Penyakit Menular @ Cerita Motivasi Anak remaja

cerita anak pendek penyakit menular

Penyakit menular adalah cerita anak pendek tentang anak yang terkena sakit menular sehingga tidak boleh sekolah dan harus istirahat di rumah. Bagaimana cerpen motivasi anak ini ? simak pada cerita pendek berikut.

Cerita Anak Pendek “Penyakit Menular”

Pagi ini langit begitu bersahabat, awan pun diatas terlihat cerah dan berwarna biru. Saat itu aku asyik membaca majalah kegemaranku sambil ditemani secangkir kopi susu dan beberapa biskuit. Dan Fiksi adalah bacaan favoritku, namun tiba-tiba saja tenggorokanku terasa ada yang tidak beres, rasanya nyeri hilang timbul, berkeringat dan kadang-kadang batuk sampai badan pun jadi ikutan tidak nyaman, aku pun langsung buru-buru ke Rumah Sakit. Suatu hal yang bikin aku sempat kaget, waktu dokternya bilang bahwa kemungkinan besar aku “ menularkan “ penyakit ini sama orang lain, terutama orang terdekatku. “Aduh… gimana nih kalau Rere sahabatku sudah mulai ketularan penyakitku ini, aku pasti akan merasa bersalah banget,”sesalku. Pikirku mungkin benar juga apa yang dibilang dokter itu, bahwa penyakit aku ini menular. Di rumah nggak cuma aku yang begitu, ibu juga suka melakukan hal yang sama. Dia selalu menyiram anggrek-anggreknya di teras depan rumah sampai berulang-ulang, katanya sih biar nggak mati karena dehidrasi. “ Aduh… hatiku jadi kacau dan super galau, gara-gara penyakitku ini bikin resah semua orang,” gerutuku lagi.

Bukan hanya sampai disitu saja pembantu rumah pun jadi ikut-ikutan, kalau mencuci sayuran yang mau dimasak saja mesti lima kali dan mencuci beras pun juga mesti lima kali. Katanya biar nggak ketularan penyakit aku.” Tuhan, duniaku terasa begitu gelap gulita dan semakin sempit saja,”umpatku dalam hati. Ibu pun juga bilang kalau nggak begitu nantinya masih ada bakteri yang nempel hingga bisa menimbulkan penyakit yang lebih parah. “ Hatiku jadi semakin galau dan terasa kamseupeuy alias kampungan banget,” sungutku.

Aku termenung sendiri di kamar tidur, ku topang dagu sambil meratapi nasibku. Bingung, aku sendiri juga nggak tahu penyakitku ini apa, yang jelas dokter hanya bilang penyakitku menular. Kenapa juga dokter harus menyembunyikan penyakitku ini emang penting banget buat dokter yach sampai aku nggak boleh tahu, katanya sih harus diperiksa ke Ruang Laboratorium dulu. “ Repot dan ribet banget, apalagi jendela kamar mesti dibuka lebar-lebar, katanya bakal banyak kuman yang keluar lewat jendela silih berganti dan kuman tersebut akan membahayakan diri aku.”

Herannya, ibu kok tenang-tenang saja dan tidak terlihat aneh di depan mataku. Tapi emang sih ibu sering dikasih tahu sama bapak dan jika ditelpon hanya bisa menjawab,”Ya sudahlah kalau begitu. Artinya tidak ada penyakit ditubuhku ini yang bikin khawatir. Aku jadi penasaran, jangan-jangan penyakitku ini bakalan menurun ke anakku kelak jika suatu hari nanti aku menikah. “ Aduh…. kok jadi semakin serem yach,” jawabku ragu.

Tapi, hatiku jadi sedikit tenang sewaktu dokter yang baik itu menerangkan kalau ini nggak semata-mata karena faktor keturunan. Soalnya penyakitku memang menular, jadi sebetulnya penyakitku ini mungkin tertular dari orang lain hingga ibu sering menakuti-nakuti aku dengan berbagai virus dan bakteri yang mematikan. Kadang-kadang ngeri juga kalau ditakut-takuti seperti itu, apalagi aku anti banget jika berlama-lama di rumah sakit, jangankan satu hari bahkan satu minggu pun aku nggak sudi dech.

“Omi, sebenarnya kamu sakit apa sich?” tanya Rere. “ Nggak tahu Re, jangankan kamu aku saja bingung mau menjawab apa, habis nggak ada yang mau jujur sama aku. Semuanya hanya diam tak bergeming, malah ibu justru kelihatan tenang-tenang saja tuch,” kataku dengan wajah sayu. “ Mungkin kamu kena penyakit AIDS kali… ha haha,” goda Rere tertawa terpingkal-pingkal. “ Huuu…kamu Re, bukannya menghibur aku malah menggoda terus,”aku merajuk. “ Uuupss sorry Omi……..bukan maksud aku menggoda kamu habis aku jadi tertawa sendiri masa dokter yang memeriksa kamu jadi main umpat-umpatan sama penyakit kamu. Mungkin otaknya dokter lagi korsleting kali kena arus tegangan tinggi sampai main rahasian sama kamu, Mi,”guyon Rere lagi. “ Udahlah Re, aku nggak mau bahas ini lagi bikin pusing saja. “ Gimana kalau sekarang kita shoping ke mal, barangkali penyakit kamu bisa hilang atau sekalian kamu yang menghilang. “Rere?” aku berteriak keras hingga semua orang melirik kearahku. “ kamu sich Re, bercanda terus aku sampai keceplosan nih semua orang pandangannya jadi tertuju pada kita berdua,” ketusku. “ Biar saja Omi, kita berdua kan nggak mengganggu mereka, kamu kok jadi perduli amat sama apa yang dikatakan orang. “ Nah loh, sekarang kamu berubah jadi Miss Sensitif yach, pakai acara malu segala. Jangan-jangan di otak kamu memang ada sistem yang mengganggu sampai kamu juga ikutan eror sama kaya dokter di Rumah Sakit,” tukas Rere. “ Aku pun terdiam dan nggak menjawab apa yang dikatakan Rere, karena kalau dijawab pasti candaan Rere makin keterlaluan dan bikin bad mood.

Aku semakin penasaran, apalagi saat aku menelan makanan hingga tersedak dadaku terasa sakit dan rasanya tidak enak banget. Lalu aku pun kembali memeriksakannya ke dokter, tadinya aku sedih banget pas dokter bilang kalau penyakitku ini butuh waktu yang cukup lama untuk disembuhkan. Dan masih jarang ada orang yang benar-benar bisa dengan sendirinya mengusir penyakit, justru orang sampai ada yang terapi atau pengobatan khusus untuk menyembuhkan penyakitnya. Hatiku terasa hancur, aku sempat hopeless, keinginan punya hidup normal seperti yang lain kok terasa susah banget. Tentu saja itu butuh ekstra kesabaran dan ketekunan untuk terapi atau minum obat dengan dosis yang teratur. Jadi nggak bisa sekejap mata penyakit langsung sembuh.

Di rumah, ibu dan bapak hanya menyarankan agar aku selalu hidup bersih, kamar juga bersih sampai kuku juga harus bersih. Entah maksudnya menyindir atau bukan, aku sendiri juga nggak tahu. Memang kuakui, aku males untuk membersihkan kamar sampai-sampai sampah rambutku yang rontok yang sudah berhari-hari tetap saja ada di keranjang sampah dan belum dibuang. Sampah kertas-kertas di meja belajarku juga sudah menumpuk. “ Pantesan saja, aku terkena penyakit soalnya aku saja males membersihkan kamar. Makanya dengan senang hati penyakit yang menular ini mampir ke tubuhku tanpa jejak,” ucapku menyesal.

Ternyata, keinginanku untuk cepat sembuh total dari penyakit ini merupakan salah satu obat yang mujarab. “ Nggak apa-apalah, aku harus butuh waktu yang cukup lama agar bisa sembuh yang penting aku bisa hidup normal dan menjalankan aktivitasku seperti biasanya,” jawabku sedikit antusias. Dan hal-hal inilah yang harus aku lakukan sesuai petunjuk dokter. Pertama, seminggu sekali aku harus ikut terapi. Aku diajari bagaimana harus berani melawan pikiran-pikiran bahwa rumah sakit itu serem dan menakutkan. Aku juga diajari buat mikir lebih tenang dan lebih positif. Jadi, nggak mesti harus cuci tangan, cuci sayuran bahkan cuci beras sampai lima kali cuci. Dua atau tiga kali juga sudah cukup, asal airnya bersih dan bebas kuman. Kedua, aku harus minum berbagai obat sesuai dengan resep dokter, katanya sih obat itu membantuku untuk cepat sembuh. Dan Ketiga, Mengajak keluarga untuk membuatku tenang dan rileks agar aku tidak terus merasa khawatir dengan penyakit menularku ini. “Uuuhh… menyebalkan juga sebenarnya aku punya penyakit apa yach,” makiku.

Ternyata dokter yang baik itu sempat muji aku, katanya nggak banyak orang yang merasakan badannya ada yang nggak beres langsung buru-buru ke rumah sakit bahkan salah satu dari mereka terkadang menyepelekan. Dan aku bukanlah satu-satunya remaja yang punya penyakit ini justru ribuan bahkan jutaan orang pasti pernah mengalami penyakit seperti yang aku alami. “ Legaaa dech, aku nggak sendirian merasakan penyakit yang sama,”desahku lagi. Tapi kata dokternya sih untung belum terlambat mengobati penyakitku ini, jadi masih dibilang bisa santai dikit. “ Menurutku jawaban dokter agak aneh, masa melawan penyakit bisa santai dikit, bearti penyakitnya bisa diajak kompromi alias damai dong dan kadang-kadang bisa datang atau pergi sesuka hati. Benar-benar aneh tapi semuanya nyata,” jawabku sambil garuk-garuk kepala saking bingungnya.

“Suatu hari aku pernah sampai browsing di internet untuk mengetahui penyakitku sebenarnya apa, tapi aku nggak menemukan apapun justru yang aku dapatkan hanya gejala radang tenggorakan biasa, tapi penyakit ini tidak menyeramkan seperti yang kualami. Aku pun jadi semakin cemas dan was-was apalagi kian mempengaruhi kegiatanku sehari-hari, termasuk kumpul bareng sama teman-teman di cafe ataupun  sekedar nonton di bioskop. Mengobati penyakitku memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar, setahap demi setahap. “ Tapi aku harus sabar, kan orang sabar disayang Tuhan. Jadi nggak semua hal harus aku takuti,” pikirku.

“Hari ini kebetulan hujan turun dengan derasnya, tapi untung saja ada Rere yang menemani aku apalagi ibu dan bapak lagi ada keperluan di rumah nenek. Jadi, aku nggak sendirian di rumah. “ Omi, dengar-dengar kata orang yang punya penyakit sama dengan kamu gampang banget kena komplikasi penyakit lain,”kata Rere menakut-nakuti aku. “ Masa sih Re, kamu tahu dari mana?”jawabku cemas. “ Aku jadi ingat dulu pamanku pernah mengalami penyakit kaya kamu, tapi seminggu dirawat di rumah sakit besoknya langsung meninggal,”ucap Rere.

“Oooh… jadi kamu doain aku biar cepat meninggal gitu, tega banget kamu Re,”kataku lagi. “ Habisnya aku lihat kamu jadi nggak percaya diri gitu, pokoknya kamu harus yakin bahwa suatu saat nanti penyakit kamu pasti sembuh. Jadi kamu mesti optimis dong,”saran Rere. “ Makasih Re, aku kira kamu malah senang aku nggak ada. Sekali lagi makasih, kamu kasih semangat aku. Sama-sama Mi, pokoknya kamu mesti yakin dech kalau sesuatu itu dilakuin dengan benar dan nggak berlebihan, kamu nggak akan terkena penyakit. Lagian yang ngatur mau ada penyakit apa nggak bukan urusan kita lagi. Iya nggak…?”nasehat Rere. Bye the way, besok jadi kan anterin aku ke Rumah Sakit soalnya besok aku ada jadwal ketemu sama dokter. Jadi dong,”ucap Rere tersenyum.

Tiba hari yang mendebarkan, ketika aku berada di Ruang dokter. Maksud kedatanganku sekalian mau menanyakan tentang apa penyakit aku, apalagi hasil Laboratorium juga sudah keluar hari ini. “ Gimana dokter, hasil laboratorium aku? Aku sakit apa?” aku merajuk. Dokter mengeryitkan kening sejenak, sambil mengangguk-angguk. Aku jadi semakin curiga, apa penyakitku sudah begitu parahnya?”desahku. Dokter yang baik, aku boleh nggak tahu tentang penyakitku sebenarnya apa?”aku merayu. “ Heeh, sebenarnya kamu……nanti saja penjelasannya yach kalau sudah ada orangtua kamu, biar mereka juga tahu tentang penyakit kamu,” kilah dokter.

Aku semakin kaya paranormal menebak-nebak apa penyakitku. Lalu aku memohon sama dokter untuk menjelaskan penyakitku lebih detail. “Omi, dilihat dari hasil Laboratorium rupanya kamu terkena penyakit TBC,”jelas dokter. Legaa rasanya, tadi jantungku hampir copot habis untuk menjelaskan penyakitku saja susah banget sampai berminggu-minggu aku menunggu. Kalau penyakit TBC aku sudah pernah baca informasinya di internet, kalau sudah ketahuan seperti ini jauh lebih enak. Jadi, aku nggak perlu menebak-nebak terus tentang penyakitku. Meskipun selama ini ibu maupun bapak menakuti-nakuti aku dengan berbagai virus dan bakteri yang bisa mematikan. Tapi itu semua demi kebaikan aku untuk selalu menjaga kebersihan baik lingkungan, makanan bahkan sampai badan agar penyakit tidak hilir mudik. Aku juga nggak perlu khawatir tentang penyakit TBC, apalagi dokter sudah memberitahukan apa yang harus aku lakukan agar bisa sembuh total dari penyakitku ini. Lagipula, kalau sepanjang hidupnya orang terlalu was-was juga tidak baik malah boleh dikatakan orang tersebut punya suatu kelainan di jaringan otaknya karena di dalamnya sudah terbentuk susunan pola kerja yang berbeda dengan orang lain. Walhasil, banyak orang yang mengalami ketakutan atau was-was dengan hidupnya bisa sakit jiwa bahkan stress. “Iiiihhh…….ngeri,”batinku lagi. Untung saja penyakitku ini sudah ada obatnya walaupun penyakitku termasuk tipe penyakit menular, asal aku rajin dan rutin mengikuti anjuran dokter pasti aku akan sembuh seperti semula. Tapi paling nggak, aku nggak perlu menderita lagi karena aku bisa ikutan jalan ke mal bersama teman-teman meskipun belum bisa ikutan dugem.   Thanks God….. (dea).


Terima kasih telah membaca cerita anak pendek Penyakit Menular karya Dewi Anggraeni. Semoga cerpen anak diatas dapat menghibur dan memberi motivasi kepada putra-putri maupun sobat remaja. Salam sukses.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait