan kuatir. Meski seribu wanita berhubungan dengankupun kau tetap akan jadi ratunya. Karena diriku tetap akan menjadi suamimu. Kau adalah pewaris, tak ingin diriku kehilangan hak tersebut. Semua usaha keluargamu akan ada dalam genggamanku.”

Kalimatnya memang menyakitkan, tapi walaupun harus mengambil semuanya dariku termasuk diri serta harta keluargaku, diriku sudah tak peduli. Sesakit apapun hatiku tiada peduli. Terkadang kita mencintai seseorang dengan rasa sakit. Hingga rasa sakit tersebut membuat kita mengerti akan arti kebahagiaan. Kemudian berharap suatu saat nanti akan bahagia. Walau hanya angan semata,  harapan cukup membuat hati sakit menjadi terhibur. Bukankah kita memiliki cara masing-masing untuk mencintai seseorang. Jadi biarlah diriku dengan caraku. Mungkin Abra tak kan pernah mengerti kenapa sampai kini hatiku masih bertahan walau terkadang bibirnya tersenyum sinis melihat sikapku.

Usaha mereka maju berkat bantuan keluargaku, ada balas budi dari apa  dinamakan timbal balik disini. Jika bicara soal budi, Ayahku maupun Ayah Abra sangat memegang teguh hal tersebut. Mungkin itulah membuat pertemanan keluarga kami awet sampai hingga kini. Masing-masing sudah melewati hal paling sulit sekalipun. Mungkin hubungan persahabatan sangat dalam diantara mereka tiada kami ketahui seperti apa. Tapi ku yakin tiada orang tua tak ingin anaknya bahagia. Dan diriku masih mempercayainya, karena memang kolot.

Aku dibesarkan di lingkungan kolot, harus menghormati dan patu pada orang tua

Cara berpikirku tidaklah semodern Abra, seorang lulusan bisnis Stanford. Diriku hanyalah lulusan Universitas Negeri, dibesarkan oleh Eyang putri dengan didikan sangat keras serta disiplin. Saat lulus SMA barulah diriku tinggal bersama orang tuaku. Sepertinya Ayah juga Ibuku memang sudah merencanakan sejak awal bagiku tinggal bersama Eyang. Terbukti mereka berhasil, diriku tumbuh baik berkat didikan keras model priyayi Eyang.

Ayahku bukan golongan keluarga berdarah biru, tapi seperti Priyayi dalam artian modern. Karena priyayi bukan lagi mencakup arti keluaga kerajaan tapi sudah meluas dalam artian orang-orang biasa berpengaruh seperti guru atau pekerja pemerintahan. Mungkin karena Eyang putri memiliki satu sekolah di kabupaten juga menjadi guru selama beberapa dekade sehingga sangat dihormati. Karena itulah Eyang putri begitu sangat dikenal akan kepeduliannya pada pendidikan di kota kecil ini. Aku jadi ingat sosok ibu Kartini, Eyang putri mirip beliau, tak pernah lelah mengajak kaum wanita untuk mengenyam pendidikan walaupun sekolah rintisannya hanyalah SD.

Setelah dewasa kemudian bergabung di perusahan Ayah, kusadari diriku dipersiapkan untuk sesuatu hal lebih penting selain emansipasi. Sebagai istri Abranata Fabianto. Awalnya diriku menentang rencana tersebut bahkan sempat ku ungkapkan pada Eyang sebelum Eyang meninggal beberapa tahun lalu. Tapi saat tahu Ayah mengidap Kanker paru dua tahun lalu sehingga harus kemoterapi secara rutin, pemikiranku berubah, diriku tak bisa lagi menolak.

Sebenarnya aku tak menolak dijodohkan karena tahu ayah sakit kanker paru

Sampai saat inipun Ayah masih belum memberitahukanku soal penyakitnya, begitu juga Ibu. Walau tanpa mereka sadari sudah ku ketahui tanpa sengaja waktu mendonorkan darah pada operasi sahabatku dua tahun lalu. Kulihat Ayah serta Ibu keluar dari ruangan Kemo, keadaan Ayah tidak biasanya membuatku mencari cara untuk mengetahui kenapa Ayah di rumah sakit juga kenapa mereka tak memberitahukannya padaku ? Namun sampai saat inipun aku mengunci mulutku dari protes. Yang harus kujalani hanyalah menjadi anak baik tidak mengecewakan orang tua. Terus berdoa agar Ayah bisa bertahan dari penyakitnya, juga berdoa agar Abra bisa mencintaiku kemudian menikah denganku agar impian Ayah bisa terwujud.

“Manda, kamu semakin cantik saja. Sudah beberapa bulan ini kau gak kelihatan. Kenapa gak main kerumah lagi. Kami merindukanmu.” Tante Maya Ibunda Abra menyambutku dengan pelukannya erat. Aroma Miss Dior for Women tercium lembut dihidungku. Aroma menebar cita rasa tinggi bagi penggunanya. Sepertinya Tante Maya selalu anggun pada setiap penampilannya. Walaupun begitu terkesan mewah setidaknya dirinya tidak munafik jika bicara tentang Abra jadi hatiku menyukainya. Kami bertemu di sebuah Café eksklusif tempat favoritnya.

Pernikahan akan dimajukan, kenapa ?

“Manda tante sengaja ingin bertemu denganmu untuk bicara masalah Abra.”

“Kenapa dengan Abra ? Tante ?”

“Dengar sayang, kami sudah sepakat untuk memajukan tanggal pernikahan kalian. Maunya kalian kan tahun depan. Tapi kalian sudah 2 tahun tunangan, kalau terlalu lama akan tidak baik. Karenanya tante juga om serta orang tuamu sepakat untuk menentukan waktunya 3 bulan dari sekarang pas ulang tahun Ayah kamu Manda. Baguskan ?”

Dalam hatiku sungguh terkejut, kenapa dipercepat ? apa telah terjadi ? kenapa pula di tanggal ulang tahun Ayah. Apa karena Ayah tak bisa bertahan lagi ? Atau karena Tante Maya tahu kalau Abra sekarang ganti pacar lagi.

“Manda sayang, tante tahu kamu sudah banyak menderita dengan kelakuan Abra. Karenanya supaya dia tidak macam-macam lagi sebaiknya dipercepat.” Tante Maya menggenggam tanganku erat dan menatapku lembut. Ku tarik nafas panjang. “Apa Abra sudah tahu tante ?”.

Senyum di wajah Tante Maya tiba-tiba hilang, lalu kemudian dipaksakan kembali tersenyum. “Jangan kawatirkan Abra, dia urusan tante yah. Yang penting kamu setuju yah. iya yah Manda ?”.

Aku menganguk pelan, senyum pada wajah Tante Maya melebar. “kamu anak baik Manda, kamu akan cocok jadi istri Abra. Dirinya mungkin belum menyadarinya sekarang. Tapi jika kalian sudah menikah lalu tinggal bersama tante yakin hatinya akan berubah mencintaimu.”

“Aku tak mempermasalahkan hal demikian tante. ”

“Kamu memiliki hati malaikat sayang. Ok sekarang tante pergi dulu, oh yah tante gak sabar ingin memberitahukan kabar pada keluarga besar kita. Mengenai baju pengantin, kalian saja…”’

“Tidak tante, tante saja mengurus semuanya. Aku ikut saja. Lagian yakin koq pada selera tante”, selaku sedikit bercanda cepat.

“Sungguhkah sayang… oh Manda tante senang sekali dipercayakan sama kamu semuanya. Pasti sayang, kau tenang saja yah. Tante tahu seleramu. Ok..” wanita tersebut berlalu dengan gembira.

Aaah … mengapa cerita cinta sepahit kopi

Kepalaku hanya bisa tertunduk sambil memandangi mangkok kopi masih penuh. Pelan-pelan kuhirup kopiku, sudah dingin, dinginnya menimbulkan rasa pahit di kerongkonganku. Rasanya pahit sekali. Sepahit 10 menit kemudian, saat Abra memintaku untuk datang ke apartemennya. Saat datang pintu langsung terbuka lalu seorang wanita keluar dengan terburu-buru, wanita tersebut sempat menatapku penuh kebencian. Kulangkahkan kaki masuk. Baru mau duduk Abra melemparkan ponselnya kearahku. Ponsel tersebut jatuh di karpet, kuraih lalu meletakkannya diatas meja.

“Apa itu? jelaskan padaku Manda. Apa kau menginginkan pernikahan kita dipercepat. Apa kau tidak bisa bersabar sedikit lagi hah ?”, keras suara Abra berteriak marah, tapi tidak membuatku kaget.

“Kenapa kau tidak bersenang-senang sepertiku. Kenapa malah mengganggu ketenanganku.”

“Berhentilah bersikap kekanakkan Abra kau sudah tahu akan terjadi”.

“Tapi tidak secepat ini. Kita sudah sepakatkan ?”, sela Abra lagi dengan keras. “dan kau bertanggung jawab penuh atas perjodohan konyol kita Manda.”

“Diriku tidak bertanggung jawab apa-apa padamu Abra. Takdir sudah ditentukan sejak kedua orang tua menjodohkan kita, tepatnya sejak kita lahir.”

“Apa kau inginkan dariku Manda ? apakah dengan pernikahan kau merasa puas ?”

“Seperti kau bilang, cuma sandiwarakan ? Kita sudah berakting lebih dari 2 tahun. Dengan melangsungkan pernikahan tidak akan menganggu aktifitasmu pada perempuan-perempuanmu. Cuma bedanya kalau dulu kau lakukan sembarangan setidaknya jika sudah menikah lakukanlah dengan elegan dan terhormat.” Ucapku lagi. Abra menatapku marah dia mendekatiku dengan wajah sinis.

“Kau benar-benar tidak punya perasaan juga harga diri Manda. Kau menyerahkan dirimu padaku tanpa syarat.”

Kepalaku tertunduk kedua mataku terasa panas, hatiku meronta. Saat ku tatap Abra kembali tanpa dapat kutahan air mataku sudah menetes.

“Diriku tidak sekuat yang kamu sangka Abra. Jika pernikahan akan membuat Ayahku bahagia serta tenang. Aku tidak apa-apa…”

“Tapi kita tidak saling mencintai Manda.”

Aku tak peduli sekalipun kamu tak mencintaiku

“Tidak peduli kamu tak akan pernah bisa mencintaiku Abra. Ayahku mengidap kanker paru-paru. Umurnya tak akan lama lagi. Hampir 2 tahun dia kemoterapi tapi sepertinya tidak berhasil sembuh. Pernikahan kita dilaksanakan pada hari ulang tahunnya. Kamu tahu apa artinya Abra. Itu artinya Ayahku tak akan bisa menunggu sampai tahun depan. Dan tahukah kamu siapa akan diuntungkan jika Ayahku meninggal. Kamu… kamu… dan keluargamu. Aku rela mempertaruhkan harga diri juga harta keluargaku bahkan usaha Ayahku. Kau boleh mengambilnya seperti selalu kau bilang padaku. Tapi tolong… ini demi Ayahku.” Suaraku bergetar, tidak peduli lagi jika saat ini Abra melihat kelemahanku.

“Untuk sekarang kumohon padamu Abra…. Setelah menikah kita akan bercerai diam-diam.” Lanjutku lalu beranjak pergi.

3 bulan lagi kami akan melangsungkan pernikahan, apa bisa kudapatkan dari pernikahan ? Sama sekali tidak ada, padahal pernikahan kami murni karena bisnis ? bahkan cinta Abra pun tak bisa kudapatkan. Sebaliknya dengan pernikahan kami Abra mendapatkan semuanya. Wirausaha rintisan Ayah hingga bisa menjadi sebuah perusahan sangat maju akan berada dalam genggaman Abra. Kedua perusahan mungkin akan bergabung menjadi satu kemudian Abra akan menjadi satu-satunya pimpinan tunggal disana.

Sudah bisa kubayangkan akan seperti apa jadinya nanti. Tapi dalam otakku sekarang bukanlah Abra, dirinya memang masih tetap jadi raja di hatiku. Tapi diriku lebih memikirkan diamnya Ayah, kenapa masih belum memberitahu diriku tentang penyakitnya. Ku tahu karakter Ayah tidak ingin membuat orang kawatir pada keadaannya, tapi sudah dua tahun lebih, sampai kapan harus menutupinya.

Ayah terlihat semakin lemah

“Manda semuanya sudah dipersiapkan, Ayah harap semua bisa berjalan saat waktunya tiba. Impian Ayah untuk melihatmu bersanding dengan laki-laki Ayah sukai akhirnya terwujud. Abra sangat baik, dia pria tepat untukmu. Sekarang Ayah sudah bisa tenang. Perusahan akan berada ditangan orang bertanggung jawab” ucap Ayah sambil mengunyah sarapannya dengan senyum, walau wajahnya sedikit pucat tapi masih mencoba menutupinya dengan senyum arifnya.

“Diriku tak akan mengecewakan Ayah, semuanya sudah siap, keluarga Abra menyiapkan semuanya dengan sempurna.”

“Bagus, bagus, kamu tahukan kesehatan Ayah agak sedikit terganggu. Cuaca memang tidak terlalu bagus. Ayah tak bisa sering-sering bertemu denganmu. Untuk sementara inipun pekerjaan kantor ditangani sekretaris Ayah. Tidak apa-apa jika kamu juga jarang ke kantor. Lagipula Pak Indra sudah tahu kamu sedang menyiapkan pernikahanmu.”

“Iya Ayah, kemarin Pak Indra sudah bicara padaku, Ayah jangan kuatir, sebaiknya Ayah banyak istirahat biar saat pernikahan Manda Ayah bisa sehat.”

Ayah terlihat menarik nafas panjang, di meja makan besar cuma ada kami berdua. Pagi-pagi sekali Tante Maya sudah menjemput Ibu untuk persiapan pesta. Masih 3 bulan tapi persiapannya sudah begitu ribet. Sebesar apa sih pesta pernikahan nanti ? seandainya bisa memilih, hatiku ingin menikah dengan sederhana didampingi keluarga saja. Tapi diriku sekarang tidak dihadapkan pada pilihan karena kondisinya adalah keharusan. Diriku masih memperhatikan Ayah, ku tahu sekali kemarin ada jadwal kemoterapi itulah sebabnya kenapa dia terlihat masih agak lemah. Ah Ayah jika dengan pernikahan bisa membuat bahagia, akan ku jalani demi baktiku sebagai seorang anak padamu.

Mengapa hatiku tetap mengaguminya meski dia tidak cinta

Abra muncul di hadapanku dengan penampilan casual, dirinya terlihat berbeda dari biasanya, selalu berpenampilan rapi lengkap dengan jasnya. Ah… hatiku masih saja mengaguminya, seandainya dia tahu perasaanku sesungguhnya yang tak bisa kuperlihatkan secara jelas padanya. Tapi dia terlanjur mengenalku sebagai sosok angkuh juga tegar, sosok pintar berpura-pura. Bahkan menjulukiku sosok wanita berhati dingin.

“Ayo kita makan siang bersama, sudah ku pesan sebuah tempat di restoran.”

Hatiku masih kaget pada kehadiran Abra di ruang kantorku siang bolong jadi semakin terkejut.

“Hei bukankah wajar calon suami mengajak calon istrinya makan siang ?”. Dengan cuek dia duduk disofa. Bibirku tersenyum sinis, perkataannya seperti kata kata sindiran tajam untukku.

“Apa kau inginkan Abra ? sudah puas bermain-main sekarang datang menggangguku.”

“Tidak ada istilah ganggu mengganggu disini, kita harus belajar melakukan sesuatu bersama-sama mulai sekarang. Inilah keputusanku, untuk sementara diriku akan serius. Inilah niat baikku, kuharap kamu juga demikian.” Enteng sekali kata-katanya membuatku sekilas ingin tertawa sinis lagi. Tapi akhirnya diriku beranjak, meraih tas tanganku lalu…

“Baiklah, ku hargai niat baikmu ? tapi tempat makannya aku tentukan. ”

Makan nasi bebek di rumah makan sederhana pinggir kota

Makan nasi bebek romantis di pinggir kota
Nasi bebek mak nyusss

“Bu Nasi bebeknya dua, tambah sup  buntutnya  satu yah, sama es tehnya 2.”

“Iya Neng, lama gak datang neng. Pangling ibu ngeliatnya makin cantik aja.” Bu Tini cekatan menyediakan nasi daging bebek pesananku. Saat melihat Abra, kulihat dia sedikit kaget, mungkin bisa dikatakan shock karena ku ajak makan di rumah makan sederhana begini. Disebuah kawasan rindang di pinggiran kota.

Dulu Bu Tini membuka wirausaha kecilnya dengan mangkal di trotoar.  Nasi bebek juga sup buntutnya sangat enak, sewaktu lewat sini beberapa tahun lalu, hatiku penasaran karena banyaknya orang makan, namun tempatnya tidak memadai. Akan tetapi saat ku rasakan dua menu sederhana andalan Bu Tini, kuputuskan untuk membantunya membuka rumah makan layak. Dua porsi nasi bebek sudah berada di atas meja. Bibirku rasanya ingin tersenyum melihat mimik wajah Abra menatap makanan di hadapannya.

“Jangan kuatir disini kebersihannya terjamin. Ayo makan, tidak ku beri kau pilihan lain untuk dimakan, karena menu satu ini lebih enak dari steak Wagyu biasa kau makan. Coba deh dicicipi”, tawarku sambil mulai makan.

Aku mulai makan dengan lahap tak peduli pada tatapan Abra padaku dengan pandangan aneh sambil mencoba mencicip makanannya. Saat asyik menikmati sop buntutku, sendok Abra ikut masuk ke mangkok supku lalu ikut mencicipinya. Wajahku melongoh, gantian diriku terheran-heran melihat Abra makan lahap bahkan tanpa malu-malu memesan semangkok sup lagi diberi tambahan bonus irisan daging oleh Bu Tini. Bibirku tersenyum lebar…. Saat pulang Bu Tini masih membungkuskan sop buntut untuk dibawa pulang.

Tak kusangka dia berani mengatakan calon suamiku

“Sering-seringlah makan disini Neng, gak perlu bayar. Neng Manda sudah banyak sekali membantu ibu. ”

“Hahaha… iya Bu.”

“Tapi Neng, Mas ini temennya yah.”

Kutoleh kearah Abra yang tiba-tiba menyodorkan tangannya. “Saya calon suaminya Bu, Abra.”

“Woalaaa…. Calon suaminya to. Ganteng cocok sama neng Manda”.

Ucapan polos Bu Tini mau tak mau membuatku tersenyum giris. Kami permisi pulang dengan hati tak menentu.

“Maaf yah ku ajak ketempat tadi, jujur saja diriku tidak terlalu suka makanan restoran mungkin karena sejak kecil sampai SMA hidup di pedesaan bersama nenekku. ”

“Its, oke sudah kukatakan akan mulai membiasakan diriku pada kebiasaan-kebiasaanmu. Supaya nantinya tak akan kaget begini. Tapi ngomong-ngomong makanannya memang enak. Aku sangat menikmatinya.”

Yah iyalah terlihat sekali kau makan dengan lahap, seperti tak pernah merasakan makanan enak selama sebulan, hatiku berbisik .

Tiba – tiba dia jadi mulai sok perhatian

Hari-hari selanjutnya Abra mulai sering melakukan hal-hal membuatku kadang merasa tak nyaman. Sikapnya mulai penuh perhatian, kadang dia mengajakku keluar makan malam, menjemputku dikantor atau sekedar jalan-jalan. Dia juga mulai sering datang ke rumah bersikap seperti sudah jadi suamiku. Walau agak kaget pada perubahan sikapnya tapi ku yakin semua karena pembicaraan di apartemen beberapa waktu lalu.

Aku terpaksa mengatakan penyakit Ayah. Hatiku yakin alasan satu-satunya mengapa sikapnya berubah adalah karena aku memohon padanya. Sandiwara akan berakhir, seperti biasa selalu ada endingnya. Tapi diriku tak peduli, sebisa mungkin kunikmati peranku di dalamnya. Mungkin hanya inilah satu-satunya cara agar bisa merasakan balasan perasaanku walau ku yakini sikap Abra padaku hanya sekedar perhatian.

Hari demi hari aku mulai terkungkung pada sikap manis Abra, hampir sebulan dia menunjukkan perhatiannya padaku, diriku tidak boleh terlena pada sikapnya. Dia berakting sangat baik, kalau saja pekerjaannya aktor mungkin sudah menjadi aktor terkenal. Bahkan saat mengecup keningku disaat kami akan berpisah terasa begitu nyata. Aku mungkin tak bisa menyembunyikan wajah meronaku saat di depan keluargaku atau keluarganya tiba-tiba dia memeluk pinggangku, menciumku dengan tiba-tiba, menunjukkan pada keluarga besar kami kalau dia sangat mencintaiku.

Seandainya semua sikapnya bukan pura-pura

Pernikahan kami tinggal sebulan lagi, semuanya sudah dipersiapkan secara matang. Selama dua bulan Abra benar-benar terlihat bukan dirinya. Dia seperti begitu berbeda diluar biasanya, bicara tak pernah kasar. Benakku hanya bisa berkhayal, kalau saja, kalau saja semua bukan pura-pura. Haahah … sayang sekali.

Waktu ditunggu sebentar lagi akan tiba, tinggal seminggu lagi aku akan menjadi istri Abra. Berita tersebut sudah jadi trending topik di kantorku. Bisa ku lihat tatapan iri wanita-wanita di kantorku. Sayang sekali tatapan-tatapan mereka tak tahu apa sebenarnya terjadi. Kalau mereka tahu mungkin diriku akan ditertawakan. Ada yang mengucapkan selamat dengan tulus ada juga pura pura peduli. Beban dalam hatiku semakin bertambah, diriku hanya perlu melewati upacara pernikahan dengan baik, hanya perlu menjadi anak berbakti, kemudian semua selesai. Diriku bisa kembali pada realita hidup sesungguhnya.

Kuteguk minuman ringanku pelan, disini diatap kantorku diriku masih duduk sendiri sambil menikmati khayalku, sejenak berlari dari rutinitas kantor serta kehidupan penuh sandiwara. Angin kencang membuat rambutku berantakan, seharusnya tidak perlu repot-repot kekantor. Tapi tempat ini merupakan tempat kusembunyikan diri dari dunia penuh tekanan. Disini dadaku bisa bernafas tanpa terbebani masalah.

Tiba – tiba mantan pacar datang

“Calon pengantin kenapa seperti tidak bahagia ?”

Ku toleh kepalaku, Mario mendekatiku. Kenapa dia disini ?

“Apa semua adalah pilihanmu Manda, mengorbankan diri ?. Apa akan kau dapatkan… ?”

“Jangan mengkritik keputusanku Mario. Lagipula kau tidak tahu apa-apa tentangku.”

“Aku tahu banyak tentangmu Manda, sangat mengenalmu. Kau akan memilih menderita demi orang-orang kau sayangi. Tapi kenapa Abra ?  dia tidak pantas untuk mendapatkan cintamu.”

“Tahu apa kamu tentang perasaanku Mario. ”

“Kamu mencintai Abra kan ? itu sebabnya kamu memilih meninggalkanku. Bohong jika kamu bilang karena Ayahmu.”

“Hentikan Mario, hatiku sudah cukup tersiksa pada keadaan.” Aku beranjak bergegas ingin cepat-cepat pergi tapi Mario menarik tanganku membuat posisi tubuhku juga dirinya berdekatan.

“Aku sangat mencintaimu Manda, kamu tahu sekali hal itu. Kau tak bisa berbohong. Kamu sudah menyiksaku Manda. Kamu membuatku seperti laki-laki bodoh. Kenapa Manda ? Apa ingin menguji perasaanku ? Baiklah, akan ku turuti keinginanmu. Akan ku tunggu Manda, sampai kamu lelah.”

Saat berbalik, ada Abra berdiri disana

Kulepaskan tangan Mario lalu berbalik, tapi alangkah kagetnya saat ku lihat sosok tiba-tiba muncul dan kini berada tak jauh dari tempatku. Abra, dia sedang berdiri menatapku nanar, aku melangkah melewatinya. Tak perduli jika dia mendengar semua perkataan Mario.

“Kita harus kerumah sakit Manda, sekarang.” Suara Abra menghentakku, setengah berlari kuturuni tangga.

Dipikiranku hanya satu Ayah !.

Di rumah sakit keluarga sudah berkumpul. Saat aku masuk kedalam kamar kudapati Ayah terbaring dengan sangat lemah. Bunyi mesin-mesin penunjang kehidupannya seperti martil yang menghentak jantung. Saat melihatku dia tersenyum, tangannya yang  lemah terlihat memanggilku untuk mendekatinya. Kudekatkan telingaku dibibir Ayah.

“Maafkan Ayah Manda. Ayah sudah terlalu egois.”

“Sstssttttt… Ayah jangan banyak bicara, Ayah harus sembuh.”

“Ayah bangga memilikimu Manda, kamu anak yang baik sampai akhirpun kamu tidak pernah protes.”

“Tidak Ayah, sudah seharusnya seperti itu. Karena aku sangat menyayangimu.”

“Kamu tumbuh dengan baik, Eyangmu disana pasti bangga sekali. Menikahlah dengan Abra dan bahagia Manda. Kalian sudah ditakdirkan untuk bersama.”

Aku tak mampu bicara, tetesan bening memenuhi mataku dan mulai jatuh.

“Maafkan Ayah, Ayah tak bisa mendampingmu Nak… Maaf…” kata-kata Ayah tak berlanjut ketika tangan lemahnya terkulai dan matanya yang terpejam pelan sedetik bibirnya berbisik lirih aku tahu dia sedang mengucapkan kalimat doa, sedetik aku terpaku melihat sosok tegar itu terkulai dengan sedikit senyum disudut bibirnya. Dia sudah pergi, dia pergi dengan tenang dan bahagia. Ah Ayah saat pergipun masih memberiku beban ….

Ayah sudah meninggal, tak ada cinta perlu dipertahankan

pemakaman cerita romantis
Ayah sudah meninggal

Acara pemakaman sudah selesai semuanya masih dalam suasana duka, semua proses harus dilaksanakan sudah terlaksana. Kesedihan pad raut wajahpun belum hilang. Tapi seperti itulah kehidupan, pasti ada akhirnya. Rencana undangan pernikahan akan disebar hari ini kubatalkan sehingga menimbulkan protes keluarga Abra, mungkin itulah sehingga membuat Abra datang.

Aku sedang berada dalam ruang kerja Ayah ketika dia muncul.

“Apa telah kau lakukan Manda, kenapa kau membatalkan untuk menyebar undangan ?”

Tubuhku berbalik, menatap dalam-dalam bola mata Abra. Disana kulihat sorot kesedihan tapi tidak ku ketahui kesedihan seperti apa.

“Sebaiknya dibatalkan saja pernikahan kita Abra. Ayahku sudah meninggal.” Ucapku datar.

“Tidak, kita akan tetap pada perjanjian kita, kemudian terserah. Seperti katamu kita akan diam-diam bercerai.”

“Itu sudah tidak berlaku lagi, karena Ayahku sudah meninggal.” Tandasku.

“Jangan gila kamu Manda keluarga kita sudah menyiapkan semuanya sejak 3 bulan lalu. Setidaknya hargai  jerih payah mereka walau cuma bersandiwara”.

Aku tertawa, “Diriku bukan aktris baik Abra, kamu mungkin aktor terbaik, bisa menjalani peranmu sangat sempurna. Tapi diriku tidak bisa. Aku tidak mau.”

“Jangan kekanak-kanakan Manda.”

“Jangan mendesakku Abra hatiku sedang berduka.”

“Aku tahu tapi .. “

“Aku lelah, mau istirahat.” Selaku cepat lalu melangkah meninggalkan ruangan. Tapi langkahku terhenti saat dengan sigap Abra menarikku dalam pelukannya.

“Tidak akan kubiarkan kau melakukan hal konyol ini Manda, katakan apa kau inginkan dariku ? Apa kamu ingin mendengar pengakuanku. Akan tetap ku nikahi kau bukan karena Ayahmu, bukan juga karena bisnis keluarga. Kunikahimu karena diriku ingin menyudahi semua cerita sandiwara konyol. Karena hatiku juga sudah lelah berpura-pura kalau tidak mencintaimu. Hatiku mencintaimu Manda. Kamu dengar aku mencintaimu.”

Kata-kata Abra membuatku terhenyak dalam kebuntuan pikiran, bibirku tak bisa berkata-kata.

Tak kan bisa hatiku berkeras, karena aku jatuh cinta padamu sejak pertama bertemu

“Akan ku ikuti keinginanmu, akan ku batalkan pernikahan kita. Kalau sekarang kamu mengatakan dengan jelas bahwa kau tidak mencintaiku, katakan padaku dan lihat mataku Manda. Katakan kamu tidak pernah mencintaiku. ”

Tiada bisa ku tentang tatapan mata Abra, yah hatiku memang mencintaimu Abra, bukankah sejak awal diriku sudah jatuh cinta padamu.

“Tidakkah kau menyadari kalau sikapku berubah, semua bukan pura-pura lagi Manda. Hanya kuberikan hatiku kesempatan untuk melihat pribadimu selama ini.  Bagaimana bisa kamu menjadi wanita tak berperasaan. Kenapa kamu tidak pernah menunjukkan rasa cemburu padaku ? sedikitpun kau tiada protes pada sikapku padahal ingin kubuatmu kamu marah. Tapi kenapa Manda ? ”

“Aku tidak tahu sejak kapan perasaanku berubah Manda, akan tetapi beberapa hari lalu saat kulihat laki-laki tersebut bersamamu. Saat itulah kusadari hatiku mencintaimu, tiada rela ku biarkan dia menunggumu, hatiku begitu cemburu. Tidak akan kubiarkan lakdia ! oh yah Tuhan hatiku bahkan memiliki keinginan untuk membunuhnya”.

Lagi-lagi hatiku terperanjat mendengar ucapannya ? sikap apa ini ?

“Aku tidak ingin kehilanganmu Manda…”

Apa harus kulakukan jika keadaannya begini, menatap wajah serta sorot mata Abra penuh kesungguhan. Apa dia sedang berperan ? aktingnya sungguh sangat natural ditambah sedikit bening di kedua bola matanya. Betapa bahagianya mendengar pengakuannya.

“Tiada pernah akan kuambil apapun darimu, tidak butuh harta keluargamu Manda. Kita akan menandatangani perjanjian pranikah. Sedikitpun tak akan ku sentuh semua milikmu. Hatiku hanya membutuhkanmu mencintaiku apa adanya. Semua sudah cukup. Sudah ku miliki segalanya dalam hidupku, aku hanya butuh kamu, Cuma kamu… jadi ku ingin kau mempercayaiku.”

Mungkinkah ini semua hanya mimpi ? tapi aku tak peduli

Apakah sedang bermimpi ? kenapa terasa begitu indah ?, mengapa tiba-tiba berubah bagai cerita romantis ? ingin ku cubit kulitku. Tapi hanya bisa ku sandarkan kepalaku di dada Abra. Ingin ku tumpahkan rasa lelahku menunggu sebuah pengakuan darinya. Tidak peduli jika pengakuan tersebut hanyalah sebagian dari perannya. Hatiku tiada lagi ingin membedakan apakah sandiwara atau nyata ? tidak peduli lagi pada semuanya. Ku ingin bersandar pada seseorang bisa kupercaya. Dan saat air mata menggenang dipelupuk hingga tak sanggup kutahan aku hanya bisa berbisik lirih. “Aku mencintaimu Abra.”


Terima kasih telah membaca cerita romantis menikah terpaksa jadi cinta. Semoga cerpen diatas dapat menghibur serta menjadi motivasi dan inspirasi bagi sobat Bisfren sekalian untuk terus berkarya. Salam sukses.

Dibagikan

Putri Wahyuningsih

Penulis :

Artikel terkait